Sunday, 28 February 2010

Budaya Menabung Di Smart Bee



Tak mau kalah dengan orang dewasa, bocah-bocah kecil yang masih duduk di bangku Play Group dan Taman Kanak-kanak (TK) pun kini telah memiliki rekening pribadi. Mereka adalah siswa/i PG & TK Islam Smart Bee yang berlokasi di Jalan Danau Maninjau Raya No 221 Depok Timur.

"Kami ingin menanamkan budaya menabung sejak kecil dengan memperkenalkan kepada siswa bagaimana caranya menabung di Bank dengan rekening pribadi masing-masing," ujar Ummi Dewi, Kepala Sekolah PG dan TK Islam Smart Bee.

Sejak Tahun Ajaran 2009/2010, setiap siswa PG& TK Islam Smart Bee akan mendapatkan Tabungan Simpatik dari Bank Syariah Mandiri. Dengan memiliki rekening sendiri, anak-anak diharapkan memiliki semangat yang tinggi untuk menabung.
Salah satu persyaratan untuk membuka tabungan adalah menyertakan foto kopi kartu identitas diri. Karena para siswa masih dibawah umur, maka orangtua siswa lah yang membuka rekening tersebut. Namun nama yang tertera pada buku Tabungan Simpatik ditambahi dengan QQ nama siswa yang bersangkutan. Seperti contoh, ananda Omar Sheif siswa Giant Bee Club. Pada buku Tabungan Simpatik Ananda Omar tertera nama: Ida Fitri QQ Omar Sheif/SB. Khusus untuk siswa TK B, siswa menulis sendiri jumlah uang yang disetorkan dan juga menulis nama mereka di kolom tanda tangan. Mereka juga diajarkan untuk mengantri ketika menyetorkan uang tabungannya. Alhamdulillah, kegiatan tersebut berjalan dengan lancar.

Kunjungan Siswa TK ke Bank Syariah Mandiri (BSM) untuk menyetorkan tabungannya sendiri dilakukan mulai tanggal 12 Februari-12 Maret 2010. Setiap kelas didampingi oleh wali kelasnya melakukan kunjungan ke BSM untuk menyetorkan sendiri uang tabungan mereka selama sebulan yang lalu. Pengenalan bank ini hanya berlaku untuk siswa TK saja, sementara untuk siswa PG uang tabungan disetorkan ke Bank oleh TU Sekolah.

Berbagai macam polah tingkah laku anak-anak yang berkunjung ke BSM, yang kadang mengundang senyum nasabah lain yang ada di banking hall. Seperti halnya saat kunjungan Big Bee Club ke BSM Kantor Kas Depok 2 pada tanggal 25 Februari yang lalu. Saat selesai menabung ada salah satu siswa yang tingkahnya membuat kita tertawa geli. Setelah ia menerima buku tabungannya yang sudah di print oleh teller bank, kemudian sambil menunggu temannya yang masih mengantri, apakah yang ia lakukan? Tertanya ia masuk ke dalam kolong kursi costumer service untuk bersembunyi dari teman-temannya. Setelah ditegur oleh gurunya, ia bergaya seolah-olah seperti abang tukang becak yang sedang mengayuh becaknya. Ada juga anak yang mencari perhatian karyawan BSM entah itu CS, teller maupun kepala kantor kas BSM Depok 2. Tapi kenapa ya, mereka tidak berani dekat-dekat petugas security?

Anak-anak sangat senang sekali berkunjung ke BSM, bahkan ada siswa yang merajuk kepada orangtuanya untuk pergi menabung ke BSM lagi setiap hari. Semoga kami bisa membantu program pemerintah untuk membudayakan menabung.

Sunday, 21 February 2010

Risiko Alergi Pada Anak Bisa Dicegah Saat Ibu Mengandung

Fukuoka, Anak yang baru lahir kadang memiliki napas yang berbunyi seperti tersengal-sengal atau memiliki eksim karena alregi. Untuk mencegah alergi tersebut bisa dilakukan sejak ibu mengandung.

Bagi ibu hamil banyak-banyaklah mengonsumsi sayuran dan buah. Cara ini dapat menurunkan kemungkinan memiliki bayi dengan alergi tertentu.

Dr Yoshihiro Miyake dan rekannya dari Fukuoka University di Jepang menemukan asupan sayuran hijau dan kuning serta buah-buahan yang mengandung beta karoten tinggi (umumnya berwarna merah dan oranye) dalam jumlah yang banyak dapat mengurangi risiko memiliki bayi dengan gangguan kulit seperti eksim (gatal, kulit kering dan merah-merah di kulit).

Makanan yang mengandung vitamin E dengan kadar tinggi seperti dalam beberapa sayuran hijau juga dapat mengurangi risiko memiliki bayi dengan napas tersengal-sengal.

Hasil penelitian ini telah dilaporkan dalam jurnal Allergy. Beta karoten dan vitamin E adalah dua zat yang banyak terdapat di sayuran dan memiliki antioksidan yang bermanfaat untuk kesehatan.

"Tetapi mengenai hubungan konsumsi antioksidan pada ibu yang hamil dengan mencegah anak memiliki alergi tertentu masih dalam tahap penelitian dan belum bisa diambil kesimpulan," ujar Miyake, seperti dikutip dari Reuters, Senin (22/2/2010).

Dalam penelitian ini tim Miyake mengevaluasi asupan sayur dan buah selama hamil dari 763 perempuan dan mendeteksi ada atau tidaknya alergi pada keturunanya. Para perempuan yang berusia 30 tahun dan rata-rata hamil sekitar 17 minggu akan melaporkan riwayat kesehatan pribadinya.

Tim Miyake menemukan bahwa sebesar 21 persen anak-anak memiliki napas yang berbunyi seperti tersengal-sengal dan sebesar 19 persen memiliki eksim. Dan didapatkan ibu-ibu yang mengonsumsi banyak sayuran dan buah dengan kandungan beta karoten tinggi sedikit yang memiliki anak eksim.

Asupan vitamin E yang tinggi selama kehamilan telah dikaitkan dengan kemungkinan kecil anaknya memiliki napas yang tersengal-sengal. Hasil temuan ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh peneliti dari Amerika Serikat dan Inggris.

Peneliti menyimpulkan meningkatkan asupan sayuran dan buah berwarna hijau serta kuning, buah jeruk dan yang mengandung antioksidan seperti beta karoten dan vitamin E selama hamil, bisa menjadi langkah yang mungkin efektif untuk mencegah adanya gangguan alergi pada anaknya.


www.detik.com

Wednesday, 17 February 2010

Hindari Sinar Matahari Saat Anak Terkena Sakit Cacar

Jakarta, Anak-anak lebih gampang terkena penyakit cacar dibandingkan orang yang lebih dewasa. Selama terkena cacar air anak sebaiknya di karantina di dalam rumah dan hindari sinar matahari.

Selama masih mengalami infeksi, penting buat orangtua untuk menghindari anak dari sinar matahari karena kulit akan menjadi lebih rentan untuk terbakar. Selain itu paparan sinar matahari dapat meningkatkan risiko jaringan parut.

Jika anak terlalu banyak menghabiskan waktu di bawah sinar matahari akan memicu suhu panas tubuh dan mengeluarkan keringat, akibatnya akan memuat cacar air yang ada di tubuh menjadi lebih gatal. Hal ini akan memicu anak untuk menggaruknya dan membuat proses penyembuhannya menjadi lebih lama. Sebaiknya, jika sangat mengganggu, lap keringat di tubuh anak dengan menggunakan waslap basah untuk meringankannya.

Ada orangtua yang takut anaknya terkena air sehingga melarang anaknya mandi saat terkena cacar. Tapi menurut dokter mandi bisa dilakukan asalkan tidak menggosok kuat-kuat dan langsung dikeringkan. Bisa juga dengan menggunakan lap basah.

Cacar air adalah penyakit yang umum terjadi pada anak usia di bawah 12 tahun. Gejala yang timbul berupa gatal ruam yang dapat muncul di seluruh tubuh dan disertai dengan gejala flu. Karena infeksi yang terjadi bisa menular, maka anak yang terinfeksi harus tinggal di rumah dan beristirahat hingga gejalanya hilang.

Seperti dikutip dari Kidshealth, Kamis, (18/2/2010) penyakit cacar air disebabkan oleh infeksi virus varisela-zoster (VZV), untuk melindunginya biasanya anak kecil diberikan vaksin varicella saat usia 12-15 bulan. Namun vaksin ini bisa diberikan secara berulang saat anak berusia 4-6 tahun untuk memberikan perlindungan lebih lanjut.

Seseorang biasanya hanya mendapatkan satu kali cacar air, namun VZV bisa tertidur di dalam tubuh dan menyebabkan penyakit kulit baru di kemudian hari yang disebut dengan herpes zoster. Vaksin cacar yang diberikan bisa memberikan perlindungan yang signifikan bagi anak.

Ruam cacar yang terjadi di kulit bisa bertambah luas atau berat jika anak memiliki kelainan kulit lain seperti eksim. Beberapa anak biasanya mengalami demam, sakit perut, sakit tenggorokan, sakit kepala atau badan yang sakit selama 1-2 hari sebelum ruam tersebut muncul.

Pada beberapa kasus didapatkan anak-anak yang lebih muda akan memiliki gejala yang lebih ringan dan lebih sedikit dibandingkan anak yang lebih tua atau orang dewasa. Sebaiknya anak yang terkena cacar beristirahat di dalam rumah dan hindari kondisi lingkungan yang panas dan dapat memicu keringat, karena akan membuat cacar air semakin gatal.

Untuk proses penyembuhannya, berilah anak makanan bergizi dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C. Bekas cacar air biasanya cenderung meninggalkan bekas, tapi jika terjadi pada anak proses regenerasi kulitnya akan lebih mudah sehingga bekas luka bisa hilang. Lakukan imunisasi cacar agar anak mempunyai kekebalan tubuh.


www.detik.com

Tuesday, 16 February 2010

Mana Lebih Baik untuk Bayi, Dot atau Ibu Jari?

Jakarta, Bayi memiliki kebutuhan kuat untuk mengisap, ini dikarenakan bayi mengisap ibu jarinya ketika masih berada di dalam rahim. Bagi bayi mengisap adalah hiburan yang sangat menyenangkan.

Tapi kini banyak orangtua yang memberikan dot pada bayinya. Saat bayi menangis tak sedikit ibu yang buru-buru memasukkan dot ke mulut si bayi untuk menghentikan tangisannya.

Sebenarnya mana yang lebih baik, menggunakan dot atau ibu jari? Ternyata keduanya memiliki plus minus yang berbeda. Tapi keduanya lebih baik digunakan untuk kondisi darurat jangan menjadi kebiasaan karena keduanya punya efek buruk.

Seperti dikutip dari The Baby Book karangan William & Martha Sears, Selasa (16/2/2010) sebaiknya dot atau menghisap ibu jari digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat mendesak dan bukan untuk menggantikan cara pengasuhan.

Bagaimanapun ketika menangis, bayi jauh lebih suka jika dirinya diangkat dan digendong dibandingkan dengan pemberian dot.

Membiarkan anak mengemut ibu jari memang paling mudah dilakukan. Ibu jari tidak mungkin kotor atau jatuh ke lantai dan rasanya lebih baik bagi bayi karena bayi dapat melakukan penyesuaian posisi sesuai dengan kebutuhannya. Yang perlu diperhatikan adalah kondisi dan panjangnya kuku agar tidak melukai langit-langit mulutnya.

Tapi efek buruknya, jika terlalu sering mengisap ibu jari akan sulit menghilangkan kebiasaannya hingga masuk ke taman kanak-kanak.

Bukan berarti penggunaan dot lebih baik, karena dot lebih mudah hilang, kotor dan sumber dari berbagai mikroorganisme. Jika dot digunakan saat bayi masih mendapatkan ASI eksklusif, maka hal ini dapat menyebabkan bayi mengalami bingung puting yang nantinya menghambat kelancaran pemberian ASI. Meski begitu menghilangkan kebiasaan penggunaan dot bisa lebih mudah dibandingkan dengan ibu jari.

Beberapa bayi ada yang sensitif terhadap dot terutama dari tekstur, rasa dan baunya. Selain itu dot memiliki dasar yang sempit sehingga bayi hanya membuka sedikit mulutnya yang dapat mengakibatkan daya isap bayi berkurang.

Tapi para ahli menyarankan agar kebiasaan memberikan dot atau menghisap ibu jari dilakukan seperlunya saja.
Jika dot atau menghisap ibu jari digunakan terus menerus bisa berakibat buruk pada struktur giginya dan menjadi lambat bicara karena terlalu asyik mengedot atau menghisap ibu jari.

Menyusui adalah salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan mengisap si bayi dan terhindar dari kebiasaan menghisap ibu jari atau penggunaan dot.


www.detik.com

Antibiotik untuk Bayi Harus Dipantau Ketat

London, Penggunaan obat antibiotik untuk mengobati infeksi tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Para ahli memperingatkan dokter dan suster untuk lebih berhati-hati dalam memberikan antibiotik dosis tinggi pada bayi.

Pemberian yang sangat hati-hati ini berkaitan dengan masalah keselamatan dan kesehatan si bayi nantinya.
Penggunaan obat antibiotik dengan tidak benar pada usia muda berisiko menyebabkan kerusakan ginjal atau kehilangan pendengaran.

Pemberian antibiotik yang terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat mempengaruhi efektivitas dan toksisitas dari obat itu sendiri.

Pedoman baru yang dikeluarkan Badan Nasional Keselamatan Pasien (NPSA) Inggris menyarankan bahwa staf kesehatan tidak boleh terganggu saat menyiapkan dan mengelola pemberian antibiotik. Selain itu ketika obat resep dokter sudah diberikan, maka dokter harus melakukan pemantauan selama 24 jam untuk menghindari kekeliruan.

Jika pengobatan diberikan melalui infus, maka obat harus diberikan secara berkala dan kadar obat dalam darah harus dipantau secara konsisten.

Pedoman ini diterapkan untuk menghindari terjadinya kerusakan atau efek keracunan akibat dosis obat yang berlebihan, serta meminimalkan efek samping jangka pendek yang mungkin muncul dari antibiotik tersebut.

"Pedoman ini untuk memastikan standar tinggi dalam pemberian resep dan pengawasan penggunaan obat antibiotik yang kuat pada bayi atau usia muda," ujar Jenny Mooney dari NSPA, seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (16/2/2010).

Antibiotik yang diberikan harus aman bagi bayi yang sedang sakit agar reaksi merugikan yang mungkin timbul dapat diminimalisir. Karenanya orangtua juga harus diberitahu mengenai kemungkinan risiko dari setiap perawatan yang diberikan pada bayinya.

"Karena daya tahan tubuh bayi belum terbentuk secara sempurna sehingga setiap tindakan yang diambil harus dipikirkan mengenai risikonya," katanya.

Seperti dikutip dari Irishhealth, antibiotik adalah kelompok obat yang digunakan untuk mengobati berbagai infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Namun antibiotik tidak akan efektif terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus.

Jika seseorang mengalami sakit tenggorokan atau flu yang disebabkan oleh virus, maka pengobatan dengan antibiotik hanya sedikit atau tidak memiliki peran sama sekali. Karena sebenarnya penyakit yang disebabkan oleh virus bisa hilang dengan sendirinya jika memiliki daya tahan tubuh yang kuat. Jadi jika dokter memberikan antibiotik untuk sakit flu itu suatu kekeliruan.

Beberapa antibiotik hanya efektif terhadap bakteri tertentu saja, sebagai contoh antibiotik penisilin bisa diresepkan untuk sakit tenggorokan akibat bakteri streptokokus. Meresepkan antibiotik tergantung dari letak dan tipe dari infeksi yang muncul.

Bakteri memiliki kemampuan untuk mengalami resistensi atau kebal terhadap antibiotik, sehingga penggunaan antibiotik tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Namun antibiotik akan memiliki potensi yang efektif jika digunakan secara tepat.

Beberapa antibiotik ada yang menimbulkan efek samping seperti mual, muntah atau diare akibat perubahan keseimbangan bakteri di dalam usus. Namun jika efek samping yang ditimbulkan lebih dari itu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui apakah antibiotik yang dikonsumsi harus diganti atau tidak.


www.detik.com

Sunday, 14 February 2010

Kehidupan Bayi di 6 Bulan Pertamanya

Jakarta, Bayi usia 0-6 bulan mengalami banyak perubahan dalam kehidupannya dibandingkan periode pertumbuhan lainnya. Apa saja yang terjadi pada bayi baru lahir hingga usia 6 bulan pertama?

Pada periode 6 bulan pertama perubahan yang terjadi seperti berat badan bayi meningkat, mengalami kemajuan dalam tingkah lakunya, kematangan proses berpikir bayi serta mulai bisa memberikan tanggapan terhadap refleks tertentu.

Seperti dikutip dari The Baby Book karangan William dan Martha Sears, Kamis (11/2/2010), inilah perkembangan yang terjadi di 6 bulan pertama kehidupan si bayi, yaitu:

Bulan Pertama
Pada tahap ini bayi hanya membutuhkan lengan ibu untuk menggendongnya. Ketika bermain dengan bayi yang baru lahir ototnya akan terasa seperti pegas, yaitu saat mencoba membuka genggaman tangan secara otomatis akan kembali seperti semula.

Selain itu suara berderak yang timbul disekitar lutut dan siku adalah normal, karena ikatan persendiannya seperti karet dan masih longgar. Jika bayi mudah terkejut, gendonglah ia dengan kain atau selimuti sehingga gerakan otot yang tersentak teratur kembali.

Bayi yang baru lahir lebih suka mendengar suara ibunya dibandingkan ayah. Bayi yang tidur memiliki kemampuan memblokir suara-suara yang dapat mengganggunya.

Kebanyakan gerak bayi yang baru lahir dilakukan secara refleks dan bayi bertingkah laku sebelum berpikir. Pada saat ini juga perkembangan penciuman bayi berkembang pesat, bayi bisa mengenali orang-orang disekitarnya terutama ibu melalui baunya. Senyuman bayi menandakan perasaan senang di dalam hatinya.

Bulan Kedua
Bulan kedua adalah saatnya si bayi menampilkan dirinya sendiri. Bayi mulai membuka tangannya untuk menyapa, membuka mata untuk memperluas penglihatannya serta melebarkan mulutnya untuk tersenyum atau mengeluarkan suara. Bayi akan sangat tertarik dengan mimik wajah sehingga ia cenderung untuk menirunya. Karena pada usia ini bayi mulai menunjukkan minatnya pada dunia luar karena sudah dapat melihat lebih jelas dibanding sebelumnya.

Bayi berusia 2 bulan lebih mudah dimengerti, bayi akan seringkali tersenyum yang sebaiknya dibalas pula oleh senyuman ibunya serta tangisannya mulai terpola dan memberi isyarat tertentu. Si kecil juga sudah mulai menunjukakn suasana hatinya melalui suara dan sikap tubuh. Suara yang dikeluarkan adalah "uh" atau "ah" diikuti senyum yang mengembang.

Genggaman tangan yang erat mulai mengendur dan jari tangannya mulai terbuka. Bayi suka menggenggam sesuatu baik mainan atau tangan ibunya, untuk melepaskannya bisa dengan mengelus punggung tangan bayi. Gerakan tangan bayi memang belum terarah dengan baik, karenanya orangtua tetap harus waspada.

Bulan Ketiga.
Lengan dan kaki bayi mulai mengendur dan menjadi rileks. Saat usia ini tangan bayi sangat terampil dan kekuatan menggenggamnya bertambah, semakin mudah dan ringan objek yang pegang akan semakin lama digenggamnya maka tak jarang rambut atau pakaian ibu kena genggaman si kecil. Selain itu bayi akan memperhatikan secara detail setiap objek yang dilihatnya.

Bayi cenderung mulai bisa mengeluarkan suara lebih lama dengan vokalisasi yang lebih kencang. Cobalah untuk membaringkan bayi pada posisi telungkup dan mengajaknya berbicara, ini berguna untuk membantunya memperkuat otot agar dapat mengangkat kepalanya. Bayi akan mengangkat kepalanya setinggi 45 derajat dan mengikuti percakapan visual empat mata, bayi mulai bisa menahan kepalanya untuk beberapa saat.

Posisi lainnya adalah menggendong bayi dalam posisi berdiri dengan menyandarkan dadanya di dada sang ibu. Sebagian besar bayi lebih suka diletakkan di lantai untuk menikmati permainan bebasnya. Selain itu bayi juga mulai mempelajari gerakan sebab-akibat karena otaknya sudah mulai berkembang.

Bulan Keempat
Usia ini disebut dengan tahap interaktif, karena kemampuan bayi bersosialisasi, berbicara dan bergerak sudah lebih matang. Bayi memiliki kemampuan penglihatan binokular yaitu dapat menggunakan kedua matanya, memiliki pandangan yang jauh serta mampu menilai secara akurat jarak antra mata dan obyek yang dilihat. Kepala bayi akan mengikuti gerakan mata sehingga keduanya bergerak secara bersamaan.

Selain itu bayi juga mulai aktif memainkan tangannya dengan cara membuat kepalan dan mengisap jarinya untuk mengurangi gusi yang sakit saat tumbuh gigi. Gerakan bayi mulai meningkat yaitu bayi dapat berguling dari telungkup ke telentang atau sebaliknya dengan usaha sendiri. Pada usia 4 bulan bayi mulai merasa tidak nyaman karena sudah ada tanda-tanda tumbuh gigi seperti air liur menetes, mengisap jari atau memainkan puting ibunya.

Bayi suka sekali dengan permainan yang menyenangkan seperti cilukba, bermain dengan jari dan cermin atau kitik-kitik. Tiga posisi yang terjadi di usia 4 bulan adalah kepala dan dada yang terangkat, duduk dengan bertopang serta berdiri untuk pertama kali.

Bulan Kelima
Usia 5 bulan bayi mulai bisa memegang satu benda dengan menggunakan tanganya serta dapat menjangkau barang yang jaraknya hanya sepanjang lengannya. Benda yang dipegangnya akan berpindah ke tangan yang satu atau masuk ke mulutnya. Aktivitas yang disenangi bayi 5 bulan adalah gerakan kapal terbang, yaitu bayi tengkurap sambil mengepakkan tangannya, mengayuh kaki serta menggoyangkan perutnya.

Bulan lalu bayi hanya bisa mengangkat kepala dan dada, tapi sekarang bayi sudah bisa mengangkat seluruh sikunya. Jika bayi sedang dipangku, maka ia suka menunduk dan menjulurkan lehernya untuk memegang dan bermain dengan kakinya. Dan bayi bisa duduk sendiri tanpa ditopang atau bersandar, kemampuannya ini memungkinkannya untuk duduk sendiri di kursi bayi.

Permainan yang menarik adalah dengan menggunakan guling kecil. Tengkurapkan bayi di atas guling kecil sambil memegang kakinya atau membaringkan bayi di atas guling kecil akan membantu melatih batang tubuh, kepala dan jangkauannya.

Bulan Keenam
Bayi usia 6 bulan mulai belajar untuk duduk sendiri dengan cara menjaga keseimbangan tubuh pada bokongnya yang bulat sambil menjulurkan lengannya ke depan sebagai penyeimbang. Jika sudah bisa maka bayi akan menggunakan kepala dan lengannya untuk bermain-main. Bayi biasanya masih sulit untuk membetulkan posisinya jika ia jatuh, karenanya letakkan bantal atau benda yang empuk disekelilingnya dan bayi lebih suka belajar duduk saat ditinggal sendiri.

Pada usia ini bayi dapat mengangkat sedikit tubuhnya dari lantai dan mulai belajar untuk merangkak. Cobalah letakkan agak jauh mainan yang dapat menarik perhatiannya, maka bayi akan berusaha untuk menekan jari kaki dan tangan serta berusaha untuk mengambilnya dengan cara merangkak. Pada saat baru belajar bayi hanya mampu bergerak 2-3 langkah.


www.detik.com

Saturday, 13 February 2010

Play Group - TK Smart Bee "Mendidik Lebah-lebah Pintar"


Musim hujan sudah datang....Tiap hari selalu hujan. Hati-hati karena banjir siap menghadang. Tahu tidak? Dimusim hujan ini, guru-guru Playgroup dan TK Smart Bee memberikan murid-muridnya sebuah pengetahuan. Yaitu...kebiasaan membuang sampah sembarangan akan membuat banjir selalu datang.

Umi, begitu sebutan untuk guru di Playgroup -TK Smart Bee, meminta masing-masing anak mengumpulkan dedaunan. Lalu setelah terkumpul, daun-daun disebar di bak mandi* yang berisi rumah-rumahan. Pancuran air dinyalakan, lalu daun-daun mengikuti aliran air. Air menggenag karena daun-daun menghalanginya keluar dari lubang. Genangan air itu semakin banyak hingga merendam rumah-rumahan yang ada di dalam bak mandi. Itulah banjir yang sering kita lihat. Semua dijelaskan dengan cara yang sederhana oleh para umi. Sekolah yang terletak di jalan danau Maninjau Raya No 221, Depok Timur ini terus menggali ide untuk menemukan konsep yang menarik. Termasuk bagaimana menjelaskan banjir dengan cara yang sederhana. Konsep belajar yang kreatif dan Islam terus dikembangkan dengan mengikutsertakan para umi ke berbagai seminar dan pelatihan pengajaran.

Pembentukan Playgroup dan TK berkonsep Islam ini berawal dari keinginan para pengelola yayasan di tahun 2007 untuk membuat Playgroup yang berkualitas dengan biaya yang terjangkau. Playgroup diberi nama Smart Bee, dalam Bahasa Indonesaia berarti lebah pintar. Setelah berjalan setahun, sesuai permintaan para orangtua murid, pengelola yayasan juga membuka TK. Sekarang jumlah muridnya ada 71 anak, terbagi menjadi 3 kelas Playgroup dan 4 kelas TK A dan TK B. Agar proses belajar mengajar di kelas terasa nyaman, kelas dilengkapi AC.

Kegiatan islami diterapkan dalam kegiatan sehari-hari seperti baca doa, praktek sholat juga belajar iqro. Murid-muridnya juga diajarkan Bahasa Inggris, Komputer, Memasak, Menggambar dan jariaritmatika. Setiap Hari sabtu, anak-anak ada kegiatan olahraga seperti senam, bersepeda atau jalan-jalan ke sekitar lingkungan sekolah. "Semua kegiatan dirangkai untuk mendidik anak-anak supaya pintar, mandiri dan untuk menghasilkan sesuatu yang berguna," papar umi Dewi kepala sekolah Playgroup-TK Smart Bee. Ya, seperti filosofi lebah. Lebah menghisap madu sari bunga dan menghasilkan madu. Semua yang diambil dan dihasilkan sama-sama baiknya. Semoga anak-anak Playgroup dan TK Smart Bee bisa menjadi seperti lebah-lebah pintar, bisa menghasilkan sesuatu yang berguna untuk orang banyak. (Wiwin)

Dikutip dari majalah mombi edisi no 10 Tahun XVIII Terbit 10 Februari 2010 Halaman 23

Thursday, 11 February 2010

Vaksin Flu Aman untuk Bayi 6 Bulan

Seattle, Penyakit flu bisa menyerang siapa saja termasuk bayi yang baru berusia beberapa bulan. Tapi kini peneliti mengungkapkan vaksin flu musiman aman dan efektif untuk bayi berusia 6-12 bulan.

"Penemuan ini telah dikonfirmasi dalam penelitian lebih lanjut dan menunjukkan vaksin flu musiman ini bisa dimasukkan dalam vaksinasi standar untuk bayi usia 6 bulan," ujar Dr Janet A. Englund dari University of Washington, Seattle, seperti dikutip dari HealthDay, Jumat (12/2/2010).

Dalam studi ini, peneliti memilih secara acak 1.375 bayi sehat untuk menerima dua dosis vaksin flu musiman trivalen (melindungi terhadap tiga strain virus flu yang beredar) dan vaksin plasebo. Pemberian vaksin diberikan jarak selama satu bulan dan dikombinasikan dengan vaksin bayi yang sudah direkomendasikan dalam standar vaksinasi.

Tidak ada perbedaan dalam hal ini efek samping atau dampak buruk yang terlihat dari kedua kelompok bayi ini. Sekitar 11 persen bayi pada kedua kelompok mengalami demam selama 3 hari setelah vaksinasi. Peneliti mengungkapkan setelah satu bulan vaksinasi, kejadian serius yang berkaitan dengan tiga strain flu tersebut sangat jarang ditemukan (langka).

Berdasarkan hasil tes imunologi menunjukkan hampir setengah dari bayi yang menerima vaksin flu tersebut mengembangkan antibodi untuk melindungi setidaknya dua dari tiga strain influenza yang ada di dalam vaksin.

"Berdasarkan hasil penelitian ini, potensi perlindungan terhadap virus influenza bisa diperoleh secara aman pada bayi berusia 6 bulan yang menerima vaksin influenza sesuai standar dosis bayi," ujar Englund.

Anak-anak kecil terutama bayi termasuk ke dalam kelompok usia yang memiliki risiko tinggi terkena flu dan berbagai komplikasi yang terkait. Ini dikarenakan daya tahan atau sistem imun dalam tubuhnya belum terbentuk secara sempurna.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan pada edisi Februari dalam The Pediatric Infectious Disease Journal.

www.detik.com

Wednesday, 10 February 2010

Kenapa Anak Saya Kena Autis ?

New Jersey, Orangtua yang punya anak autis sering dibayangi terus menerus oleh pertanyaan 'kenapa harus anak saya?'. Meski banyak kemungkinan seorang anak terkena autis, tapi banyak orang tua yang tidak terima anaknya menderita autis.

"Beberapa orang tua terus mencari tahu jawaban pertanyaan tersebut dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya, tapi mereka tetap tidak terima anaknya terkena autis," ujar Patricia Robinson,terapis ADHD, autis dan Asperger's sindrom seperti dilansir CNN, Senin (8/2/2010).

Maria Collazo dari New Jersey, orang tua dari bocah 5 tahun penderita autis mulai curiga pada anaknya setelah ia kesulitan mengambil benda dan mengucapkan kata pada umur 1 tahun.

Setelah tahu bahwa anaknya mengalami autis, Maria langsung melakukan browsing di internet, pergi ke perpustakaan, memesan buku dan menghabiskan waktu berjam-jam mengenai autis.

Ia mulai berpikir, apakah pekerjaannya yang selama berjam-jam di kantor, penggunaan Blackberry atau radiasi saat memeriksa kandungan yang membuatnya melahirkan anak dengan kondisi autis.

"Saya bertanya banyak hal pada diri sendiri. Apakah saya makan sesuatu yang tidak seharusnya? Apakah saya terkena paparan zat berbahaya selama hamil? Saya terus bertanya tapi saya tetap tidak tahu jawabannya. Rasanya seperti ada sesuatu yang membuat pikiran ini terus bertanya," tutur Maria.

Menurut Dr Judith Miles, professor pediatrik dan patologi, sangat wajar dan manusiawi jika seseorang ingin tahu kenapa sesuatu hal bisa terjadi. Tapi kebanyakan bertanya pada diri sendiri apalagi menyalahkan diri sendiri bisa membuat seseorang depresi.

"Mereka terus-terusan mencari tahu dan melihat ke belakang. Mereka juga terus menyalahkan dirinya sendiri, jangan-jangan kebiasaannya saat hamil adalah penyebabnya. Padahal tidak ada bukti kuat yang menunjukkannya," kata Dr Judith.

Mungkin harusnya saya tidak melakukan itu, mungkin harusnya saya tidak tinggal di daerah itu, mungkn harusnya saya tidak mengonsumsi makanan organik atau mungkin harusnya saya lebih banyak minum vitamin adalah pernyataan yang sering terlintas pada benak orang tua.

Dr Judith yang merupakan direktur biomedis dari the Thompson Center for Autism and Neurodevelopmental Disorders di University of Missouri menyebutkan, bahwa orang tua seharusnya bisa menerima anak yang telah dilahirkan ke dunia apapun kondisinya tanpa perlu memaksakan diri untuk tahu penyebab pastinya.

"Banyak orang tua yang terbangun tengah malam dan terus mencari tahu jawaban untuk teka-teki yang sebenarnya tidak perlu mereka cari tahu. Cukup menerimanya dengan lapang dada bisa menghilangkan pertanyaan yang terus menghantui tersebut," kata Dr Judith.

Autis merupakan gejala yang timbul karena adanya gangguan atau kelainan saraf pada otak seseorang. Diduga autis terjadi karena jembatan yang menghubungkan antara otak kanan dan otak kiri bermasalah atau terhambat.

Sampai saat ini belum ada satu penyebab yang pasti mengakibatkan anak autis. Namun faktor genetik, lingkungan yang terpapar merkuri atau logam berat, pestisida atau antibiotik yang berlebihan diduga sebagai penyebabnya.

www.detik.com

Tuesday, 9 February 2010

Broken Home, Wujud Pelanggaran Hak Anak

Pendahuluan
Salah satu hak anak yang tertuang dalam Konvensi Hak Anak (KHA) adalah mendapatkan lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif. Sebagai tempat tumbuh kembangnya anak, rumah menjadi institusi paling awal dan terpenting bagi anak. Saat anak tidak merasa nyaman di tengah-tengah keluarganya, dapat dipastikan ada masalah yang mengganggunya. Bukan untuk waktu sementara, masalah yang dialami anak di lingkungan keluarga pun akan berimbas pada kehidupannya di masa-masa berikutnya. Ketimpangan antara keadaan yang diharapkan anak dengan kenyataan yang dialaminya menjadi pemicu terganggunya perkembangan pribadi anak.
Akan mudah jika masalah itu datang dari diri anak, seperti rasa malas membantu anggota keluarga yang lain membersihkan rumah. Dengan teguran dan contoh yang baik (uswatun hasanah) dari orangtua, anak akan berubah dan dapat menyesuaikan diri dengan aturan keluarga tanpa merasa dipaksa melakukannya. Namun bila masalah dalam keluarga ditimbulkan orangtua yang seharusnya memberi kenyamanan, tentu akan lebih sulit penyelesaiannya. Egoisme orangtua kerap menjadi penghambat keharmonisan keluarga. Padahal merupakan hak anak untuk tumbuh di tengah-tengah keluarga yang mencintainya.
Dalam setiap kasus broken home, anak selalu menjadi atau dijadikan korban. Menjadi korban karena haknya mendapat lingkungan keluarga yang nyaman telah dilanggar. Dijadikan korban karena orangtua kerap melibatkan anak dalam konflik keluarga. Banyak orangtua yang saling tarik-menarik anak saat konflik berlangsung dengan alasan cinta. Dalam bingung, anak terombang-ambing antara dua orang yang mengaku paling menyayanginya. Adakah cinta orangtua yang tidak saling mencintai untuk anak yang membutuhkan cinta tulus?
Ironisnya, banyak diantara anak korban broken home yang memilih lari dari keluarganya dan bersahabat dengan narkoba atau hal-hal negatif lainnya. Dalam beberapa kasus, orangtua malah menyalahkan anak yang tidak bijak memilih pergaulan atau justru saling menyalahkan yang menambah beban pikiran anak. Jika dibiarkan, hal tersebut akan menghilangkan kepercayaan anak terhadap orangtua. Akhirnya, keberadaan orangtua tidak lagi dianggap penting oleh anak.

Lingkungan Kondusif bagi Anak
Dalam Building Positive Communication (2006:17), Savitri Ramadhani menuliskan hasil penelitian Burton L. White (1971) bersama timnya yang menemukan pengaruh model pengasuhan orangtua terhadap perkembangan anak. Dalam penelitian yang dinamakan The Harvard Preschool Project itu, ditemukan perbedaan yang mencolok pada anak terkait dengan kemampuan orangtua mendesain lingkungan kondusif bagi anak, kemampuan berperan sebagai ‘konsultan’ dan kemampuan menyeimbangkan antara memberi kebebasan dan pembatasan bagi anak.
Tinggal di tengah-tengah lingkungan keluarga yang kondusif merupakan hak anak yang wajib dipenuhi orangtua. Keharmonisan keluarga menimbulkan dampak besar terhadap perkembangan kepribadian anak. Kenyamanan dan kehangatan yang dirasakan anak di tengah-tengah keluarganya akan membentuk sikap-sikap positif pada diri anak. Begitu pula cinta tulus dan kasih sayang yang ditunjukkan orangtua dan anggota keluarga lain akan meyakinkan anak bahwa ia dianggap penting dan akan memotivasinya untuk berbuat yang terbaik bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Menurut Stinnet & DeFrain, seperti dikutip Savitri Ramadhani dalam bukunya Building Positive Communication (2006:23), bahwa keluarga harmonis mempunyai karakteristik tertentu, yaitu kehidupan beragama yang baik di dalam keluarga, mempunyai waktu bersama antara sesama anggota keluarga, mempunyai komunikasi yang baik antar anggota keluarga, saling menghargai antara sesama anggota keluarga, masing-masing anggota keluarga merasa terikat dalam ikatan keluarga sebagai suatu ikatan kelompok dan ikatan kelompok ini bersifat erat dan kohesif, bila terjadi permasalahan dalam keluarga, maka masalah tersebut dapat diselesaikan secara positif dan konstruktif.

Penutup
Dari uraian di atas, terbaca jelas betapa pentingnya keharmonisan keluarga bagi perkembangan anak. Bahwa hubungan yang terjalin antar orangtua, orangtua dengan anak dan antar anak memberi pengaruh besar bagi pribadi anak.
Sebagai orang dewasa dengan pengalaman dan pengetahuan yang lebih dibanding anak, orangtua diharapkan dapat memberi yang terbaik bagi anak-anaknya. Kenyamanan dan kehangatan keluarga merupakan hak seluruh anggota keluarga, khususnya anak. Banyak nilai-nilai positif yang akan menjadi bagian pribadi anak jika hak tersebut terpenuhi dengan baik. Sebaliknya, ketidakharmonisan keluarga akan menjadi bumerang bagi perkembangan kepribadian anak. Tidak sedikit anak yang tumbuh menjadi pribadi pemurung, penyendiri, minderan atau mengidap prilaku negatif lainnya diakibatkan lingkungan keluarga yang tidak harmonis.

www.google.com

Monday, 8 February 2010

Mendidik Anak Tanpa Kekerasan

Seringkali orangtua menanyakan ke saya “Anak saya ini kalau diomongin susah nurutnya, bagaimana sih caranya agar anak nurut dengan orangtua ? Apa musti dipukul dulu baru nurut ? ” Mendengar pertanyaan ini, seringkali saya jawab dengan singkat “Kenapa musti harus dengan kekerasan ? “. Dan seringkali saya menceritakan kisah di bawah ini agar mereka mengerti apa maksudnya Mendidik Anak Tanpa Kekerasan.

Pada suatu hari Dr. Arun Gandhi, cucu Mahatma Gandhi, memberi ceramah di Universitas Puerto Rico. Ia menceritakan suatu kisah dalam hidupnya :

Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orangtua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, ditengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Pada suatu saat, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya mengerjakan beberapa pekerjaan tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu setiba di tempat konferensi, ayah berkata,”Ayah tunggu kau di sini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.”

Segera saja saya menyelesaikan pekerja-pekerjaan yang diberikan oleh ayah dan ibu. Kemudian, saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjuk pukul 17.30, langsung saya berlari menuju bengkel mobil dan buru-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya. Saat itu sudah hampir pukul 18.00 !!!

Dengan gelisah ayah menanyai saya,”Kenapa kau terlambat ?” Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton bioskop sehingga saya menjawab, ”Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.”

Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan ayah tahu kalau saya berbohong. Lalu ayah berkata, ”Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan engkau sehingga engkau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarkanlah ayah pulang berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.”

Lalu dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap dan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang saya lakukan.

Sejak itu saya tidak pernah berbohong lagi. Seringkali saya berpikir mengenai kejadian ini dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya, sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapat sebuah pelajaran mengenai mendidik tanpa kekerasan ? Kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu, menyadarinya sedikit dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru terasa kemarin. Itulah kekuatan bertindak tanpa kekerasan.

Ketika kita berhasil menancapkan suatu pesan yang sangat kuat di bawah sadar seorang anak maka informasi itu akan langsung mempengaruhi perilakunya. Itulah salah satu bentuk hypnosis yang sangat kuat. Apakah hal sebaliknya bisa terjadi ? Ya bisa saja ! Oleh karena itu kita perlu keyakinan penuh dalam melakukannya sehingga hasil positif yang kita inginkan pasti tercapai. Hal ini memerlukan pemikiran yang mendalam dan kesadaran diri yang kuat dan terlatih. Janganlah bertindak karena reaksi spontan belaka dan kemudian menyesal setelah melakukannya.

Jika kita mau berpikir sedikit ke belakang ke masa di mana anak-anak kita masih kecil sekali maka di masa itulah semua ”bibit” perilaku dan sikap ditanamkan. ”Bibit” perilaku dan sikap inilah yang kelak akan mewarnai kehidupan remaja dan dewasanya. Siapakah yang menanamkan ”bibit” perilaku dan sikap itu untuk pertama kalinya ? Ya anda pasti sudah tahu jawabnya, kitalah orangtua yang menanamkan segala macam ”bibit” perilaku dan sikap itu.

Bagaimana jika sebagian besar waktu anak dihabiskan dengan pengasuhnya ( baby sitter ). Ya berdoalah semoga pengasuh anak anda mempunyai pemikiran bijaksana dan bisa mempengaruhi anak anda secara positif. Berharaplah pengasuh anak (baby sitter) anda mengerti cara kerja pikiran dan mengerti bagaimana bersikap, berucap dan bertindak dengan baik agar anak anda memperoleh ”bibit” sikap dan perilaku yang baik.

Seseorang bisa menjadi baik atau buruk pasti karena sesuatu ”sebab”. Perilaku, ucapan sikap, dan pikiran yang baik atau buruk hanyalah suatu rentetan ”akibat” dari suatu ”sebab” yang telah ditanamkan terlebih dahulu. Mungkinkah terjadi ”akibat” tanpa ”sebab” ? Mungkinkah anak kita berbohong tanpa sebab, mungkinkah anak kita ”nakal” tanpa sebab, mungkinkah anak kita rewel tanpa sebab ? Sebagai orangtua kita wajib mencari tahu apa penyebabnya. Tidaklah pantas sebagai orangtua kita langsung bereaksi spontan begitu saja tanpa memikirkan apa yang baru saja kita perbuat. Bukankah ini akan memberi contoh baru bagi anak kita tentang bagaimana bertindak dan bersikap ?

Sewaktu kita mempunyai anak maka kita menjadi orangtua, tetapi kita tidak pernah punya pengalaman menjadi orangtua. Kita mempunyai pengalaman menjadi anak. Jadi kita harus mendidik diri kita sendiri dengan belajar dari anak-anak. Bukan belajar dari apa yang dilakukan orangtua pada kita. Ingatlah perasaan sewaktu kita masih menjadi anak-anak. Amati mereka dan tanggapilah dengan penuh perhatian apa yang mereka inginkan. Pengharapan, perlakuan dan pengakuan seperti apa yang kita inginkan dari orangtua yang tidak pernah terpenuhi ?

Perlakukan anak-anak seperti kita ingin diperlakukan ! Jangan perlakukan anak-anak seperti apa yang dilakukan orangtua pada kita.

Wish you become the best parents in the world !

www.google.com

Thursday, 4 February 2010

tips praktis mengatasi anak susah makan

Problema sulit makan ini dialami anak di usia balita. Umumnya mulai ditemui pada usia anak 1-4 th. Banyak hal yang menyebabkan anak susah makan. Karena bagi anak, saat makan itu bukan hanya pemenuhan gizi tetapi juga saat penuh tantangan, rasa ingin tahu, berlatih, belajar, dsb.


Berikut sekilas bahasan penyebab anak susah makan & tips singkat mengatasinya :

1. Bosan dengan menu makan ataupun penyajian makanan.
Menu makan saat bayi (> 6 bl) yg itu-itu saja akan membuat anak bosan dan malas makan. Belum lagi cara penyajian makanan yg campur aduk antara lauk pauk spt makanan diblender jadi satu. Sama spt
orang dewasa, kalau kita makan dg menu yg sama tiap hari dan disajikan dg campur aduk, pasti akan malas makan. Begitu juga dg pengenalan makanan kasar.

Tips : Tentu saja variasikan menu makan anak. Jika perlu buat menu makan anak min. selama 1 minggu utk mempermudah ibu mengatur variasi makanan. Jadi tergantung pinter-pinter- nya ibu memberikan makanan bervariasi. Spt kalau anak gak mau nasi, kan bisa diganti dg roti, makaroni, pasta, bakmi, dsb. Penyajian makanan yg menarik juga penting sekali. Jangan campur adukkan makanan. Pisahkan nasi dg lauk pauknya. Hias dg aneka warna & bentuk. Jika perlu cetak makanan dg cetakan kue yg lucu.

2. Memakan cemilan padat kalori menjelang jam makan , sehingga anak tidak merasa lapar. Seperti permen, minuman ringan, coklat, hingga snack ber-MSG, dsb. Akibatnya ketika jam makan tiba anak sudah kekenyangan.

Tips : Atur makanan selingan atau cemilan jauh sebelum waktu
makan tiba. Beri juga cemilan yang sehat spt potongan buah, sayur
kukus, keju, yoghurt, es krim, cake buatan ibu, dsb.

3. Minum susu terlalu banyak
Susu di banyak keluarga dianggap sebagai makanan dewa yang bisa menggantikan makanan utama spt nasi, sayur & lauk pauknya Orangtua cenderung kurang sabar memberikan makanan kasar. Atau orang tua sering takut anaknya kelaparan, sehingga makanan diganti dengan susu..Akhirnya, daripada perut si anak tidak kemasukan makanan, diberikan saja susu berlebihan. Padahal setelah anak berusia 1th, kehadiran susu dalam menu sehari-hari bukanlah hal wajib. Secara gizi, susu hanya untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan fosfor saja. Kan kalsium dan fosfor ini dengan mudah kita dapatkan
dalam ikan-ikanan, sayur & buah.

Tips : Kurangi susu ! Di atas usia 1 tahun kebutuhan susu hanya 2 gelas sehari. Mulailah melatih anak dg berbagai jenis makanan. Ubah pola pikir orangtua.

4. Terpengaruh kebiasaan orang tuanya.
Anak suka meniru apa yang dilakukan oleh anggota keluarga lainnya, terutama orang tuanya. Banyak perilaku yg dilakukan ortunya ygmempengaruhi perilaku makan anak. Mis. anak yang tumbuh dalam
lingkungan keluarga yang malas makan (ex. diet), akan mengembangkan perilaku malas makan juga. Perilaku lainnya, sering kita jumpai orang tua masih menyuapi anak yang sudah kelas V SD. Akibatnya anak gak terlatih untuk bisa makan sendiri. Perilaku makan yang kurang pas juga spt kebiasaan ortu ketika menenangkan anak yg sedang rewel dengan cara membelikan jajanan yang padat kalori (permen, minuman ringan, coklat, dsb.). Akibatnya anak kekenyangan & malas makan.

Tips :
Perhatikan & ubah kebiasaan & perilaku orang tua kapanpun, termasuk perilaku makan. Ingat, anak merekam, belajar & menerapkan semua hal yg ia dapat dari lingk sekitarnya, terutama ortunya. Biarkan anak mencoba memakan makanan sendiri sejak dini, tanpa disuapi. Gak perlu takut berantakan. Feeding is about learning.

5. Munculnya sikap negativistik รจ fase normal yg dilewati tiap anak.
Pada usia >2 th, anak sering membangkang / tidak mau patuh. Saat makan tiba, anak terkadang bilang gak mau, makanannya suka dilepeh atau dilempar, dsb. Ini disebut sikap negativistik. Sikap negativistik merupakan fase normal yg dilalui tiap anak usia balita. Sikap ini juga suatu bagian dari tahapan perkembangannya untuk menunjukkan keinginan untuk independent . Jadi batita umumnya ditandai dengan AKU, artinya segala sesuatunya harus berasal dari AKU bukan dari orang lain; intinya power. Nah banyak ortu yg gak memahami hal ini, sehingga lantaran khawatir kecukupan gizi anak tidak terpenuhi, orang tua biasanya makin keras memaksa anaknya makan. Ada ortu yg mengancam anaknya bahkan memukul. Cara2 tsb harus dihindari.

Justru semakin anak pd usia ini dipaksa, justru akan makin melawan (sebagai wujud negativistiknya) . Realisasinya apalagi kalau bukan penolakan terhadap makanan. Bisa dimaklumi kalau ada orang yang
sampai dewasa emoh makan nasi atau sama sekali tak menyentuh daging. Bisa jadi sewaktu masih kecil yang bersangkutan sempat mengalami trauma akibat perlakuan orang tuanya yang selalu memberinya makan secara paksa.

Tips : Pahami kondisi anak dg baik. Jadilah ortu yg otoritatif. Artinya bersikap tidak memaksa, tetapi juga tidak membiarkan begitu saja. Bina komunikasi yg baik dg anak. Bersabarlah menghadapi anak.
Kan rumah adalah madrasah pertama & utama bagi anak.

6. Anak sedang sakit / sedih
Anak tidak mau makan dapat juga disebabkan krn anak sedang sakit atau sedang sedih. Kalau semula anak terlihat aktif, riang dan cerewet, maka di kala sakit ia lebih suka diam dan terlihat malas-malasan.

Tips : Kembali pada konsep bina komunikasi yg baik. Jangan paksakan anak kalau gakmau makan. Beri makanan ringan yg padat kalori, spt makaroni skutel, dsb.

Yg jelas dan perlu diingat baik2 oleh tiap ortu adalah, seberapapun anak gak mau / susah makan, ia tidak akan membiarkan dirinya kelaparan ! Selama mentalnya sehat. Artinya, begitu ia kelaparan, maka ia akan makan.

Tetap kreatif mengolah & menyajikan makanan, bina komunikasi yg baik, terus belajar menjadi ortu & memahami kondisi anak, dan bersabar.

www.google.com

Tuesday, 2 February 2010

perilaku buruk orang dewasa diduga kurang ASI saat bayi

Jakarta, Pernahkah melihat perilaku orang dewasa yang sangat buruk seperti gampang marah, egois suka kekerasan? Coba tanyakan kehidupannya saat bayi, apakah diberi ASI atau tidak? Karena perilaku buruk orang dewasa ternyata juga terkait dengan pemberian ASI atau tidak ketika kecil.

Peneliti dari Menzies School of Health Research di Darwin, Profesor Sven Silburn menuturkan terdapat bukti yang menunjukkan hubungan antara menyusui dengan kesehatan mental seseorang.

Jika saat bayi diberi ASI, maka tubuh orang saat bayi akan mendapat serotonin yaitu zat antistres yang banyak dibentuk dalam 2 tahun pertama kehidupan si bayi.

Zat antistres ini akan masuk ke dalam tubuhnya yang membuat anak menjadi tidak mudah marah, menghindari stres dan depresi serta mengurangi kemungkinan terkena gangguan mental saat dewasa nanti.

Sebaliknya sikap orang dewasa yang mudah marah, gampang stres, gampang depresi serta gampang terkena gangguan mental bisa jadi salah satu faktornya kurangnya asupan serotonin saat bayi alias tidak mendapatkan ASI.

Orang yang mendapatkan ASI saat masih bayi juga cenderung akan memiliki perilaku yang lebih baik, terhindar dari sifat kekerasan, kelalaian, meningkatkan kecerdasan serta menghindari sifat egois. Ini dikarenakan saat disusui anak mendapat perhatian yang cukup dari orangtuanya, sehingga anak tak perlu mencari-cari perhatian dengan melakukan perilaku yang buruk.

Karena efek negatif jika tidak diberikan ASI terbawa hingga dewasa, peneliti menyarankan agar ibu menyusui anaknya secara eksklusif sebab anak yang mendapatkan ASI akan memiliki perilaku yang lebih baik.

Sedangkan pada susu formula cenderung mengandung zat mangan (Mn) yang tinggi, zat ini bisa membuat anak menjadi cepat stres dan marah. Jika hal ini terus berlanjut, maka ada kemungkinan saat dewasa anak memiliki perilaku yang buruk.

Sebuah penelitian yang dilaporkan dalam pertemuan tahunan American Public Health Association menemukan bahwa orangtua yang memberikan ASI saat masih bayi cenderung jarang melaporkan adanya masalah perilaku pada anaknya.

"Ini merupakan temuan awal, tapi hal ini sudah menunjukkan jika orangtua tidak menyusui anaknya akan berpengaruh pada perilaku selama masa anak-anak ataupun jika sudah dewasa," ujar Dr Katherine Hobbs Knutson, seperti dikutip dari HealthDay, Selasa (2/2/2010).

Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan orang yang mengonsumsi ASI saat masih bayi memiliki kemungkinan gangguan perilaku 37 persen lebih rendah dibandingkan dengan orang yang tidak mendapatkan ASI.

ASI sebaiknya menjadi satu-satunya pilihan bagi bayi baru lahir hingga berusia 6 bulan, tapi akan lebih baik lagi jika ASI tetap diberikan hingga bayi berusia 2 tahun.

Sehingga membuat ikatan emosional antara ibu dan anaknya menjadi lebih kuat, hal ini juga yang membuat perilaku anak yang diberik ASI lebih baik daripada anak yang tidak mendapatkan ASI sama sekali.

www.detik.com

Barang elektronik bikin anak kuper

xeter, Inggris, Kemajuan teknologi telah memberikan dua sisi yang berbeda. Bukan hanya sisi positif yang didapat tapi juga ada sisi negatifnya terutama anak-anak.

Kemajuan teknologi ini membuat anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan barang-barang tersebut dibandingkan bersosialisasi dengan sesamanya.

Adanya barang-barang elektronik seperti televisi, video game, handphone atau komputer membuat anak-anak menghabiskan sepertiga harinya dengan multimedia ini.

Peneliti menemukan anak-anak berusia 8-18 tahun menghabiskan lebih banyak waktu di luar sekolah dengan barang-barang ini daripada bermain dengan teman-temannya.

Revolusi elektronik ini telah membuat anak-anak dengan mudahnya mengakses berbagai program televisi, musik, film atau permainan. Hasil ini bisa sangat mengkhawatirkan kesejahteraan dari anak tersebut.

"Keadaan ini sangat menyedihkan, karena beberapa orangtua justru menggunakan perangkat elektronik ini agar anaknya tetap tenang sehingga terlihat seperti candu bagi mereka," ujar Michele Elliot, psikolog dari Kidscape, seperti dikutip dari Timesonline, Senin (1/2/2010).

Elliot menjelaskan anak-anak yang menggunakan barang elektronik ini secara tidak langsung telah membatasi komunikasi atau kemampuan berinteraksinya dengan orang lain.

Anak-anak ini mungkin mahir jika berbicara lewat kata-kata, tapi kemampuan ini belum tentu sama bagusnya jika anak-anak tersebut harus bertatap muka langsung dengan orang lain.

"Agar tidak menghambat perkembangan si anak, sebaiknya orangtua membatasi jumlah waktu anak-anak dalam menggunakan barang-barang elektronik ini terutama jika si anak masih sangat kecil," ujar Elliot.

Para ahli sendiri memiliki perbedaan pendapat mengenai dampak dari penggunaan elektronik yang berlebihan dalam hal kesehatan, kesejahteraan emosional dan keterampilan sosialnya.

Profesor Rupert Wegerif dari University of Exeter mengungkapkan penggunaan elektronik juga bisa memberikan dampak positif seperti membuat anak menjadi lebih kreatif dan sangat interaktif.

Meskipun begitu orangtua tetap saja harus membatasi jumlah waktu yang dihabiskan oleh anak-anaknya dalam menggunakan alat elektronik, sehingga anak masih bisa bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain secara langsung.

Hal ini juga penting untuk membangun kepercayaan diri si anak dan agar anak tidak tumbuh menjadi seseorang yang pemalu.

www.detik.com

ketika si kecil bertanya “Allah itu dimana dan seperti apa?”

Penulis: Ummu Ayyub
Muroja’ah: Ustadz Subhan Lc.

Anak kecil adalah makhluk yang penuh rasa ingin tahu namun sering kali orang tua merasa sulit untuk menjelaskan padanya tentang sesuatu yang tidak bisa dia lihat. Hal ini sering kali membuat orang tua menjadi kebingungan ketika si kecil bertanya “Allah itu dimana dan seperti apa?”

Sebuah majalah berusaha mengupas masalah ini dengan memuat “kreativitas” orang tua untuk menjelaskan hal ini pada anak-anak mereka. Jawaban yang ada antara lain:

“Allah itu ada di langit, tepatnya langit ke tujuh… dst…”

“Allah ada di mana-mana. Allah ada di hati kita, ada di jantung kita,… dst…”

“Allah ada di arsy sana. Tahukah kalian kalau arsy adalah langit ke tujuh?… dst…”

Maha suci Allah dari persangkaan bahwa Dia bercampur dengan makhluk. Allah dekat dengan kita tapi Allah tinggi dan tidak bercampur dengan makhluk. Allah bersemayam di atas Arsy (Arsy bukan langit ke tujuh!!!), tidak bercampur dengan hati manusia, jantung manusia ataupun dengan langit karena semua itu adalah makhluk. Permasalahan ini telah dijelaskan oleh para ulama. Untuk pembahasan lebih dalam, kita bisa merujuk pada kitab-kitab mereka

Tidak Sekedar Semangat

Sunguh mulia niatan kita untuk mengenalkan Allah subhanahu wata’ala pada anak-anak kita sejak mereka masih kecil. Memang seperti itulah seharusnya sebagai seorang pendidik. Namun demikian tidak cukup dengan sekedar semangat karena jika sekedar semangat, bisa jadi yang kita ajarkan ternyata hanyalah prasangka-prasangka kita, tidak tahu apakah benar atau tidak. Padahal standar kebenaran bukanlah prasangka. Bisa jadi menurut kita benar tetapi tenyat bukan itu kebenaran.

Lalu bagaimana kita tahu benar atau salah?

Jawabannya tentu dengan ilmu karena dengan ilmu maka bisa dibedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang sunnah dan mana yang bid’ah, mana yang halal dan mana yang haram. Jangan sampai kita menjadi seorang muslim yang salah sangka karena kebodohan kita. Yang benar kita sangka salah, yang salah justru kita sangka benar. Hidayah kita sangka kesesatan dan kesesatan justru kita sangka hidayah.

Tak Cukup Dengan Yang Umum-Umum Saja

Sesunguhnya kebanyakan dari mengetahui namun pengilmuannya secara umum saja. Kita tahu bahwa dosa itu buruk tapi kita tidak tahu apa saja yang termasuk dosa melainkan sekedar menurut persangkaan kita dan anggapan masyarakat. Kita tahu bahwa syirik adalah dosa yang paling besar namun tidak tahu amalan dan keyakinan apa yang termasuk di dalamnya. Kita tahu bahwa Al Quran adalah petunjuk tapi kita tidak tahu perkara apa yang ditunjukkan oleh Al Quran.

Seperti kasus di atas, kita tahu bahwa kita harus mengenalkan Allah pada anak-anak kita tapi kita tidak tahu terhadap apa yang harus kita kenalkan. Maka beginilah hasilnya jika tanpa ilmu, yang kita ajarkan hanyalah bualan-bualan kita dan prasangka-prasangka kita. Bahkan tentang Allah subhanahu wata’ala kita berani ceplas-ceplos berbicara tanpa pijakan. Maka pengetahuan secara umum saja tidak cukup, bahkan nyaris tidak mendatangkan manfaat apa-apa.

Berpayah-Payah Tapi Tak Sampai Tujuan

Sungguh merugi keadaan orang yang bersemangat melakukan kebaikan tapi tidak berbekal dengan ilmu. Seorang ibu hendak mengajarkan pada anaknya tentang kebaikan tapi dia tidak tahu apa itu kebaikan. Dia berpayah-payah menanamkan kebiasaan berdoa sebelum makan. Bahkan dengan telaten dia menuntun dan menemani anaknya berdoa setiap sebelum makan. Akhirnya yang dia ajarkan berhasil. Setiap hendak makan otomatis anaknya berdoa “Allahumma baariklanaa fii maa rozaktanaa wa qinaa ‘adzabannaar”. Si ibu merasa senang karena merasa telah berhasil, padahal jika memang benar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang hendak dia contoh maka dia telah tertipu. Yang Rasulullah ajarkan untuk dibaca sebelum makan adalah “bismillah”. Lalu siapa yang hendak dicontoh? Rasulullah atau yang lain?

Berbekal Dengan Ilmu

Tidak terlambat! Maka mulai dari sekarang mari kita bekali diri kita dengan ilmu. Jangan mau menjadi seorang muslim yang salah sangka! Merasa telah berbuat sebaik-baiknya di dunia tapi ternyata amalan kita sia-sia.

Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya:

“Katakanlah, apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia) perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi: 103-104)

Alhamdulillah sekarang sangat mudah untuk mendapatkan ilmu bagi orang-orang yang mau mencari. Majelis ilmu ada di mana-mana, buku-buku telah banyak yang diterjemahkan, situs-situs Islam sangat mudah untuk diakses. Lalu apa lagi yang menghalangi kita? Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang terhalangi dari ilmu karena kemalasan atau karena kesombongan.

Wahai para ibu!
Wahai para calon ibu!

Sungguh mulia niatan kita untuk peduli dengan urusan dien anak-anak kita di saat banyak yang acuh terhadapnya dan merasa cukup dengan dunia. Namun demikian tidak cukup dengan sekedar semangat. Penuhi kantung-kantung perbekalan dengan ilmu! Apa yang mau kita ajarkan pada anak-anak kita kalau kita tidak punya apa-apa?
Wallahu a’lam.

Sunday, 31 January 2010

mendidik anak cerdas

ips-Tips Mendidik Anak Sejak Dini
Dari hasil pengamatan,wawancara dengan rekan kerja dan berdasarkan pengalaman sendiri,bahwa orang tua sangat besar peranya dalam mendidik anak, terutama pada anak-anak sejak kecil. Mendidik anak sejak dini sangat menentukan bagaimana perkembangan kedewasaan anak. Sebagai orang tua apapun tingkah lakunya akan dilihat oleh anak dan dijadikan contoh perilaku anak,baik yang baik maupun yang buruk sekalipun. Karena pada dasarnya anak berumur dibawah lima tahun rasa ingin tahu dan belajarnya sangat tinggi. Daya ingat bagi anak dibawah lima tahun sangat tajam dan sebagai orang tua sudah layaknya memberikan cotoh dalam kehidupan sehari-hari pada kegiatan-kegiatan yang positif. Sebagai contoh bila orang tua suka membaca, atau suka menulis atau suka berolah raga atau suka menonton film-film barat dan sebagainya,si anakpun cenderung akan mencontohnya. Karena itu berbanggalah orang tua bila bisa melakukan kegiatan-kegiatan positif seperti tersebut diatas sebagai contoh, nantinya akan menanamkan jiwa pada diri anak untuk suka menulis,menggambar,membaca dan lain-lain.
Berikut ini adalah beberapa tips mendidik anak sejak usia dini:
1.Berikan contoh dengan mengajaknya ikut serta pada kegiatan sehari-hari yang positif.
-Membersih ruangan rumah,Biasanya anak-anak yang suka bermain-main dengan mainanya akan membuat situasi berantakan di ruangan rumah, ajarkan pada anak untuk bisa membersihkan dan merapikan sendiri setelah selesai bermain.
-Membaca buku-buku bacaan. Buku-buku bacaan sebagai altenatif guru yang baik. Buku sebagai sumber ilmu yang tiada batas,banyak jenis buku yang bisa dibaca dan mebahas berbagai tema dan masalah.
-Membaca Majalah atau Koran,dengan membaca koran dan majalah akan menambah wawasan pada orang tua sehingga bisa mempunyai wawasan yang lebih luas dan bisa diajarkan.
-Membaca Kitab Suci.Dengan mendengarkan acaan kitab suci biasanya sianak akan memiliki spiritual yang lebih baik bila dewasa kelak.
-Menulis,Anak akan memperhatikan bila orang tua sedang menulis dan akan menirunya dengan coret-coret, biasanya didinding namun sebaiknya dibuku-buku yang telah disediakan orang tua,sehingga termasuk juga mengajarkan keapian dan kebersihan.
-Bagi keluarga yang punya halaman berumput, biasanya setiap bulan sekali rumput akan jadi panjang dan tidak beraturan, maka anak bisa diajari juga bagaimana merapikan halaman.
-Mencuci kendaraan,baik motor maupun mobil bila tidak terlalu kotor bisa dicuci sendiri dirumah, sekaligus mengajarkan anak bagaimana memperlakukan kendaraan.
-Mengajak kebengkel, biasanya anak akan senang bila diajak ikut serta kebengkel,dan biasanya akan menambah ide bagi si anak untuk lebih mengenal jenis kendaraan bermotor,bisa juga nanti menjadi idola sianak untuk berwiraswasta dengan membuka bengkel dan lain-lain.
2.Berikan contoh untuk mentaati waktu, Yaitu waktu bermain, waktu belajar dan waktu tidur. Biasanya anak dibawah lima tahun memerlukan waktu tidur lebih banyak dibandingkan dengan orang dewasa.Sehingga sebagai orang tua terutama Ibu harus bisa mengajarkan waktu-waktu kapan harus bermain dan kapan harus beristirahat. Hal ini dilakukan untuk kesehatan anak itu sendiri.
3.Menghindarkan anak-anak dari hal-hal yang bersifat buruk:
-Bertengkar didepan anak-anak, karena dengan bertengkar didepan anak-anak secara otomatis akan memberikan contoh kekerasan dalam keluarga didepan anak, sehingga bisa menimbulkan trauma psikis pada si anak itu sendiri.
-Membiarkan anak tidak disiplin, kadang didikan keras bisa membuat disiplin pada sianak,dengan dimanja anak tidak bisa mandii dan bertanggung jawab.
-Memukul anak secara langsung didepan anak-anak yang lain, akan mengakibatkan hilangnya rasa kepercayaan diri si anak.
-Bila Ayah sedang keras pada anak, dalam arti tujuan mendidik si ibu tidak boleh membela si anak, sebab bila dibela si anak tidak akan jera bila melakukan kesalahan. Sebaliknya bila Si Ibu sedang keras pada anak dalam arti mendidik,Sang ayah pun tidak boleh membela kesalahan pada anak,. Sehingga terjalin kerjasama mendidik anak yang baik dan seimbang.
-Jangan berikan tontonan baik berupa film-film kekerasan atau Sinotron drama yang bersifat cengeng dan mendramatisi, untuk menghindari anak dari sifat-sifat yang kurang baik dari dampak yang ditontonya.
4. Sisakan waktu bersama Anak-anak. Ditengah-tengah kesibukan sebagai orang tuan sisakan waktu untuk bermain bersama anak-anak,sehingga timbul rasa kasih sayang sekaligus pembelajaran pada anak.
5. Usia 7 tahun, bagi yang Moslem bila sampai belum Sholat ajarkan dengan sedikit keras, bisa dengan cambukan untuk mengingatkan anak agar segera sembahyang.
6. Diatas usia 7 tahun Anak akan bisa diberikan tangung jawab yang lebih,sehingga tidak terlalu merepotkan orang tua.
Semoga berhasil
Good Luck!

www.google.com

anak tanpa ayah

Jakarta, Memiliki orangtua lengkap adalah idaman semua anak. Tapi kadang kenyataan yang dijalani tak seperti itu. Lebih banyak anak yang hidup hanya dengan ibunya selama bertahun-tahun. Berbedakah perilaku anak yang hidup tanpa ayah?

Kehidupan anak tanpa ayah ini karena alasan bermacam-macam, seperti kepala keluarga yang berpulang lebih dulu, gugur dalam tugas atau yang menjadi tren saat ini karena perceraian.

Yang lebih banyak disoroti adalah perilaku anak tanpa ayah karena perceraian. Banyak anak yang merasa sedih, frustasi, marah dan takut dalam menghadapi situasi ini.

Seperti dikutip dari parentsworld, sosok ayah bagi anak mewakili lebih dari sekadar pencari nafkah, tapi juga sebagai penyelamat, pelindung, pembimbing dan persahabatan. Sehingga banyak anak yang orangtuanya bercerai melampiaskan emosinya pada perilakunya. Tapi memiliki ayah juga bukan jaminan anak akan patuh.

Saking tingginya tingkat perceraian di Amerika, mulai banyak pertanyaan masih pentingkah peran ayah. Karena lebih banyak yang percaya anak bisa hidup tanpa ayahnya karena ibu telah terbukti menjadi orangtua tunggal (single parent) yang teruji.

Psikolog Ike R. Sugianto, Psi dari Klinik Medikids Greenville, saat dihubungi detikHealth, Minggu (31/1/2010) mengatakan jika anak hanya tinggal bersama ibu maka perilakunya tergantung dari pola asuh sang ibu.

Menurutnya karakter seorang anak tidak bisa ditentukan oleh salah satu faktor saja, karena itu anak yang diasuh oleh orangtua tunggal belum tentu memiliki perilaku yang salah atau menyimpang.

"Sebenanya tidak ada perilaku khas yang membedakan antara anak yang masih memiliki orangtua lengkap atau anak yang hanya memiliki ibu saja. Karena karakter seorang anak tidak bisa dikaitkan dengan satu variabel saja," ujar Ike.

Ike menuturkan hal yang paling mempengaruhi perilaku dari anak adalah bagaimana pola asuh dari ibunya. Jika si ibu terus menekan atau menuntut agar anak bisa melakukan segala hal sehingga tak perlu tergantung pada laki-laki, maka kemungkinan besar anak akan tumbuh menjadi sosok mandiri.

Namun jika ibu terlalu protektif terhadap anaknya, maka ada kemungkinan anak akan tumbuh menjadi sosok yang manja.

"Pola asuh orangtua sangat berperan dalam hal ini. Karena meskipun si anak masih memiliki orangtua yang lengkap tapi si ayah tidak berperan dalam perkembangannya, bisa saja anak memiliki perilaku yang menyimpang," ujar psikolog yang lulus dari UI tahun 1997 ini.

Ike memberikan beberapa tips pola asuh bagi orangtua tunggal, yaitu:

1. Cobalah untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Terlepas dari apakah menjadi orangtua tunggal akibat cerai hidup atau meninggal, tapi syukuri segala kondisi yang ada. Bagaimana ibu bisa menolong anaknya kalau ia tidak bisa menolong dirinya sendiri.

2. Memberikan pola asuh yang seimbang antara faktor disiplin dan kasih sayang, sehingga anak nantinya tidak tumbuh menjadi sosok yang emosional, manja atau terlalu sensitif.

3. Anak tetap harus punya figur atau panutan laki-laki dewasa, seperti dari paman, kakek atau gurunya. Hal ini dibutuhkan agar saat anak tumbuh dewasa nanti, anak menjadi tahu bagaimana perilaku dan peran dari seorang laki-laki.

4. Ibu harus tetap mengizinkan anak untuk berkomunikasi dengan ayahnya, jika single parent diakibatkan oleh perceraian. Jika anak belum bisa menerima semuanya, coba bantu anak dengan memberikan beberapa pengertian dan tunggu kesiapan dari anak tersebut.

Diakui Ike sangat berat bagi ibu yang mengasuh anak sendirian maka itu penting menjaga komunikasi terhadap anak sehingga keduabelah pihak tahu apa yang diinginkan agar bisa menjalani hidup dengan normal.
(ver/ir)

www.detik.com

Saturday, 23 January 2010

Anak Lebih Suka Tiru Saudaranya Ketimbang Contoh Orangtua

Vera Farah Bararah - detikHealth

Jakarta, Tugas orangtua memberikan contoh yang baik bagi anak-anaknya. Tapi studi menunjukkan anak-anak belajar banyak dari saudara kandungnya baik yang baik atau yang jelek dibandingkan dari orangtua.

Akademisi mengungkapkan orangtua adalah teladan yang baik bagi anak dalam hal pengaturan formal seperti bagaimana cara makan yang baik di meja, cara memegang sendok atau berperilaku di dalam suatu ruangan.

Tapi anak-anak belajar segala hal yang bersifat informal atau pergaulan seperti bagaimana bersikap 'cool' di depan teman-temannya, bagaimana harus berteman dengan sebayanya dari saudara kandung.

"Apa yang kita pelajari dari orangtua mungkin sedikit tumpang tindih dengan apa yang dipelajari dari saudara-saudaranya. Saudara kandung bisa menjadi model yang lebih baik dalam hal perilaku informal yang sebagian besar adalah pengalaman sehari-hari," ujar Laurie Kramer, profesor di bidang pendidikan keluarga dari Illinois University, seperti dikutip dari Dailymail, Sabtu (23/1/2010).

Prof Kramer menambahkan hubungan antara saudara kandung dan lingkungan sosial bisa sangat dekat, sehingga terkadang anak-anak merasa menemukan jati dirinya dalam lingkungan tersebut.

"Memahami pengaruh dari saudara kandung bisa membantu orangtua merancang strategi yang efektif dalam melindungi perilaku anak-anaknya, selain tetap melindungi anak dari pergaulan yang buruk" ujar Prof Kramer.

Para ahli menuturkan hal terpenting yang bisa dilakukan orangtua adalah membantu membina hubungan yang lebih baik antara saudara kandung sejak keduanya masih anak-anak. Ini karena ada penelitian lain yang menunjukkan jika anak memulai hubungan dengan saudara kandung secara positif, maka seterusnya ada kemungkinan akan terus positif.

Untuk menghindari pengaruh yang buruk antara saudara kandung, orangtua harus mendorong anak-anaknya agar bisa membangun hubungan yang saling menghormati, kerjasama dan belajar untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada.
(ver/ir)

Sunday, 17 January 2010

Mengalirkan Jiwa Seni ke Anak

MANUSIA membutuhkan seni untuk memberi warna dalam hidupnya. Melalui seni, kita bisa mengekspresikan diri, menumpahkan segala rasa dan gelora jiwa. Bahkan, kita dapat pula menuangkan berbagai ide dan kreasi kita.


Tidak hanya kita, anak-anak perlu juga dikenalkan dengan seni. Dengan berkesenian, diharapkan banyak manfaat yang dapat dipetik untuk perkembangan mental si buah hati. Dia pun akan senantiasa memiliki gairah hidup bila dalam dirinya mengalir jiwa seni. Lantas, siasat apa yang harus kita jalankan?

1. Memperkenalkan Bentuk-Bentuk Kesenian

Sejak dini, anak perlu diperkenalkan dengan bentuk-bentuk kesenian, seperti: seni suara, seni musik, seni tari, seni lukis, seni drama, dan lain sebagainya. Aktivitas seni pada anak dapat diwujudkan dengan mengajak anak untuk menyanyi, menari, bermain musik, melukis, bermain teater, menulis cerita, atau membaca puisi. Kegiatan-kegiatan seperti ini biasanya disenangi anak-anak.

Mengenalkan kesenian kepada buah hati sejak dini sangatlah penting. Anak tidak akan menjadi kaku seperti robot karena mengenal gerak, warna, dan irama yang terkandung dalam seni. Dia juga tidak akan mempunyai kekakuan dalam bertindak dan berpikir. Dan, setidaknya ada beberapa hal bermanfaat yang dapat kita petik sebagai bekal hidupnya.

a. Mengekspresikan Diri

Mulai dari kecil, ajari buah hati kita untuk mengekspresikan dirinya. Kita dapat mengajarinya menghafalkan puisi singkat, lalu menyuruhnya tampil di depan kita dengan gaya-gaya yang telah kita contohkan. Lama-lama, sesuai dengan perkembangan usianya, dia pasti akan bertambah berani dan percaya diri untuk tampil tanpa dikomando. Gaya dan ekspresi wajahnya pun pasti beda dan lebih bergaya. Tidak hanya berpuisi saja, suruh dia untuk menyanyi atau menari di depan keluarga. Diharapkan nantinya dia akan pintar mengekspresikan dirinya di depan siapa pun. Ekspresi kanak-kanak akan menunjukkan seberapa cerdas dan aktif si buah hati.

Diharapkan pula si anak akan pintar menampilkan permainan terbaiknya dalam bermusik atau berkesenian lainnya. Selanjutnya kembangkan ekspresi seni atau berkesenian kepada anak-anak. Dari senilah, kehalusan rasa dan pribadi anak akan terbentuk. Kelak, bila dia bisa memaknai kemenangannya secara tidak ugal-ugalan, tetapi dengan mental dan pribadi yang lembut.

b. Menumbuhkan Pemahaman Sisi-Sisi Kemanusiaan

Pengenalan musik dan lagu sejak dini amatlah penting. Pada tahap awal, ajaklah anak mendengarkan musik atau lagu. Coba kita kenalkan salah satu alat musik. Mainkan keyboard (mainan), tekan tuts dari nada rendah sampai tinggi. Kemudian tekan dengan pelan, lalu keras. Selanjutnya, mainkan sebuah lagu anak-anak yang lembut, misalnya: “Pelangi”. Suruh anak untuk bernyanyi. Pasti dia akan berusaha bernyanyi lembut, menyesuaikan dengan iringan musik yang kita mainkan. Lagu ini pun mengajari anak untuk bersyukur atas keagungan Tuhan. Lalu, mainkan lagu yang berirama menghentak, pasti anak akan bernyanyi dengan penuh semangat.

Dengan mengenal musik atau lagu, jiwa anak akan dibentuk untuk memiliki rasa empati dan kelembutan. Dengan demikian, sekeras apa pun kepribadian anak, dia dapat menjaga dengan baik keseimbangan hidupnya karena mengenal sisi-sisi kelembutan dari berkesenian. Dan, karena pribadinya tidak selalu keras dan kuat, ia pun akan mudah untuk menghormati orang lain. Ada sisi-sisi halus atau lembut dan mampu menyentuh hati orang lain sehingga si buah hati tidak kesulitan saat berinteraksi dengan sesama. Katakanlah, buah hati luwes dalam bergaul. Kelak dia pun mampu menghadapi rintangan hidup dengan penuh keluwesan.

c. Menumbuhkan Rasa Peka

Sejak anak masih bayi, kita pasti sudah rutin bersenandung meninabobokannya. Itu adalah salah satu awal pengenalan bentuk kesenian pada anak. Anak akan terbiasa mendengar kita menyanyi untuk menidurkannya. Lama-lama dia akan terbuai dan tidur pulas begitu mendengar kita bernyanyi untuknya. Inilah salah satu cara menumbuhkan rasa peka pada anak.

Mengajak anak bertamasya juga dapat kita jadikan sarana menumbuhkan kepekaan terhadap lingkungan. Kita suruh anak melukis apa yang telah dilihatnya di objek wisata tersebut. Bisa juga kita meminta anak untuk menuliskan cerita tentang wisatanya. Pastilah anak akan melukiskan dan menceritakan hal-hal yang menarik.

Dengan belajar peka terhadap lingkungannya, diharapkan anak cerdas dalam menentukan dan mengungkapkan sesuatu yang menarik dalam hidupnya. Selanjutnya, kelak dia menjadi mampu untuk menentukan harapan dan cita-cita yang benar-benar memikat hatinya. Ia pun akan mempunyai ketajaman dalam menyikapi batu sandungan dalam pencapaian impian. Tinggal bagaimana cara kita untuk membimbing dan mengarahkannya dengan baik.

d. Melatih Konsentrasi

Lewat seni, anak juga dapat berlatih untuk konsentrasi. Bagaimana logikanya? Dengan memainkan musik, anak akan belajar untuk memperhatikan dengan saksama not-not yang ada. Bila perhatiannya baik, ia pun akan dapat memainkan musik dengan baik. Bila kurang konsentrasi, maka permainan musiknya tidaklah enak didengar. Begitu pula dengan aktivitas lainnya. Menari akan melatih anak berkonsentrasi terhadap iringan musiknya sehingga gerak-geraknya menjadi indah dan selaras dengan iramanya. Menyanyi mengajari anak berkonsentrasi terhadap nada suara dan musik pengiringnya. Dan, melukis akan mengajari anak untuk konsentrasi terhadap objek lukisan dan pemilihan warna.

Dengan melatih anak berkonsentrasi melalui aktivitas-aktivitas berkesenian, lama-lama anak akan menjadi mudah konsentrasi juga dalam belajarnya. Dengan kata lain, anak akan mudah untuk fokus dalam belajar ataupun beraktivitas lainnya. Jalan pikirannya tidak akan bercabang-cabang tak tentu arah. Selanjutnya, diharapkan anak pun menjadi mudah dalam mencapai impiannya karena memiliki konsentrasi atau kefokusan yang tinggi.

e. Menumbuhkan Kreativitas

Seni juga bisa menumbuhkan jiwa kreatif pada buah hati kita. Lantas bagaimana pemahamannya? Apabila anak kita sudah pandai menyanyi, tentu dia ingin menguasai berbagai jenis lagu, entah itu pop, rok, dangdut, maupun yang lainnya. Tentu dia akan bernyanyi sambil bergoyang-goyang, tersenyum-senyum, atau menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Ia pun dengan spontan akan menyesuaikan gaya dengan musik iringannya. Pendek kata, segala hal dilakukan untuk menambah bagus penampilannya. Anak pun selanjutnya ingin membuat lagu sendiri dengan segala kemampuan dan kelucuan yang dimiliki. Begitu pun dengan aktivitas seni lainnya, anak pasti akan menunjukkan kreativitasnya.

Apabila anak kita sudah terdidik untuk kreatif dalam berkesenian, maka dia akan kreatif pula dalam berproses mencapai segala impian hidupnya. Ia tidak akan diam saja ketika menghadapi kesulitan, namun dengan sigap selalu mencari cara untuk mengatasinya. Anak tidak akan “mati gaya”, mati kreativitas, karena seni telah mengantarkan anak pada pemahaman sisi kemanusiaan.

2. Memberikan Wadah dan Sarana Berkesenian

Mengalirkan jiwa seni kepada anak tidak hanya cukup dengan memperkenalkan bentuk-bentuk kesenian saja. Kita harus siap sedia untuk memfasilitasi dengan memberikan wadah dan sarana yang memadahi. Sangat tidak rasional bukan bila kita mengajari anak kita bermain gitar hanya dengan buku, tanpa menyediakan gitar? Begitu pun saat mengajari anak kita menari tanpa memberikan selendang atau iringan musik. Seorang pelukis pun tidak dapat menghasilkan karya terbaiknya, tanpa peralatan melukis yang komplit. Bagaimana dapat menarik sebuah lukisan bila hanya berwarna biru saja, atau kuning saja?

Selain memberikan sarana, orang tua pun seharusnya membimbing anak menemukan atau mencari wadah yang tepat. Anak yang senang melukis dapat dimasukkan ke sanggar lukis, lalu diikutsertakan dalam perlombaan-perlombaan untuk melatih keberanian dan mengasah bakatnya. Anak yang hobi bermusik, kita belikan alat musik. Untuk tahap awal tak perlu yang mahal, banyak alat musik mainan yang sangat terjangkau. Bila bakat musiknya sudah kelihatan, pantaslah kita membelikan alat musik yang bermutu. Masukkan dia dalam sanggar musik, atau kelompok orkestra. Anak yang tertarik dengan dunia nyanyi, arahkan dia dalam grup paduan suara atau les vokal.

Pemberian wadah dan sarana yang tepat dalam berkesenian akan mengantarkan si buah hati mempunyai kebebasan dan keleluasaan untuk mengekspresikan diri, semakin mengenal sisi-sisi kemanusiaan, semakin mempunyai rasa peka yang tinggi, semakin pandai berkonsentrasi dan semakin kreatif.

Ayo…, kita berlomba-lomba mengalirkan jiwa seni kepada si buah hati! Kelak dia akan menjadi pribadi yang cerdas menyikapi hidup yang penuh tantangan ini dengan kelembutan hati yang telah didapatnya dari berkesenian. Dan, dengan kepandaian berekspresi, pemahaman sisi-sisi kemanusiaan, kepekaan dan konsentrasi yang tinggi, serta kreativitas yang gemilang, buah hati kita akan mudah menapaki tangga menuju puncak prestasi. Siapa tahu si buah hati juga akan menjadi seniman yang hebat, seiring dengan kesuksesannya mencapai cita-cita.

Sumber: www.buahhaticerdas.com

Gadis Pintar Berubah Idiot Karena Penyakit Autoimun

New York, Para dokter maupun pakar neurolog sudah kehabisan akal untuk memecahkan penyakit misterius yang dialami gadis 19 tahun asal New York. Gadis yang dikenal sebagai sosok pintar dan berprestasi itu tiba-tiba mengalami kemunduran otak, sering berhalusinasi, tertawa dan menangis tanpa sebab dan tampak seperti orang idiot.

Lima neurolog, seorang ahli patologi dan tiga psikiater mengaku kesulitan mendeteksi penyakit gadis yang sudah meninggalkan bangku kuliahnya selama setahun tersebut. Keganjilan dimulai pada tahun 2007 ketika sang gadis berusia 16 tahun. Dalam sebuah acara pesta dansa, tiba-tiba ia terdiam dan tidak merespons apapun, seperti membeku di tempat.

Entah apa yang terjadi, tapi sejak itu ia mengalami kemunduran otak, menjadi tidak responsif, kesulitan membaca dan wajahnya menjadi turun layaknya orang idiot. Terkadang teman-temannya memergokinya tengah menarik tisu toilet terus menerus dan menangis sendirian disana. Sang gadis pun dianggap memiliki gangguan jiwa dan mulai diolok-olok oleh teman-temannya.

Atas saran psikolog sekolahnya, si gadis akhirnya dibawa ke dokter neurolog. Namun bukannya titik terang yang didapat, dokter justru menyarankan agar si gadis dibawa ke tempat perlindungan anak karena setelah dilakukan semua jenis tes, tidak diketahui jenis penyakit yang dideritanya apa. Bahkan dokter menganggap si gadis hanya berpura-pura saja.

Sang ibu yang sama bingungnya dengan dokter akhirnya memutuskan untuk mencoba merawatnya di rumah dengan harapan penyakitnya bisa segera sembuh. Tapi semakin hari, perilakunya semakin aneh. "Ia mulai tertawa sendirian dan berhalusinasi yang aneh-aneh," kata sang ibu seperti dikutip Forbes, Sabtu (16/1/2010).

Beberapa dokter dan psikiater mendiagnosa gejala itu sebagai penyakit schizoprenia dan memberinya obat-obatan antipsychotic. Tapi obat itu tidak juga mempan mengurangi keanehan pada diri si gadis. Ada juga yang menduganya terkena penyakit epilepsi dan lainnya. Psikiater dan dokter pun menjadi saling adu argumen tentang apakah ini termasuk penyakit mental atau penyakit saraf.

Meski sudah dilakukan tes MRI dan electroencephalogram (EEG), namun semua hasilnya menunjukkan aktivitas otak yang normal, tidak ada temuan ganjil pada otaknya. Kasus penyakit misterius ini akhirnya menarik perhatian Dr Souhel Najjar dari NYU's Langone Medical Center. "Pertama kali saya melihatnya, saya sangat yakin ia tidak hanya terkena penyakit psikiatrik tapi juga penyakit saraf," kata Dr Najjar.

"Salah satu alasannya adalah penurunan yang dramatis dari seorang gadis pintar dan berprestasi menjadi gadis yang terlihat idiot," tambahnya. Najjar menduga, ada peradangan di otak yang tidak terdeteksi oleh alat magnetic resonance imaging (MRI). Najjar juga menemukan adanya beberapa antibodi yang aneh pada tubuhnya.

"Perkiraan saya adalah, gadis ini punya penyakit autoimun yang langka, dimana sistem imun tubuh justru menyerang bagian tubuh yang sehat," jelas Najjar. Ramalan dan prediksi Dr Najjar ternyata memang benar. Sebuah tes antibodi dilakukan, dan hasilnya menunjukkan antibodi yang dihasilkan tubuh si gadis diketahui menyerang enzim glutamic acid decarboxylase (GAD).

Enzim GAD adalah enzim yang mengontrol produksi zat kimia yang disebut gamma-aminobutyric acid (GABA), yakni suatu zat yang memungkinkan otak melakukan komunikasi dan berpikir. Ketika sistem imun tubuh menyerang enzim GAD maka produksi zat GABA menjadi terhambat. Ketidakseimbangan ini akan menyebabkan gejala kejiwaan yang tidak biasa dan penurunan kemampuan kognitif otak.

Biopsi otak pun dilakukan untuk melengkapi dan meyakinkan diagnosa Dr Najjar. Dan hasilnya sungguh mengejutkan, pada otak si gadis ditemukan sel-sel saraf yang sudah mati yang ternyata berasal dari peradangan. "Itu artinya, antibodinya sudah menyerang otaknya selama bertahun-tahun dan terakumulasi hingga akhirnya otak sudah tidak kuat lagi," jelas Najjar.

Untuk menekan peradangan agar tidak bertambah parah, Najjar menyuntikkan corticosteroid pada otak si gadis. Zat immunoglobulin pun dimasukkan lewat pembuluh darahnya untuk menambah antbodi 'baik' guna melawan antibodi 'jahat'. Kini, sang gadis mulai menunjukkan perkembangan. "Ia lebih banyak berbicara dan sedikit berhalusinasi. Dokter juga bilang ia bisa meneruskan sekolahnya," kata sang ibu.

GAD autoimun termasuk penyakit misterius yang mempengaruhi sedikit orang dari seluruh populasi dunia yang ada. Beberapa anak diabetes pun diketahui punya antibodi yang berhubungan langsung dengan GAD di sel-sel pankreasnya. Kasus GAD yang dialami gadis tersebut adalah yang pertama kalinya terjadi di New York.

(fah/ir)

Sumber: Detik Health

Gangguan Kejiwaan Pada Anak Meningkat

New York, Gangguan kejiwaan bisa menimpa siapa saja termasuk saat masih anak-anak. Peneliti mendapatkan jumlah anak berusia 2-5 tahun yang terdiagnosis mengalami gangguan bipolar meningkat dua kali lipat dibanding dekade lalu.

Gangguan bipolar bisa dikarakteristikkan dengan perubahan suasana hati yang parah, biasanya sering muncul saat masa remaja atau setelahnya. Tapi Dr Yusuf Beiderman seorang psikiater anak dari Harvard University mengubah pandangan yang menyatakan anak-anak bisa memiliki kelainan ini sejak usianya masih sangat muda.

"Didapatkan sekitar lebih dari 40 kali lipat peningkatan jumlah anak yang didiagnosis mengalami gangguan bipolar selama sepuluh tahun terakhir," ujarnya seperti dikutip dari Reuters, Minggu (17/1/2010).

Jumlah penderita dan resep obat-obat antipsikotik telah meningkat kuat sebesar dua kali lipat dibandingkan dengan dekade lalu.

Penelitian menunjukkan meskipun masih jarang resep obat psikiatrik untuk anak usia 2 tahun, tapi praktiknya saat ini menjadi lebih sering digunakan.

Peneliti menggunakan data yang disusun sejak tahun 2000-2007 dan diterbitkan dalam Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry.

Dalam laporan tersebut juga disebutkan ada anak gadis berusia 4 tahun bernama Rebecca Riley meninggal akibat overdosis obat yang berguna untuk menstabilkan suasana hatinya. Kejadian ini berlangsung di wilayah Boston, AS pada tahun 2006.

Seorang psikiater anak di Boston, Kayako Kifuji menuturkan Riley didiagnosis mengalami gangguan bipolar dan ADHD (attention deficit hyperactivity disorder) saat berusia 30 bulan. Sejak itu dirinya telah menerima beberapa obat yang sangat kuat seperti Depakote, yaitu sebuah obat antiseizure untuk gangguan bipolar serta clonidine yaitu obat untuk tekanan darah.

Kasus kematian Riley sempat menjadi sorotan publik dan perdebatan di kalangan profesi psikiatri mengenai apakah gangguan bipolar dapat didiagnosis saat usia anak masih sangat muda. Selain itu diperdebatkan pula apakah bijaksana untuk meresepkan obat yang keras pada anak-anak.

Harry Tracy seorang psikolog yang mengkhususkan pada gangguan system saraf menuturkan diagnosis untuk anak yang masih sangat muda hanya bisa ditentukan oleh ilmu pasti. Gangguan seperti ADHD, depresi, gangguan bipolar dan pelecehan seksual dapat menunjukkan gejala yang sama pada usia balita.

Jika seorang anak didiagnosis dengan gangguan bipolar pada saat berusia 2-5 tahun, maka sekitar 50 persennya menerima obat antipsikotik obat untuk menstabilkan suasana hati, stimulan dan obat anti depresi.

(ver/ir)

sumber: Detikhealth

Saturday, 9 January 2010

KREATIVITAS DAN DUNIA ANAK

Kreativitas didefinisikan dan dimaknai dengan berbagai sudut pandang. Secara bahasa, Michaelis (1980) mengartikan kreativitas sebagai sesuatu yang baru atau original. Michaelis menambahkan bahwa sekaitan dengan dunia anak, hal yang baru atau original tersebut mengandung makna interpretasi. Jadi baru di sini adalah sesuatu sebagai hasil dari hubungan sintesis ide-ide original yang sudah ada, hipotesis yang baru atau cara baru dalam melakukan sesuatu.hubungan dari sintesis dan ekspresi. Jadi baru bukan benar-benar baru tapi merupakan hasil dari kemampuan dalam menyusun kembali sesuatu yang telah ada untuk tujuan tertentu. Seperti yang dinyatakan Lowenfield (1956):

This ability to rearrange and redefine materials for new purposes is an important aspect of any creative process. In fact, it is the nature of experimentation with materials to use them in an new way or rearrange them in new combination.

Jadi, ketika kita berbicara kreativitas dan anak, maka kita berbicara bagaimana memberikan materi-materi pengetahuan pada anak sehingga input pengetahuannya banyak dan akhirnya dia bisa mensintesis dari pengetahuan-pengetahuan tersebut hal-hal yang baru atau orisinil. Tapi pentu saja selain input berbagai pengetahuan yang tidak kalah pentingnya adalah memberikan kesempatan pada anak untuk melahiran hal yang orisinil tersebut.

Kreativitas menyangkut berbagai segi. Ditinjau dari segi kepribadian, kreativitas merujuk pada potensi atau daya kreatif yang ada pada setiap pribadi, anak maupun orang dewasa. Pada dasarnya, setiap orang memiliki bakat kreatif dengan derajat dan bidang yang berbeda-beda. Kita perlu mengenal bakat kreatif pada anak untuk dapat mengembangkan kreativitas anak. Setelah itu, kita pun harus menghargainya dan memberi kesempatan serta dorongan untuk mewujudkannya.

Jika ditinjau sebagai suatu proses, kreativitas dapat dinyatakan sebagai suatu bentuk pemikiran dimana individu berusaha menemukan hubungan-hubungan yang baru untuk mendapatkan jawaban, metode atau cara-cara baru dalam menghadapi suatu masalah. Pada anak yang masih dalam proses pertumbuhan, kreativitas hendaknya mendapat perhatian dalam hal proses, bukan produk dari kreativitas itu sendiri.

Ada 3 ciri dominan anak kreatif, yakni spontan, memiliki rasa ingin tahu dan tertarik pada hal-hal yang baru. Ketiga ciri-ciri tersebut terdapat pada diri anak, artinya pada dasarnya semua anak memiliki kemampuan dasar kreativitas sejak dini. Pada usia selanjutnya kreativitas anak dapat berkembang optimal atau dapat tertekan atau terhambat tergantung berbagai hal, seperti gizi, kesehatan, pengasuhan, serta lingkungan sekitar. Kewajiban orang tua sebenarnya adalah mempertahankan agar anak tetap kreatif

Orang kreatif menyukai tantangan dan yakin bahwa setiap permasalahan memiliki solusi. Orang kreatif juga sudah biasa terbuka terhadap ide baru dan berani mengambil resiko atas ide barunya tersebut meskipun tidak mendapat respon dari lingkungannya. Ciri-ciri orang kreatif antara lain:

1. Ia bisa memberi banyak jawaban terhadap suatu pertanyaan yang Anda berikan.
2. Ia mampu memberi jawaban bervariasi, dapat melihat suatu masalah dalam berbagai sudut pandang.
3. Ia dapat memberi jawaban-jawaban yang jarang diberikan anak lain. Jawaban baru biasanya tidak lazim atau kadang tak terpikirkan orang lain.
4. Ia mampu menggabungkan atau memberi gagasan-gagasan atas jawaban yang dikemukakan, sehingga ia mampu untuk mengembangkan, memperkaya jawabannya dengan memperinci sampai hal-hal kecil sebagaimana aslinya.

Agar kreativitas dapat berkembang, diperlukan dorongan atau pendorong dari dalam sendiri dan dari luar. Pendorong yang datangnya dari diri sendiri, berupa hasrat dan motivasi yang kuat untuk berkreasi, sedangkan yang dari luar misalnya keluarga, sekolah dan lingkungan.

Dalam lingkungan keluarga, pendidikan orang tua terhadap anak akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kreativitas anak. Anak yang memiliki bakat tertentu, jika tidak diberikan rangsangan-rangsangan atau motivasi dari orang tua dan lingkungannya, tidak akan mampu memelihara, apalagi mengembangkan bakatnya.

Keluarga adalah lingkungan yang paling banyak mempengaruhi kondisi psikologis dan spiritual anak. Di Jepang, misalnya, karena Jepang sangat memperhatikan pengembangan kreativitas anak melalui kebebasan dan pemupukan kepercayaan diri, kebangkitan kreativitas anak-anak di Jepang mengungguli anak-anak di Amerika dan Eropa (Awwad, 1995). Tapi kondisi tersebut sangat berbeda di Indonesia. Suatu penelitian di Jakarta tentang sikap orang tua dalam pendidikan anak menyimpulkan bahwa orang tua kurang menghargai perkembangan dari ciri-ciri inisiatif, kemandirian dan kebebasan yang erat hubungannya dengan pengembangan kreativitas dan lebih mementingakan ciri-ciri kerajinan, disiplin dan kepatuhan.

Setelah keluarga, lingkungan selanjutnya yang bisa mempengaruhi kreativitas anak adalah sekolah. Menurut pengamat pendidikan Islam Drs. Asep Sujana, anak-anak di masa sekolahnya dulu sudah dikondisikan untuk mengeluarkan daya kreativitasnya seperti melalui mata pelajaran prakarya atau hastakarya dengan membuat beberapa perhiasan, barang cendera mata, atau peralatan rumah tangga dari barang-barang yang ada di lingkungan rumah dan sekolah. Tapi sekarang situasi di sekolah tidak memunginkan anak untuk kreatif. Berdasarkan sebuah penelitian, di sekolah ditemukan kurang lebih 40 % anak berbakat tidak mampu berprestasi setara dengan kapasitas yang sebenarnya dimiliki (Achir,1990). Akibatnya, sekalipun berkemampuan tinggi, banyak anak berbakat tergolong kurang berprestasi.

Endah Silawati

http://parentingislami.wordpress.com

Sisi Lain Hobi Anak Mengacak Rumah

Apakah pembaca parenting islami di sini termasuk yang menyukai atau membenci kegiatan anak mengacak rumah? Apakah pembaca tahu bahwa anak belajar dengan cara mengeksplorasi semua benda yang ada di sekitarnya dan benda yang terdekat ada di dalam rumah. Dinding, kasur,piring, gelas, sendok, garpu, pisau, kompor, kran air, tanah, kasur, bantal, dan sebagainya. Itu adalah media belajar anak.

Mereka mengeksplorasinya yang disisi lain mungkin kita mengatakan mereka mengacak-ngacaknya.

Kita semua punya harapan untuk mempunyai anak yang cerdas dan pintar. Anak yang cerdas dan pintar adalah anak yang banyak belajar. Jadi, seharusnya kita senang apabila anak mengeksplorasi isi rumah kita (mengacak rumah). Seharusnya kita juga bersyukur bila mempunyai anak yang aktif. Dengan alur berpikir ini, berarti tidak seharusnya kita marah bila anak mengacak rumah. Apabila kita memang tidak mau rumah kita diacak-acak, kita harus menyediakan sesuatu untuk diacak oleh anak-anak kita. Atau jika tidak ada waktu untuk menyediakan, ikhlaskan saja barang-barang rumah demi pendidikan anak. Jika ada barang yang memang tidak boleh dipegang anak, sebaiknya disembunyikan di tempat tidak dapat dijamah oleh anak.

Di sisi yang lain, kita juga harus mengajarkan kerapihan, kebersihan, keteraturan pada anak-anak. Bagaimana caranya? Ketika mengacak makanan, atau tanah atau apapun, baiknya kita temani anak sambil menanamkan nilai-nilai tersebut. Misalnya : “Wah, adik lagi apa? Bikin kue dari tanah ya. Umi ikut ya. Tapi kan tanah kotor, jadi kita main tanah di halaman aja. Trus supaya rumah kita indah dan bersih, setelah main tanah kita cuci tangan dulu di keran air halaman depan.” Jadi, dalam keadaan bermain yang menyenangkan, kita bisa menjalin kedekatan sambil menanamkan berbagai macam nilai. Dalam keadaan senang, anak lebih mudah menerima apa yang kita sampaikan. Tips ini bisa flexible untuk semua kegiatan mengacak di rumah. Semoga mempunyai anak yang lebih cerdas.

Ummu Haidar

http://parentingislami.wordpress.com

PG/ TK SMART BEE - Children Education

My photo
Based on Islamic system. We commit to be partner for parents to provide educated play ground for their beloved children. Contact us: Jl.Danau Maninjau Raya No.221, Ph 62-21-7712280/99484811 cp. SARI DEWI NURPRATIWI, S.Pd