Thursday, 12 March 2009

Indikator Anak Berbakat (Bagian 3 - habis)

Sambungan...

Ciri-ciri Intelektual/Belajar
Mudah menangkap pelajaran, ingatan baik, perbendaharaan kata luas, penalaran tajam (berpikir logis-kritis, memahami hubungan sebab-akibat), daya konsentrasi baik (perhatian tak mudah teralihkan), menguasai banyak bahan tentang macam-macam topik, senang dan sering membaca, ungkapan diri lancar dan jelas, pengamat yang cermat, senang mempelajari kamus maupun peta dan ensiklopedi. Cepat memecahkan soal, cepat menemukan kekeliruan atau kesalahan, cepat menemukan asas dalam suatu uraian, mampu membaca pada usia lebih muda, daya abstraksi tinggi, selalu sibuk menangani berbagai hal.

Ciri-ciri Kreativitas
Dorongan ingin tahunya besar, sering mengajukan pertanyaan yang baik, memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah, bebas dalam menyatakan pendapat, mempunyai rasa keindahan, menonjol dalam salah satu bidang seni, mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya serta tak mudah terpengaruh orang lain, rasa humor tinggi, daya imajinasi kuat, keaslian (orisinalitas) tinggi (tampak dalam ungkapan gagasan, karangan, dan sebagainya. Dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinal yang jarang diperlihatkan anak-anak lain), dapat bekerja sendiri, senang mencoba hal-hal baru, kemampuan mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi).

Ciri-ciri Motivasi
Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu lama, tak berhenti sebelum selesai), ulet menghadapi kesulitan (tak lekas putus asa), tak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi, ingin mendalami bahan/bidang pengetahuan yang diberikan, selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin (tak cepat puas dengan prestasinya), menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah "orang dewasa" (misalnya terhadap pembangunan, korupsi, keadilan, dan sebagainya). Senang dan rajin belajar serta penuh semangat dan cepat bosan dengan tugas-tugas rutin, dapat mempertahankan pendapat-pendapatnya (jika sudah yakin akan sesuatu, tak mudah melepaskan hal yang diyakini itu), mengejar tujuan-tujuan jangka panjang (dapat menunda pemuasan kebutuhan sesaat yang ingin dicapai kemudian), senang mencari dan memecahkan soal-soal.
Sumber : Tabloid Nakita

Indikator Anak Berbakat (Bagian 2)

Pentingnya Stimulasi Lingkungan
Meski demikian, Utami menyarankan orang tua tak lantas mudah melakukan generalisasi. "Mentang-mentang perkembangan motorik anaknya lambat, lantas dikira tak berbakat. Belum tentu, lo," katanya. Sebab, perkembangan setiap anak berbeda. Ada yang cepat dalam perkembangan bicara dan bahasanya tapi motoriknya lambat, dan sebagainya. "Bisa saja terjadi, anak yang dulu perkembangan bicaranya lambat, ternyata ketika besar menjadi sarjana sastra yang terkenal," ujarnya. Dengan kata lain, meski perkembangannya lambat, bisa saja nantinya ia berkembang menjadi anak berbakat dan mengejar ketinggalannya. Hanya saja, hal itu tak akan terjadi dengan sendirinya. "Semuanya tergantung dari lingkungan. Bagaimana stimulasi lingkungan akan sangat mempengaruhi perkembangan bakat anak," tukas Utami. Semakin dini orang tua memberikan stimulasi, akan semakin baik. Misalnya, dengan mengajak anak bercakap-cakap sejak ia masih bayi. "Banyak orang tua menganggap, bayi belum mengerti apa-apa sehingga belum perlu diajak bicara."

Padahal, mengajak anak sering-sering berbicara sangat perlu. "Itu akan merangsang perkembang bahasanya dan berarti membuatnya terangsang untuk berbicara," tutur Utami. Begitu juga untuk mengembangkan keinginan anak akan eksplorasi. Sejak usia bayi hal ini sudah dapat dilakukan. Misalnya, tempat tidur bayi tak dibiarkan kosong melompong, tapi "diisi" dengan mainan gantung yang dapat merangsangnya. "Sesekali, dekatkan benda-benda yang terang ke dekat matanya agar ia bisa melihat jelas atau menyentuhnya. Ini sama dengan melatih koordinasi antara tangan dan matanya," kata Utami. Selain itu, tambah pakar kreativitas ini, beri ia kesempatan untuk melatih berbagai keterampilannya. Saat membacakan cerita, misalnya, "Orangtua tak melulu membaca tapi juga mengajukan pertanyaan agar si anak terbiasa berpikir kreatif."

Cukup Alat Sederhana
Sarana dan prasarana pendidikan di rumah yang memungkinkan bakat si anak tercium, tentu saja perlu. Buku bacaan, alat musik/olahraga, atau mainan edukatif, sangat penting. Dari benda-benda itulah, akan terlihat ke mana bakat si anak. Apakah pada musik, olahraga, teknik, atau intelektual. "Dari situ juga akan terlihat derajat besarnya bakat tiap anak." Memang, aku Utami, tak semua orang mampu membeli alat-alat musik yang mahal. Untuk mendeteksi bakat musik, tak perlu punya piano. "Cukup dengan radio atau teve. Dari cepatnya si kecil menghapal nyanyian bahkan untuk melodi yang sulit-sulit, itu sudah menunjukkan bakatnya," terang penulis buku Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah ini. Selain itu, asalkan orang tua kreatif, alam pun sudah menyediakan berbagai sarana. Misalnya, membuat mainan dari biji-bijian atau dedaunan. "Sebaiknya dalam melakukan permainan, orang tua juga ikut terjun bermain. Sehingga anak dapat menikmati kegiatan itu dan mempunyai kepercayaan diri untuk mengembangkannya," kata Utami.

Perlakuan Khusus
Setelah bakat anak ditemukan, orang tua seyogyanya memberi peluang pada anak untuk mengembangkan bakatnya. Yakni, dengan menciptakan lingkungan yang mendorong perkembangan bakat itu. Seperti sudah disinggung di atas, sekalipun seorang anak berbakat namun lingkungannya tak mendukung, maka ia tak akan berkembang. "Memang anak berbakat akan belajar lebih cepat dan melakukan segala sesuatu lebih baik ketimbang anak biasa, sehingga tampaknya tak perlu mendapatkan perhatian khusus. Padahal, tidak demikian," kata Utami. Setiap anak, lanjutnya, entah ia berbakat atau tidak, punya hak untuk mendapatkan pendidikan yang menarik dan menantang. Tapi karena kebutuhan, minat, dan perilaku yang "lebih" dibanding anak lainnya, mau tak mau, anak berbakat harus mendapatkan pengarahan khusus. Hanya, Utami mengingatkan, jangan sampai perlakuan khusus itu merugikan. Baik bagi si anak itu sendiri maupun anak lain. Misalnya, orang tua sering menonjol-nonjolkan anaknya yang berbakat dibanding anaknya yang lain.

"Dampak buruknya, ego si anak semakin menghebat dan bisa juga ia rasakan sebagai beban. Sebab, seperti anak-anak lainnya, ia pun punya masalah emosional," terangnya. Sebaliknya bagi anak lain, bisa timbul rasa persaingan antara saudara. "Kok, dia melulu yang dipuji?" Karena itu, Utami menganjurkan orang tua bersikap tak menunjukkan si berbakat itu istimewa, tapi lebih pada memberikan rangsangan-rangsangan istimewa. Sebetulnya, yang paling penting dilakukan orang tua, kata Utami, "Mencoba menemukan bakat pada setiap anaknya karena masing-masing anak punya kekuatan tersendiri sehingga anak tak perlu merasa iri satu sama lain." Nah, tunggu apalagi? Semakin cepat dan semakin sering kita memberi rangsangan pada si kecil, bakat terpendamnya pun akan segera kita temukan.

Ciri-ciri Intelektual/Belajar .... (bersambung)

Indikator Anak Berbakat (Bagian 1)

Orang tua mana yang tak ingin punya anak berbakat? Bagaimana, sih, cara mendeteksi bakat si cilik? "Anak sulung saya luar biasa aktif. Dia juga pintar dan suka sekali bertanya. Kadang, pertanyaannya bikin kami kewalahan. Teman-teman saya bilang, si sulung termasuk anak berbakat," tutur Andika, ayah dua anak tentang putra sulungnya yang berusia 4 tahun. Banyak orang dengan mudah menyimpulkan si A, si B, atau si C anak berbakat. Entah karena ia selalu jadi juara kelas, juara lomba, dan sebagainya. Bahkan, anak yang belum pernah menunjukkan prestasinya di bidang tertentu pun, sering dikatakan anak berbakat. Misalnya, suaranya merdu saat menyanyi. Sebenarnya, seperti apa sih, yang dimaksud anak berbakat?

Beda Pintar & Berbakat
Menurut pakar psikologi pendidikan, Prof. Dr. S.C. Utami Munandar, anak berbakat berbeda dengan anak pintar. "Bakat berarti punya potensi. Sedangkan pintar bisa didapat dari tekun mempelajari sesuatu," jelasnya. Tapi meski tekun namun tak berpotensi, seseorang tak akan bisa optimal seperti halnya anak berbakat. "Kalau anak tak berbakat musikal, misalnya. Biar dikursuskan musik sehebat apa pun, ya, kemampuannya sebegitu-begitu saja. Tak akan berkembang." "Sebaliknya, jika anak berbakat tapi lingkungannya tak menunjang, ia pun tak akan berkembang." Soal bakat musik tadi, misalnya. Jika di rumah tak ada alat-alat musik, bakatnya akan terpendam," jelas guru besar tetap Fakultas Psikologi UI ini.

Pada anak hiperaktif, jelasnya,"Konsentrasinya kurang terfokus. Jadi, hanya gerak fisiknya yang aktif tapi tak menunjukkan kelincahan intelektual. Aktivitasnya pun sering tanpa tujuan." Kendati dia suka bertanya, tapi tak berkonsentrasi pada jawabannya. Konsentrasinya mudah buyar jika ada hal lain yang menarik perhatiannya. Lain hal dengan anak berbakat. "Jika ia lari ke sana-sini, pasti ada tujuannya. Jika ia tertarik pada sesuatu, ia akan duduk diam dalam waktu yang lama, asyik sendiri mengerjakan sesuatu," terang Ketua Yayasan Indonesia untuk Pendidikan dan Pengembangan Anak Berbakat ini.

Perkembangan Lebih Cepat
Bakat anak, lanjut Utami, berkaitan dengan kerja belahan otak kiri dan kanan. Belahan otak kanan berhubungan dengan kreativitas, imajinasi, intuisi. Sedangkan belahan yang kiri untuk kecerdasan. Nah, anak berbakat umumnya menunjukkan IQ di atas rata-rata, yaitu minimal 130. "Namun tak berarti anak dengan IQ rata-rata, yaitu 90-110, tak akan berbakat," tukas Utami. Anggapan orang bahwa IQ menetap seumur hidup, menurutnya, sama sekali tak benar. "Ada, kok, anak yang sebelumnya ber-IQ di bawah rata-rata, tapi dengan stimulasi dan pendekatan yang baik bisa berubah jadi di atas rata-rata," paparnya.

Tapi IQ bukan satu-satunya yang menentukan seorang anak disebut berbakat atau tidak. Masih ada faktor lain lagi, yaitu CQ atau kreativitas, yang juga harus di atas rata-rata, minimal 250. Selain itu, tambah Utami, "Ia juga harus memiliki task commitment, yakni kemampuan pengikatan diri terhadap tugas atau motivasi. Jadi, ada keinginan dan ketekunan untuk menyelesaikan sesuatu."

Nah, untuk mendeteksi apakah seorang anak berbakat atau tidak, menurut Utami, bisa dilihat dari perkembangan motoriknya. Anak berbakat, perkembangan motoriknya lebih cepat dibanding anak biasa. Entah dalam berbicara, berjalan, maupun membaca. Misalnya, umur 9 bulan sudah bisa jalan (normalnya, usia 12,5 bulan). Selain itu, ia juga cepat dalam memegang sesuatu dan membedakan bentuk serta warna. Untuk kemampuan membaca, kadang anak berbakat memperolehnya dari belajar sendiri. Yaitu dari mengamati dan menghubung-hubungkan. Misalnya dari memperhatikan lalu-lintas, teve, atau buku.

Anak berbakat juga senang bereksplorasi atau menjajaki. "Jadi, kalau ia mempreteli barang-barang, bukan karena dia nakal tapi karena rasa ingin tahunya," terang Utami. Tentang rasa ingin tahu yang tinggi ini, terangnya lebih lanjut, memang pada umumnya dimiliki anak kecil. Hanya, pada anak berbakat, cara mengamatinya lebih kental dibanding anak-anak biasa. Hal lain yang menjadi karakteristik anak berbakat ialah bicaranya bisa sangat serius. Pertanyaannya sering menggelitik dan tak terduga. Kadang ia tak puas dengan jawaban yang diberikan, sehingga terus berusaha mencari jawaban-jawaban lain.

Pentingnya stimulasi .... (Bersambung)

Wednesday, 11 March 2009

Peran Komputer Bagi Pendidikan Anak

Pada awalnya komputer dititikberatkan pada proses pengolahan data, tetapi karena teknologi yang sangat pesat, saat ini teknologi komputer sudah menjadi sarana informasi dan pendidikan khususnya teknologi internet. Dalam hal pendidikan, komputer dapat dipergunakan sebagai alat bantu (media) dalam proses belajar mengajar baik untuk guru maupun siswa yang mempunyai fungsi sebagai Media tutorial, alat peraga dan juga alat uji dimana tiap fungsi tersebut masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Sebagai media tutorial, komputer memiliki keunggulan dalam hal interaksi, menumbuhkan minat belajar mandiri serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa / anak. Tetapi interaksi komputer dengan manusia belum dapat menggantikan interaksi manusia dengan manusia, selain itu mempunyai kelemahan lain yaitu kemauan belajar mandiri yang masih rendah. Komputer sebagai alat uji memiliki keunggulan dalam keobyektifan, ketepatan dan kecepatan dalam penghitungan tetapi masih belum dapat menilai soal-soal essai, pendapat dan hal yang terkait dengan moral dan etika. Yang terakhir, sebagai media alat peraga, komputer mempunyai kelebihan dapat memperagakan percobaan tanpa adanya resiko, tetapi membutuhkan waktu dalam pengembangannya.

Sebelum memperkenalkan komputer kepada anak, orangtua maupun guru seharusnya dapat memahami perkembangan pemahaman anak, dimana pada usia 0 -2 tahun anak mendapatkan pemahamannya dari penginderaannya. Kemudian usia 2 - 7 tahun anak mulai belajar menggunakan bahasa, angka dan simbol-simbol tertentu. Pada usia 7 - 12 tahun anak mulai dapat berpikir logis, terutama yang berhubungan dengan obyek yang tampak langsung olehnya.

Yang saat ini perlu menjadi perhatian bagi orangtua maupun guru adalah bagaimana cara memperkenalkan komputer kepada anak. Hal yang perlu dicoba adalah dengan program-program aplikasi (software) yang bersifat "Edutainment" yaitu perpaduan antara education (pendidikan) dan entertainment (hiburan). Selain itu program (software) aplikasi "Edutainment" tersebut mempunyai kemampuan menumbuhkembangkan kreatifitas dan imajinasi anak serta melatih saraf motorik anak. Contohnya program permainan kombinasi benda, menyusun benda atau gambar (Puzzle) serta program berhitung dan software-software lain yang didukung perangkat multimedia.

Selain program aplikasi (software), dunia internet semakin berarti bagi anak-anak. Internet memungkinkan anak mengambil dan mengolah ilmu pengetahuan ataupun informasi dari situs-situs yang dikunjunginya tanpa adanya batasan jarak dan waktu. Di samping itu masih ada manfaat lain yang didapat dari internet, misalnya surat menyurat (E-mail), berbincang (chatting), mengambil dan menyimpan informasi (download).

Untuk perkembangan pendidikan selanjutnya teknologi "Teleconference" (Konferensi interaktif secara on line dari jarak jauh) dirasakan sudah pantas di coba dan dikembangkan, karena dapat menghemat waktu, tenaga pengajar, kapasitas ruang belajar serta tidak mengenal letak geografis.

Mengenal & Membimbing Anak Hiper Aktif (Bagian 2 - habis)

Lanjutan dari Bagian 1 ...

Berikut ini adalah faktor-faktor penyebab hiperaktif pada anak :
Faktor neurologik
Insiden hiperaktif yang lebih tinggi didapatkan pada bayi yang lahir dengan masalah-masalah prenatal seperti lamanya proses persalinan, distres fetal, persalinan dengan cara ekstraksi forcep, toksimia gravidarum atau eklamsia dibandingkan dengan kehamilan dan persalinan normal. Di samping itu faktor-faktor seperti bayi yang lahir dengan berat badan rendah, ibu yang terlalu muda, ibu yang merokok dan minum alkohol juga meninggikan insiden hiperaktif
Terjadinya perkembangan otak yang lambat. Faktor etiologi dalam bidang neuoralogi yang sampai kini banyak dianut adalah terjadinya disfungsi pada salah satu neurotransmiter di otak yang bernama dopamin. Dopamin merupakan zat aktif yang berguna untuk memelihara proses konsentrasi
Beberapa studi menunjukkan terjadinya gangguan perfusi darah di daerah tertentu pada anak hiperaktif, yaitu di daerah striatum, daerah orbital-prefrontal, daerah orbital-limbik otak, khususnya sisi sebelah kanan

Faktor toksik
Beberapa zat makanan seperti salisilat dan bahan-bahan pengawet memilikipotensi untuk membentuk perilaku hiperaktif pada anak. Di samping itu, kadar timah (lead) dalam serum darah anak yang meningkat, ibu yang merokok dan mengkonsumsi alkohol, terkena sinar X pada saat hamil juga dapat melahirkan calon anak hiperaktif.

Faktor genetik
Didapatkan korelasi yang tinggi dari hiperaktif yang terjadi pada keluarga dengan anak hiperaktif. Kurang lebih sekitar 25-35% dari orang tua dan saudara yang masa kecilnya hiperaktif akan menurun pada anak. Hal ini juga terlihat pada anak kembar.

Faktor psikososial dan lingkungan
Pada anak hiperaktif sering ditemukan hubungan yang dianggap keliru antara orang tua dengan anaknya. Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mendidik dan membimbing anak-anak mereka yang tergolong hiperaktif :
1.Orang tua perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktifitas
2.Kenali kelebihan dan bakat anak
3.Membantu anak dalam bersosialisasi
4.Menggunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif (misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib), memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak
5.Memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya
6.Menerima keterbatasan anak
7.Membangkitkan rasa percaya diri anak
8.Dan bekerja sama dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya
9.Disamping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orang tua. Contohnya dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orang tua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya.

www.sehatgroup.web.id

Mengenal & Membimbing Anak Hiper Aktif (Bagian 1)

Apa sebenarnya yang disebut hiperaktif itu ?

Gangguan hiperaktif sesungguhnya sudah dikenal sejak sekitar tahun 1900 di tengah dunia medis. Pada perkembangan selanjutnya mulai muncul istilah ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity disorder). Untuk dapat disebut memiliki gangguan hiperaktif, harus ada tiga gejala utama yang nampak dalam perilaku seorang anak, yaitu inatensi, hiperaktif, dan impulsif.

Inatensi
Inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. Anak tidak mampu mempertahankan konsentrasinya terhadap sesuatu, sehingga mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal yang lain.

Hiperaktif
Gejala hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak bisa diam. Duduk dengan tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Ia akan bangkit dan berlari-lari, berjalan ke sana kemari, bahkan memanjat-manjat. Di samping itu, ia cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik.

Impulsif
Gejala impulsif ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam dorongan untuk mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak terkendali. Dorongan tersebut mendesak untuk diekspresikan dengan segera dan tanpa pertimbangan. Contoh nyata dari gejala impulsif adalah perilaku tidak sabar. Anak tidak akan sabar untuk menunggu orang menyelesaikan pembicaraan. Anak akan menyela pembicaraan atau buru-buru menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan. Anak juga tidak bisa untuk menunggu giliran, seperti antri misalnya. Sisi lain dari impulsivitas adalah anak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas yang membahayakan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Selain ketiga gejala di atas, untuk dapat diberikan diagnosis hiperaktif masih ada beberapa syarat lain. Gangguan di atas sudah menetap minimal 6 bulan, dan terjadi sebelum anak berusia 7 tahun. Gejala-gejala tersebut muncul setidaknya dalam 2 situasi, misalnya di rumah dan di sekolah.

Problem-problem yang biasa dialami oleh anak hiperaktif

Problem di sekolah
Anak tidak mampu mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru dengan baik. Konsentrasi yang mudah terganggu membuat anak tidak dapat menyerap materi pelajaran secara keseluruhan. Rentang perhatian yang pendek membuat anak ingin cepat selesai bila mengerjakan tugas-tugas sekolah. Kecenderungan berbicara yang tinggi akan mengganggu anak dan teman yang diajak berbicara sehingga guru akan menyangka bahwa anak tidak memperhatikan pelajaran. Banyak dijumpai bahwa anak hiperaktif banyak mengalami kesulitan membaca, menulis, bahasa, dan matematika. Khusus untuk menulis, anak hiperaktif memiliki ketrampilan motorik halus yang secara umum tidak sebaik anak biasa

Problem di rumah
Dibandingkan dengan anak yang lain, anak hiperaktif biasanya lebih mudah cemas dan kecil hati. Selain itu, ia mudah mengalami gangguan psikosomatik (gangguan kesehatan yang disebabkan faktor psikologis) seperti sakit kepala dan sakit perut. Hal ini berkaitan dengan rendahnya toleransi terhadap frustasi, sehingga bila mengalami kekecewaan, ia gampang emosional. Selain itu anak hiperaktif cenderung keras kepala dan mudah marah bila keinginannya tidak segera dipenuhi.

Hambatan-hambatan tersebut membuat anak menjadi kurang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Anak dipandang nakal dan tidak jarang mengalami penolakan baik dari keluarga maupun teman-temannya. Karena sering dibuat jengkel, orang tua sering memperlakukan anak secara kurang hangat. Orang tua kemudian banyak mengontrol anak, penuh pengawasan, banyak mengkritik, bahkan memberi hukuman. Reaksi anakpun menolak dan berontak. Akibatnya terjadi ketegangan antara orang tua dengan anak. Baik anak maupun orang tua menjadi stress, dan situasi rumahpun menjadi kurang nyaman. Akibatnya anak menjadi lebih mudah frustrasi. Kegagalan bersosialisasi di mana-mana menumbuhkan konsep diri yang negatif. Anak akan merasa bahwa dirinya buruk, selalu gagal, tidak mampu, dan ditolak.

Problem berbicara
Anak hiperaktif biasanya suka berbicara. Dia banyak berbicara, namun sesungguhnya kurang efisien dalam berkomunikasi. Gangguan pemusatan perhatian membuat dia sulit melakukan komunikasi yang timbal balik. Anak hiperaktif cenderung sibuk dengan diri sendiri dan kurang mampu merespon lawan bicara secara tepat.

Problem fisik
Secara umum anak hiperaktif memiliki tingkat kesehatan fisik yang tidak sebaik anak lain. Beberapa gangguan seperti asma, alergi, dan infeksi tenggorokan sering dijumpai. Pada saat tidur biasanya juga tidak setenang anak-anak lain. Banyak anak hiperaktif yang sulit tidur dan sering terbangun pada malam hari. Selain itu, tingginya tingkat aktivitas fisik anak juga beresiko tinggi untuk mengalami kecelakaan seperti terjatuh, terkilir, dan sebagainya.

Berikut ini adalah faktor-faktor penyebab hiperaktif pada anak :

... Bersambung ....

Mengasah ESQ Anaka dengan Metode Mind Map

Oleh Newsroom

Mind map adalah teknik pembelajaran menggunakan peta konsep. Pencatatan materi belajar dituangkan dalam bentuk diagram yang memuat simbol, kode, gambar dan warna yang saling berhubungan. Fungsi mind map adalah untuk menggambarkan ide, menerangkan definisi suatu materi, atau mencari solusi sebuah masalah.

Ada beberapa keuntungan yang bisa didapat dari penggunaan metode mind map ini:
- Lebih efisien untuk membuat catatan dan menghafalkan suatu informasi daripada teknik penulisan tradisional yang memanjang dari tepi kiri ke kanan buku.
- Mengoptimalkan kerja fungsi otak kiri dan kanan secara penuh.
- Paling awet menempel di memori otak kita.
- Penggunaannya sangat luas, mulai dari anak sekolah sampai direktur, bahkan ibu rumah tangga juga dapat memanfaatkan teknik ini.
- Apa pun materinya dapat dituangkan melalui teknik mind map.
- Bisa ditulis tangan atau menggunakan software komputer.

Dengan berbagai kelebihan tersebut, tidak salah jika mind map menjadi metode pendekatan yang paling efektif untuk mengasah ESQ anak.
Sumber: Kawan Pustaka

TK/Play Group Smart Bee

Thursday, 5 March 2009

IQ Anak Ber-ASI Lebih Tinggi

IQ Anak Ber-ASI Lebih Tinggi

Entin Supriati, Kontributor INILAH.COM

Manfaat dan nilai-nilai kebaikan ASI tidak terbantahkan dan tak akan pernah bisa digantikan susu formula sehebat dan semahal apapun. Penelitian yang dilakukan sejauh ini selalu menguatkan kedigdayaan cairan alami itu. Termasuk dari Kanada dan Belarusia yang menyimpulkan anak-anak ber-ASI mempunyai skor kecerdasan lebih tinggi. Sekitar setengah dari 14.000 bayi yang secara acak dijadikan responden penelitian ini mendapat ASI eklusif dari ibunya atas anjuran dari rumah sakit dan klinik Belarusia. Setengahnya lagi adalah ibu-ibu yang memberikan ASI tanpa dianjurkan oleh pihak manapun.

Ibu-ibu yang mendapat anjuran agar menyusui bayinya, rata-rata bertahan lebih lama daripada orangtua yang tidak disarankan. Mereka rata-rata menyerah, memberikan susu formula dengan berbagai alasan.
Pada tiga bulan pertama, 73% ibu-ibu yang dianjurkan memberikan ASI masih bertahan dibandingkan dengan 60% ibu-ibu yang tidak mendapat anjuran.

Pada bulan ke-6, angkanya menjadi 50% berbanding 36%. Perkembangan anak-anak itu dimonitor terus selama 6,5 tahun.

Anak-anak yang berada pada kelompok ASI mencatat skor IQ lima persen lebih tinggi dan lebih baik dari segi akademik. Hasil ini membawa debat antarpeneliti, apakah karena pengaruh ASI atau karena memiliki ibu yang lebih perhatian?

Desain penelitian kemudian disesuaikan. Satu pihak memasukkan karakteristis ibu, satunya lagi tidak. "Ibu yang memberikan ASI lebih lama atau eksklusif terbukti berbeda dengan ibu-ibu yang memutuskan untuk tidak menyusui," kata Dr Michael Kramer dari McGill University Montreal yang memimpin penelitian itu.
"Ibu-ibu itu lebih cerdas. Mereka menanamkan investasi kecerdasan kepada bayinya, berinteraksi lebih dekat dan tergolong ibu yang baik dalam arti menyisihkan waktu lebih banyak untuk membacakan buku dan bermain bersama," tulis Dr Kramer seperti tercantum dalam jurnal Archieves of General Psychiatry.

Tingkat kecerdasan anak dari dua kelompok itu dilakukan dengan uji IQ yang dilakukan dokter dan peringkat yang diberikan guru di sekolah, berdasarkan kemampuan membaca, menulis, matematika, dan pelajaran lainnya.
Studi ini mulai dilakukan pertengahan 1990-an, awalnya dilakukan di Amerika Serikat dan Kanada. Namun pada saat itu rumah sakit di kedua tengah gencar mempromosikan pemberian ASI. Sehingga lokasi pengamatan pindah ke Belarusia.

Kenapa anak ber-ASI lebih cerdas? Menurut Dr Kramer, penyebabnya masih belum jelas. Mungkin saja karena bayi lebih lama berinteraksi dengan ibunya, mengajak bicara dan membelainya. Mungkin karena faktor emosi, fisik atau ada hal lain yang diserap bayi, seperti hormon dari ibu.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bayi yang disusui ibunya mempunyai kesehatan lebih baik, mempunyai sedikit masalah dengan telinga, perut, infeksi pencernaan, alergi dan penyakit kulit serta mempunyai risiko rendah terhadap tekanan darah tinggi, diabetes, dan kegemukan.

Persatuan Dokter Anak Dunia menyarankan ibu yang tidak mempunyai masalah kesehatan menyusui bayinya paling tidak enam bulan pertama. Dilanjutkan sampai usia setahun hingga kemudian makanan lain diperkenalkan.

Monday, 2 March 2009

Ukur Lingkar Kepala Untuk Kenali Anak Cerdas


Untuk mengetahui apakah seorang anak akan cerdas di masa depan, bisa diketahui dari besaran lingkaran kepalanya. Bila anak baru lahir memiliki lingkar kepala sepanjang 32-36 cm berarti anak berpotensi untuk cerdas. Jika ukuran lingkar kepalanya dibawah 28 cm anak cenderung akan bodoh dan diatas 36 cm berpotensi mengidap penyakit hydrocephalus (otak yang membesar karena dipenuhi air.

"Perhitungan semacam itu memang tidak berlaku mutlak. Ada juga anak-anak yang kepalanya kecil tetapi tetap bisa cerdas. Namun, kecenderungannya anak yang kepala kecil itu kurang cerdas," kata Kepala Sub Bagian Saraf Anak FKUI/RSCM, dr Hardiono Pusponegoro dalam jumpa pers, di Jakarta, Kamis (16/2) terkait dengan akan diselenggarakan Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB) khusus Saraf Anak dan Kedaruratan Saraf Anak di Jakarta pada 27-28 Maret 2006.

Hadir dalam kesempatan itu, dr Awin AP Akib, Kepala Bagian Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM dan dan Prof Dr Sofyan Ismael, Guru Besar Kedokteran Anak FKUI/RSCM.

Karena itu, dr Hardiono meminta para ibu untuk memperhatikan dengan benar asupan makanan dan kondisi kesehatannya selama hamil. Karena kecerdasan anak sangat ditentukan saat masih dalam kandungan dan 2-3 tahun pertama kehidupannya. "Setelah berumur tiga tahun, perkembangan otak relatif sudah tidak pesat lagi, berarti tidak banyak waktu untuk membantu mencerdaskan anak. Otak tidak bisa menunggu," katanya.

Dr Hardiono mengungkapkan, banyak orangtua yang tidak menyadari tindakan yang dilakukan selama masa kehamilan bakal merugikan anak-anak di masa depan. Misalnya, banyak mengkonsumsi jajanan yang kaya akan lemak, garam dan bahan pengawet, namun miskin zat gizinya. Selain kurang menjaga kesehatan sehingga terkena penyakit infeksi, tokso atau terpeleset sehingga cedera kehamilan. Akibatnya, ada sebanyak 16 persen anak-anak mengalami gangguan perkembangan dan saraf ringan hingga berat.

"Belum lagi bila ibu hamil terserang toksoplasma, mungkin ibu itu sendiri tidak mengalami sakit apa-apa, tetapi pengaruhnya pada janin dalam kandungan sangat fatal. Kemungkinan terburuk adalah anak terkena cerebral palsy (CP) atau kelumpuhan otak. Kasus CP di Indonesia masih cukup besar yaitu 2 dari 1000 bayi mengalami CP," tuturnya.

Cara lain mengenali anak cerdas adalah kemampuan berkomunikasi atau berbicara. Bila anak sudah bisa diajak bicara--bukan sekedar celoteh bayi yang tidak bisa dimengerti-- sejak usia 7 bulan maka bayi tersebut bisa dikatakan cerdas. "Kalau anak bisa berjalan sejak usia dibawah satu tahun, tetapi belum bisa bicara secara jelas, tidak bisa dikatakan cerdas, karena tidak ada hubungan kecerdasan dengan kemampuan berjalan lebih awal," katanya.

Bila anak tidak mampu berbicara setelah usia satu tahun, dr Hardiono meminta orangtua agar membawa anaknya ke dokter anak untuk mengetahui faktor penyebabnya. Karena bisa saja ketidakmampuan bicara itu karena adanya gangguan pendengaran. Sebab 3-6 dari bayi yang lahir mengalami gangguan kesehatan. Keterlambatan penatalaksanaan akan menyebabkan gangguan permanen.

Bukti lain menyebutkan bahwa 1 per 100 diantara anak-anak mempunyai kecerdasan kurang. Dan autisme terjadi pada 1 sampai 10 diantara 10.000 anak. Gangguan-gangguan pendengaran, autisme dan keterlambatan mental menjadi penyebab masalah penting keterlambatan bicara.

Itulah sebabnya, ditambahkan Prof Sofyan Ismael, pihaknya akan menggelar PKB dengan harapan dokter anak di seluruh Indonesia dapat pengetahuan terbaru tentang kesehatan anak, khususnya saraf anak serta latihan bagaimana menstimulasi kelainan anak tersebut.

"PKB ini bukan sekedar transfer knowledge tentang ilmu kedokteran terkini tetapi juga memberi pelatihan yang dapat digunakan untuk menstimulasi kecerdasan anak. Dengan demikian, para dokter anak bisa mengetahui penyakit pada anak sejak dini. Smeakin dini, hasilnya akan semakin baik," kata Prof Sofyan Ismael menandaskan. (Tri Wahyuni)

Thursday, 26 February 2009

Waspadai Kanker Pada Anak

ANAK Anda mungkin mengidap kanker jika merasakan salah satu dari 7 keluhan berikut ini seperti pusing dan muntah di pagi hari, ada pembesaran kelenjar, nyeri pada tulang, ada benjolan di rongga perut, benjolan di rongga dada, pendarahan, atau pansitopenia.

Hal tersebut dikemukakan Devisi Hematologi Onkologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM Endang Windiastuti di Jakarta (18/2). "Yang tergolong anak-anak adalah mereka yang di bawah 18 tahun. Kita mesti mengamati perubahan fisik anak, kerena mereka masih sulit mengungkapkan apa yang terjadi pada dirinya," kata Endang.

Menurut Endang kanker pada anak hanya 2-4 persen dari seluruh kanker pada manusia. Sedangkan tingkat kematian anak yang disebabkan kanker sebesar 10 persen Dua jenis kanker yang banyak diidap oleh anak adalah kanker darah (leukemia) dan kanker retina mata (retinoblastoma).

Endang memaparkan anak yang terkena kanker, 40 persen di antaranya terserang leukemia. Anak berumur 3-6 tahun adalah yang paling beresiko terkena. Gejala yang menyertai seperti anak tampak pucat, lesu, lemah, demam yang penyebabnya tidak jelas, mengalami pendarahan yang tidak normal, merasa nyeri tulang atau sendi, dan terjadi pembengkakan di perut dan kelenjar.

Peringkat kedua, lanjut Endang, adalah retinoblastoma. Biasanya kanker jenis ini menyerang anak berusia 6 bulan – 2 tahun. Gejala yang dapat dideteksi seperti terdapat bercak putih di dalam bagian hitam mata seolah bersinar (seperti mata kucing), mata tampak menonjol dan juling.

Menurut Endang penyebab pasti kanker belum diketahui. Tetapi ada beberapa faktor resiko yang bisa menyebabkan kanker seperti zat kimia, zat polutan, dan infeksi virus.

C4-09

PG/ TK ISLAM SMART BEE - Children Education

My photo
Based on Islamic system. We commit to be partner for parents to provide educated play ground for their beloved children. Contact us: Jl.Danau Maninjau Raya No.221, Ph 62-21-7712280/99484811 cp. SARI DEWI NURPRATIWI, S.Pd