Sunday, 31 January 2010

mendidik anak cerdas

ips-Tips Mendidik Anak Sejak Dini
Dari hasil pengamatan,wawancara dengan rekan kerja dan berdasarkan pengalaman sendiri,bahwa orang tua sangat besar peranya dalam mendidik anak, terutama pada anak-anak sejak kecil. Mendidik anak sejak dini sangat menentukan bagaimana perkembangan kedewasaan anak. Sebagai orang tua apapun tingkah lakunya akan dilihat oleh anak dan dijadikan contoh perilaku anak,baik yang baik maupun yang buruk sekalipun. Karena pada dasarnya anak berumur dibawah lima tahun rasa ingin tahu dan belajarnya sangat tinggi. Daya ingat bagi anak dibawah lima tahun sangat tajam dan sebagai orang tua sudah layaknya memberikan cotoh dalam kehidupan sehari-hari pada kegiatan-kegiatan yang positif. Sebagai contoh bila orang tua suka membaca, atau suka menulis atau suka berolah raga atau suka menonton film-film barat dan sebagainya,si anakpun cenderung akan mencontohnya. Karena itu berbanggalah orang tua bila bisa melakukan kegiatan-kegiatan positif seperti tersebut diatas sebagai contoh, nantinya akan menanamkan jiwa pada diri anak untuk suka menulis,menggambar,membaca dan lain-lain.
Berikut ini adalah beberapa tips mendidik anak sejak usia dini:
1.Berikan contoh dengan mengajaknya ikut serta pada kegiatan sehari-hari yang positif.
-Membersih ruangan rumah,Biasanya anak-anak yang suka bermain-main dengan mainanya akan membuat situasi berantakan di ruangan rumah, ajarkan pada anak untuk bisa membersihkan dan merapikan sendiri setelah selesai bermain.
-Membaca buku-buku bacaan. Buku-buku bacaan sebagai altenatif guru yang baik. Buku sebagai sumber ilmu yang tiada batas,banyak jenis buku yang bisa dibaca dan mebahas berbagai tema dan masalah.
-Membaca Majalah atau Koran,dengan membaca koran dan majalah akan menambah wawasan pada orang tua sehingga bisa mempunyai wawasan yang lebih luas dan bisa diajarkan.
-Membaca Kitab Suci.Dengan mendengarkan acaan kitab suci biasanya sianak akan memiliki spiritual yang lebih baik bila dewasa kelak.
-Menulis,Anak akan memperhatikan bila orang tua sedang menulis dan akan menirunya dengan coret-coret, biasanya didinding namun sebaiknya dibuku-buku yang telah disediakan orang tua,sehingga termasuk juga mengajarkan keapian dan kebersihan.
-Bagi keluarga yang punya halaman berumput, biasanya setiap bulan sekali rumput akan jadi panjang dan tidak beraturan, maka anak bisa diajari juga bagaimana merapikan halaman.
-Mencuci kendaraan,baik motor maupun mobil bila tidak terlalu kotor bisa dicuci sendiri dirumah, sekaligus mengajarkan anak bagaimana memperlakukan kendaraan.
-Mengajak kebengkel, biasanya anak akan senang bila diajak ikut serta kebengkel,dan biasanya akan menambah ide bagi si anak untuk lebih mengenal jenis kendaraan bermotor,bisa juga nanti menjadi idola sianak untuk berwiraswasta dengan membuka bengkel dan lain-lain.
2.Berikan contoh untuk mentaati waktu, Yaitu waktu bermain, waktu belajar dan waktu tidur. Biasanya anak dibawah lima tahun memerlukan waktu tidur lebih banyak dibandingkan dengan orang dewasa.Sehingga sebagai orang tua terutama Ibu harus bisa mengajarkan waktu-waktu kapan harus bermain dan kapan harus beristirahat. Hal ini dilakukan untuk kesehatan anak itu sendiri.
3.Menghindarkan anak-anak dari hal-hal yang bersifat buruk:
-Bertengkar didepan anak-anak, karena dengan bertengkar didepan anak-anak secara otomatis akan memberikan contoh kekerasan dalam keluarga didepan anak, sehingga bisa menimbulkan trauma psikis pada si anak itu sendiri.
-Membiarkan anak tidak disiplin, kadang didikan keras bisa membuat disiplin pada sianak,dengan dimanja anak tidak bisa mandii dan bertanggung jawab.
-Memukul anak secara langsung didepan anak-anak yang lain, akan mengakibatkan hilangnya rasa kepercayaan diri si anak.
-Bila Ayah sedang keras pada anak, dalam arti tujuan mendidik si ibu tidak boleh membela si anak, sebab bila dibela si anak tidak akan jera bila melakukan kesalahan. Sebaliknya bila Si Ibu sedang keras pada anak dalam arti mendidik,Sang ayah pun tidak boleh membela kesalahan pada anak,. Sehingga terjalin kerjasama mendidik anak yang baik dan seimbang.
-Jangan berikan tontonan baik berupa film-film kekerasan atau Sinotron drama yang bersifat cengeng dan mendramatisi, untuk menghindari anak dari sifat-sifat yang kurang baik dari dampak yang ditontonya.
4. Sisakan waktu bersama Anak-anak. Ditengah-tengah kesibukan sebagai orang tuan sisakan waktu untuk bermain bersama anak-anak,sehingga timbul rasa kasih sayang sekaligus pembelajaran pada anak.
5. Usia 7 tahun, bagi yang Moslem bila sampai belum Sholat ajarkan dengan sedikit keras, bisa dengan cambukan untuk mengingatkan anak agar segera sembahyang.
6. Diatas usia 7 tahun Anak akan bisa diberikan tangung jawab yang lebih,sehingga tidak terlalu merepotkan orang tua.
Semoga berhasil
Good Luck!

www.google.com

anak tanpa ayah

Jakarta, Memiliki orangtua lengkap adalah idaman semua anak. Tapi kadang kenyataan yang dijalani tak seperti itu. Lebih banyak anak yang hidup hanya dengan ibunya selama bertahun-tahun. Berbedakah perilaku anak yang hidup tanpa ayah?

Kehidupan anak tanpa ayah ini karena alasan bermacam-macam, seperti kepala keluarga yang berpulang lebih dulu, gugur dalam tugas atau yang menjadi tren saat ini karena perceraian.

Yang lebih banyak disoroti adalah perilaku anak tanpa ayah karena perceraian. Banyak anak yang merasa sedih, frustasi, marah dan takut dalam menghadapi situasi ini.

Seperti dikutip dari parentsworld, sosok ayah bagi anak mewakili lebih dari sekadar pencari nafkah, tapi juga sebagai penyelamat, pelindung, pembimbing dan persahabatan. Sehingga banyak anak yang orangtuanya bercerai melampiaskan emosinya pada perilakunya. Tapi memiliki ayah juga bukan jaminan anak akan patuh.

Saking tingginya tingkat perceraian di Amerika, mulai banyak pertanyaan masih pentingkah peran ayah. Karena lebih banyak yang percaya anak bisa hidup tanpa ayahnya karena ibu telah terbukti menjadi orangtua tunggal (single parent) yang teruji.

Psikolog Ike R. Sugianto, Psi dari Klinik Medikids Greenville, saat dihubungi detikHealth, Minggu (31/1/2010) mengatakan jika anak hanya tinggal bersama ibu maka perilakunya tergantung dari pola asuh sang ibu.

Menurutnya karakter seorang anak tidak bisa ditentukan oleh salah satu faktor saja, karena itu anak yang diasuh oleh orangtua tunggal belum tentu memiliki perilaku yang salah atau menyimpang.

"Sebenanya tidak ada perilaku khas yang membedakan antara anak yang masih memiliki orangtua lengkap atau anak yang hanya memiliki ibu saja. Karena karakter seorang anak tidak bisa dikaitkan dengan satu variabel saja," ujar Ike.

Ike menuturkan hal yang paling mempengaruhi perilaku dari anak adalah bagaimana pola asuh dari ibunya. Jika si ibu terus menekan atau menuntut agar anak bisa melakukan segala hal sehingga tak perlu tergantung pada laki-laki, maka kemungkinan besar anak akan tumbuh menjadi sosok mandiri.

Namun jika ibu terlalu protektif terhadap anaknya, maka ada kemungkinan anak akan tumbuh menjadi sosok yang manja.

"Pola asuh orangtua sangat berperan dalam hal ini. Karena meskipun si anak masih memiliki orangtua yang lengkap tapi si ayah tidak berperan dalam perkembangannya, bisa saja anak memiliki perilaku yang menyimpang," ujar psikolog yang lulus dari UI tahun 1997 ini.

Ike memberikan beberapa tips pola asuh bagi orangtua tunggal, yaitu:

1. Cobalah untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Terlepas dari apakah menjadi orangtua tunggal akibat cerai hidup atau meninggal, tapi syukuri segala kondisi yang ada. Bagaimana ibu bisa menolong anaknya kalau ia tidak bisa menolong dirinya sendiri.

2. Memberikan pola asuh yang seimbang antara faktor disiplin dan kasih sayang, sehingga anak nantinya tidak tumbuh menjadi sosok yang emosional, manja atau terlalu sensitif.

3. Anak tetap harus punya figur atau panutan laki-laki dewasa, seperti dari paman, kakek atau gurunya. Hal ini dibutuhkan agar saat anak tumbuh dewasa nanti, anak menjadi tahu bagaimana perilaku dan peran dari seorang laki-laki.

4. Ibu harus tetap mengizinkan anak untuk berkomunikasi dengan ayahnya, jika single parent diakibatkan oleh perceraian. Jika anak belum bisa menerima semuanya, coba bantu anak dengan memberikan beberapa pengertian dan tunggu kesiapan dari anak tersebut.

Diakui Ike sangat berat bagi ibu yang mengasuh anak sendirian maka itu penting menjaga komunikasi terhadap anak sehingga keduabelah pihak tahu apa yang diinginkan agar bisa menjalani hidup dengan normal.
(ver/ir)

www.detik.com

Saturday, 23 January 2010

Anak Lebih Suka Tiru Saudaranya Ketimbang Contoh Orangtua

Vera Farah Bararah - detikHealth

Jakarta, Tugas orangtua memberikan contoh yang baik bagi anak-anaknya. Tapi studi menunjukkan anak-anak belajar banyak dari saudara kandungnya baik yang baik atau yang jelek dibandingkan dari orangtua.

Akademisi mengungkapkan orangtua adalah teladan yang baik bagi anak dalam hal pengaturan formal seperti bagaimana cara makan yang baik di meja, cara memegang sendok atau berperilaku di dalam suatu ruangan.

Tapi anak-anak belajar segala hal yang bersifat informal atau pergaulan seperti bagaimana bersikap 'cool' di depan teman-temannya, bagaimana harus berteman dengan sebayanya dari saudara kandung.

"Apa yang kita pelajari dari orangtua mungkin sedikit tumpang tindih dengan apa yang dipelajari dari saudara-saudaranya. Saudara kandung bisa menjadi model yang lebih baik dalam hal perilaku informal yang sebagian besar adalah pengalaman sehari-hari," ujar Laurie Kramer, profesor di bidang pendidikan keluarga dari Illinois University, seperti dikutip dari Dailymail, Sabtu (23/1/2010).

Prof Kramer menambahkan hubungan antara saudara kandung dan lingkungan sosial bisa sangat dekat, sehingga terkadang anak-anak merasa menemukan jati dirinya dalam lingkungan tersebut.

"Memahami pengaruh dari saudara kandung bisa membantu orangtua merancang strategi yang efektif dalam melindungi perilaku anak-anaknya, selain tetap melindungi anak dari pergaulan yang buruk" ujar Prof Kramer.

Para ahli menuturkan hal terpenting yang bisa dilakukan orangtua adalah membantu membina hubungan yang lebih baik antara saudara kandung sejak keduanya masih anak-anak. Ini karena ada penelitian lain yang menunjukkan jika anak memulai hubungan dengan saudara kandung secara positif, maka seterusnya ada kemungkinan akan terus positif.

Untuk menghindari pengaruh yang buruk antara saudara kandung, orangtua harus mendorong anak-anaknya agar bisa membangun hubungan yang saling menghormati, kerjasama dan belajar untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada.
(ver/ir)

Sunday, 17 January 2010

Mengalirkan Jiwa Seni ke Anak

MANUSIA membutuhkan seni untuk memberi warna dalam hidupnya. Melalui seni, kita bisa mengekspresikan diri, menumpahkan segala rasa dan gelora jiwa. Bahkan, kita dapat pula menuangkan berbagai ide dan kreasi kita.


Tidak hanya kita, anak-anak perlu juga dikenalkan dengan seni. Dengan berkesenian, diharapkan banyak manfaat yang dapat dipetik untuk perkembangan mental si buah hati. Dia pun akan senantiasa memiliki gairah hidup bila dalam dirinya mengalir jiwa seni. Lantas, siasat apa yang harus kita jalankan?

1. Memperkenalkan Bentuk-Bentuk Kesenian

Sejak dini, anak perlu diperkenalkan dengan bentuk-bentuk kesenian, seperti: seni suara, seni musik, seni tari, seni lukis, seni drama, dan lain sebagainya. Aktivitas seni pada anak dapat diwujudkan dengan mengajak anak untuk menyanyi, menari, bermain musik, melukis, bermain teater, menulis cerita, atau membaca puisi. Kegiatan-kegiatan seperti ini biasanya disenangi anak-anak.

Mengenalkan kesenian kepada buah hati sejak dini sangatlah penting. Anak tidak akan menjadi kaku seperti robot karena mengenal gerak, warna, dan irama yang terkandung dalam seni. Dia juga tidak akan mempunyai kekakuan dalam bertindak dan berpikir. Dan, setidaknya ada beberapa hal bermanfaat yang dapat kita petik sebagai bekal hidupnya.

a. Mengekspresikan Diri

Mulai dari kecil, ajari buah hati kita untuk mengekspresikan dirinya. Kita dapat mengajarinya menghafalkan puisi singkat, lalu menyuruhnya tampil di depan kita dengan gaya-gaya yang telah kita contohkan. Lama-lama, sesuai dengan perkembangan usianya, dia pasti akan bertambah berani dan percaya diri untuk tampil tanpa dikomando. Gaya dan ekspresi wajahnya pun pasti beda dan lebih bergaya. Tidak hanya berpuisi saja, suruh dia untuk menyanyi atau menari di depan keluarga. Diharapkan nantinya dia akan pintar mengekspresikan dirinya di depan siapa pun. Ekspresi kanak-kanak akan menunjukkan seberapa cerdas dan aktif si buah hati.

Diharapkan pula si anak akan pintar menampilkan permainan terbaiknya dalam bermusik atau berkesenian lainnya. Selanjutnya kembangkan ekspresi seni atau berkesenian kepada anak-anak. Dari senilah, kehalusan rasa dan pribadi anak akan terbentuk. Kelak, bila dia bisa memaknai kemenangannya secara tidak ugal-ugalan, tetapi dengan mental dan pribadi yang lembut.

b. Menumbuhkan Pemahaman Sisi-Sisi Kemanusiaan

Pengenalan musik dan lagu sejak dini amatlah penting. Pada tahap awal, ajaklah anak mendengarkan musik atau lagu. Coba kita kenalkan salah satu alat musik. Mainkan keyboard (mainan), tekan tuts dari nada rendah sampai tinggi. Kemudian tekan dengan pelan, lalu keras. Selanjutnya, mainkan sebuah lagu anak-anak yang lembut, misalnya: “Pelangi”. Suruh anak untuk bernyanyi. Pasti dia akan berusaha bernyanyi lembut, menyesuaikan dengan iringan musik yang kita mainkan. Lagu ini pun mengajari anak untuk bersyukur atas keagungan Tuhan. Lalu, mainkan lagu yang berirama menghentak, pasti anak akan bernyanyi dengan penuh semangat.

Dengan mengenal musik atau lagu, jiwa anak akan dibentuk untuk memiliki rasa empati dan kelembutan. Dengan demikian, sekeras apa pun kepribadian anak, dia dapat menjaga dengan baik keseimbangan hidupnya karena mengenal sisi-sisi kelembutan dari berkesenian. Dan, karena pribadinya tidak selalu keras dan kuat, ia pun akan mudah untuk menghormati orang lain. Ada sisi-sisi halus atau lembut dan mampu menyentuh hati orang lain sehingga si buah hati tidak kesulitan saat berinteraksi dengan sesama. Katakanlah, buah hati luwes dalam bergaul. Kelak dia pun mampu menghadapi rintangan hidup dengan penuh keluwesan.

c. Menumbuhkan Rasa Peka

Sejak anak masih bayi, kita pasti sudah rutin bersenandung meninabobokannya. Itu adalah salah satu awal pengenalan bentuk kesenian pada anak. Anak akan terbiasa mendengar kita menyanyi untuk menidurkannya. Lama-lama dia akan terbuai dan tidur pulas begitu mendengar kita bernyanyi untuknya. Inilah salah satu cara menumbuhkan rasa peka pada anak.

Mengajak anak bertamasya juga dapat kita jadikan sarana menumbuhkan kepekaan terhadap lingkungan. Kita suruh anak melukis apa yang telah dilihatnya di objek wisata tersebut. Bisa juga kita meminta anak untuk menuliskan cerita tentang wisatanya. Pastilah anak akan melukiskan dan menceritakan hal-hal yang menarik.

Dengan belajar peka terhadap lingkungannya, diharapkan anak cerdas dalam menentukan dan mengungkapkan sesuatu yang menarik dalam hidupnya. Selanjutnya, kelak dia menjadi mampu untuk menentukan harapan dan cita-cita yang benar-benar memikat hatinya. Ia pun akan mempunyai ketajaman dalam menyikapi batu sandungan dalam pencapaian impian. Tinggal bagaimana cara kita untuk membimbing dan mengarahkannya dengan baik.

d. Melatih Konsentrasi

Lewat seni, anak juga dapat berlatih untuk konsentrasi. Bagaimana logikanya? Dengan memainkan musik, anak akan belajar untuk memperhatikan dengan saksama not-not yang ada. Bila perhatiannya baik, ia pun akan dapat memainkan musik dengan baik. Bila kurang konsentrasi, maka permainan musiknya tidaklah enak didengar. Begitu pula dengan aktivitas lainnya. Menari akan melatih anak berkonsentrasi terhadap iringan musiknya sehingga gerak-geraknya menjadi indah dan selaras dengan iramanya. Menyanyi mengajari anak berkonsentrasi terhadap nada suara dan musik pengiringnya. Dan, melukis akan mengajari anak untuk konsentrasi terhadap objek lukisan dan pemilihan warna.

Dengan melatih anak berkonsentrasi melalui aktivitas-aktivitas berkesenian, lama-lama anak akan menjadi mudah konsentrasi juga dalam belajarnya. Dengan kata lain, anak akan mudah untuk fokus dalam belajar ataupun beraktivitas lainnya. Jalan pikirannya tidak akan bercabang-cabang tak tentu arah. Selanjutnya, diharapkan anak pun menjadi mudah dalam mencapai impiannya karena memiliki konsentrasi atau kefokusan yang tinggi.

e. Menumbuhkan Kreativitas

Seni juga bisa menumbuhkan jiwa kreatif pada buah hati kita. Lantas bagaimana pemahamannya? Apabila anak kita sudah pandai menyanyi, tentu dia ingin menguasai berbagai jenis lagu, entah itu pop, rok, dangdut, maupun yang lainnya. Tentu dia akan bernyanyi sambil bergoyang-goyang, tersenyum-senyum, atau menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Ia pun dengan spontan akan menyesuaikan gaya dengan musik iringannya. Pendek kata, segala hal dilakukan untuk menambah bagus penampilannya. Anak pun selanjutnya ingin membuat lagu sendiri dengan segala kemampuan dan kelucuan yang dimiliki. Begitu pun dengan aktivitas seni lainnya, anak pasti akan menunjukkan kreativitasnya.

Apabila anak kita sudah terdidik untuk kreatif dalam berkesenian, maka dia akan kreatif pula dalam berproses mencapai segala impian hidupnya. Ia tidak akan diam saja ketika menghadapi kesulitan, namun dengan sigap selalu mencari cara untuk mengatasinya. Anak tidak akan “mati gaya”, mati kreativitas, karena seni telah mengantarkan anak pada pemahaman sisi kemanusiaan.

2. Memberikan Wadah dan Sarana Berkesenian

Mengalirkan jiwa seni kepada anak tidak hanya cukup dengan memperkenalkan bentuk-bentuk kesenian saja. Kita harus siap sedia untuk memfasilitasi dengan memberikan wadah dan sarana yang memadahi. Sangat tidak rasional bukan bila kita mengajari anak kita bermain gitar hanya dengan buku, tanpa menyediakan gitar? Begitu pun saat mengajari anak kita menari tanpa memberikan selendang atau iringan musik. Seorang pelukis pun tidak dapat menghasilkan karya terbaiknya, tanpa peralatan melukis yang komplit. Bagaimana dapat menarik sebuah lukisan bila hanya berwarna biru saja, atau kuning saja?

Selain memberikan sarana, orang tua pun seharusnya membimbing anak menemukan atau mencari wadah yang tepat. Anak yang senang melukis dapat dimasukkan ke sanggar lukis, lalu diikutsertakan dalam perlombaan-perlombaan untuk melatih keberanian dan mengasah bakatnya. Anak yang hobi bermusik, kita belikan alat musik. Untuk tahap awal tak perlu yang mahal, banyak alat musik mainan yang sangat terjangkau. Bila bakat musiknya sudah kelihatan, pantaslah kita membelikan alat musik yang bermutu. Masukkan dia dalam sanggar musik, atau kelompok orkestra. Anak yang tertarik dengan dunia nyanyi, arahkan dia dalam grup paduan suara atau les vokal.

Pemberian wadah dan sarana yang tepat dalam berkesenian akan mengantarkan si buah hati mempunyai kebebasan dan keleluasaan untuk mengekspresikan diri, semakin mengenal sisi-sisi kemanusiaan, semakin mempunyai rasa peka yang tinggi, semakin pandai berkonsentrasi dan semakin kreatif.

Ayo…, kita berlomba-lomba mengalirkan jiwa seni kepada si buah hati! Kelak dia akan menjadi pribadi yang cerdas menyikapi hidup yang penuh tantangan ini dengan kelembutan hati yang telah didapatnya dari berkesenian. Dan, dengan kepandaian berekspresi, pemahaman sisi-sisi kemanusiaan, kepekaan dan konsentrasi yang tinggi, serta kreativitas yang gemilang, buah hati kita akan mudah menapaki tangga menuju puncak prestasi. Siapa tahu si buah hati juga akan menjadi seniman yang hebat, seiring dengan kesuksesannya mencapai cita-cita.

Sumber: www.buahhaticerdas.com

Gadis Pintar Berubah Idiot Karena Penyakit Autoimun

New York, Para dokter maupun pakar neurolog sudah kehabisan akal untuk memecahkan penyakit misterius yang dialami gadis 19 tahun asal New York. Gadis yang dikenal sebagai sosok pintar dan berprestasi itu tiba-tiba mengalami kemunduran otak, sering berhalusinasi, tertawa dan menangis tanpa sebab dan tampak seperti orang idiot.

Lima neurolog, seorang ahli patologi dan tiga psikiater mengaku kesulitan mendeteksi penyakit gadis yang sudah meninggalkan bangku kuliahnya selama setahun tersebut. Keganjilan dimulai pada tahun 2007 ketika sang gadis berusia 16 tahun. Dalam sebuah acara pesta dansa, tiba-tiba ia terdiam dan tidak merespons apapun, seperti membeku di tempat.

Entah apa yang terjadi, tapi sejak itu ia mengalami kemunduran otak, menjadi tidak responsif, kesulitan membaca dan wajahnya menjadi turun layaknya orang idiot. Terkadang teman-temannya memergokinya tengah menarik tisu toilet terus menerus dan menangis sendirian disana. Sang gadis pun dianggap memiliki gangguan jiwa dan mulai diolok-olok oleh teman-temannya.

Atas saran psikolog sekolahnya, si gadis akhirnya dibawa ke dokter neurolog. Namun bukannya titik terang yang didapat, dokter justru menyarankan agar si gadis dibawa ke tempat perlindungan anak karena setelah dilakukan semua jenis tes, tidak diketahui jenis penyakit yang dideritanya apa. Bahkan dokter menganggap si gadis hanya berpura-pura saja.

Sang ibu yang sama bingungnya dengan dokter akhirnya memutuskan untuk mencoba merawatnya di rumah dengan harapan penyakitnya bisa segera sembuh. Tapi semakin hari, perilakunya semakin aneh. "Ia mulai tertawa sendirian dan berhalusinasi yang aneh-aneh," kata sang ibu seperti dikutip Forbes, Sabtu (16/1/2010).

Beberapa dokter dan psikiater mendiagnosa gejala itu sebagai penyakit schizoprenia dan memberinya obat-obatan antipsychotic. Tapi obat itu tidak juga mempan mengurangi keanehan pada diri si gadis. Ada juga yang menduganya terkena penyakit epilepsi dan lainnya. Psikiater dan dokter pun menjadi saling adu argumen tentang apakah ini termasuk penyakit mental atau penyakit saraf.

Meski sudah dilakukan tes MRI dan electroencephalogram (EEG), namun semua hasilnya menunjukkan aktivitas otak yang normal, tidak ada temuan ganjil pada otaknya. Kasus penyakit misterius ini akhirnya menarik perhatian Dr Souhel Najjar dari NYU's Langone Medical Center. "Pertama kali saya melihatnya, saya sangat yakin ia tidak hanya terkena penyakit psikiatrik tapi juga penyakit saraf," kata Dr Najjar.

"Salah satu alasannya adalah penurunan yang dramatis dari seorang gadis pintar dan berprestasi menjadi gadis yang terlihat idiot," tambahnya. Najjar menduga, ada peradangan di otak yang tidak terdeteksi oleh alat magnetic resonance imaging (MRI). Najjar juga menemukan adanya beberapa antibodi yang aneh pada tubuhnya.

"Perkiraan saya adalah, gadis ini punya penyakit autoimun yang langka, dimana sistem imun tubuh justru menyerang bagian tubuh yang sehat," jelas Najjar. Ramalan dan prediksi Dr Najjar ternyata memang benar. Sebuah tes antibodi dilakukan, dan hasilnya menunjukkan antibodi yang dihasilkan tubuh si gadis diketahui menyerang enzim glutamic acid decarboxylase (GAD).

Enzim GAD adalah enzim yang mengontrol produksi zat kimia yang disebut gamma-aminobutyric acid (GABA), yakni suatu zat yang memungkinkan otak melakukan komunikasi dan berpikir. Ketika sistem imun tubuh menyerang enzim GAD maka produksi zat GABA menjadi terhambat. Ketidakseimbangan ini akan menyebabkan gejala kejiwaan yang tidak biasa dan penurunan kemampuan kognitif otak.

Biopsi otak pun dilakukan untuk melengkapi dan meyakinkan diagnosa Dr Najjar. Dan hasilnya sungguh mengejutkan, pada otak si gadis ditemukan sel-sel saraf yang sudah mati yang ternyata berasal dari peradangan. "Itu artinya, antibodinya sudah menyerang otaknya selama bertahun-tahun dan terakumulasi hingga akhirnya otak sudah tidak kuat lagi," jelas Najjar.

Untuk menekan peradangan agar tidak bertambah parah, Najjar menyuntikkan corticosteroid pada otak si gadis. Zat immunoglobulin pun dimasukkan lewat pembuluh darahnya untuk menambah antbodi 'baik' guna melawan antibodi 'jahat'. Kini, sang gadis mulai menunjukkan perkembangan. "Ia lebih banyak berbicara dan sedikit berhalusinasi. Dokter juga bilang ia bisa meneruskan sekolahnya," kata sang ibu.

GAD autoimun termasuk penyakit misterius yang mempengaruhi sedikit orang dari seluruh populasi dunia yang ada. Beberapa anak diabetes pun diketahui punya antibodi yang berhubungan langsung dengan GAD di sel-sel pankreasnya. Kasus GAD yang dialami gadis tersebut adalah yang pertama kalinya terjadi di New York.

(fah/ir)

Sumber: Detik Health

Gangguan Kejiwaan Pada Anak Meningkat

New York, Gangguan kejiwaan bisa menimpa siapa saja termasuk saat masih anak-anak. Peneliti mendapatkan jumlah anak berusia 2-5 tahun yang terdiagnosis mengalami gangguan bipolar meningkat dua kali lipat dibanding dekade lalu.

Gangguan bipolar bisa dikarakteristikkan dengan perubahan suasana hati yang parah, biasanya sering muncul saat masa remaja atau setelahnya. Tapi Dr Yusuf Beiderman seorang psikiater anak dari Harvard University mengubah pandangan yang menyatakan anak-anak bisa memiliki kelainan ini sejak usianya masih sangat muda.

"Didapatkan sekitar lebih dari 40 kali lipat peningkatan jumlah anak yang didiagnosis mengalami gangguan bipolar selama sepuluh tahun terakhir," ujarnya seperti dikutip dari Reuters, Minggu (17/1/2010).

Jumlah penderita dan resep obat-obat antipsikotik telah meningkat kuat sebesar dua kali lipat dibandingkan dengan dekade lalu.

Penelitian menunjukkan meskipun masih jarang resep obat psikiatrik untuk anak usia 2 tahun, tapi praktiknya saat ini menjadi lebih sering digunakan.

Peneliti menggunakan data yang disusun sejak tahun 2000-2007 dan diterbitkan dalam Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry.

Dalam laporan tersebut juga disebutkan ada anak gadis berusia 4 tahun bernama Rebecca Riley meninggal akibat overdosis obat yang berguna untuk menstabilkan suasana hatinya. Kejadian ini berlangsung di wilayah Boston, AS pada tahun 2006.

Seorang psikiater anak di Boston, Kayako Kifuji menuturkan Riley didiagnosis mengalami gangguan bipolar dan ADHD (attention deficit hyperactivity disorder) saat berusia 30 bulan. Sejak itu dirinya telah menerima beberapa obat yang sangat kuat seperti Depakote, yaitu sebuah obat antiseizure untuk gangguan bipolar serta clonidine yaitu obat untuk tekanan darah.

Kasus kematian Riley sempat menjadi sorotan publik dan perdebatan di kalangan profesi psikiatri mengenai apakah gangguan bipolar dapat didiagnosis saat usia anak masih sangat muda. Selain itu diperdebatkan pula apakah bijaksana untuk meresepkan obat yang keras pada anak-anak.

Harry Tracy seorang psikolog yang mengkhususkan pada gangguan system saraf menuturkan diagnosis untuk anak yang masih sangat muda hanya bisa ditentukan oleh ilmu pasti. Gangguan seperti ADHD, depresi, gangguan bipolar dan pelecehan seksual dapat menunjukkan gejala yang sama pada usia balita.

Jika seorang anak didiagnosis dengan gangguan bipolar pada saat berusia 2-5 tahun, maka sekitar 50 persennya menerima obat antipsikotik obat untuk menstabilkan suasana hati, stimulan dan obat anti depresi.

(ver/ir)

sumber: Detikhealth

Saturday, 9 January 2010

KREATIVITAS DAN DUNIA ANAK

Kreativitas didefinisikan dan dimaknai dengan berbagai sudut pandang. Secara bahasa, Michaelis (1980) mengartikan kreativitas sebagai sesuatu yang baru atau original. Michaelis menambahkan bahwa sekaitan dengan dunia anak, hal yang baru atau original tersebut mengandung makna interpretasi. Jadi baru di sini adalah sesuatu sebagai hasil dari hubungan sintesis ide-ide original yang sudah ada, hipotesis yang baru atau cara baru dalam melakukan sesuatu.hubungan dari sintesis dan ekspresi. Jadi baru bukan benar-benar baru tapi merupakan hasil dari kemampuan dalam menyusun kembali sesuatu yang telah ada untuk tujuan tertentu. Seperti yang dinyatakan Lowenfield (1956):

This ability to rearrange and redefine materials for new purposes is an important aspect of any creative process. In fact, it is the nature of experimentation with materials to use them in an new way or rearrange them in new combination.

Jadi, ketika kita berbicara kreativitas dan anak, maka kita berbicara bagaimana memberikan materi-materi pengetahuan pada anak sehingga input pengetahuannya banyak dan akhirnya dia bisa mensintesis dari pengetahuan-pengetahuan tersebut hal-hal yang baru atau orisinil. Tapi pentu saja selain input berbagai pengetahuan yang tidak kalah pentingnya adalah memberikan kesempatan pada anak untuk melahiran hal yang orisinil tersebut.

Kreativitas menyangkut berbagai segi. Ditinjau dari segi kepribadian, kreativitas merujuk pada potensi atau daya kreatif yang ada pada setiap pribadi, anak maupun orang dewasa. Pada dasarnya, setiap orang memiliki bakat kreatif dengan derajat dan bidang yang berbeda-beda. Kita perlu mengenal bakat kreatif pada anak untuk dapat mengembangkan kreativitas anak. Setelah itu, kita pun harus menghargainya dan memberi kesempatan serta dorongan untuk mewujudkannya.

Jika ditinjau sebagai suatu proses, kreativitas dapat dinyatakan sebagai suatu bentuk pemikiran dimana individu berusaha menemukan hubungan-hubungan yang baru untuk mendapatkan jawaban, metode atau cara-cara baru dalam menghadapi suatu masalah. Pada anak yang masih dalam proses pertumbuhan, kreativitas hendaknya mendapat perhatian dalam hal proses, bukan produk dari kreativitas itu sendiri.

Ada 3 ciri dominan anak kreatif, yakni spontan, memiliki rasa ingin tahu dan tertarik pada hal-hal yang baru. Ketiga ciri-ciri tersebut terdapat pada diri anak, artinya pada dasarnya semua anak memiliki kemampuan dasar kreativitas sejak dini. Pada usia selanjutnya kreativitas anak dapat berkembang optimal atau dapat tertekan atau terhambat tergantung berbagai hal, seperti gizi, kesehatan, pengasuhan, serta lingkungan sekitar. Kewajiban orang tua sebenarnya adalah mempertahankan agar anak tetap kreatif

Orang kreatif menyukai tantangan dan yakin bahwa setiap permasalahan memiliki solusi. Orang kreatif juga sudah biasa terbuka terhadap ide baru dan berani mengambil resiko atas ide barunya tersebut meskipun tidak mendapat respon dari lingkungannya. Ciri-ciri orang kreatif antara lain:

1. Ia bisa memberi banyak jawaban terhadap suatu pertanyaan yang Anda berikan.
2. Ia mampu memberi jawaban bervariasi, dapat melihat suatu masalah dalam berbagai sudut pandang.
3. Ia dapat memberi jawaban-jawaban yang jarang diberikan anak lain. Jawaban baru biasanya tidak lazim atau kadang tak terpikirkan orang lain.
4. Ia mampu menggabungkan atau memberi gagasan-gagasan atas jawaban yang dikemukakan, sehingga ia mampu untuk mengembangkan, memperkaya jawabannya dengan memperinci sampai hal-hal kecil sebagaimana aslinya.

Agar kreativitas dapat berkembang, diperlukan dorongan atau pendorong dari dalam sendiri dan dari luar. Pendorong yang datangnya dari diri sendiri, berupa hasrat dan motivasi yang kuat untuk berkreasi, sedangkan yang dari luar misalnya keluarga, sekolah dan lingkungan.

Dalam lingkungan keluarga, pendidikan orang tua terhadap anak akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kreativitas anak. Anak yang memiliki bakat tertentu, jika tidak diberikan rangsangan-rangsangan atau motivasi dari orang tua dan lingkungannya, tidak akan mampu memelihara, apalagi mengembangkan bakatnya.

Keluarga adalah lingkungan yang paling banyak mempengaruhi kondisi psikologis dan spiritual anak. Di Jepang, misalnya, karena Jepang sangat memperhatikan pengembangan kreativitas anak melalui kebebasan dan pemupukan kepercayaan diri, kebangkitan kreativitas anak-anak di Jepang mengungguli anak-anak di Amerika dan Eropa (Awwad, 1995). Tapi kondisi tersebut sangat berbeda di Indonesia. Suatu penelitian di Jakarta tentang sikap orang tua dalam pendidikan anak menyimpulkan bahwa orang tua kurang menghargai perkembangan dari ciri-ciri inisiatif, kemandirian dan kebebasan yang erat hubungannya dengan pengembangan kreativitas dan lebih mementingakan ciri-ciri kerajinan, disiplin dan kepatuhan.

Setelah keluarga, lingkungan selanjutnya yang bisa mempengaruhi kreativitas anak adalah sekolah. Menurut pengamat pendidikan Islam Drs. Asep Sujana, anak-anak di masa sekolahnya dulu sudah dikondisikan untuk mengeluarkan daya kreativitasnya seperti melalui mata pelajaran prakarya atau hastakarya dengan membuat beberapa perhiasan, barang cendera mata, atau peralatan rumah tangga dari barang-barang yang ada di lingkungan rumah dan sekolah. Tapi sekarang situasi di sekolah tidak memunginkan anak untuk kreatif. Berdasarkan sebuah penelitian, di sekolah ditemukan kurang lebih 40 % anak berbakat tidak mampu berprestasi setara dengan kapasitas yang sebenarnya dimiliki (Achir,1990). Akibatnya, sekalipun berkemampuan tinggi, banyak anak berbakat tergolong kurang berprestasi.

Endah Silawati

http://parentingislami.wordpress.com

Sisi Lain Hobi Anak Mengacak Rumah

Apakah pembaca parenting islami di sini termasuk yang menyukai atau membenci kegiatan anak mengacak rumah? Apakah pembaca tahu bahwa anak belajar dengan cara mengeksplorasi semua benda yang ada di sekitarnya dan benda yang terdekat ada di dalam rumah. Dinding, kasur,piring, gelas, sendok, garpu, pisau, kompor, kran air, tanah, kasur, bantal, dan sebagainya. Itu adalah media belajar anak.

Mereka mengeksplorasinya yang disisi lain mungkin kita mengatakan mereka mengacak-ngacaknya.

Kita semua punya harapan untuk mempunyai anak yang cerdas dan pintar. Anak yang cerdas dan pintar adalah anak yang banyak belajar. Jadi, seharusnya kita senang apabila anak mengeksplorasi isi rumah kita (mengacak rumah). Seharusnya kita juga bersyukur bila mempunyai anak yang aktif. Dengan alur berpikir ini, berarti tidak seharusnya kita marah bila anak mengacak rumah. Apabila kita memang tidak mau rumah kita diacak-acak, kita harus menyediakan sesuatu untuk diacak oleh anak-anak kita. Atau jika tidak ada waktu untuk menyediakan, ikhlaskan saja barang-barang rumah demi pendidikan anak. Jika ada barang yang memang tidak boleh dipegang anak, sebaiknya disembunyikan di tempat tidak dapat dijamah oleh anak.

Di sisi yang lain, kita juga harus mengajarkan kerapihan, kebersihan, keteraturan pada anak-anak. Bagaimana caranya? Ketika mengacak makanan, atau tanah atau apapun, baiknya kita temani anak sambil menanamkan nilai-nilai tersebut. Misalnya : “Wah, adik lagi apa? Bikin kue dari tanah ya. Umi ikut ya. Tapi kan tanah kotor, jadi kita main tanah di halaman aja. Trus supaya rumah kita indah dan bersih, setelah main tanah kita cuci tangan dulu di keran air halaman depan.” Jadi, dalam keadaan bermain yang menyenangkan, kita bisa menjalin kedekatan sambil menanamkan berbagai macam nilai. Dalam keadaan senang, anak lebih mudah menerima apa yang kita sampaikan. Tips ini bisa flexible untuk semua kegiatan mengacak di rumah. Semoga mempunyai anak yang lebih cerdas.

Ummu Haidar

http://parentingislami.wordpress.com

PG/ TK SMART BEE - Children Education

My photo
Based on Islamic system. We commit to be partner for parents to provide educated play ground for their beloved children. Contact us: Jl.Danau Maninjau Raya No.221, Ph 62-21-7712280/99484811 cp. SARI DEWI NURPRATIWI, S.Pd