Thursday, 7 May 2009

Perlukah Anak Ikut Bela Diri?

Tak usah cemas ia bakal cedera atau jadi sok jagoan. Justru dari sini ia belajar disiplin dan patuh. Perkembangan motoriknya pun makin baik. Mendengar kata "beladiri", boleh jadi yang terbayang di benak kita adalah kekerasan yang melibatkan adu fisik. Tak heran jika banyak orang tua "alergi" terhadap cabang olahraga yang satu ini. Jangankan untuk si kecil yang balita, anaknya yang sudah besar pun kalau bisa akan dicegah agar jangan sampai masuk klub beladiri.

Namun apa yang terjadi di luar? Belakangan ini malah marak berdiri klub beladiri khusus balita. Bahkan, taman bermain dan preschool pun banyak yang memasukkan beladiri sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler. Nah, bila di "sekolah" si kecil ada kegiatan tersebut, bukan tak mungkin ia akan ngotot ikut. Sementara kita khawatir si kecil bakal cedera atau malah kelak jadi tukang berantem.

Menonjolkan Olahraga

Memang, beladiri termasuk jenis olahraga combattive sport. Artinya, olahraga pertarungan yang melibatkan full body contact. Olahraga ini melibatkan kontak fisik dengan orang lain yang dipandang menimbulkan ancaman, lalu menyerang. Olahraga beladiri banyak jenisnya, kebanyakan berasal dari Asia Timur, yaitu Jepang dan Korea. Ada pula yang berasal dari Indonesia asli seperti pencak silat.

Namun di balik tonjokan dan tendangannya, beladiri juga mengandung disiplin, patuh, dan menonjolkan sifat kependekaran yang mengutamakan moral. "Jadi, beladiri bukan menyerang tapi mempertahankan diri, bukan sengaja memamerkan kepandaian menendang dan meninju," kata Drs. Andre Tuwaidan, pelatih beladiri taekwondo untuk balita. Lagi pula, tambahnya, beladiri untuk balita yang ditekankan lebih pada unsur olahraganya, bukan beladirinya.

"Teknik menendang, lompatan, dan tonjokan yang diajarkan pada balita juga sangat berbeda dengan orang dewasa." Pada anak balita, tendangan dan tonjokan tak memperhatikan intensitas dan kekuatan, tapi lebih melihat posisi tubuhnya apakah sudah benar atau tidak. "Ini bisa membantu anak mempunyai postur tubuh yang baik, yang pada akhirnya akan membuat anak mempunyai self-confidence yang tinggi."

Selain itu, pada setiap dozjang (perkumpulan olahraga beladiri taekwondo), segi moral dan disiplin juga diajarkan. Dari menunggu giliran menendang, misal, anak belajar untuk sabar dan disiplin. Pendeknya, tegas Andre, sambil diajarkan gerakan-gerakan beladiri, anak juga dilatih untuk patuh mengikuti semua petunjuk dan sabar.

Unsur Bermain dan Aspek Sosialisasi

Psikolog Monty P. Satiadarma, MS/AT,MCP/MFCC,PSI setuju jika beladiri pada balita diarahkan untuk kesehatan, bukan unsur combatting-nya yang ditonjolkan. Apalagi olahraga amat bermanfaat buat perkembangan motorik anak. Latihan tendangan, misal, bisa memperkuat otot tungkai. Bukankah si kecil di usianya ini amat suka menendang-nendang dan melompat seperti yang dilakukan tokoh-tokoh idolanya di film-film? "Nah, dengan ikut latihan beladiri, anak belajar teknik menendang dan melompat yang benar, hingga kemungkinan ia cedera akibat meniru gerakan-gerakan si tokoh dapat diminimalisir," bilang Andre.

Namun dalam mengajarkannya, Monty menyarankan agar pelatih beladiri juga memperbanyak unsur bermain dan mengembangkan aspek sosialisasi anak. "Dunia anak adalah dunia bermain. Kegiatan apa pun yang kita berikan kepadanya, sebaiknya tak meninggalkan pola bermain. Anak-anak berkumpul bersama teman sebaya lainnya dan harus having fun dengan kegiatannya," jelas dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara ini kala ditemui pada kesempatan berbeda.

Monty juga menyarankan agar pengajaran yang diberikan pertama adalah kesehatan dan kebugaran. "Anak diberi latihan-latihan yang bisa membantu pertumbuhan psikomotorik dan menunjang kesehatannya." Setelah itu barulah moral sedikit demi sedikit diajarkan melalui penanaman disiplin. "Sifat kependekaran pelan-pelan ditumbuhkan seperti tak menyerang lebih dulu, berani mengakui kelemahan, dan sifat-sifat kependekaran lain yang menjunjung moral dan disiplin."

Lawan Tandingnya Bukan Teman

Hanya, Monty tak setuju bila dalam pengajaran itu, anak dikenalkan pada konsep musuh. "Siapa itu musuh dan wujudnya kayak apa, masih terlalu dini untuk dikenalkan pada anak balita." Lagi pula, di usia prasekolah, aspek utamanya adalah to grow, berkembang."Nah, tumbuh saja dia belum, kok, sudah disuruh bertahan, defending yourself. Sementara untuk membuat dia tumbuh, kan, harus ada rangsangan dari luar." Itu sebab, psikolog atlet di Komisi Olahraga Nasional Indonesia (KONI) ini lebih setuju jika beladiri hanya untuk olahraga dan pembentukan disiplin, bukan menekankan pada self defense-nya.

Untunglah, para pelatih beladiri untuk balita ini pun menyadari hal tersebut. "Di kelas balita, konsep musuh memang belum diajarkan. Yang ada hanya menendang boneka buaya besar yang kita sebut Crocodile Attack," tutur Andre. Dengan pemahaman bahwa konsentrasi dan kombinasi lompatan yang bagus akan menghasilkan keberhasilan "menyelamatkan" diri dari suatu "serangan" yang membahayakan. "Di klub-klub yang baik, anak tak akan dihadapkan dengan temannya sebagai lawan tanding, meski hanya untuk latihan sekalipun."

Monty setuju. "Kalau sudah menggunakan teman sebagai lawan tanding, berarti sudah mengarah pada unsur combatting daripada olahraganya," tegasnya, Lagi pula, bila anak sudah diajarkan bertarung melawan teman pada usia yang masih dini, maka secara tak sadar akan terbentuk konsep predator pada dirinya, yaitu mahluk yang suka menaklukkan temannya sendiri. "Anak-anak, kan, bukan predator, tapi human being. Jadi, bila kita ingin anak-anak punya sikap human being, manusiakanlah anak-anak dari segi moralnya, bukan malah diajarkan melawan sesama human being."

Andre pun sependapat. "Namanya saja olahraga beladiri, self defense, bukan attacking others. Sifat kesatria beladiri itu, kan, dia melawan kalau diserang, bukan menyerang lebih dulu untuk menunjukkan kejagoannya. Bahkan sedapat mungkin menghindari perkelahian."

Belajar Waspada

Tentunya, dengan belajar beladiri, anak juga mengembangkan sense of awareness. Dia jadi punya sikap waspada terhadap lingkungan sekitar yang bisa mengancam. Mengacu pada literatur psikologi perilaku anak dari Jerry Wykoff, Barbara C. Unell dan Dorothy Law Nolte, anak-anak usia 4 tahun ke atas perlu diajarkan mengenal dan mempunyai ketrampilan sendiri untuk menghadapi bahaya yang disebut knowledge of sense of awareness. Meski kita tak mengharapkan si kecil menghadapi keadaan bahaya, tapi penanaman sikap waspada bisa membantunya merasakan hal-hal yang perlu diwaspadai atau mengundang bahaya.

Nah, pada olahraga beladiri, khususnya taekwondo, bilang Andre, sense of awareness diajarkan lewat metode Crocodile Attack tadi. Ada "buaya" yang mengancam dan harus dilawan. "Karena konsep musuh belum dikenal di usia prasekolah, maka situasi bahaya itu digambarkan lewat buaya sebagai perumpamaan bad guy yang harus dilawan," terangnya. Namun, Monty mengingatkan, jangan sampai salah mengajarkan analisa bahaya pada anak. "Kalau sampai salah, hati-hati, anak bisa berkembang jadi paranoid, memandang setiap orang dengan curiga." Jadi, tegasnya, pola pengajaran sense of awareness harus hati-hati betul agar tak berlebihan dan menjadikan anak paranoid.

"Ancaman dalam kehidupan memang besar, tapi anak jangan ditakuti-takuti. Sikap waspada harus dikembangkan secara bijak. Beladiri bisa menjadi suatu bagian untuk menghadapi tantangan di dalam hidup, tapi kapan ilmunya harus dikeluarkan, harus secara bijak diajarkan. Ingat, pada usia balita, keselamatan anak menjadi tanggungan orang tua sepenuhnya." Artinya, sikap waspada bisa diajarkan, tapi keselamatan anak tetap menjadi tanggung jawab orang tua.

Kenalkan Olahraga Lain

Nah Bu-Pak, gimana? Sekarang tak khawatir lagi, kan, bila si kecil ikut beladiri? Saran Monty, cari klub yang arahnya lebih pada pembentukan kesehatan dan bermanfaat bagi perkembangan psikomotorik anak. "Cari klub yang tulisannya Klub Olahraga Beladiri Balita, bukan Klub Beladiri Balita. Ini menunjukkan klub itu memberi tekanan pada olahraganya, bukan beladirinya." Selain itu, pelatihnya juga harus tahu perkembangan fisik dan psikologi anak, maupun sturuktur pertumbuhan anak.

Namun, hendaknya kita jangan hanya terpaku pada olahraga beladiri semata. "Boleh-boleh saja memasukkan anak ke klub tapi tak perlu tiap hari. Diselang-selinglah dengan jenis olahraga lain seperti berenang atau jalan kaki," kata Monty. Tujuannya, agar si kecil juga mengenal beragam jenis olahraga.

Yang Harus Diperhatikan

  1. Pilih jenis olahraga beladiri yang tak menggunakan alat tapi lebih mengandalkan gerakan seperti lompatan dan tendangan. Misal, taekwondo atau olahraga beladiri modern lainnya.
  2. Anak dengan postur tubuh apa pun dapat mengikuti olahraga beladiri. Namun bila si kecil punya penyakit tertentu semisal asma atau jantung, beritahu instrukturnya agar porsi latihan atau gerakan-gerakannya tak membahayakan si kecil.
  3. Klub olahraga beladiri balita yang baik, yaitu:

    1. Membolehkan anak ikut di kelas untuk beberapa waktu tanpa bergabung sebagai anggota lebih dulu. Setelah anak betul-betul berminat, barulah didaftarkan ke klub tersebut. Jadi, bila si kecil tak berminat, kita tak boleh memaksakannya.

    2. Instrukturnya memiliki sertifikat dan punya pengetahuan khusus mengenai psikologi maupun pertumbuhan fisik anak. Terutama pengetahuan tentang pertumbuhan fisik anak amat penting, agar instruktur dapat mengetahui intensitas dan kekuatan tendangan serta lompatan pada anak, hingga tak mencederai tungkai maupun otot-otot kaki anak yang sedang tumbuh.

    3. Dilengkapi P3K dan instrukturnya memiliki pengetahuan tentang keadaan darurat seperti anak terjatuh.

    4. Tak menggunakan sistem hukuman. Anak memang harus disiplin dan patuh mengikuti instruksi, tapi bila anak melakukan kesalahan tak ada punishment apa pun yang diterapkan.

    5. Tak mengenal kenaikan tingkat untuk menghindari kecemburuan yang kerap terjadi pada anak-anak balita.

  4. Untuk menghindari kemungkinan si kecil cedera saat mempraktekkan teknik tendangan/lompatan di rumah, sebaiknya orang tua hadir selama anak latihan. Dengan begitu, orang tua bisa melihat teknik yang benar yang diajarkan dan membetulkannya kala anak mempraktekkannya di rumah.

Sumber : tabloid-nakita.com

Kiat Jitu agar Anak Mendengar

Jangan mengancam

Pasalnya, setiap kali Anda memerintah atau memberi petuah dengan nada mengancam, jangan harap Anda akan didengar. "Cepat matikan teve. Sekarang, kan, waktunya belajar! Kalau enggak mau, Papa enggak kasih uang jajan lo!" Guna menghindari perintah bernada ancaman seperti ini, lebih baik sodorkan pilihan padanya. "Acara kartunnya bagus ya. Lima menit lagi selesai lo. Setelah itu Ibu temani kamu belajar ya." Mintalah anak mengulangi apa yang Anda katakan, "Kak, Ibu barusan bilang apa ya?" Dengan demikian anak benar-benar tahu apa yang diperintahkan padanya dan tahu pula bahwa Anda sungguh-sungguh memintanya melakukan sesuatu.

Jangan lupa memberi perhatian

Termasuk perhatian pada apa yang dikatakan anak. Turunkan majalah yang tengah Anda baca, misalnya, atau alihkan sejenak pandangan dari penggorengan selagi Anda memasak. Segera tatap wajahnya ketika ia mengatakan sesuatu. Kalau Anda termasuk pendengar yang baik, buah hati tercinta kelak juga akan tumbuh menjadi pendengar yang baik.

Hindari penilaian negatif

Daripada menggerutu melihat apa yang salah semisal, "Kamarmu kok berantakan banget sih!", bukankah lebih manis memberikan komentar positif yang tidak bernada menyalahkan. Contohnya, "Mainanmu kok tercecer di mana-mana ya. Kalau terinjak pasti rusak. Yuk, kita bereskan bareng-bareng."

Membuat daftar tugas

Diskusikan bersama tugas-tugas apa saja, terutama menjelang berangkat sekolah, yang dapat dilakukan si anak tanpa perlu diperintah lagi. Di antaranya bangun tidur langsung membereskan tempat tidur, mandi dan sikat gigi sendiri, lalu sarapan bersama ayah sebelum berangkat bersama. Selanjutnya, apa saja tugas-tugas di setiap sore sepulang sekolah atau kursus dan setelah menyelesaikan PR. Selanjutnya, taruh jadwal ini di tempat yang mudah terlihat dan ditulis cukup besar. Jadi, setiap saat Anda bisa langsung menunjukkannya tanpa perlu berdebat panjang lebar dengannya.

Jangan lupa memuji

Pujilah setiap kali ia berhasil menjadi pendengar yang baik. Di usia sekolah dasar, anak sangat suka menonjolkan kemandiriannya, tapi di lain pihak mereka juga ingin menyenangkan orangtuanya. Jadi, setiap kali ia mengerjakan tugasnya tanpa disuruh atau mengerjakan permintaan Anda dengan sigap, pujilah dengan tulus.

Tinggalkan 4 "JANGAN"

* Jangan katakan, "Ibu, kan, sudah bilang berulang kali kalau masuk kamar ketuk pintu dulu. Enggak sopan, tau!" Katakan, "Kak, Ibu terganggu kalau Kakak masuk kamar Ibu atau kamar siapa pun tanpa mengetuk pintu dulu. Ibu juga kalau masuk kamar kakak ketuk pintu dulu kan? Anak yang sopan selalu menghargai orang lain."

* Jangan katakan, "Kalau kamu enggak selesai pakaian dalam waktu 5 menit lagi, ibu tinggal ya." Katakan, "Kita harus cepat berangkat nih soalnya Eyang sudah lama nunggu. Kamu bisa berpakaian cepat dalam waktu 5 menit? Ibu tunggu ya atau Kakak butuh bantuan Ibu?"

* Jangan katakan, "Bersihkan kamarmu sekarang!", tapi katakan, "Kamar ini perlu dibersihkan. Kakak mau membereskan buku-buku atau tempat tidur dulu?"

* Jangan katakan, "Tadi ibu kan sudah bilang kamu enggak boleh lari-lari di supermarket. Dasar bandel!" Lebih baik katakan, "Ibu tidak suka Kakak lari-lari karena mengganggu Ibu dan pengunjung lain yang juga berbelanja. Kakak boleh pilih, kamu Ibu pulangkan ke rumah dan berarti kita enggak jadi belanja, atau kamu boleh menemani Ibu belanja tapi tidak lari-lari."

Sumber : anakku.net

Wednesday, 6 May 2009

Mengenali Gejala Asma

Asma merupakan salah satu penyakit paru yang semakin lama semakin banyak ditemukan pada anak-anak, terutama di daerah perkotaan dan industri. Kemungkinan faktor yang menyebabkan peningkatan ini adalah lingkungan yang sarat dengan polusi udara seperti asap kendaraan, debu dan asap pabrik serta pola makan yang tidak sehat. Asap rokok juga merupakan salah satu penyebab asma pada anak, khususnya anak yang sensitif terhadap asap. Anak-anak yang menderita asma, selain mengalami gangguan pertumbuhan, dapat pula mengalami gangguan psikologis. Anak akan tergantung pada orang lain, kurang inisiatif dan dapat mengalami rendah diri. Selain karena kurang kehadiran di sekolah karena sesak, prestasi akademik dapat menurun akibat kurang konsentrasi belajar karena kekurangan masukan oksigen ke dalam jaringan otak.

Gejala asma

Penyakit asma tidak menular, ditandai dengan gejala sesak, napas berbunyi dan batuk-batuk akibat penyempitan saluran napas. Penyempitan saluran ini dapat terjadi pada sebagian maupun seluruh saluran napas. Penyempitan ini mengakibatkan timbul bunyi mengi ("ngik") pada saat bernapas, terutama pada saat buang napas (ekspirasi memanjang). Tetapi jika serangan asma sudah berat, bunyi dapat terjadi saat menarik napas maupun buang napas. Pada kasus ringan, bunyi hanya dapat didengar dengan memakai alat (stetoskop) oleh dokter yang memeriksa.

Bagaimana pola penurunan asma ?

Sebagian besar pada penderita asma ditemukan faktor alergi. Bila salah satu orangtua misalnya ayah menderita asma, maka besar kemungkinan bayi yang dilahirkan dapat menderita asma di kemudian hari. Untuk itu, setiap bayi yang baru lahir dari orangtua yang mempunyai riwayat keturunan asma, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak untuk mendapat nasihat agar anak ini tidak mengalami serangan asma dikemudian hari. Riwayat alergi pada keluarga, dan kakek/nenek perlu ditelusuri seandainya alergi pada kedua orangtua tidak ditemukan, agar diketahui secara dini apakah ada faktor keturunan asma pada anak yang dilahirkan. Karena meski ayah atau ibu tidak punya asma, tapi kalau kakek atau nenekmemiliki asma, maka kemungkinan anak akan terkena penyakit ini.

Bagaimana menghadapi asma ?

Agar dapat mencegah/ menanggulangi asma, ada baiknya kita mengetahui faktor yang dapat menimbulkan serangan asma. Faktor ini disebut alergen. Alergen yang sering menimbulkan asma adalah, tungau debu rumah, serpihan anjing, dan kucing, kemudian pollen, kecoa dan spora jamur. Sedangkan faktor pencetus asma, misalnya makanan, peradangan saluran napas, polusi udara, asap, bau-bauan, kelelahan, emosi, udara panas,dingin, lembab dan perubahan cuaca. Jadi untuk mencegah asma, semua faktor alergen maupun pencetus asma sebaiknya ditanggulangi.

Sumber : anakku.net

Menanam Kepekaan Sosial

Kualitas watak saat kecil akan mewarnai watak seseorang di kemudian hari. Anak yang dibesarkan dalam suasana yang curiga-mencurigai, misal, ketika dewasa akan mengalami kesulitan untuk memercayai orang lain. Contoh lain, bila pada masa kecilnya sering dipukuli, besar kemungkinan setelah dewasa akan menjadi pendendam. Demikian pula bila sering diejek, bisa-bisa kelak akan sulit menghargai prestasi orang lain.

Itulah mengapa, kepekaan sosial penting ditanamkan semenjak kecil pada anak, agar kelak ia menjadi manusia dewasa yang peka dengan lingkungan sekitarnya. Adapun yang bertanggung jawab untuk menumbuhkan kepekaan sosial pada anak adalah orangtua. Namun bukan berarti orangtua semata penentunya, karena lingkungan juga turut memberikan andil. Sebab, tingkah laku seseorang juga ditentukan oleh pengaruh-pengaruh dari luar.

Ada beragam kepekaan sosial yang penting ditanamkam semenjak dini, yang pada intinya bertujuan mengembangkan sikap empati kepada orang lain. Di antaranya berbagi dengan orang lain, berani meminta maaf bila melakukan kesalahan, bersedia membantu orang yang membutuhkan, dan kepekaan terhadap kemampuan fisik agar tidak melakukan tindakan yang menyakiti orang lain (umpama, main tarik temannya untuk bermain padahal badannya lebih besar, otomatis tenaganya lebih besar sehingga bisa menyakiti temannya), bertanggung jawab, menghargai orang lain, dan masih banyak lagi.

PERAN SEKOLAH

Sekolah dapat menjadi ajang latihan kepekaan karena waktu anak berada di sekolah cukup lama, kurang lebih 2-3 jam. Tambahan lagi sistem belajar yang diterapkan saat ini adalah kolaborasi; anak duduk berke-lompok sehingga "memaksa"nya untuk mau berbagi dengan teman. Misal, ada sekotak pensil warna untuk kelompok itu, otomatis anak harus bersedia berbagi dengan teman dalam kelompoknya itu.

Keuntungan lainnya, jumlah teman di sekolah lebih banyak sehingga akan mendapatkan lebih banyak kemungkinan menemui beragam karakter dan peristiwa. Umpama, anak dapat belajar untuk menunda keinginan karena hanya ada 1 ayunan, sehingga harus antre dan bergantian dengan teman yang lain. Atau, berbagi makanan bila ada teman yang tidak membawa bekal, dan lain-lain. Semua kegiatan itu adalah mengasah kepekaan terhadap kebutuhan orang lain.

Sayangnya, terkadang jumlah guru yang terbatas dalam satu kelas menjadikan guru kurang mampu untuk mengamati secara saksama perkembangan setiap anak. Sehingga tak dapat mengetahui secara mendalam pelaksanaan kepekaan sosial saat anak bersosialisasi dengan teman di kelasnya.

2 MANFAAT

Dengan menanamkan kepekaan sosial sejak dini, ada 2 manfaat besar yang akan diraih si prasekolah, yaitu:

  1. Menyadari akan kehadiran orang lain.

    Dengan menyadari adanya kehadiran orang lain, dapat mengingatkan kepada si prasekolah agar tidak egois sehingga ia mau berbagi dengan temannya, saling tolong, saling bantu, dan lain-lain.

  2. Membentuk keterampilan bersosialisasi.

    Si prasekolah dapat mempelajari aturan dalam bersosialisasi sehingga kelak akan lebih berani dalam memasuki lingkungan baru. Selain juga dapat membentuk rasa percaya dirinya.

5 HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN

Agar penanaman nilai-nilai sosial dapat membuahkan hasil yang optimal, ada beberapa hal yang penting diperhatikan orangtua, yaitu:

  1. Nilai-nilai yang ditanamkan harus jelas dan konsisten.

    Maksudnya, bila anak diajarkan untuk berbagi, tanamkan pula bahwa berbagi itu baik tapi bukan berarti mengalah dan malah tidak mendapatkan yang menjadi haknya. Selain itu, orangtua juga harus konsisten. Umpama, ada 1 ekor ikan untuk makan malam, sedangkan anggota keluarga itu ada 5, maka ikan itu tetap harus dibagi 5 walaupun ayah belum tiba di rumah dari kantornya.

  2. Orangtua menjadi contoh.

    Anak meniru dari orangtuanya, jadi orangtua patut menjaga perilaku dan sikapnya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, orang dewasa kadang ingin memudahkan dan bersikap sekehendak hatinya, padahal tanpa disadari ada anak-anak di sekitarnya yang melihat.

  3. Menerapkan konsekuensi.

    Untuk memacu anak, tak ada salahnya memberikan penghargaan, dapat berupa pelukan atau pujian, tak harus berupa hadiah. Sebaliknya, bila melanggar dapat diberikan sanksi, semisal dengan melarang melakukan sesuatu yang disenangi si prasekolah. Tidak diizinkan menonton televisi selama 2 hari, umpamanya.

  4. Menyadari adanya faktor gagal.

    Orangtua hendaknya harus menyadari bahwa kemampuan anak berbeda-beda. Karenanya bila anak mengalami kegagalan, orangtua harus menerima. Jadi, jangan berharap bakal terus-menerus sukses selama proses belajar.

  5. Tularkan kepada keluarga lain.

    Bila setiap keluarga telah memiliki pemahaman yang sama tentang kepekaan sosial yang wajib diberikan kepada anak, niscaya akan memudahkan pada saat anak belajar. Saat bermain bersama, berarti nilai-nilai kepekaan yang ditanamkan pun sama.

BERI KESEMPATAN BERSOSIALISASI

Untuk menanamkan kepekaan sosial, orangtua tak bisa hanya sekadar melalui kegiatan membacakan dongeng atau berbicara dari hati ke hati dengan anak. Bila hanya melalui dongeng, maka cuma sekadar menambah pengetahuan atau meningkatkan kemampuan kognitif si prasekolah. Sementara dari kognitif sampai kepada perilaku, membutuhkan waktu yang panjang. Contoh, tidak mau berbagi adalah sikap yang tidak baik. Anak hanya mengetahui itu, tapi ia tidak tergerak untuk melakukannya saat bersosialisasi. Ia pun tidak memahami, bila tidak mau berbagi, bisa-bisa ada temannya yang tidak mau lagi bermain dengannya atau malah dipukul oleh temannya.

Karena itu, cara yang paling tepat adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk bersosialisasi. Melalui sosialisasi dengan teman di lingkungan rumah, si prasekolah lebih kaya akan pengalaman. Hasilnya akan berbeda bila ia hanya bersosialisasi dengan anggota keluarga di lingkungan rumah saja, karena di masa kini anggota sebuah keluarga tidaklah terlalu banyak. Umumnya hanya 2 anak dengan orangtuanya, sehingga tak banyak tantangan atau pengalaman baru yang akan diperoleh.

Cara lain yang dapat diterapkan adalah melalui kegiatan sehari-hari. Libatkan anak dalam berbagai aktivitas sehari-hari di rumah. Kemudian, berikan penjelasan yang mudah dipahami dengan bahasa sederhana, mengapa ia diminta melakukan itu. Misal, untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab, libatkan anak dalam kegiatan sehari-hari. Contoh, membersihkan kamar. Beri kepercayaan kepada anak untuk membersihkan sendiri kamarnya. Jika anak berhasil melakukan tugasnya dengan baik, berikan penghargaan. Sikap memberikan penghargaan ini akan menumbuhkan kepekaan menghargai sesama di kemudian hari.

Begitu juga ketika anak bertanya sesuatu, orangtua harus menanggapinya dengan serius agar sikap kritis dan kepekaan bisa berkembang secara wajar. Memahami alasan-alasan dan sebab dari perbuatan seseorang akan memupuk kepekaan watak sabar. Orangtua hendaknya juga jangan terlalu memanjakan anak, akibatnya ia tak akan peka dengan kebutuhan dan hak orang lain. Bisa-bisa ia menjadi egois.

ORANGTUA MENDAMPINGI

Tentunya, anak butuh pendampingan saat bersosialisasi, sehingga orangtua atau si pendamping dapat langsung menyampaikan tentang nilai-nilai kepekaan yang diperoleh pada saat itu. Pasalnya, anak lebih mudah mengingat dan memahami bila diberitahukan pada saat kejadian berlangsung. Karenanya, penting adanya kesamaan pemahaman tentang nilai-nilai kepekaan yang akan ditanamkan kepada anak antara orangtua dan pengasuh. Terutama untuk orangtua yang tidak mampu mendampingi anaknya bersosialisasi, sehingga si pengasuh tidak sekadar asal menemani anak bermain.

Lagi pula, dengan mendampingi anak bersosialisasi, maka si pendamping dapat memanfaatkan peristiwa atau kejadian saat itu sebagai referensi dalam menanamkan nilai-nilai kepekaan. Umpama, Ati jatuh karena didorong temannya. Ia merasa kesakitan. Peristiwa itu dapat dijadikan sebagai acuan untuk memberikan penjelasan bahwa asal mendorong teman dapat menyebabkan temannya kesakitan.

Sumber : tabloid-nakita.com

Faktor Pendukung Kecerdasan Anak

Anak yang cerdas bukan hanya karena faktor keturunan, banyak hal lain yang bisa medukung anak menjadi pintar. Faktor-faktor pendukung kecerdasan anak itu antara lain dapat diasah dan dibentuk dari dalam diri anak atau dari hasil didikan orang tua. Di bawah ini beberapa contoh yang mendukung kecerdasan anak tersebut:

  1. Motivasi

    Motivasi adalah bagaimana cara orang tua untuk memberi semangat kepada anak agar mereka mau belajar, karena tanpa hal tersebut maka anak akan menjadi pribadi mudah menyerah dan putus asa sehingga anak menjadi malas untuk belajar.

  2. IQ (intelectual Quotient)

    Adalah kemampuan seorang anak untuk belajar menggunakan kepintaran otak kiri dan kanannya. Setiap anak mempunyai IQ yang berbeda tergantung dari latihan-latihan dan kemampuan otak nya untuk menyerap pelajaran yang masuk.

  3. EQ (Emotional Quotient)

    Adalah kemampuan seorang anak untuk mengusai dirinya dan dapat mengendalikan emosi sehingga memiliki kemampuan untuk bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain dan lingkungannya.

  4. Kecerdasan visual

    Adalah kemampuan seorang anak untuk menuangkan apa yang ada dalam pikirannya kedalam bentuk kreatifitas, misal: Menggambar, mewarnai

  5. Faktor lingkungan

    Karena lingkungan yang baik dan positif baik dirumah dan sekolah dapat memberikan pengaruh terhadap kepribadian dan perilaku anak untuk membantu mereka mengembangkan kecerdasannya.

  6. Kecerdasan berkomunikasi

    Melatih anak dalam berkomunikasi yang baik dapat membuat anak belajar dan berani dalam menuangkan pikiran dan gagasanya dalam bentuk kata-kata sehingga dapat melatih anak memiliki kepercayaan diri bila bicara di depan umum. Orangtua dapat memberikan contoh dengan berbicara yang baik dan sopan kepada anak.

  7. Makanan bergizi

    Orang tua yang memberikan anak gizi yang baik dengan memenuhi makanan 4 sehat 5 sempurna tentu akan membuat anak memiliki tubuh yang kuat,sehat dan perkembangan otak yang sempurna sehingga anak menjadi pintar.

  8. Membaca

    Memberikan anak buku-buku yang bermanfaat dapat menambah pengetahuan dan wawasannya dan juga melatih anak senang membaca.

  9. Kemampuan bersosialisasi

    Jangan melarang anak untuk bermain, karena dengan bergaul dengan teman-temannya anak melatih kemampuan mereka untuk berinteraksi dengan orang sehingga medapat mendukung keberhasilannya di masa depan.lain

  10. Kecerdasan Perilaku

    Seorang anak yang diajarkan untuk berperilaku yang baik dan sopan juga melatih anak untuk menghormati dan menghargai orang lain sehingga anak menjadi pribadi yang menyenangkan bagi orang-orang disekitarnya. Selain semua itu dukungan dan perhatian dari orang tua adalah faktor yang sangat penting dalam membentuk kecerdasan anak, kembangkan kecerdasan anak dari berbagai cara yang positif demi keberhasilan anak dimasa depan.

Monday, 4 May 2009

Mengenal Tic dan Tourette

Mata Dino berkedip-kedip terus sejak 2 minggu ini. Wah, barangkali terlalu banyak main PS? Cacingankah? Matanya kelilipan debu? Atau bulu matanya tumbuh ke dalam sehingga membuat gatal? Kelilipan atau gatal karena bulu mata tumbuh ke dalam memang bisa terjadi. Cacingan sih rasanya tidak. Banyak lagi mitos tentang mata kedip-kedip. Sebenarnya kalau mata kedip-kedip menetap untuk waktu yang lama mungkin disebabkan tic. Susahnya, kalau tic sampai mengganggu sekali penampilan anak, bisa jadi kurang pede.
Bagaimana gejala tic ?
Tic sering mulai muncul pada anak umur 5-10 tahun. Anak laki-laki tiga kali lebih sering dibandingkan perempuan. Sebanyak 6–12% di antara anak-anak mengalami tic. Biasanya mulai muncul sebagai gerakan otot-otot wajah, berupa mata berkedip-kedip. Mulut melakukan gerakan mencucu (monyong) ke depan atau menyeringai. Kepala seperti tersentak-sentak atau mengangguk-angguk, atau gerakan mengangkat bahu berkali-kali. Berkali-kali? Ya, memang itu ciri dari tic. Gerakannya terjadi berulangkali. Bisakah anak menahan tic? Bisa, tetapi usaha menahan gerakan tersebut justru sering membuat anak menjadi stres. Bila akhirnya gerakan tersebut muncul lagi, anak justru merasa lebih lega. Tic juga bisa muncul waktu tidur, walaupun ringan sekali.
Tic yang terbatas pada sebagian otot wajah disebut sebagai tic simpel. Lebih sulit lagi, gerakan bisa berubah menjadi gerakan yang lebih kompleks (disebut sebagai tic kompleks) berupa bertambahnya frekuensi, dan bertambah beratnya gerakan. Tubuh bisa sampai bergerak-gerak seluruhnya, bahkan sampai anak melompat-lompat. Bisa juga anak melengkungkan tubuhnya ke belakang sampai kita takut punggungnya akan patah. Tic juga sering muncul berupa batuk dehem-dehem. Diobati dengan berbagai obat batuk tidak akan sembuh. Tentu saja, karena penyebabnya bukan batuk betulan tetapi tic.
Celakanya, pada sebagian anak akan disusul munculnya tic suara, berupa suara menggeram yang berasal dari tenggorok, batuk, bersin atau menyalak. Yang paling berat adalah bahwa 8% di antara anak-anak tersebut mengalami koprolalia. Koprolalia berarti anak mengeluarkan makian bahasa kotor dan jorok tanpa dapat ditahan. Maaf, semua bahasa jorok yang pernah kita kenal dapat diucapkan oleh anak.
Sindrom Tourette
Tic berupa gerakan ditambah tic suara disebut sebagai sindrom Tourette. Ciri sindrom Tourette adalah:
Gejala tic dengan gerakan yang bermacam-macam ditambah tic suara pada saat bersamaan, walaupun tidak selalu berurutan.
Tic harus terjadi beberapa kali sehari, biasanya dalam beberapa rentetan serangan per hari dan menetap selama minimal satu tahun, tanpa periode bebas tic lebih dari 3 bulan berturut-turut.
Mulainya tic pada anak berumur kurang dari 18 tahun.
Gejala tic bukan disebabkan obat-obatan atau penyakit lain.
Mengapa anak dapat mengalami tic ?
Sayangnya sampai sekarang ilmu kedokteran belum berhasil menjawabnya. Tidak ada yang tahu persis mengapa seorang anak dapat mengalami tic. Memang diduga ada bagian otak yang terganggu, terutama di daerah ganglia basalis, tetapi gangguan ini tidak bisa dideteksi dengan alat yang paling canggih sekalipun. Gangguan bahan kimia otak seperti dopamin, serotonin dan lain-lain juga tidak luput dari pemeriksaan untuk mengetahui penyebab tic, tetapi hasilnya juga masih simpang-siur. Faktor genetik juga berperan. Di dalam keluarga sering ada berapa orang yang mengalami tic.
Sebagian anak mengalami perburukan gejala setelah infeksi tenggorok oleh kuman streptokokus beta hemolitikus grup A. Keadaan ini disebut sebagai PANDAS (Pediatric Autoimmune Neuropsychiatric Disorders associated with Streptococcal infection). Masalah lain adalah bahwa tic sering muncul bersamaan dengan berbagai gangguan lainnya misalnya ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), gangguan obsesif-kompulsif, depresi, kecemasan, gangguan kepribadian, mengamuk, perilaku self-injurious, kesulitan belajar, gangguan tidur dan lain-lain. Semuanya merupakan gangguan kejiwaan yang memerlukan bantuan dokter ahli jiwa.
Tic yang baru muncul pada usia dewasa bukan tic sebenarnya, tetapi lebih dipengaruhi adanya faktor pencetus dari lingkungan. Demikian juga tic yang muncul setelah anak mendapat obat tertentu, mengalami cedera kepala, atau habis mengalami sakit serius. Bukan merupakan tic sebenarnya.
Bagaimana masa depannya ?
Pada 26% anak, tic akan menghilang sendiri tanpa obat dalam waktu satu tahun. Selewatnya dari satu tahun, tic menjadi kronis. Walaupun menetap, gejala akan berkurang pada 46% anak. Yang memburuk hanya kira-kira 14% anak.
Bagaimana mengobati tic ?
Tic berupa gerakan ringan tidak memerlukan terapi, karena sebagian besar akan hilang dalam 12 bulan. Tetapi kalau gerakannya mengganggu rasa percaya diri anak dan mengganggu kehidupannya. Karena itun harus mendapat obat. Demikian pula dengan sindrom Tourette, juga harus mendapat obat. Teknik terapi perilaku sudah banyak dicoba tetapi tidak ada yang berhasil.
Ada kira-kira 20 macam obat yang dapat digunakan untuk tic, tetapi lagi-lagi belum ada satupun juga yang 100% memuaskan. Apalagi obat-obat tersebut banyak mempunyai efek samping.
Sumber : anakku.net

Mengenal Tic dan Tourette

Mata Dino berkedip-kedip terus sejak 2 minggu ini. Wah, barangkali terlalu banyak main PS? Cacingankah? Matanya kelilipan debu? Atau bulu matanya tumbuh ke dalam sehingga membuat gatal? Kelilipan atau gatal karena bulu mata tumbuh ke dalam memang bisa terjadi. Cacingan sih rasanya tidak. Banyak lagi mitos tentang mata kedip-kedip. Sebenarnya kalau mata kedip-kedip menetap untuk waktu yang lama mungkin disebabkan tic. Susahnya, kalau tic sampai mengganggu sekali penampilan anak, bisa jadi kurang pede.

Bagaimana gejala tic ?
Tic sering mulai muncul pada anak umur 5-10 tahun. Anak laki-laki tiga kali lebih sering dibandingkan perempuan. Sebanyak 6–12% di antara anak-anak mengalami tic. Biasanya mulai muncul sebagai gerakan otot-otot wajah, berupa mata berkedip-kedip. Mulut melakukan gerakan mencucu (monyong) ke depan atau menyeringai. Kepala seperti tersentak-sentak atau mengangguk-angguk, atau gerakan mengangkat bahu berkali-kali. Berkali-kali? Ya, memang itu ciri dari tic. Gerakannya terjadi berulangkali. Bisakah anak menahan tic? Bisa, tetapi usaha menahan gerakan tersebut justru sering membuat anak menjadi stres. Bila akhirnya gerakan tersebut muncul lagi, anak justru merasa lebih lega. Tic juga bisa muncul waktu tidur, walaupun ringan sekali.

Tic yang terbatas pada sebagian otot wajah disebut sebagai tic simpel. Lebih sulit lagi, gerakan bisa berubah menjadi gerakan yang lebih kompleks (disebut sebagai tic kompleks) berupa bertambahnya frekuensi, dan bertambah beratnya gerakan. Tubuh bisa sampai bergerak-gerak seluruhnya, bahkan sampai anak melompat-lompat. Bisa juga anak melengkungkan tubuhnya ke belakang sampai kita takut punggungnya akan patah. Tic juga sering muncul berupa batuk dehem-dehem. Diobati dengan berbagai obat batuk tidak akan sembuh. Tentu saja, karena penyebabnya bukan batuk betulan tetapi tic.

Celakanya, pada sebagian anak akan disusul munculnya tic suara, berupa suara menggeram yang berasal dari tenggorok, batuk, bersin atau menyalak. Yang paling berat adalah bahwa 8% di antara anak-anak tersebut mengalami koprolalia. Koprolalia berarti anak mengeluarkan makian bahasa kotor dan jorok tanpa dapat ditahan. Maaf, semua bahasa jorok yang pernah kita kenal dapat diucapkan oleh anak.

Sindrom Tourette
Tic berupa gerakan ditambah tic suara disebut sebagai sindrom Tourette. Ciri sindrom Tourette adalah:
Gejala tic dengan gerakan yang bermacam-macam ditambah tic suara pada saat bersamaan, walaupun tidak selalu berurutan.

Tic harus terjadi beberapa kali sehari, biasanya dalam beberapa rentetan serangan per hari dan menetap selama minimal satu tahun, tanpa periode bebas tic lebih dari 3 bulan berturut-turut.
Mulainya tic pada anak berumur kurang dari 18 tahun.
Gejala tic bukan disebabkan obat-obatan atau penyakit lain.

Mengapa anak dapat mengalami tic ?
Sayangnya sampai sekarang ilmu kedokteran belum berhasil menjawabnya. Tidak ada yang tahu persis mengapa seorang anak dapat mengalami tic. Memang diduga ada bagian otak yang terganggu, terutama di daerah ganglia basalis, tetapi gangguan ini tidak bisa dideteksi dengan alat yang paling canggih sekalipun. Gangguan bahan kimia otak seperti dopamin, serotonin dan lain-lain juga tidak luput dari pemeriksaan untuk mengetahui penyebab tic, tetapi hasilnya juga masih simpang-siur. Faktor genetik juga berperan. Di dalam keluarga sering ada berapa orang yang mengalami tic.

Sebagian anak mengalami perburukan gejala setelah infeksi tenggorok oleh kuman streptokokus beta hemolitikus grup A. Keadaan ini disebut sebagai PANDAS (Pediatric Autoimmune Neuropsychiatric Disorders associated with Streptococcal infection). Masalah lain adalah bahwa tic sering muncul bersamaan dengan berbagai gangguan lainnya misalnya ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), gangguan obsesif-kompulsif, depresi, kecemasan, gangguan kepribadian, mengamuk, perilaku self-injurious, kesulitan belajar, gangguan tidur dan lain-lain. Semuanya merupakan gangguan kejiwaan yang memerlukan bantuan dokter ahli jiwa.

Tic yang baru muncul pada usia dewasa bukan tic sebenarnya, tetapi lebih dipengaruhi adanya faktor pencetus dari lingkungan. Demikian juga tic yang muncul setelah anak mendapat obat tertentu, mengalami cedera kepala, atau habis mengalami sakit serius. Bukan merupakan tic sebenarnya.

Bagaimana masa depannya ?
Pada 26% anak, tic akan menghilang sendiri tanpa obat dalam waktu satu tahun. Selewatnya dari satu tahun, tic menjadi kronis. Walaupun menetap, gejala akan berkurang pada 46% anak. Yang memburuk hanya kira-kira 14% anak.

Bagaimana mengobati tic ?
Tic berupa gerakan ringan tidak memerlukan terapi, karena sebagian besar akan hilang dalam 12 bulan. Tetapi kalau gerakannya mengganggu rasa percaya diri anak dan mengganggu kehidupannya. Karena itun harus mendapat obat. Demikian pula dengan sindrom Tourette, juga harus mendapat obat. Teknik terapi perilaku sudah banyak dicoba tetapi tidak ada yang berhasil.

Ada kira-kira 20 macam obat yang dapat digunakan untuk tic, tetapi lagi-lagi belum ada satupun juga yang 100% memuaskan. Apalagi obat-obat tersebut banyak mempunyai efek samping.

Sumber : anakku.net

Mengenal Tic dan Tourette

Mata Dino berkedip-kedip terus sejak 2 minggu ini. Wah, barangkali terlalu banyak main PS? Cacingankah? Matanya kelilipan debu? Atau bulu matanya tumbuh ke dalam sehingga membuat gatal? Kelilipan atau gatal karena bulu mata tumbuh ke dalam memang bisa terjadi. Cacingan sih rasanya tidak. Banyak lagi mitos tentang mata kedip-kedip. Sebenarnya kalau mata kedip-kedip menetap untuk waktu yang lama mungkin disebabkan tic. Susahnya, kalau tic sampai mengganggu sekali penampilan anak, bisa jadi kurang pede.

Bagaimana gejala tic ?
Tic sering mulai muncul pada anak umur 5-10 tahun. Anak laki-laki tiga kali lebih sering dibandingkan perempuan. Sebanyak 6–12% di antara anak-anak mengalami tic. Biasanya mulai muncul sebagai gerakan otot-otot wajah, berupa mata berkedip-kedip. Mulut melakukan gerakan mencucu (monyong) ke depan atau menyeringai. Kepala seperti tersentak-sentak atau mengangguk-angguk, atau gerakan mengangkat bahu berkali-kali. Berkali-kali? Ya, memang itu ciri dari tic. Gerakannya terjadi berulangkali. Bisakah anak menahan tic? Bisa, tetapi usaha menahan gerakan tersebut justru sering membuat anak menjadi stres. Bila akhirnya gerakan tersebut muncul lagi, anak justru merasa lebih lega. Tic juga bisa muncul waktu tidur, walaupun ringan sekali.

Tic yang terbatas pada sebagian otot wajah disebut sebagai tic simpel. Lebih sulit lagi, gerakan bisa berubah menjadi gerakan yang lebih kompleks (disebut sebagai tic kompleks) berupa bertambahnya frekuensi, dan bertambah beratnya gerakan. Tubuh bisa sampai bergerak-gerak seluruhnya, bahkan sampai anak melompat-lompat. Bisa juga anak melengkungkan tubuhnya ke belakang sampai kita takut punggungnya akan patah. Tic juga sering muncul berupa batuk dehem-dehem. Diobati dengan berbagai obat batuk tidak akan sembuh. Tentu saja, karena penyebabnya bukan batuk betulan tetapi tic.

Celakanya, pada sebagian anak akan disusul munculnya tic suara, berupa suara menggeram yang berasal dari tenggorok, batuk, bersin atau menyalak. Yang paling berat adalah bahwa 8% di antara anak-anak tersebut mengalami koprolalia. Koprolalia berarti anak mengeluarkan makian bahasa kotor dan jorok tanpa dapat ditahan. Maaf, semua bahasa jorok yang pernah kita kenal dapat diucapkan oleh anak.

Sindrom Tourette
Tic berupa gerakan ditambah tic suara disebut sebagai sindrom Tourette. Ciri sindrom Tourette adalah:
Gejala tic dengan gerakan yang bermacam-macam ditambah tic suara pada saat bersamaan, walaupun tidak selalu berurutan.

Tic harus terjadi beberapa kali sehari, biasanya dalam beberapa rentetan serangan per hari dan menetap selama minimal satu tahun, tanpa periode bebas tic lebih dari 3 bulan berturut-turut.
Mulainya tic pada anak berumur kurang dari 18 tahun.
Gejala tic bukan disebabkan obat-obatan atau penyakit lain.

Mengapa anak dapat mengalami tic ?
Sayangnya sampai sekarang ilmu kedokteran belum berhasil menjawabnya. Tidak ada yang tahu persis mengapa seorang anak dapat mengalami tic. Memang diduga ada bagian otak yang terganggu, terutama di daerah ganglia basalis, tetapi gangguan ini tidak bisa dideteksi dengan alat yang paling canggih sekalipun. Gangguan bahan kimia otak seperti dopamin, serotonin dan lain-lain juga tidak luput dari pemeriksaan untuk mengetahui penyebab tic, tetapi hasilnya juga masih simpang-siur. Faktor genetik juga berperan. Di dalam keluarga sering ada berapa orang yang mengalami tic.

Sebagian anak mengalami perburukan gejala setelah infeksi tenggorok oleh kuman streptokokus beta hemolitikus grup A. Keadaan ini disebut sebagai PANDAS (Pediatric Autoimmune Neuropsychiatric Disorders associated with Streptococcal infection). Masalah lain adalah bahwa tic sering muncul bersamaan dengan berbagai gangguan lainnya misalnya ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), gangguan obsesif-kompulsif, depresi, kecemasan, gangguan kepribadian, mengamuk, perilaku self-injurious, kesulitan belajar, gangguan tidur dan lain-lain. Semuanya merupakan gangguan kejiwaan yang memerlukan bantuan dokter ahli jiwa.

Tic yang baru muncul pada usia dewasa bukan tic sebenarnya, tetapi lebih dipengaruhi adanya faktor pencetus dari lingkungan. Demikian juga tic yang muncul setelah anak mendapat obat tertentu, mengalami cedera kepala, atau habis mengalami sakit serius. Bukan merupakan tic sebenarnya.

Bagaimana masa depannya ?
Pada 26% anak, tic akan menghilang sendiri tanpa obat dalam waktu satu tahun. Selewatnya dari satu tahun, tic menjadi kronis. Walaupun menetap, gejala akan berkurang pada 46% anak. Yang memburuk hanya kira-kira 14% anak.

Bagaimana mengobati tic ?
Tic berupa gerakan ringan tidak memerlukan terapi, karena sebagian besar akan hilang dalam 12 bulan. Tetapi kalau gerakannya mengganggu rasa percaya diri anak dan mengganggu kehidupannya. Karena itun harus mendapat obat. Demikian pula dengan sindrom Tourette, juga harus mendapat obat. Teknik terapi perilaku sudah banyak dicoba tetapi tidak ada yang berhasil.

Ada kira-kira 20 macam obat yang dapat digunakan untuk tic, tetapi lagi-lagi belum ada satupun juga yang 100% memuaskan. Apalagi obat-obat tersebut banyak mempunyai efek samping.

Sumber : anakku.net

Jangan Mencemooh Anak

Tidak semua nama julukan bernada positif bahkan ada yang diberikan dengan tujuan untuk mencemooh. Seperti, anak yang kurus lantas dipanggil Cacing, kulit si kecil yang berwarna gelap diberi julukan "Si Blacky", rambut anak yang keriting diberi nama Si Kribo atau Brekele. Tidak jarang, pula yang berunsur SARA. Anak berhidung supermancung mendapat julukan "Si Arab", "Cina" untuk Si Sipit, dan "Si Batak" karena asalnya dari Medan. Anak-anak pun kerap dipanggil atas nama orangtuanya. Misal, nama aslinya Iksan tapi dipanggil Saidi karena itu nama ayahnya.

Apakah nama julukan seperti itu bisa memengaruhi tumbuh kembang anak? Jawabnya tergantung pada karakter anak. Ada anak yang tetap enjoy meski mendapat julukan buruk dari temannya, tapi ada juga yang tersinggung (biasanya yang berkarakter pemalu dan sensitif). Nah, yang perlu diwaspadai tentu anak yang tidak menerima julukan yang diberikan kepadanya. Kalau terus-menerus diledeki, konsep dirinya bisa menjadi negatif. Ia merasa sebagai anak tak berguna dan akhirnya menarik diri dari lingkungan. Prestasi belajarnya menjadi tidak optimal dan tidak menutup kemungkinan ia dendam sehingga sering ajang saling ledek berbuah konflik yang berujung perkelahian.

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orangtua saat anak menjadi korban "julukan":
Lihat bagaimana reaksi anak mendapat nama julukan tadi. Tersinggung, biasa saja, atau justru senang. Masing-masing reaksi membutuhkan penanganan tersendiri.

Jika anak merasa terganggu, cobalah berikan solusi dengan berperilaku cuek. Respons berlebihan seperti marah kadang membuat orang semakin senang untuk meledek. Dengan berperilaku cuek, si peledek akan bosan sendiri dan menghentikan ledekannya.

Coba ajari dia agar bersikap asertif dengan meminta anak mengungkapkan perasaan ketersinggungannya misal, "Aku enggak suka kalau kamu memanggil aku Si Gajah!"

Tanamkan agar anak tidak meledek anak lain. Siapa tahu di diledek karena dia sendiri senang meledek orang lain. Bila ia tidak bersedia diledek, minta ia untuk menghindari kebiasaan itu juga.

Jadilah teladan yang baik. Jangan memberi nama "baru" pada tetangga. Contoh Pak Darsin dibilang Pak Kentung karena perutnya yang buncit.

BEDA LABEL, BEDA JULUKAN
Memang ada sedikit kemiripan antara label dan nama julukan. Keduanya sama-sama merupakan penilaian seseorang kepada orang lain. Bedanya julukan adalah memberi nama lain selain nama aslinya sebagai kehormatan ataupun ledekan. Posisi pemberi nama julukan juga umumnya sejajar. Label umumnya diberikan oleh orang-orang "di atas" anak seperti orangtua, guru, dan lain-lain dan berisi kata sifat yang menggambarkan perilaku anak. Contoh, kalau anak tidak bisa menguasai pelajaran dengan cepat langsung dilabel sebagai anak bodoh, anak yang memecahkan piring dicap anak nakal, dan sebagainya.

Sumber : tabloid-nakita.com

Generasi Baru Abad ke-21, Generasi Platinum

Ketika masyarakat masih terpana dengan kehadiran generasi Y (Milenium), mereka tidak menyadari akan munculnya sebuah calon generasi baru yang lahir pada abad ke-21 yang lebih canggih dari generasi Y. Merekalah Generasi Platinum, yang lahir sesudah tahun 2000.

Seperti apakah ciri-ciri, kesukaan, sikap, aspirasi mereka? Faktor-faktor dan kejadian-kejadian apa saja yang membentuk kepercayaan dan tingkah laku mereka?

Psikolog dari Universitas Paramadina, Alzena Masykouri, kepada ANTARA News mengatakan bahwa generasi itu lahir di masa keterbukaan teknologi, keterbukaan cara berpikir, keterbukaan berperilaku, serta ketersediaan sarana pendidikan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya.
"Penamaan sebagai Generasi Platinum oleh para pakar dunia sebetulnya cuma istilah saja, untuk membedakan generasi ini dari sebelumnya. Platinum sendiri mengacu pada sesuatu yang mewah dan elegan," kata dia.

Dikatakannya, pada awalnya, hidup generasi yang disebut Baby Boomers. Generasi itu merupakan kelompok masyarakat yang hidup setelah Perang Dunia II yaitu antara 1946 dan 1964. Generasi ini diberi nama Baby Boomers karena pada rentang waktu generasi ini hidup, terjadi peningkatan jumlah kelahiran di seluruh dunia.
Anak-anak yang terlahir di generasi ini merupakan golongan masyarakat yang mulai mengenal televisi dengan beragam acara yang berbeda-beda, seperti Perang Vietnam, pembunuhan John F Kennedy, Martin Luther King Jr, dan Robert F. Kennedy. Golongan masyarakat ini mengenal musik, sebagian besar adalah Rock n Roll, sebagai cara untuk mengekpresikan identitas generasi mereka.

Selanjutnya, lahir Generasi X yang lahir antara tahun 1965 hingga 1980. Anak-anak yang lahir pada generasi ini tumbuh dengan video games dan MTV, dan menghabiskan masa remajanya di tahun 80-an.
Anak-anak remaja generasi X memiliki ciri-ciri, kurang optimistis terhadap masa depan, sinis, skeptis, tidak lagi menghormati nilai-nilai dan lembaga tradisional, serta tidak memiliki rasa hormat kepada orang tua mereka.

Di awal 90-an, media menampilkan Generasi X secara fisik sebagai generasi yang senang memakai kemeja flannel, suka menyendiri, banyak tindikan di tubuh, dan lebih memilih bekerja di restoran.

Generasi Y, atau yang lebih dikenal sebagai Generasi Millennium, tumbuh seiring dengan banyak kejadian yang mengubah dunia, di antaranya berkembangnya komunikasi massa, serta internet.

Terminologi Generasi Y diberikan kepada anak-anak yang lahir dari tahun 1981 - 1995. Anak-anak remaja yang lahir pada generasi ini harus merasakan tingginya biaya pendidikan dibandingkan generasi sebelumnya.
Generasi ini cenderung menuntut, tidak sabar, serta buruk dalam berkomunikasi dengan sesama. Survei yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa generasi ini memiliki kemampuan mengeja dan bahasa yang buruk.

Generasi Y yang telah bekerja menunjukkan sikap yang cuek dan senantiasa bertentangan dengan peraturan kantor. Namun, generasi ini boleh dipuji untuk energi dan semangat bekerjanya yang luar biasa.

Apakah generasi berhenti sampai di sini? Bagaimana dengan anak-anak yang lahir sesudahnya, yang lahir dengan segala ketersediaan sarana serta kemajuan teknologi?

"Ya, inilah anak-anak Generasi Platinum. Generasi Platinum adalah terminologi yang diberikan kepada anak-anak yang lahir pada tahun 2000 ke atas atau awal abad ke-21," kata dia.
Menurut Masykouri, jika diamati anak-anak kelahiran tahun 2000 memiliki karakter unik yang lebih ekspresif dan eksploratif selaras dengan arah perkembangan zaman.
Bila diamati, kata dia, anak-anak Generasi Platinum memiliki kemampuan yang tinggi dalam mengakses dan mengakomodir informasi sehingga mereka memiliki kesempatan lebih banyak dan terbuka untuk mengembangkan dirinya. Kelak, mereka pun dapat menggunakan potensinya untuk bertahan hidup. Bahkan juga menjadi manusia yang berkualitas dan produktif.

Generasi sebelumnya memang sudah memiliki tingkat literasi teknologi yang tinggi, namun mereka hanya sebatas sebagai pengguna saja. Generasi Platinum adalah golongan yang memiliki orientasi sekaligus kemampuan berkarya sehingga dapat berperan sebagai produsen, kreator, ataupun inisiator.

"Sesungguhnya ini tidak hanya untuk aspek teknologi saja, tetapi juga dalam setiap aspek kehidupan," kata dia.
Namun, kata Masykouri, jika ditelaah anak yang lahir pada abad ke-21 adalah hasil `produksi` orang tua (lahir di tahun 70-an), yaitu generasi yang sudah memiliki keinginan untuk mengoptimalkan potensinya. Orang tua mereka adalah umumnya orang-orang yang berpendidikan tinggi.

Alhasil, kemunculan generasi yang berbeda tak lepas dari pengaruh orangtuanya yang memiliki pandangan terbuka, dan lebih mudah menerima perubahan, terutama teknologi.

Sementara itu, Ketua Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Indonesia (UI) Dr. Paulus Wirutomo mengatakan bahwa pemisahan generasi tidak bisa dipakemkan karena meliputi banyak aspek seperti kondisi sosial, ekonomi, termasuk informasi.

Namun, perkembangan generasi bisa saja terjadi jika terjadi fenomena sosial yang mewabah artinya tidak dilihat dari lingkup yang kecil.

"Karakter manusia di setiap generasi tidak berbeda jauh karena manusia dibekali dengan kemampuan adaptasti. Namun ada perkembangan generasi. Yang membedakan individu di setiap generasi ialah `life skills` yang dimiliki," kata Paulus Wirutomo.

Hal senada dikemukakan sosiolog dari UI Drs Johannes Frederik Warouw MA. Dia mengatakan bahwa wajar terjadinya generasi pada setiap zaman akibat nilai baru dan nilai lama atau modifikasi kedua nilai itu.
Setiap generasi, kata dia, pasti memiliki karakteristik manusia yang berbeda karena mereka selalu berhadapan dengan pandangan yang berbeda pula.

"Perkembangan itu wajar, tetapi keberadaannya perlu diawasi berkaitan dengan nilai. Karena, bila tidak diawasi bisa jadi malah menghancurkan nilai-nilai yang sudah ada," katanya menambahkan. (*)

Oleh : Yuri Alfrin Aladdin
Sumber : antara.co.id

PG/ TK ISLAM SMART BEE - Children Education

My photo
Based on Islamic system. We commit to be partner for parents to provide educated play ground for their beloved children. Contact us: Jl.Danau Maninjau Raya No.221, Ph 62-21-7712280/99484811 cp. SARI DEWI NURPRATIWI, S.Pd