Thursday, 5 March 2015

PARENTING ALA ALI BIN ABI THALIB

PARENTING ALA ALI BIN ABI THALIB

"Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya, Karena mereka hidup bukan di jamanmu" itulah quote tekenal dari Ali Bin Abi Thalib RA, khalifah ke-4 umat islam yang terkenal dengan kepintaran, kejujuran dan juga kesetiaannya terhadap Rasulullah SAW.
Seperti sudah kita pahami bahwasannya mendidik dan membesarkan anak adalah amanah dari Allah SWT yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Banyak hal yang harus diperhatikan untuk menentukan pola pendidikan yang terbaik bagi masing-masing anak, apalagi mereka tidak hidup di jaman dahulu.
Menurut Ali bin Abi Thalib Ra. ada tiga pengelompokkan dalam cara memperlakukan anak:
1. Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja.
2. Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan.
3. Kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat.
ANAK SEBAGAI RAJA (Usia 0-7 tahun)
Melayani anak dibawah usia 7 tahun dengan sepenuh hati dan tulus adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan. Banyak hal kecil yang setiap hari kita lakukan ternyata akan berdampak sangat baik bagi perkembangan prilakunya, misalnya :
>> Bila kita langsung menjawab dan menghampirinya saat ia memanggil kita- bahkan ketka kita sedang sibuk dengan pekerjaan kita - maka ia akan langsung menjawab dan menghampiri kita ketika kita memanggilnya.
>>Saat kita tanpa bosan mengusap punggungnya hingga ia tidur, maka kelak kita akan terharu ketika ia memijat atau membelai pngung kita saat kita kelelahan atau sakit.
>> Saat kita berusaha keras menahan emosi di saat ia melakukan kesalahan sebesar apapun, lihatlah dikemudian hari ia akan mampu menahan emosinya ketika adik/ temannya melakukan kesalahan padanya.
Maka ketika kita selalu berusaha sekuat tenaga untuk melayani dan menyenangkan hati anak yang belum berusia tujuh tahun, insya Allah ia akan tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan, perhatian dan bertanggung jawab. Karena jika kita mencintai dan memperlakukannya sebagai raja, maka ia juga akan mencintai dan memperlakukan kita sebagai raja dan ratunya.
ANAK SEBAGAI TAWANAN (usia 8-14 tahun)
Kedudukan seorang tawanan perang dalam islam sangatlah terhormat, Ia mendapatkan haknya secara proporsional, namun juga dikenakan berbagai larangan dan kewajiban. Usia 7-14 tahun adalah usia yang tepat bagi seorang anak bagi seorang anak untuk diberika hak dan kewajiban tertentu.
Rasulullah SAW mulai memerintahkan seoang anak untuk sholat wajib pada usia 7 tahun, dan memperbolehkan kita memukul anak tersebut (atau mengukum dengan hukuman seperlunya) ketika iIa telah berusia 10 tahun namun meninggalkan sholat. Karena itu usia 7-14 tahun adalah saat yang tepat dan pas bagi anak-anak kita untuk diperkenalkan dan diajarkan tentang hal-hal yang terkait dengan hukum-hukum agama, baik yang diwajibkan maupun yang dilarang, seperti:
>> Melakukan sholat wajib 5 waktu
>> Memakai pakaian yang bersih, rapih dan menutup aurat
>> Menjaga pergaulan dengan lawan jenis
>> Membiasakan membaca Al-Qur'an
>> Membantu pekerjaan rumah tanngga yang mudah dikerjakan oleh anak susianya
>> Menerapkan kedisiplinan dalam kegiatan sehari-hari
Reward dan punishment (hadiah/penghargaan/pujian dan hukuman/teguran) akan sangat pas diberlakukan pada usia 7 tahun kedua ini, karena anak sudah bisa memahami arti dari tanggung jawab dan konsekuaensi. Namun demikian, perlakuan pada setiap anak tidak harus sama kerena every child is unique (setap anak itu unik)
ANAK SEBAGAI SAHABAT (usia 15-21 tahun)
Usia 15 tahun adalah usia umum saat anak menginjak akil baligh. Sebagai orang tua kita sebaiknya memposisikan diri sebagai sahabat dan memberi contoh atau teladan yang baik seperti yang diajarkan oleh Ali bin Abi Thalib Ra.
>> Berbicara dari hati ke hati
Inilah saat yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati dengannya, menelaskan bahwa ia sudah remaja dan beranjak dewasa. Perlu dikomunikasikan bahwa selain mengalami perubahan fisik, Ia juga akan mengalami perubahan secara mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan, sehingga sangat mungkin akan ada masa[truncated by WhatsApp]
Sambungan yg td..
ANAK SEBAGAI SAHABAT (usia 15-21 tahun)
Usia 15 tahun adalah usia umum saat anak menginjak akil baligh. Sebagai orang tua kita sebaiknya memposisikan diri sebagai sahabat dan memberi contoh atau teladan yang baik seperti yang diajarkan oleh Ali bin Abi Thalib Ra.
>> Berbicara dari hati ke hati
Inilah saat yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati dengannya, menelaskan bahwa ia sudah remaja dan beranjak dewasa. Perlu dikomunikasikan bahwa selain mengalami perubahan fisik, Ia juga akan mengalami perubahan secara mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan, sehingga sangat mungkin akan ada masalah yang harus dihadapinya. Paling penting bagi kita para orang tua adalah kita harus dapat membangun kesadaran pada anak-anak kita bahwa pada usia setelah akil baliqh ini, ia sudah memiliki buku amalannya sendiri yang kelak akanditayangkan da diminta pertanggung jawabannya oleh Allah SWT.
>> Memberi Ruang Lebih
Setelah measuki usia akil BAliqh, anak perlu memiliki ruang agar tidakmerasa terkekang, namun tetap dalam pengawasan kita. Controlling tetap harus dilakukan tanpa bersikap otoriter dan tentu saja diiringi dengan berdo'a untuk kebaikan dan keselamatannya. Dengan demikian anak akan merasa penting, dihormati, dicintai, dihargai dan disayangi. Selanjutnya, Ia akan merasa percaya diri dan mempunyai kepribadian yang kuat untuk selalu cenderung pada kebaikan dan menjauhi perilaku buruk.
>> Mempercayakan tanggung jawab yang lebih berat.
Waktu usia 15- 21 tahun ini penting bagi kita untuk memberinya tanggung jawab yang lebih beratdan lebih besar, dengan begini kelak anak-anak kita dapat menjadi pribadi yang cekatan, mandiri, bertanggung jawab dan dapat diandalkan. Cobtoh pemberian tanggung jawab pada usia ini adalah seperti memintanya membimbing adik-adiknya, mengerjakan beberapa pekejaan yang biasa dikerjakan oleh orang dewasa, atau mengatur jadwal kegiatan dan mengelola kuangannya sendiri
>> Membekali anak dengan keahlian hidup.
Rasulullah SAW bersabda, "Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah" (Riwayat sahih Ima Bukhari dan Imam Muslm)
Secara harfiah, olah raga berkuda, berenang dan memanah adalah olah raga yang sangat baik untuk kebugaran tubuh. Sebagian menafsirkan bahwa berkuda dapat pula diartikan mampu mengendarai kendaraan (baik kendaraan darat, laut, udara). Berenang dapat disamakan dengan ketahanan dan kemampuan fisik yang diperlukan agar menjadi muslim yang kuat. Sedangkan memanah dapat pula diartikan sebagai melatih konsentrasi dan fokus pada tujuan.
Di era modern, sebagian pakar memperluas tafsiran hadist diatas sebagai berikut :
>Berkuda = Skill of Life, memberi keterampilan atau keahlian sebagai bekal hidup agar memiliki rasa percaa diri, jiwa kepemimpinan dan pengendalian diri yang baik.
> Berenang = Survival of Live, mendidik anak agar selalu bersmangat, tidak mudah menyerah dan tegar dalam menghadapi masalah.
> Memanah = Thingking of Life, mengajarkan anak untuk membangun kemandirian berpikir, merencanakan masa depan dan menentukan target hidupnya.
Semoga saja kita para orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya dapat memberikan perlakuan yang tepat pada anak-anak, siapapun mereka, dari manapun mereka berasal, dan dimanapun mereka berada, karena anak-anak adalah tanggung jawab orang dewasa di sekitarnya.

Thursday, 18 September 2014

10 Tips for Raising Children of Character

by Dr. Kevin Ryan

It is one of those essential facts of life that raising good children--children of character--demands time and attention. While having children may be “doing what comes naturally,” being a good parent is much more complicated. Here are ten tips to help your children build sturdy characters:
1. Put parenting first. This is hard to do in a world with so many competing demands. Good parents consciously plan and devote time to parenting. They make developing their children’s character their top priority.

2. Review how you spend the hours and days of your week. Think about the amount of time your children spend with you. Plan how you can weave your children into your social life and knit yourself into their lives.

3. Be a good example. Face it: human beings learn primarily through modeling. In fact, you can’t avoid being an example to your children, whether good or bad. Being a good example, then, is probably your most important job.

4. Develop an ear and an eye for what your children are absorbing. Children are like sponges. Much of what they take in has to do with moral values and character. Books, songs, TV, the Internet, and films are continually delivering messages—moral and immoral—to our children. As parents we must control the flow of ideas and images that are influencing our children.

5. Use the language of character. Children cannot develop a moral compass unless people around them use the clear, sharp language of right and wrong.

6. Punish with a loving heart. Today, punishment has a bad reputation. The results are guilt-ridden parents and self-indulgent, out-of-control children. Children need limits. They will ignore these limits on occasion. Reasonable punishment is one of the ways human beings have always learned. Children must understand what punishment is for and know that its source is parental love.

7. Learn to listen to your children. It is easy for us to tune out the talk of our children. One of the greatest things we can do for them is to take them seriously and set aside time to listen.

8. Get deeply involved in your child’s school life. School is the main event in the lives of our children. Their experience there is a mixed bag of triumphs and disappointments. How they deal with them will influence the course of their lives. Helping our children become good students is another name for helping them acquire strong character.

9. Make a big deal out of the family meal. One of the most dangerous trends in America is the dying of the family meal. The dinner table is not only a place of sustenance and family business but also a place for the teaching and passing on of our values. Manners and rules are subtly absorbed over the table. Family mealtime should communicate and sustain ideals that children will draw on throughout their lives.

10. Do not reduce character education to words alone. We gain virtue through practice. Parents should help children by promoting moral action through self-discipline, good work habits, kind and considerate behavior to others, and community service. The bottom line in character development is behavior--their behavior.

As parents, we want our children to be the architects of their own character crafting, while we accept the responsibility to be architects of the environment—physical and moral. We need to create an environment in which our children can develop habits of honesty, generosity, and a sense of justice. For most of us, the greatest opportunity we personally have to deepen our own character is through the daily blood, sweat and tears of struggling to be good parents.

10 Etika Anak Soleh Yang Berkesan

(ANTARA PANDUAN YANG DIGALI DARIPADA SURAH LUQMAN)
(Sumbangan Ahli dari Kelantan)


1. Tidak mempersekutukan Allah SWT, Syirik dan Murtad
- Merupakan kesalahan dan dosa yang amat besar.

2. Berbuat baik kepada kedua ibubapa
Kenangilah penderitaan ibu yang mengandung kita dengan segala susah payah. Apabila kita dilahirkan, kita disusunya sehingga berusia kira-kira 2 tahun.

3. Banyak bersyukur kepada Allah SWT kerana diciptakan kita untuk hidup di dunia ini.
Doakanlah kesejahteraan ke atas mereka dan semoga Allah SWT akan menjaga mereka sebagaimana mereka menjaga kita sewaktu kecil sehingga dewasa.
Yang tidak boleh kita taati suruhan kedua ibubapa hanya apabila dipaksa syirik atau menyembah yang lain daripada Allah SWT (namun 'ketidaktaatan' ini harus dilakukan dengan cara yang baik - penuh hikmah, dakwah, siasah dan diplomasi) Ketaatan kepada ibubapa yang bukan Islam sekalipun (walaupun anaknya itu mualaf) masih diwajibkan (bukan taatkan suruhan mensyirikkan Allah SWT)

4. Memahami bahawa segala amal ibadat kita diketahui oleh Allah SWT walau sekecil mana sekalipun

5. Mendirikan solat

6. Menyuruh perkara kebaikan dan melarang perkara kejahatan (Amar Makruf Wa Nahyu Anil Mungkar) - dakwah lidah, hati dan anggota.

7. Bersabar dan redha diatas segala dugaan

8. Tidak menyombong dan membanggakan diri samada kaya atau miskin, berpangkat ataupun tidak, berilmu atau tidak, tua atau muda atau berketurunan (orang baik-baik) dll.

9. Bersederhana dalam segala perkara.

10. Bersikap lemah lembut dan beradab sopan

Jadikan Anak Pintar Dengan Izin Allah

Amalkan berdoa2 berikut semasa membesarkan anak2;

Doa agar anak2 patuh pada Allah SWTSURAH AL-BAQARAH(2) AYAT 128
Doa agar anak2 mengerjakan SolatSURAH IBRAHIM (14) AYAT 40-41
Doa melembutkan hati anak2 yg nakalSURAH TAHA AYAT 1-6
Doa agar diberi zuriat yg menyejukkan hatiSURAH AL-FURQAN(25) AYAT 74

Ibu bapa adalah antara faktor terbesar dalam menentukan halatuju anak2. berikut ada beberapa tips dari Robert D. Ramsey yang boleh kita jadikan panduan dalam menjadikan anak2 kita antara yang outstanding berbanding rakan sebayanya.. selamat mencuba!


1. Mulakanlah hidup anak anda dengan nama panggilan yang baik.

- bilaanak kita dipanggil dengan nama yang tak baik, atau nama dah baik tapi bagipulak gelaran yang tak baik, itu akan menyebabkan anak jadi malu dan rendahdiri. Saya ingat lagi kat sekolah dulu org panggil saya mak enon. Malusangat… rasa mcm tanak gi sekolah pun ade. Apatah pulak kalau yangmemanggil nama tak elok tu mak bapak sendri. Lagi la malu kan ? Dalam Islampun sangat digalakkan kita bg nama yang baik untuk anak2.

2. Berikan anak anda pelukkan setiap hari
- ada kajian yang menunjukkananak yang dipeluk setiap hari akan mempunyai kekuatan IQ yg lebih kuatdaripada anak yang jarang dipeluk. Bila kita peluk dia setiap hari esp seorgmak, anak kita tau yang kita sayangkan dia. Dia akan tau kita akan jadipenyokong dia paling kuat. Dia akan sedar bahawa kita sentiasa ada jika diakurang berjaya. Emosi dia akan terbela.

3. Pandanglah anak anda dengan pandangan kasih sayang

- pandangan iniakan membuatkan anak anda lebih yakin diri apabila berhadapan denganpersekitaran. Memang la ada masa kita perlu marah tapi jgnla buat muka marahsampai kawan tu takut nak dekat dgn kita langsung. Kesian kat budak. Namanyapun budak…


4. Berikan peneguhan setiap kali anak anda berbuat kebaikan

- Berilahpujian, pelukkan, ciuman, hadiah ataupun sekurang-kurangnya senyuman untuksetiap kebaikan yang dilakukannya. Bila tiap kali kita appreciate dia, diaakan rasa nak buat lagi dan nak buat lebih baik lagi. Ini la namanyamotivasi…


5. Janganlah mengharapkan anak anda yang belum matang itu melakukansesuatu perbuatan baik secara berterusan

- mereka hanya kanak-kanak yangsedang berkembang. Perkembangan mereka buatkan mereka ingin mengalami setiapperkara termasuklah berbuat silap. Sebenarnya mereka akan belajar lebihbanyak lagi dari kesilapan yang mereka lakukan.


6. Apabila anda berhadapan dengan masalah kerja dan keluarga, pilihlahkeluarga - Bila ada masalah eloklah kita selesaikan masalah keluarga yangterdahulu. Kerana, seseorang tu akan lebih tenang kalau takde masalahkeluarga. Anak2 perlu diberi keutamaan kerana mereka sedang membesar danproses ini akan terus berlalu dan tak akan kembali jadi jgnlah cemarkankeperibadian mereka dengan sikap mementingkan diri kita.


7. Di dalam membesarkan dan mendidik anak-anak, janganlah tuan/puanmengeluh

- Keluhan akan membuatkan anak-anak merasakan diri mereka beban.Ini akan menyebabkan mereka menjauhi kita. Kalau kita tak mau sunyi di haritua, jgnlah sunyikan mereka pada usia muda mereka.


8. Dengarlah cerita anak anda, cerita itu tak akan dapat anda dengarilagi pada masa akan datang. Tunggu giliran anda untuk bercakap. Ini akanmengajar anak anda tentang giliran untuk bercakap. Seronok sebenarnya layanbebudak bercakap. Adik saya pun dalam kategori budak lagi, kalau sesekalilayan dia cakap rasa mcm kelakar. Saya penah jumpa dgn kawan anak saya umurbaru tiga thn tapi mulut boleh tahan, rasa mcm tak logic je tapi seronok.Ala, mcm aznil Tanya budak tu, Tiger Wood berasal dari mana, pastu budak tujawab Zoo… untuk kita sendiri, ini adalah satu hiburan yang takleh dibelidi tempat lain.


9. Tenangkan anak anda setiap kali mereka memerlukannya - ada masa2nyamereka akan gundah gulana. Ada masa mungkin diorg berselisih dgn kawan. Adamasa mungkin dia dah tercederakan jiran. Jadi, kita bantulah sedaya kitasupaya mereka tidak rasa sendirian dalam menyelesaikan masalah yang bagikita kecik tapi tu mungkin masalah mega bg diorg.


10. Tunjukkan kepada anak anda bagaimana cara untuk menenangkan diri. Mereka akan menirunya. Jgn kita sendiri kelam kabut bila ada yang menimpa.Jgn kita tunjuk yang kita gelabah. Be cool!! Setiap masalah yang telah Tuhantakdirkan pada kita ada penyelesaiannya. Jadi, jgn gabra2.


11. Buatkan sedikit persediaan untuk anak-anak menyambut harijadinya. Sediakanlah hadiah harijadi yang unik walaupun harganya murah. Keunikan akanmembuatkan anak anda belajar menghargai. Anak2 yg dtg daripada persekitaranyang menghargai akan belajar menghargai orang lain.


12. Mereka mungkin memerlukan kita mengajar mereka lebih daripada sekali

-ade setgh budak kene byk kali ajar, baru dia faham. Mcm anmum punya iklantu..Wardina tunjuk byk kali baru anak dia faham. Anak saya sendiri dalamsatu hari ntah berapa kali dia tunjuk kat mata dia suruh saya sebut eye,tunjuk kat telinga suruh sebut ear. Jgn marah sbb kalau marah nnt terbantutla proses pembelajaran dia.


13. Luangkanlah masa bersama anak anda diluar rumah,

peganglah tangananak-anak apabila anda berjalan dengan mereka . Mereka tentu akan merasakepentingan kehadiran mereka dalam kehidupan anda suami isteri. Bila sayabaca ni, rasanya tak salah la saya selalu pimpin tangan anak2 even dalamrumah pun. Bila nak ajak dia bangun je, saya hulur tangan. Even nak kedapurpun untuk bancuh susu diorg. Kalau kat luar mmg lah sah2 pegang sbb sayajenis serabut perut takut anak terlari tgh jalan ke.

14. Dengarlah mimpi ngeri anak-anak anda. Mimpi ngeri mereka adalah begitureal dalam dunia mereka - jadilah pendengar setia mereka. Kalau pasangankita mimpi pun apa salahnya kita dengar. Best hape dengar cerita dari mimpi.Mcm drama tapi takde skrip, takde director, dan takde siaran ulang tayang.

15. Hargailah permainan kesayangan anak anda. Mereka juga dalam masa yangsama akan menghargai barang-barang kesayangan anda. Elakkan daripadamembuang barang kesayangan mereka walaupun sudah rosak. Mintalah kebenaranmereka sebelum berbuat demikian.

16. Janganlah membiarkan anak-anak anda tidur tanpa ciuman selamat malam -biasakan ajar dia salam kita sebelum lena. Cium dahi diorg esp mak nya..mcmcerita omputeh kan selalu dia gi bilik tidur anak n selimutkan diorg.

17. Terimalah yang kadangkala anda bukanlah ibubapa yang sempurna . Iniakan mengurangkan stress menjadi ibu bapa. Ada masa anak kata papa nigarangla.. tu sbnrnya dia menegur so, ubahla. Jgn jadi too perfectionistpada anak2. nnt mereka rendah diri.

18. Jangan selalu membawa bebanan kerja pejabat ke rumah. Anak-anak akanbelajar bahawa kerja pejabat selalunya lebih penting daripada keluarga. Danmereka juga akan terasa kurang kasih sayang bila kita mengadap benda lain.Kalau anak2 dah sekolah, biasakan tolong mereka siapkan kerja rumah, ataukita sendiri bg latihan dan perati setiap hari peralihan dia belajar darisatu topik ke topik. Bantu dia belajar lebih dari yg cikgu dia ajar.

19. Anak menangis untuk melegakan keresahan mereka tetapi kadangkala cumauntuk sound effect sahaja. Bagaimanapun dengarilah mereka, dua puluh tahundari sekarang anda pula yang akan menangis apabila rumah mula terasa sunyi.Anak-anak anda mula sibuk mendengar tangisan anak mereka sendiri.Hoo..seram. tapi ada betulnya. Buatlah sesuatu supaya mereka tak menjauhdari kita. Semoga kita tidak sunyi dihari tua kita.

20. Anak-anak juga mempunyai perasaan seperti anda. hargailah perasaanmereka supaya mereka juga menghargai dan memahami perasaan kita

Memilih Mainan Untuk Si Kecil

Usia 5 tahun pertama adalah usia yang sangat menentukan bagi seorang anak. Usia ini biasa disebut dengan Golden Age atau usia emas. Mengapa disebut Usia Emas?hal ini dikarenakan pada usia itu aspek kognitif, fisik, motorik, dan psikososial seorang anak berkembang secara pesat. Nah untuk itu diperlukan stumulasi-stimulasi yang mampu mengoptimalkan seluruh aspek tersebut agar seorang anak kelak juga mampu menjadi pribadi yang matang sehingga kelak mampu menjadi pribadi yang matang, bertanggung jawab, mampu menghadapi segala permasalahan dalam hidupnya.

Salah satu cara mengoptimalkan kemampuan kognitif, fisik, motorik, dan psikososial seorang anak adalah dengan menstimulasi nya, salah satu alat ataupun sarana menstimulasinya adalah dengan mainan ataupun permainan.

Pada dasarnya mainan mempunyai manfaat antara lain:
Untuk mengoptimalkan perkembangan fisik dan mental anak.
Memenuhi kebutuhan emosi anak
Mengembangkan kreatifitas dan kemampuan bahasa anak.
Serta membantu proses sosialisasi anak.

Selain itu dalam memilih mainan paling tidak ada 2 hal yang perlu diperhatikan (Fawzia aswin dosen UI):
Mainan yang baik itu punya manfaat tertentu sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan anak
Mampu membuat anak asyik dan aktif bermain yang meliputi, barangnya awet, aman (tidak mengelurkan suara yang keras dan tidak ada bagian yang mudah tertelan atau terhisap, tidak tajam, tidak menjepit, tidak menimbulkan api dan tidak beracun).
Memilih mainan buat si kecil ternyata gampang-gampang susah, apalagi yang beredar di pasaran jenisnya macam-macam. Untuk itu diperlukan sikap hati hati dan bijaksana.


Pertanyaannya kemudian jenis mainan macam apa yang cocok untuk usia tertentu??
Untuk memilih mainan yang sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan anak, bisa dibagi menjadi 3:
1. Mainan untuk tahap sensorik motorik (0-2 th)
Pada tahap ini anak sudah bisa menikmati gerakan demi gerakan, dalam taraf belajar menguasai dan mengkoordinasikan ketrampilan motorik halus dan motorik kasar. Dalam bermain anak mulai mempraktekan dan mengendalikan gerakanya serta menggali pengalaman dengan penglihatan, suara, sentuhan (tahap bermain penguasaan/mastery play).

Jadi sejak usia 2-3 bulan ketika anak sudah mulai bisa diajak berkomunikasi atau bereaksi terhadap keadaan sekitarnya (ex:gerakan tangan atau permainan mimic sang ibu)maka anak sudah bisa diberi mainan.

#Pada tahap ini mainan sebaiknya yang tahan banting, tidak mudah tertelan, mengandung unsur warna tapi tidak beracun, bisa di gigit-gigit, di banting, di putar2x atau di pukul2x.

>Mainan yang bisa mengembangkan sensorik, merangsang gerakan dan konsentrasi mata serta belajar menggapai dan mengenalkan warna ex: mainan yang digantung di boks dengan berbagai warna.

>Mainan yang bisa membantu perkembangan motorik halus dan kasar, mainan yang bisa membuat anak menggerakkan seluruh anggota badan., ex:motorik halus=bola, kantong berisi biji-bijian, kardus dengan berbagai ukuran etc, motorik halus=lilin (was), air, pasir, pazel sederhana.


Selepas ini perkembangan anak tidak berhenti sampai disini, maka perlu diperkaya lagi sesuai dengan perkembangan kemapuan motoriknya tersebut misalnya dengan sepeda roda tiga, menyusun manik etc.

2. Mainan tahap pra operasional (2-7th)
Pada tahap ini anak sudah menggunakan symbol dan bermain mempelajari bahasa dan belajar membuat sesuatu, ex: Anak usia 3th,lebih suka bermain dalam kelompok kecil dan mempelajari kehidupan dengan permainan berpura-pura (make belive play) anak juga mulai dapat mengucapkan kalimat sederhana tentang sesuatu yang dilihatnya dalam gambar dan bertanya jawab oleh karena itu diperlukan orang tua yang mau bercerita pada anak soal apa saja yang di lihat di dengar bahkan yang dirusaknya.

Selain itu pada tahap ini anak mulai mempraktekan beberapa ketrampilan barunya seperti menamai, mencocokan, menebak, atau membandingkan.

Anak juga menyukai aktifitas fisik, bergerak kesana-kemari untuk mengembangkan motorik kasar dan halus seperti belajar masuk, keluar, naik turun.

Anak mulai memerlukan neteri kreatif maka diperlukannya alat-alat bermain yang bersifat edukatif (APE, contoh:
+Untuk mengenalkan pada alam bisa dengan: kaca pembesar, air, pasir, tempat makan burung, berbagai daun dan bunga dan mainan yang berasal dari alam.
+Untuk mengenal penjumlahan bisa dengan: papan dengan kartu nomor, wadah dengan berbagai bentuk dan ukuran, benda-benda kecil untuk di hitung, atau kertas/gambar bertuliskan angka.
+Untuk mengenalkan panca indera bisa dengan : mainan yang berbau, bisa dicium, bisa juga dari makanan yang memiliki aneka rasa(manis, asam , asin), kotak berlubang untuk meraba benda di dalamnya.

3. Mainan untuk tahap operasional (7tn > )
Pada tahap ini diperlukan mainan yang yang menumbuhkan atau mengembangkan kretifitas dan sosiali anak, untuk itu bisa diberikan mainan yang sifatnya manipulatif seperti : mainan seni : lilin (was), kertas yang disertai lem (kolase=menempel), cat air, cat tangan etc, Seni musik : instrument musik bikinan sendiri, mengenal bentuk dan ukuran: kubus, kerucut, tabung, binatang, orang-orangan, rumah besrta perabotnya. Mengenalkan kendaraan: kereta dari kulit jeruk etc

Agar kreatifitas anak tumbuh dan berkembang harus pula diciptakan pola bermain dalam satu kesatuan dengan keluarga yaitu bisa dengan mengajak anak2x secara bersama-samaa bermain yang melibatkan proses kreatif (ex membuat kue, berkebun etc). Mainan yang melatih proses bersosialisasi seperti dakon (congklak), lempatan, kelereng, bentik.

PENTINGNYA PERAN ORANG TUA

Peran mainan dalam perkembangan anak sebenarnya cuma sebagai alat bantu bukan sebagai pengganti peran orang tua. Di satu pihak mainan itu penting bagi si anak tapi di lain pihak mainan bukan segala-galanya buar anak (kak seto).

Jadi dalam bermain sebetulnya anak tetap memerlukan pendamping namun keterlibatan orang tua secara berlebihan juga kurang baik sebab tujuan memberikan mainan malah tidak tercapai.

# Yang namanya alat bermain tidak harus mainan, bahkan buku pun bisa dijadikan sebagai alat bermain missal di susun2x menjadi terowongan. Setelah anak senang maka citra buku akan jadi positif sehingga mulailah anak lihat gambarnya lalu ortu membacakannya sehingga lama-lama I kecil akan senang membaca.

# Mainan untuk balita tidak terlalu memperhatikan gender karena seiring dengan perkembangan secara alamiah akan tau sendiri.

# Mainan yang berteknologi canggih yang harganya mahalpun tidak tidak perlu terlalu dicurigai seperti mainan video game dll, juga punya sisi baik yaitu melatih koordinasi otot mata dan tangan , pemecahan masalah (strategi) karena didalamnya bisa mengembangkan kemampuan kognitif anak, maksutnya anak di tuntutmengatur strategi untuk menyelesaikan permaian dengan baik, walaupun mainan ini sangat kurang dalam sisis soaial atao kurang melatih anak untuk bersosialisasi.

# Ada baiknya ortu juga berkompromi dengan anak dalam memilih mainan yang di berikan benar-benar bisa dipakai bermain dan bermanfaat dan dijelaskan pada anak mengapa mainan yang diminta naka tidak diberikan sehingga anak diajak bernalar.
(disadur dari blog sebelah)

Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Masa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan. Periode ini adalah tahun-tahun berharga bagi seorang anak untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulans terhadap perkembangan kepribadian, psikomotor, kognitif maupun sosialnya.


Berdasarkan hasil penelitian, sekitar 50% kapabilitas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur 4 tahun, 80% telah terjadi ketika berumur 8 tahun, dan mencapai titik kulminasi ketika anak berumur sekitar 18 tahun (Direktorat PAUD, 2004). Hal ini berarti bahwa perkembangan yang terjadi dalam kurun waktu 4 tahun pertama sama besarnya dengan perkembangan yang terjadi pada kurun waktu 14 tahun berikutnya. Sehingga periode emas ini merupakan periode kritis bagi anak, dimana perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa. Sementara masa emas ini hanya datang sekali, sehingga apabila terlewat berarti habislah peluangnya. Untuk itu pendidikan untuk usia dini dalam bentuk pemberian rangsangan-rangsangan (stimulasi) dari lingkungan terdekat sangat diperlukan untuk mengoptimalkan kemampuan anak.


Pemerintah Indonesia telah memperkenalkan panduan stimulasi dalam program Bina Keluarga Balita (BKB) sejak tahun 1980, namun implementasinya belum memasyarakat. Hasil penelitian Herawati (2002) di Bogor menemukan bahwa dari 265 keluarga yang diteliti, hanya terdapat 15% yang mengetahui program BKB. Faktor penentu lain dari kurang memasyarakatnya program BKB adalah rendahnya tingkat partisipasi orang tua. Kemudian pada tahun 2001, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda mengeluarkan program PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).


Namun keberadaan program tersebut sampai saat ini belum menjangkau tingkat pedesaan secara merata, sehingga belum dapat diakses langsung oleh masyarakat. Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang sangat mendasar dan strategis dalam pembangunan sumberdaya manusia. Tidak mengherankan apabila banyak negara menaruh perhatian yang sangat besar terhadap penyelenggaraan pendidikan anak usia dini.


Di Indonesia sesuai pasal 28 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan anak usia telah ditempatkan sejajar dengan pendidikan lainnya. Bahkan pada puncak acara peringatan Hari Anak Nasional tanggal 23 Juli 2003, Presiden Republik Indonesia telah mencanangkan pelaksanaan pendidikan anak usia dini di seluruh Indonesia demi kepentingan terbaik anak Indonesia (Direktorat PAUD, 2004).

TV, Teman Atau Musuh

Anak-anak suka sekali menonton teve. Memang, teve bermanfaat buat anak. Tapi jika tidak dibatasi dan diawasi, justru berbahaya. "Ayo, makan dulu! Dari tadi, kok, di depan teve terus." Kalimat seperti ini, pasti pernah terlontar dari orangtua kepada anaknya. Terutama anak usia prasekolah, yang menurut penelitian memang menunjukkan minat lebih besar pada teve ketimbang anak usia sekolah. Sebabnya? Antara lain, anak balita cenderung terbatas teman bermainnya, masih lebih banyak tinggal di rumah, dan belum mampu bersikap kritis mengenai segala sesuatu yang dilihatnya di layar kaca. Tapi kebiasaan juga pegang peranan dalam hal ini. Banyak anak sudah dibiasakan nonton TV sejak masih bayi.


Ada orangtua menjadikan TV sebagai babysitter karena tak mau repot. Biar anaknya anteng, si kecil didudukkan di depan teve. "Bahkan ada yang untuk makan, harus sambil nonton TV. Kalau tidak, anaknya tak mau makan," kata psikolog Hera L. Mikarsa. Jelas, si kecil tak begitu saja tertarik pada TV jika Anda tak pernah memperkenalkan ia pada TV. Dan ia tak akan pernah kecanduan nonton TV jika Anda tak membiarkan ia nonton kapan saja sesuka hatinya tanpa ada batas. Bukan berarti si kecil dilarang sama sekali nongkrong di muka layar kaca.
TV, sarana belajar perilaku sosial.


Bagaimanapun, TV merupakan salah satu media belajar bagi anak dan bisa memberi pengaruh positif terhadap tumbuh kembangnya. Yang penting, mencegahnya agar tak sampai kecanduan nonton TV. Ingatlah, anak usia ini sedang dalam tahap mengembangkan perilaku sosial. Ia harus mendapat banyak kesempatan bermain dengan teman-temannya. Karena itu, tegas Hera, jangan jadikan TV sebagai pengganti bentuk bermain. "Nonton TV itu, kan, cenderung pasif. Tak ada interaksi dua arah. Beda jika ia main dengan teman-temannya. Ia akan aktif, entah fisiknya, komunikasi, atau sosial. Jadi, ada timbal-balik, belajar saling memberi," jelas Ketua Program Profesi pada Fakultas Psikologi UI ini.

Selain itu, anak usia ini sedang kuat-kuatnya meniru, entah perilaku atau omongan. Apa yang ia dengar dan lihat, ia ucapkan dan lakukan tanpa ia mengerti. Sering, kan, kita melihat serta mendengar, betapa fasihnya (meski masih cadel) si kecil menirukan iklan atau nyanyian yang dilihatnya di teve? CUKUP 40-45 MENIT Untuk mengurangi dampak negatif teve, Hera menganjurkan, batasi waktu nonton TV, sekitar 40-45 menit bagi anak usia ini. Hera juga menyarankan, sebagaimana dianjurkan banyak pakar, dampingi anak saat nonton TV dan pilihkan program-program yang layak untuk ia tonton. "Anda tak bisa menjadikan TV sebagai baby-sitter jika Anda mau mendidik anak menjadi pemirsa yang kritis," tukas Hera. Apa juga, TV hanyalah sebuah benda mati.

Perlu Pendampingan dan Pengawasan
Anda tak dapat menyalahkan TV jika anak lebih suka duduk berjam-jam di depan TV ketimbang melakukan aktivitas bermain lainnya atau ia jadi suka berkelahi gara-gara sering menyaksikan adegan kekerasan di TV. Seberapa besar pengaruh TV dan apakah pengaruhnya baik atau buruk terhadap anak Anda, menurut Elizabeth B. Hurlock, pakar psikologi perkembangan, ditentukan oleh jumlah bimbingan dan pengawasan terhadap anak yang menonton TV. Jika Anda menyediakan waktu untuk menafsirkan apa yang dilihat anak di layar TV, ia akan mengerti dan menafsirkan apa yang dilihatnya dengan benar. Selanjutnya, dengan bimbingan dan pengawasan atas program yang akan ditontonnya, ia dapat mempelajari pola perilaku dan nilai yang sehat yang akan membimbing ke arah sosialisasi yang baik dan tidak ke nilai serta pola perilaku yang tak sehat.

Kenapa ia harus didampingi? Kemampuan berpikir anak masih terbatas. Ia akan mengalami kesulitan mengikuti alur cerita karena keterbatasannya membedakan isi yang penting dan pokok dengan isi insidental yang bersinggungan dengan pokok utama. Sebuah isi insidental (Aldo yang gemuk jatuh tertelungkup) bisa tampak sama pentingnya dengan tema utama (Aldo dan kelompoknya hendak membantu seorang anak perempuan yang sedih karena orangtuanya bertengkar).

Ia pun mengalami kesulitan untuk memadukan unsur-unsur cerita yang berbeda yang terjadi pada waktu berlainan. Ia mungkin tak mampu menghubungkan satu adegan yang menggambarkan seorang pria bertopeng yang tengah merampok bank dengan adegan berikutnya setengah jam kemudian yang menggambarkan seorang pria ditangkap dan dipenjarakan.

Akhirnya, kesimpulan seorang ahli berikut ini patut Anda simak. "Jika Anda menggunakan TV sebagai penjaga anak sehingga mengabaikan hubungannya dengan orang lain, jelas Anda lalai. Jika Anda tak memperkenalkan buku kepada anak-anak hanya karena adanya TV, maka Anda bertindak ceroboh. Jika Anda tak membantu anak untuk membangun hubungan yang baik dengan teman sebayanya hanya karena TV 'menjaga mereka di rumah', maka Anda benar-benar bersalah terhadap mereka."

Apa Yang Anak Serap Dari TV? Jawabannya, banyak sekali. Semua program TV dan siaran iklan yang menyertainya, menyampaikan pesan yang berbeda-beda dan mengajarkan hal yang lain pula. Satu hal yang dicemaskan banyak orangtua ialah anak belajar kekerasan dari TV. Ini bisa dipahami. Sebab, tak sedikit adegan kekerasan muncul di layar TV, mulai dari pertengkaran mulut sampai perkelahian dan pembunuhan. Bukan cuma dalam program-program tayangan dewasa, tapi juga anak-anak. Anda tak dapat menghindari ini, tapi bisa mencegah pengaruh buruknya. Jelaskan padanya, orang-orang yang ia lihat di TV adalah aktor dan mereka melakukan itu tidak dengan sungguh-sungguh.

Atau, hapuskan semua program yang lebih banyak mengeksploitir adegan kekerasan dari daftar program TV yang sudah Anda pilih untuk anak. Jangan pula izinkan si kecil menonton program untuk dewasa. Pelajaran lain dari TV yang perlu diwaspadai ialah stereotipe sosial tentang wanita, pria, minoritas, orang lanjut usia, dan banyak kelompok lain, termasuk anak-anak. Stereotipe ini kadang dilebih-lebihkan. Misalnya, pria selalu digambarkan jadi pemimpin dalam mengatasi keadaan sementara yang wanita tetap pasif atau tak berdaya. Anak-anak belajar dari penggambaran ini terutama bila mereka hanya mempunyai sedikit kontak dengan kelompok yang digambarkan. Sebagaimana adegan kekerasan, Anda pun tak dapat menghindari adegan-adegan yang menggambarkan stereotipe sosial ini. Nah, berilah gambaran yang tepat pada anak tentang hal yang sebenarnya berlaku di masyarakat. Bukan cuma lewat kata-kata tapi juga harus diperkuat oleh perilaku Anda sehari-hari.

Bagaimana Anda sehari-hari bersikap terhadap anak Anda, misalnya, merupakan contoh bagaimana seharusnya orang dewasa memperlakukan seorang anak. Atau, bagaimana ayah memperlakukan ibu dan bagaimana ibu memperlakukan ayah, akan memberikan gambaran pada anak tentang bagaimana seharusnya seorang pria memperlakukan wanita dan sebaliknya. Ingatlah, TV akan memberikan pengaruh yang nyata pada anak, antara lain tergantung dari seberapa banyak anak dapat mengingat hal-hal yang ia tonton dan seberapa baik pemahamannya terhadap apa yang ia tonton. Jika ia menafsirkan kekerasan atau stereotipe sosial di TV sebagai pola perilaku yang direstui masyarakat dan model yang benar untuk ditiru, maka pengaruhnya akan sangat berbeda ketimbang bila ia menafsirkannya sebagai pola perilaku yang tak direstui dalam masyarakat.


TK & Play Group SMART BEE

www.smartbee221.blogspot.com

Meredakan Pertengkaran Orangtua dan Anak

Adalah wajar apabila sesekali di antara orangtua dan anak terjadi salah paham atau khilap sehingga membuat salah satu di antara mereka atau bahkan kedua belah pihak menjadi marah dan mungkin ‘bertengkar’ atau ‘ngambek’. Supaya pertengkaran di antara orangtua dan anak tidak sampai berkepanjangan maka diperlukan keterampilan dan kesabaran dari orangtua.

Apabila terjadi pertengkaran, Deborah K. Parker M.Ed (2006) menyarankan kepada orangtua sebagai pihak orang dewasa yang biasanya lebih mengerti perilaku anak untuk melakukan hal-hal di bawah ini, yaitu:
1.’Menyentuh’ anak
2.Meluangkan waktu bersamanya dan menikmati kebersamaan itu
3.Tegas dan jelas, tetapi bersahabat dan penuh kasih
4.Memberikan pujian dan dukungan kepadanya dan apa yang dia lakukan serta tidak mengkritiknya
5.Menghindari penggunaan pertanyaan

Beberapa tindakan di atas adalah penting dilakukan orangtua kepada anak sebagai upaya untuk memperbaiki sebuah hubungan keluarga agar kembali harmonis dan bahagia.




Tips Mencegah dan Menangani Flu Singapura

Penyakit Flu Singapura dalam istilah kedokteran disebut penyakit kaki, tangan, dan mulut / KTM (hand, foot, and mouth disease/HFMD). Penderita penyakit ini disebabkan oleh RNA. Penularannya biasanya melalui kontak langsung dengan kulit penderita, lewat udara, lewat percikan air liur, urine, dan feses. Penyakit KTM termasuk new emerging disease (penyakit infeksi baru) yang virusnya belum pernah diisolasi. Sampai saat ini belum ada imunisasi untuk mencegah penyakit ini.

Penyakit Flu Singapura kerap terjadi pada kelompok masyarakat yang padat dan menyerang anak-anak usia 2 minggu sampai 5 tahun ( kadang sampai 10 tahun ). Orang dewasa umumnya lebih kebal terhadap enterovirus, meskipun bisa juga terkena penyakit ini.

Gejala Ringan :Flu biasa, yakni demam, batuk, pilek, pegal-pegal, dan mudah lelah.Munculnya sariawan di rongga mulut dan bercak-bercak merah berair, seperti cacar di telapak tangan dan kaki, khasnya adalah di antara sela-sela jari.Penderia biasanya disertai infeksi sekunder, seperti diare, muntah, dehidrasi, dan lemah atau komplikasi lain.

Gejala Berat :Demam tinggi dengan suhu lebih dari 39 C.Demam tidak turun-turun.Takikardia (nadi menjadi cepat).Takipneu, yaitu napas jadi cepat dan sesak .Malas makan, muntah, atau diare berulang dengan dehidrasi .Letargi, lemas, dan mengantuk terus.Nyeri pada leher, lengan, dan kaki.Kejang-kejang, atau terjadi kelumpuhan pada saraf kranial.Keringat dingin.Fotofobia (tidak tahan melihat sinar).Ketegangan pada daerah perut.Halusinasi atau gangguan kesadaran.

Pencegahan dan Penanganan:Menjaga kebersihan dan sanitasi yang sehat dan higiene.Menjaga kesehatan badan, cuci tangan, desinfeksi peralatan makanan, mainan, handuk yang memungkinkan terkontaminasi.Bawa ke puskesmas atau rumah sakit jika terjadi gejala-gajala penyakit ini, dan beristirahat yang cukup.Perbanyak minum air putih, agar tidak dehidrasi.Mengonsumsi multivitamin agar daya tahun tubuh kuat.Jika ada penderita, sebaiknya jangan berkatifitas diluar rumah dahulu, karena akan memicu penularan penyakit ini.Penyakit ini umumnya akan membaik sendiri dalam 7-10 hari, dan tidak perlu dirawat di rumah sakit.Jika terjadi gejala berat maka penderita perlu mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.

Berkunjung ke Rumah Teman

Bisa jadi ajang bersosialisasi untuk si buah hati. Berkunjung ke rumah teman? Boleh dibilang, inilah aktivitas yang disukai anak sekolah dasar. Memang sih, niatnya mau numpang main, tapi sebenarnya banyak hal dapat dipelajari anak lewat kunjungan ke rumah teman. Bahkan ada sekolah dasar di Bogor yang menjadikan acara berkunjung ke rumah teman sebagai program akhir semesternya.

Tentu saja rumah yang bisa dikunjungi adalah rumah siswa yang bersedia didatangi. Sementara peserta kunjungan tersebut tak lain adalah teman-teman sekelasnya. Jadi, tidak melibatkan siswa kelas lain agar keakraban yang sudah terjalin menjadi semakin kuat dan tidak kelewat merepotkan tuan rumah. Ada banyak manfaat yang dapat diperoleh anak melalui kegiatan ini. Pertama, meningkatkan ikatan persahabatan yang sudah terjalin tadi. Kedua, menambah wawasan tentang teman dan keluarga yang dikunjungi serta lebih luas mengenai lingkungan tempat tinggalnya. Soalnya tak jarang setiap lokasi perumahan memiliki kekhasan yang belum tentu ada di lingkungan tempat tinggalnya. Misalnya, ada balong tempat pemeliharaan ikan, ada danau alam yang berfungsi sebagai resapan air dan sebagainya. Siswa pun mendapat tambahan wawasan selama di perjalanan.

Ketiga, mengenal tata krama berkunjung ke rumah orang lain. Apalagi ini dilakukan bersama-sama dengan teman-temannya. Bisa jadi etiketnya pun agak berbeda bila dibandingkan berkunjung sendirian. Setidaknya harus lebih "manis" mengingat keterbatasan ruang agar tidak terlalu merepotkan tuan rumah. Contohnya, masuk secara bergiliran, tidak terlalu gaduh agar tidak mengganggu tetangga yang tinggal di sebelah rumah, dan sebagainya.

PEMILIHAN LOKASI
Perihal pemilihan lokasi rumah yang akan dikunjungi sebaiknya dilakukan jauh-jauh hari sebelum hari pelaksanaan. Kesepakatan ini sebaiknya melibatkan antarsiswa, guru sekaligus orangtua. Selain itu, pertimbangkan pula lokasi rumah yang akan dikunjungi. Sebaiknya pilih lokasi yang tidak terlalu jauh dari sekolah sebagai titik pusat. Juga tidak macet supaya tidak menyita waktu terlalu lama di perjalanan.

Ada baiknya pula pertimbangkan aspek keadilan. Dalam arti, sangat mungkin siswa yang tempat tinggalnya agak jauh dari sekolah ingin sekali dikunjungi teman-temannya. Sekali lagi, hal ini tergantung kesepakatan antara orangtua, guru, dan siswa. Bentuk solusinya bisa saja dengan menyiapkan sarana transportasi yang dapat digunakan bersama-sama. Dengan demikian tidak merepotkan orangtua ataupun pengantar yang mungkin terbatas waktunya.

WAKTU & KEGIATAN
Lama waktu berkunjung sebetulnya tergantung pada kegiatan apa yang akan dilakukan. Apa pun bentuknya, sebaiknya batasi sekitar 2 jam. Tenggang waktu ini cukup memadai bagi anak usia SD. Sedangkan bila terlalu lama dikhawatirkan akan merepotkan tuan rumah sekaligus membosankan untuk para siswa. Ada pun kegiatan yang dapat dilakukan cukup beragam. Namun sebaiknya upayakan kegiatan yang mampu memberi tambahan pengetahuan. Jadi, tak melulu ngobrol santai atau bermain saja. Melainkan membolehkan para tamu cilik ini melihat koleksi buku yang dimiliki si tuan rumah, berdiskusi tentang topik yang temanya dapat diambil dari lingkungan rumah yang dikunjungi. Misalnya, tentang pemeliharaan ikan, kegiatan usaha yang digeluti tuan rumah, dan sebagainya.

Alangkah baiknya pula bila siswa membawakan buah tangan bagi tuan rumah. Tak perlu yang memberatkan yang penting mampu meningkatkan kadar kehangatan persahabatan. Hal lain yang juga patut mendapat perhatian, hendaknya tuan rumah melakukan sejumlah persiapan meski tidak perlu berlebihan. Paling tidak persiapan tempat agar tamu yang datang bisa merasa nyaman selama berkunjung.

PENTINGNYA PENDAMPINGAN


...bersambung ....

PG/ TK SMART BEE - Children Education

My photo
Based on Islamic system. We commit to be partner for parents to provide educated play ground for their beloved children. Contact us: Jl.Danau Maninjau Raya No.221, Ph 62-21-7712280/99484811 cp. SARI DEWI NURPRATIWI, S.Pd