Tuesday, 30 December 2008

Mengarahkan Anak Hiperaktif

Ada dua ketakutan kaum ibu menyangkut anaknya, autis dan hiperaktif. Jika anaknya terkena autis, ibu akan sangat gugup karena anaknya tak fokus, cenderung pendiam dan sulit beradaptasi. Jika hiperaktif malah gelisah karena anaknya susah dikendalikan. Padahal, rata-rata anak autis dan hiperaktif punya KECERDASAN yang LUAR BIASA.

Mengelola anak hiperaktif memang butuh kesabaran yang luar biasa, juga kesadaran untuk senantiasa tak merasa lelah, demi kebaikan si anak. Anak hiperaktif memang selalu bergerak, nakal, tak bisa berkosentrasi. Keinginannya harus segera dipenuhi. Mereka juga kadang impulsif atau melakukan sesuatu secara tiba-tiba tanpa dipikir lebih dahulu. Gangguan perilaku ini biasanya terjadi pada anak usia prasekolah dasar, atau sebelum mereka berusia 7 tahun. Anda cemas dan gugup? Tentu, tapi jangan takut. Kami punya resepnya.

Pertama, PERIKSALAH. Tak semua tingkah laku yang kelewatan dapat digolongkan sebagai hiperaktif. Karena itu, Anda perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktif. Yang harus Anda lakukan adalah mengonsultasikan persoalan yang diderita anaknya kepada ahli terapi psikologi anak. Ini penting karena gangguan hiperaktivitas bisa berpengaruh pada kesehatan mental dan fisik anak, serta kemampuannya dalam menyerap pelajaran dan bersosialisasi. Tujuannya untuk mendapatkan petunjuk dari orang yang tepat tentang apa saja yang bisa Anda lakukan di rumah. Selain itu juga berguna untuk menghapus rasa bersalah dan memperbaiki sikap Anda agar tak terlalu menuntut anak secara berlebihan. Di sini biasanya para ahli akan memberikan obat yang sesuai atau sebuah terapi.

Kedua, PAHAMILAH. Untuk bisa menangani anak hiperatif, ada baiknya pula jika Anda dan anggota keluarga mengikuti support group dan parenting skill-training. Tujuannya agar bisa lebih memahami sikap dan perilaku anak, serta apa yang dibutuhkan anak, baik secara psikologis, kognitif (intelektual) maupun fisiologis. Jika si anak merasa bahwa orang tua dan anggota keluarga lain bisa mengerti keinginannya, perasaannya, frustasinya, maka kondisi ini akan meningkatkan kemungkinan anak bisa tumbuh seperti layaknya orang-orang normal lainnya.

Ketiga, LATIH kefokusannya. Jangan tekan dia, terima kaeadaan itu. Perlakukan anak dengan hangat dan sabar, tapi konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas. Kalau anak tidak bisa diam di satu tempat, coba pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Mintalah agar anak menatap mata Anda ketika berbicara atau diajak berbicara. Berilah arahan dengan nada yang lembuat, tanpa harus membenatk. Arahan ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Anda harus konsisten. Jika meminta dia melakukan sesuatu, jangan berikandia ancaman tapi pengertian, yang membuatnya tahu kenapa Anda berharap dia melakukan itu.

Keempat, TELATENLAH. Jika dia telah betah untuk duduk lebih lama, bimbinglah anak untuk melatih koordinasi mata dan tangan dengan cara menghubungkan titik-titik yang membentuk angka atau huruf. Latihan ini juga bertujuan untuk memperbaiki cara menulis angka yang tidak baik dan salah. Selanjutnya anak bisa diberi latihan menggambar bentuk sederhana dan mewarnai. Latihan ini sangat berguna untuk melatih motorik halusnya. Bisa pula mulai diberikan latihan berhitung dengan berbagai variasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Mulailah dengan penjumlahan atau pengurangan dengan angka-angka dibawah 10. Setelah itu baru diperkenalkan konsep angka 0 dengan benar. Jika empat fase di atas telah dapat Anda lewati, bersyukurlah, pasti keaktifan anak Anda sudah dapat difokuskan untuk perkembangan jiwanya. Ini juga akan sangat membantu Anda dalam menjaganya. Dan kini, masukilah tahap berikutnya, bagaimana Anda harus bekerjasama dengan dia.

Kelima, BANGKITKAN kepercayaan dirinya. Jika mampu, ini juga bisa dipelajari, gunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif. Misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib atau berhasil melakukan sesuatu dengan benar, memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. Di samping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orang tua. Misalnya, dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orangtua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya. Dalam tahap ini, usahakan emosi Anda berada di titik stabil, sehingga dia tahu, penguat positif itu tidak datang atas kendali amarah. Ingat, anak hiperaktif rata-rata juga sangat sensitif.

Keenam, KENALI arah minatnya. Jika dia bergerak terus, jangan panik, ikutkan saja, dan catat baik-baik, kemana sebenarnya tujuan dari keaktifan dia. Jangan dilarang semuanya, nanti dia prustasi. Yang paling penting adalah mengenali bakat atau kecenderungan perhatiannya secara dini. Dengan begitu, Anda bisa memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya. Misalnya, mengikutkan anak pada klub sepakbola di bawah umur atau berenang, agar anak belajar bergaul dan disiplin. Anak juga belajar bersosial karena ia harus mengikuti tatacara kelompoknya.

Ketujuh, MINTA dia bicara. Ini sangat penting Anda terapkan. Ingat, anak hiperaktif cenderung susah berkomunikasi dan bersosialisai, sibuk dengan dirinya sendiri. Karena itu, bantulah anak dalam bersosialisasi agar ia mempelajari nilai-nilai apa saja yang dapat diterima kelompoknya. Misalnya melakukan aktivitas bersama, sehingga Anda bisa mengajarkan anak bagaimana bersosialisasi dengan teman dan lingkungan. Ini memang butuh kesabaran dan kelembutan. Mengembangkan ketrampilan berkomunikasi si kecil memang butuh waktu. Terlebih dulu ia harus dilengkapi dengan sikap menghargai, tenggang rasa, saling memahami, dan berempati, ujar Susan Barron, Ph.D, Direktur Pusat Perkembangan dan Pembelajaran Mount Sinai Medical Center di New York dalam salah satu artikelnya di majalah Child.

Terakhir, SIAP bahu-membahu. Jika dia telah mampu mengungkapkan pikirannya, Anda dapat segera membantunya mewujudkan apa yang dia inginkan. Jangan ragu. Bila perlu, bekerja samalah dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya. Mintalah guru tak perlu membentak, menganggap anak nakal, atau mengucilkan, karena akan berdampak lebih buruk bagi kesehatan mentalnya. Kerjasama ini juga penting karena anak sulit berkosentrasi dan menyerap pelajaran dengan baik. Dibutuhkan kesabaran dan bimbingan dari guru bagi anak hiperaktif.

Nah, itulah dasar-dasar pengelolaan jika anak Anda mengidap hiperaktif. Dia tak berbahaya, hanya butuh SENTUHAN dan PERHATIAN LEBIH. Jika itu dia dapatkan, anak Anda akan berubah jadi JENIUS yang bukan tak mungkin, akan mengubah dunia. (CN02) (sumber: CyberNews Suara Merdeka).

www.infobalitacerdas.com..

Perkembangan Otak Anak Dari Membaca

Membaca merupakan salah satu upaya terbaik untuk membantu perkembangan otak anak :
1. Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi otak manusia (dari semua makhluk hidup di dunia ini cuma manusia yang bisa membaca).
2. Membaca merupakan salah satu fungsi penting dalamhidup, dapat dikatakan bahwa semua pross belajar didasarkan pada kemampuan membaca.
3. Berkat kemajuan dalam penelitian otak, kita tahu bahwa membaca cerita bagi anak mempunyai manfaat intelektual, emosional dan fisik, yang dapat meningkatkan perkembangan anak.
4. Dengan tumbuh dan berkembangnya minat baca pada diri anak, minat belajarnya pun akan menjadi tinggi, sehingga kalau orangtua mampu mengantarkan anaknya menjadi gemar membaca, maka anak akan mampu belajar secara mandiri.

Dari uraian itu semua sangat bermanfaat sekali dan banyak bukti setelah buku sebagai pedoman mainan anak utama, dan itu aku praktekan buat Azka dan Azzam, hasilnya....Subhallaah, walaupun mereka belum bisa baca tapi minat akan bukunya sangat tinggi.

Dan teringat juga ketika ikut seminar yang menjadi narasumber nya Andi Yudha dan M. Faudzil Adzim...trnyata bagaimana mereka mendekatkan anak-anaknya terhadap buku, dan buku juga sebagai sumber mainan utama dan pengganti televisi juga. Coba kita bayangkan setiap hari kita bacakan buku buat anak-anak, itu sangat nggak nyangka Anak akan lebih cerdas, dibandingkan anak yang jarang dibacakan buku. dan itu bisa terbukti.

Para peneliti di Baylor College of Medicine menemukan bahawa apabila anak-anak jarang diajak bermain atau dibacakan buku perkembangan otaknya 20% atau 30% lebih kecil daripada ukuran normalnya pada usia itu.

Sumber: http://www.tips-dunia-anak.blogspot.com/..

Thursday, 27 November 2008

Memilih Mainan Untuk Si Kecil


Usia 5 tahun pertama adalah usia yang sangat menentukan bagi seorang anak. Usia ini biasa disebut dengan Golden Age atau usia emas. Mengapa disebut Usia Emas?hal ini dikarenakan pada usia itu aspek kognitif, fisik, motorik, dan psikososial seorang anak berkembang secara pesat. Nah untuk itu diperlukan stumulasi-stimulasi yang mampu mengoptimalkan seluruh aspek tersebut agar seorang anak kelak juga mampu menjadi pribadi yang matang sehingga kelak mampu menjadi pribadi yang matang, bertanggung jawab, mampu menghadapi segala permasalahan dalam hidupnya.

Salah satu cara mengoptimalkan kemampuan kognitif, fisik, motorik, dan psikososial seorang anak adalah dengan menstimulasi nya, salah satu alat ataupun sarana menstimulasinya adalah dengan mainan ataupun permainan.

Pada dasarnya mainan mempunyai manfaat antara lain:
Untuk mengoptimalkan perkembangan fisik dan mental anak.
Memenuhi kebutuhan emosi anak
Mengembangkan kreatifitas dan kemampuan bahasa anak.
Serta membantu proses sosialisasi anak.

Selain itu dalam memilih mainan paling tidak ada 2 hal yang perlu diperhatikan (Fawzia aswin dosen UI):
+Mainan yang baik itu punya manfaat tertentu sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan anak
+Mampu membuat anak asyik dan aktif bermain yang meliputi, barangnya awet, aman (tidak mengelurkan suara yang keras dan tidak ada bagian yang mudah tertelan atau terhisap, tidak tajam, tidak menjepit, tidak menimbulkan api dan tidak beracun).
+Memilih mainan buat si kecil ternyata gampang-gampang susah, apalagi yang beredar di pasaran jenisnya macam-macam. Untuk itu diperlukan sikap hati hati dan bijaksana. Pertanyaannya kemudian jenis mainan macam apa yang cocok untuk usia tertentu??

Untuk memilih mainan yang sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan anak, bisa dibagi menjadi 3:
1. Mainan untuk tahap sensorik motorik (0-2 th)
Pada tahap ini anak sudah bisa menikmati gerakan demi gerakan, dalam taraf belajar menguasai dan mengkoordinasikan ketrampilan motorik halus dan motorik kasar. Dalam bermain anak mulai mempraktekan dan mengendalikan gerakanya serta menggali pengalaman dengan penglihatan, suara, sentuhan (tahap bermain penguasaan/mastery play).
Jadi sejak usia 2-3 bulan ketika anak sudah mulai bisa diajak berkomunikasi atau bereaksi terhadap keadaan sekitarnya (ex:gerakan tangan atau permainan mimic sang ibu)maka anak sudah bisa diberi mainan.

#Pada tahap ini mainan sebaiknya yang tahan banting, tidak mudah tertelan, mengandung unsur warna tapi tidak beracun, bisa di gigit-gigit, di banting, di putar2x atau di pukul2x.

>Mainan yang bisa mengembangkan sensorik, merangsang gerakan dan konsentrasi mata serta belajar menggapai dan mengenalkan warna ex: mainan yang digantung di boks dengan berbagai warna.
>Mainan yang bisa membantu perkembangan motorik halus dan kasar, mainan yang bisa membuat anak menggerakkan seluruh anggota badan., ex:motorik halus=bola, kantong berisi biji-bijian, kardus dengan berbagai ukuran etc, motorik halus=lilin (was), air, pasir, pazel sederhana.

Selepas ini perkembangan anak tidak berhenti sampai disini, maka perlu diperkaya lagi sesuai dengan perkembangan kemapuan motoriknya tersebut misalnya dengan sepeda roda tiga, menyusun manik etc.

2. Mainan tahap pra operasional (2-7th)
Pada tahap ini anak sudah menggunakan symbol dan bermain mempelajari bahasa dan belajar membuat sesuatu, ex: Anak usia 3th,lebih suka bermain dalam kelompok kecil dan mempelajari kehidupan dengan permainan berpura-pura (make belive play) anak juga mulai dapat mengucapkan kalimat sederhana tentang sesuatu yang dilihatnya dalam gambar dan bertanya jawab oleh karena itu diperlukan orang tua yang mau bercerita pada anak soal apa saja yang di lihat di dengar bahkan yang dirusaknya. Selain itu pada tahap ini anak mulai mempraktekan beberapa ketrampilan barunya seperti menamai, mencocokan, menebak, atau membandingkan.

Anak juga menyukai aktifitas fisik, bergerak kesana-kemari untuk mengembangkan motorik kasar dan halus seperti belajar masuk, keluar, naik turun.
Anak mulai memerlukan neteri kreatif maka diperlukannya alat-alat bermain yang bersifat edukatif (APE, contoh:
+Untuk mengenalkan pada alam bisa dengan: kaca pembesar, air, pasir, tempat makan burung, berbagai daun dan bunga dan mainan yang berasal dari alam.
+Untuk mengenal penjumlahan bisa dengan: papan dengan kartu nomor, wadah dengan berbagai bentuk dan ukuran, benda-benda kecil untuk di hitung, atau kertas/gambar bertuliskan angka.
+Untuk mengenalkan panca indera bisa dengan : mainan yang berbau, bisa dicium, bisa juga dari makanan yang memiliki aneka rasa(manis, asam , asin), kotak berlubang untuk meraba benda di dalamnya.

3. Mainan untuk tahap operasional (7tn > )
Pada tahap ini diperlukan mainan yang yang menumbuhkan atau mengembangkan kretifitas dan sosiali anak, untuk itu bisa diberikan mainan yang sifatnya manipulatif seperti : mainan seni : lilin (was), kertas yang disertai lem (kolase=menempel), cat air, cat tangan etc, Seni musik : instrument musik bikinan sendiri, mengenal bentuk dan ukuran: kubus, kerucut, tabung, binatang, orang-orangan, rumah besrta perabotnya. Mengenalkan kendaraan: kereta dari kulit jeruk etc

Agar kreatifitas anak tumbuh dan berkembang harus pula diciptakan pola bermain dalam satu kesatuan dengan keluarga yaitu bisa dengan mengajak anak2x secara bersama-samaa bermain yang melibatkan proses kreatif (ex membuat kue, berkebun etc). Mainan yang melatih proses bersosialisasi seperti dakon (congklak), lempatan, kelereng, bentik.

PENTINGNYA PERAN ORANG TUA

Peran mainan dalam perkembangan anak sebenarnya cuma sebagai alat bantu bukan sebagai pengganti peran orang tua. Di satu pihak mainan itu penting bagi si anak tapi di lain pihak mainan bukan segala-galanya buar anak (kak seto).

Jadi dalam bermain sebetulnya anak tetap memerlukan pendamping namun keterlibatan orang tua secara berlebihan juga kurang baik sebab tujuan memberikan mainan malah tidak tercapai.
# Yang namanya alat bermain tidak harus mainan, bahkan buku pun bisa dijadikan sebagai alat bermain missal di susun2x menjadi terowongan. Setelah anak senang maka citra buku akan jadi positif sehingga mulailah anak lihat gambarnya lalu ortu membacakannya sehingga lama-lama I kecil akan senang membaca.
# Mainan untuk balita tidak terlalu memperhatikan gender karena seiring dengan perkembangan secara alamiah akan tau sendiri.
# Mainan yang berteknologi canggih yang harganya mahalpun tidak tidak perlu terlalu dicurigai seperti mainan video game dll, juga punya sisi baik yaitu melatih koordinasi otot mata dan tangan , pemecahan masalah (strategi) karena didalamnya bisa mengembangkan kemampuan kognitif anak, maksutnya anak di tuntutmengatur strategi untuk menyelesaikan permaian dengan baik, walaupun mainan ini sangat kurang dalam sisis soaial atao kurang melatih anak untuk bersosialisasi.
# Ada baiknya ortu juga berkompromi dengan anak dalam memilih mainan yang di berikan benar-benar bisa dipakai bermain dan bermanfaat dan dijelaskan pada anak mengapa mainan yang diminta naka tidak diberikan sehingga anak diajak bernalar.
(disadur dari blog sebelah)

Monday, 24 November 2008

Mendidik Anak Cerdas & Berbakat


Sebagai orang tua masa kini, kita seringkali menekankan agar anak berprestasi secara akademik di sekolah. Kita ingin mereka menjadi juara dengan harapan ketika dewasa mereka bisa memasuki perguruan tinggi yang bergengsi. Kita sebagai masyarakat mempunyai kepercayaan bahwa sukses di sekolah adalah kunci untuk kesuksesan hidup di masa depan.

Pada kenyataannya, kita tidak bisa mengingkari bahwa sangat sedikit orang-orang yang sukses di dunia ini yang menjadi juara di masa sekolah. Bill Gates (pemilik Microsoft), Tiger Wood (pemain golf) adalah beberapa dari ribuan orang yang dianggap tidak berhasil di sekolah tetapi menjadi orang yang sangat berhasil di bidangnya.

Kalau IQ ataupun prestasi akademik tidak bisa dipakai untuk meramalkan sukses seorang anak di masa depan, lalu apa?

Kemudian, apa yang harus dilakukan orang tua supaya anak-anak mempunyai persiapan cukup untuk masa depannya?

Jawabannya adalah: Prestasi dalam Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence), dan BUKAN HANYA prestasi akademik.

Kemungkinan anak untuk meraih sukses menjadi sangat besar jika anak dilatih untuk meningkatkan kecerdasannya yang majemuk itu.

9 Jenis Kecerdasan
Dr. Howard Gardner, peneliti dari Harvard, pencetus teori Multiple Intelligence mengajukan 8 jenis kecerdasan yang meliputi (saya memasukkan kecerdasan Spiritual walaupun masih diperdebatkan kriterianya):

Cerdas Bahasa – cerdas dalam mengolah kata
Cerdas Gambar – memiliki imajinasi tinggi
Cerdas Musik – cerdas musik, peka terhadap suara dan irama
Cerdas Tubuh – trampil dalam mengolah tubuh dan gerak
Cerdas Matematika dan Logika – cerdas dalam sains dan berhitung
Cerdas Sosial – kemampuan tinggi dalam membaca pikiran dan perasaan orang lain
Cerdas Diri – menyadari kekuatan dan kelemahan diri
Cerdas Alam – peka terhadap alam sekitar
Cerdas Spiritual – menyadari makna eksistensi diri dalam hubungannya dengan pencipta alam semesta

Membangun seluruh kecerdasan anak adalah ibarat membangun sebuah tenda yang mempunyai beberapa tongkat sebagai penyangganya. Semakin sama tinggi tongkat-tongkat penyangganya, semakin kokoh pulalah tenda itu berdiri.

Untuk menjadi sungguh-sungguh cerdas berarti memiliki skor yang tinggi pada seluruh kecerdasan majemuk tersebut. Walaupun sangat jarang seseorang memiliki kecerdasan yang tinggi di semua bidang, biasanya orang yang benar-benar sukses memiliki kombinasi 4 atau 5 kecerdasan yang menonjol.

Albert Einstein, terkenal jenius di bidang sains, ternyata juga sangat cerdas dalam bermain biola dan matematika. Demikian pula Leonardo Da Vinci yang memiliki kecerdasan yang luar biasa dalam bidang olah tubuh, seni, arsitektur, matematika dan fisika.

Penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik saja tidak cukup bagi seseorang untuk mengembangkan kecerdasannya secara maksimal. Justru PERAN ORANG TUA dalam memberikan latihan-latihan dan lingkungan yang mendukung JAUH LEBIH PENTING dalam menentukan perkembangan kecerdasan seorang anak.

Jadi, untuk menjamin masa depan anak yang berhasil, kita tidak bisa menggantungkan pada sukses sekolah semata. Ayah-Ibu HARUS berusaha sebaik mungkin untuk menemukan dan mengembangkan sebanyak mungkin kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing anak.

Oleh: Dr. Andyda Meliala
Sumber : info.balitacerdas.com

Monday, 17 November 2008

Tumbuh Kembang Otak Bayi

sumber:www.ayahbunda-online.com

Usia 0-6 Bulan

Bagian-bagian utama otak bayi baru lahir sudah lengkap terbentuk. Kini, otaknya akan segera mengalami proses pematangan yang perlu ditunjang dengan pemenuhan zat-zat gizi yang tepat.
Otak merupakan organ tubuh yang berfungsi sebagai pusat kontrol dan kendali atas semua sistem di dalam tubuh. Otak yang juga merupakan pusat kecerdasan atau pusat kemampuan berpikir ini mulai dibentuk selang beberapa saat setelah terjadinya konsepsi (proses peleburan inti sel telur dan inti sel sperma).Dalam perkembangan otak, ada periode yang dikenal sebagai periode pacu tumbuh otak ( brain growth spurt ). Yaitu saat dimana otak berkembang sangat cepat. Pada manusia, periode pacu tumbuh otak pertama dimulai ketika usia kehamilan ibu memasuki trimester ketiga. Periode pacu tumbuh otak kedua terjadi setelah si keci lahir hingga ia berusia dua tahun. Multiplikasi sel terjadi pada masa janin. Sedangkan sejak lahir hingga usia dua tahun adalah saat neuron (sel saraf) di korteks otak membentuk sinaps (hubungan antara sel saraf) yang sangat banyak. Jadi, di masa multiplikasi dan pembentukan sinaps ini, otak harus mendapat prioritas utama dalam hal pemenuhan zat-zat gizi sebagai bahan-bahan pembentukannya.

Tumbuh kembang otak

Secara keseluruhan, otak si kecil saat lahir sudah terbagi menjadi empat bagian utama, yakni batang otak ( brainstem ), otak kecil ( serebelum ), otak besar ( serebrum) dan diensefalon. Berat otak bayi saat ini sudah mencapai 25% berat otak orang dewasa, atau sekitar 350-400 gram.

Ketika usianya enam bulan, berat otak bayi hampir 50% dari berat otak orang dewasa.Di dalam otak bayi baru lahir sudah terdapat kurang-lebih 100 milyar sel saraf (neuron). Sel saraf ini terdiri dari 3 bagian utama, yaitu:- Badan sel saraf yang bentuknya menyerupai bintang. Di dalamnya, antara lain, terdapat inti sel saraf. Ujung-ujung dari badan sel yang menjulur ini merupakan bagian yang menghubungkannya dengan ujung-ujung dari badan sel saraf yang lain, sehingga membentuk suatu jalinan yang sangat kompleks.- Dendrit merupakan perpanjangan dari ujung-ujung badan sel. Sebuah sel saraf bisa memiliki sekitar 200 dendrit.- Akson yang bentuknya memanjang, sehingga menyerupai tangkai dari sel saraf. Sebagian besar akson dilindungi oleh semacam selaput dari lemak, yaitu yang dikenal sebagai mielin. Proses pembentukan selaput pelindung pada akson ini disebut sebagai mielinasi.Saat si kecil baru lahir hingga usianya mencapai enam bulan, sel-sel sarafnya belum seluruhnya mencapai tingkat perkembangan yang “matang”. Sel saraf dapat dikatakan mencapai tingkat kematangan, antara lain, apabila sudah terbentuk akson pada setiap bagian tubuh. Setiap kali terbentuk akson baru, maka akan terbentuk pula sinaps (simpul saraf, hubungan antara sel saraf) yang memungkinkan terjadinya “komunikasi” antara setiap bagian tubuh dengan otak. Itu sebabnya, si kecil masih belum terampil mengontrol gerakan anggota tubuhnya.Selain sel saraf, di dalam otak dan sistem saraf pusat terrdapat sel glia. Sel ini bertugas melindungi, memberi dukungan dan juga memberi makan kepada sel saraf. Caranya, dengan mengalirkan kebutuhan zat gizi yang diperlukan. Dengan demikian, proses tumbuh kembang sel saraf berjalan dengan baik dan dapat berfungsi menghantarkan pesan (perintah).Otak, yang setiap menit membutuhkan darah sebanyak 150 ml ini, mencapai tahap perkembangan yang berbeda-beda setiap bagiannya. Misalnya, bagian otak yang mengontrol sistem pendengaran sudah mulai berkembang sejak janin berusia 28 minggu. Sedangkan bagian otak yang mengatur sistem penglihatan baru berkembang setelah bayi lahir.Laju perkembangan otak si kecil tidak secara langsung ditunjukkan oleh pertambahan volume otak. Namun, pada umumnya perkembangan otak dikaitkan dengan kecerdasan. Dan, kecerdasan itu sendiri seringkali dikaitkan dengan volume otak. Ukuran serta bentuk kepala dianggap dapat menggambarkan besarnya otak yang terdapat di dalamnya. Pada kenyataannya, ada banyak sekali faktor yang ikut menentukan tingkat kecerdasan seseorang, selain volume otaknya.

Sphingomyelin dan Proses Mielinasi

Sejumlah akson dari sel saraf dilindungi oleh suatu lapisan lemak yang dikenal sebagai mielin. Komponen utamanya adalah sphingomyelin dan metabolit sphingolipid lain (seperti cerebroside , sulfatide dan ganglioside ). Mielin yang melindungi sebuah akson bisa terdiri dari 100 lapisan.Mielin bekerja sebagai insulator untuk impuls saraf. Zat ini juga mengontrol saltatory mode of conduction (penghantaran impuls yang berloncat-loncat) pada kecepatan tinggi melalui Nodes of Ranvier (akson yang tidak terlindungi mielin). Penghantaran impuls semacam ini adalah proses yang cepat. Dan, akson bermielin menghantarkan impuls 50 kali lebih cepat daripada akson tak bermielin yang paling cepat.Dewasa ini telah dipelajari bahwa sphingomyelin , salah satu jenis fosfolipid yang terkandung dalam makanan dan ASI, memainkan peran penting dalam proses mielinasi sistem saraf pusat. Mielinasi sistem saraf pusat manusia dimulai ketika usia kehamilan 12-14 minggu pada bagian spinal cord, dan berlanjut hingga usia 30 tahun pada bagian cerebral cortex . Namun, perubahan paling cepat dan dramatis terjadi di antara pertengahan kehamilan dan diakhir tahun kedua setelah kelahiran.Berbeda dengan jenis fosfolipid yang lain, sphingomyelin tidak mengandung gliserol, melainkan ceramide. Karena semua sphingolipid dibuat dari ceramide , maka sphingomyelin dapat diklasifikasikan juga sebagai sphingolipid (Jumpsen & Clandinin, 1995). Ceramide inilah selanjutnya yang akan membentuk cerebroside , yaitu suatu marker universal myelinasi (pembentukan mielin) di dalam otak, dengan bantuan enzim UDP galactosytransferase .

Mielin sistem saraf pusat mempunyai kandungan cerebroside yang tinggi dibandingkan dengan jaringan lainnya.Studi terkini menunjukkan bahwa aktivitas enzim serine palmitoyltransferse (SPT) meningkat secara bertahap dari minggu ketiga sebelum kelahiran ( prenatal ) hingga minggu ketiga setelah kelahiran ( postnatal ) pada sistem saraf pusat tikus. Ketika mielinasi mulai berlangsung pada periode tersebut, diyakini bahwa aktivitas SPT yang bertambah sedikit demi sedikit merupakan faktor utama yang terlibat di dalam mielinasi.Oshida et.al. dalam tulisannya Effects of dietary sphingomyelin on central nervous system myelination in developing rats. Pediatr. Res 53: 589-593 (2003) memberikan hipotesis bahwa cerebroside di mielin sistem saraf pusat dari tikus yang sedang berkembang otaknya kemungkinan terutama diperoleh dari sphingomyelin yang terkandung di dalam susu, yang dapat diubah menjadi ceramide dan kemudian cerebroside .

Selanjutnya, mereka membutktikan bahwa cerebroside di mielin sistem saraf pusat, terutama diperoleh dari sphingomyelin diet (asupan luar) dengan kondisi eksperimental aktivitas SPT yang rendah, sehingga sphingomyelin diet memainkan peran yang penting dalam mielinasi sistem saraf pusat.Jadi, berbeda dengan AA dan DHA yang berperan dalam pertumbuhan membran sel saraf dan pengaturan neurotransmitter, sphingomyelin berperan dalam proses mielinasi akson untukk membantu kinerja sel saraf dalam transmisi impuls saraf. Menurut Dr. Arthur R. Jensen, ahli saraf dari Fakultas Ilmu Pendidikan Kedokteran di University of California, Amerika Serikat, kecepatan penghantaran pesan oleh sel-sel saraf seseorang merupakan salah satu faktor yang menunjukkan tingkat kecerdasannya.

Kebutuhan gizi

Bila melihat periode pacu tumbuh otak, maka sebagian besar percepatan tumbuh otak justru terjadi setelah si kecil lahir. Mulai saat itu, pemenuhan kebutuhan zat gizi dilakukan melalui pemberian ASI secara tunggal (ASI eksklusif) sejak hari pertamanya hingga usia enam bulan. Perlu diketahui, komposisi zat gizi di dalam ASI demikian sempurna untuk memenuhi kebutuhan zat gizi sesuai tahapan tumbuh kembang bayi, bahkan untuk bayi yang lahir prematur sekali pun.

Secara alami, ASI mengandung zat-zat gizi yang secara khusus diperlukan untuk menunjang proses tumbuh kembang otak. Zat-zat gizi tersebut antara lain:- Asam lemak esensialASI merupakan sumber asam lemak esensial (asam lemak yang harus dipenuhi kebutuhannya dari luar tubuh) , yaitu asam linoleat dan asam alfa-linolenat. Kedua asam lemak esensial ini di dalam tubuh bayi diubah menjadi DHA (asam dokosaheksanoat) dan AA (asam arakhidonat).Perlu diketahui, lipid (lemak) di dalam ASI terutama terdapat dalam bentuk trigeliserida (98-99%). Sedangkan sisanya, sebanyak 1-2%, adalah fosfolipid dan kolesterol. Komposisi dan kandungan lipid ASI sangat bervariasi bergantung dari tahapan laktasi dan asupan diet ibu. Lipid di dalam ASI berfungsi sebagai sumber energi. Selain itu, sebagian kecil lipid (lipid minor) berfungsi sebagai mikronutrien yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan otak. Lipid sebagai mikronutrien terutama terdapat dalam bentuk fosfolipid.Fosfolipid ASI merupakan sumber asam lemak tidak jenuh rantai panjang ( long chain polyunsaturated fatty acid , LCPUFA), terutama AA dan DHA. Kandungan fosfolipid ASI bervariasi sekitar 20-38 mg/100 ml, tergantung pada tahapan laktasi. Di dalam ASI, fosfolipid terdiri dari beberapa fraksi, berturut-turut dari yang paling dominan adalah: 1) sphingomyelin, 2) fosfatidylkolin, 3) fosfatidylethanolamin, 4) fosfatidylserin, dan 5) fosfatidylinositol.Menurut Gopalan dalam tulisannya Essential FA in Maternal and Infant Nutrition In Symposium “EFA and Human Nutrition and Health International Conference” in Shanghai, Cina (2002), mengatakan LCPUFA merupakan komponen yang esensial selama periode perinatal, karena fetus dan bayi baru lahir tidak dapat mensintesis sejumlah AA dan DHA yang mencukupi dari prekursornya. Padahal, pada saat lahir dan masa awal kehidupan telah dihasilkan kurang lebih 6-10 ribu hubungan sinaps antar sel syaraf. Materi dasar untuk terbentuknya sinaps ini adalah adanya asam lemak esensial di dalam ASI. Oleh karena itu, perkembangan mental dan kecerdasan bergantung pada kecukupan suplai asam lemak esensial dan LCPUFA pada tahap-tahap krusial tersebut.Apabila tubuh bayi mendapat DHA dalam jumlah yang mencukupi melalui ASI ibunya, maka proses pembentukan otak serta pematangan sel-sel saraf di dalam otaknya akan berjalan dengan baik. Semua proses itu terjadi pada waktu bayi tidur nyenyak.Penelitian tentang hal tersebut telah dilakukan di University of Brisbane, Australia dengan memakan waktu 21 tahun dan melibatkan 3880 bayi. Hasil sementara dari penelitian ini yang dipublikasikan di United States Based Journal of Pediatrics and Child Health tahun 2001 lalu menunjukkan bahwa zat-zat gizI yang terkandung di dalam ASI membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh bayi, sehingga terhindar dari serangan penyakit-penyakit infeksi.Dengan demikian, proses tumbuh kembang dapat berjalan dengan baik. Selain itu, kedekatan dan hubungan batin yang terjalin kuat antara ibu dan bayi ketika memberi ASI merangsang perkembangan kemampuan kognitif bayi. Sedangkan kadar DHA di dalam ASI yang sesuai dengan kebutuhan tubuh bayi, memungkinkan proses plastisitas (proses pembentukan hubungan baru di antara sel-sel saraf) berjalan dengan optimal. Hal ini antara lain ditunjukkan dengan kecerdasan berbahasa yang baik serta IQ ( Intelegence Quotient ) yang tinggi.- ProteinKomponen dasar dari protein, yakni asam amino, terutama berfungsi sebagai pembentuk struktur otak. Beberapa jenis asam amino tertentu, yaitu taurin, triptofan, dan fenilalanin merupakan senyawa yang berfungsi sebagai penghantar atau penyampaipesan ( neurotransmitter ). Di dalam ASI terkandung protein sekitar 1,2 gram per 100 ml.- Vitamin B kompleksBeberapa jenis vitamin B yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang otak adalah ,vitamin B1, vitamin B6, dan asam folat (vitamin B9). Bila kebutuhannya tidak terpenuhi, maka akan timbul gangguan terhadap pertumbuhan dan fungsi otak dan sistem saraf.- KholinSenyawa ini merupakan pembentuk sejenis neurotransmitter yang disebut asetilkolin. Kholin juga merupakan bagian dari lesitin, yaitu suatu fosfolipid yang banyak terdapat di otak sebagai pembentuk membran (dinding) sel saraf.- Yodium, zat besi, dan zat sengYodium dibutuhkan untuk pembentukan hormon tiroksin (sejenis hormon yang diperlukan dalam pembentukan protein yang membantu proses tumbuh kembang otak). Zat besi dibutuhkan dalam proses pembentukan mielin. Zat besi disimpan di dalam berbagai jaringan otak selama 12 bulan pertama sejak bayi lahir. Seng merupakan bagian darai sekitar 300 jenis enzim yang membantu pembelahan sel. Kekurangan zat seng di dalam otak dapat menyebabkan gangguan fungsi otak yang disebut ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder).Agar ASI mengandung semua zat gizi yang diperlukan tubuh si kecil selama masa pemberian ASI eksklusif enam bulan, maka ibu harus mengkonsumsi makanan bergizi seimbang setiap hari. Ibu perlu menkonsumsi makanan-makanan yang kaya protein. Misalnya, ikan, daging, telur, tempe, tahu, dan susu skim. Ibu juga perlu makan lebih banyak sayur-sayuran dan buah-buahan.Jika selama masa menyusui ibu tidak mendapatkan gizi yang diperlukan, persediaan zat-zat gizi dalam tubuhnya akan habis dipergunakan untuk memproduksi ASI. Akibatnya, selain kesehatan ibu terganggu, ASI-nya juga tidak akan cukup banyak. Kualitas ASI-nya pun tidak akan cukup baik, dan jangka waktu ibu untuk memproduksi ASI pun menjadi relatif singkat.Dewi Handajani

Wednesday, 12 November 2008

Pendidikan Lebih Penting Dari Kesehatan?

Kamis, 06 2008 00:01 WIB

Jika ditinjau dari kemauan politik yang tecermin dalam produk undang-undang yang ada, dalam hal ini UUD 1945 dan alokasi pembiayaan oleh negara yang dapat dilihat pada anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terkesan bahwa pendidikan lebih penting dari kesehatan. Pasal-pasal dalam UUD 1945 dan amendemen UUD 45 untuk bidang pendidikan terlihat mendapat perhatian lebih baik. Pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 45 maupun amendemennya yang dijadikan landasan pengaturan sistem pembiayaan kesehatan nasional, antara lain adalah sebagai berikut.

Pasal 28 H UUD 45 Amendemen Tahun 2000 '...setiap penduduk berhak atas pelayanan kesehatan'. Amendemen UUD 1945 tanggal 11 Agustus 2002 ketika MPR telah mengamanatkan agar negara mengembangkan jaminan sosial bagi seluruh rakyat. Pasal 34 ayat 2 UUD 1945 yang mengamatkan agar sistem pendanaan kesehatan Indonesia di masa datang harus menjamin cakupan seluruh rakyat.

Sementara itu, pasal dalam UUD 45 yang mengatur mengenai pendidikan adalah Pasal 31 ayat (1) 'Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan'. (2) 'Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya'. (3) 'Pemerintah mengusahakan dana untuk menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang'. (4) 'Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja serta anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional'. (5) 'Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia'.

Mari kita bandingkan isi dari pasal yang mengatur mengenai kesehatan dan pendidikan dalam UUD 1945. Isi pasal yang mengatur mengenai pendidikan sangat terlihat tegas dan jelas bahwa negara/pemerintah wajib membiayai setiap warga negara yang mengikuti pendidikan dasar, seperti diatur dalam pasal 31 ayat 2 'Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya'. Negara/pemerintah harus menganggarkan dana pendidikan minimal 20% dari total APBN, seperti diatur dalam Pasal 31 ayat 4 'Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. UUD 1945 tersebut sangat tegas dan jelas sehingga hasilnya pemerintah benar-benar memperhatikan pendidikan dengan mengalokasikan anggaran pendidikan pada APBN 2007 sebesar 8,7% pada 2008, sebesar 8,5%, sedangkan pada 2009, sesuai dengan amanat amendemen UUD 1945 dan keputusan mahkamah konstitusi, pemerintah diwajibkan menganggarkan pendidikan minimal sebesar 20% dari total APBN.

Sungguh besar perhatian negara/pemerintah terhadap pendidikan. Isi pasal yang tercantum dalam UUD 1945 yang mengatur kesehatan tidak terlihat tegas dan jelas bahwa pemerintah/negara wajib membiayai atau menganggarkan minimal sekian persen APBN untuk bidang kesehatan, akibatnya pemerintah hanya mengalokasikan anggaran kesehatan pada APBN 2007 sebesar 3,4% dan 2008 sebesar 3,3%. Memang sangat jauh di bawah anggaran pendidikan. Dengan terbatasnya anggaran, tentu berakibat pada kinerja kesehatan kita. Awal 2007, Departemen Kesehatan melaporkan ada 1,7 juta balita yang berstatus gizi buruk tersebar di seluruh Indonesia, diperkirakan ada 5 dari 18 juta balita di negeri ini yang berstatus gizi kurang.

Mereka itu adalah para balita yang sebetulnya sedang dalam masa emas pertumbuhan, dan pada masa tersebut sedang terjadi 80% pembentukan otak. Dengan kondisi tersebut sebesar apa pun anggaran pendidikan sulit diharapkan semua warga negara mendapat kesempatan yang sama untuk dapat menjadi anak-anak yang cerdas. Perkembangan otak anak usia balita sangat ditentukan faktor makanan yang dikonsumsi. Zat gizi, seperti protein, zat besi, dan berbagai vitamin, termasuk asam lemak omega3, adalah pendukung kecerdasan otak anak. Zat tersebut bisa didapat dari makanan sehari-hari, seperti ikan, telur, susu, sayur-sayuran, kacang-kacangan, dan sebagainya. Banyak hal dapat dilakukan semua pihak untuk mengatasi masalah gizi buruk tersebut, antara lain adalah dengan memberikan makanan tambahan melalui Program Makanan Tambahan (PMT) yang selama ini dilakukan Departemen Kesehatan.

Apabila anggaran untuk kesehatan dapat ditingkatkan menjadi seperti anggaran pendidikan, PMT dapat ditingkatkan sehingga pada akhirnya jumlah balita yang berstatus gizi buruk dan kurang dapat ditekan semaksimal mungkin, bahkan harus dapat dihilangkan. Maka dibutuhkan investasi besar dalam sistem kesehatan sebuah negara untuk mencapai target kesehatan.

Pendanaan yang ditanamkan pada sektor kesehatan juga akan memperkuat sistem kesehatan secara menyeluruh yang pada gilirannya dapat mempercepat upaya pemenuhan target mencerdaskan bangsa. Pendidikan dan kesehatan sama pentingnya. Pendidikan dan kesehatan adalah bagian yang saling terkait, seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Sudah saatnya negara mulai memperhatikan kesehatan, seperti memperhatikan pendidikan dengan menghasilkan kebijakan. Bahkan bila perlu pemerintah melakukan amendemen UUD 1945 yang isinya benar-benar tegas memperhatikan kesehatan, seperti pendidikan.

dr R Wianti Soeryani S, Mahasiswa S2 Universitas Indonesia

http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NDE3MDY=

Sunday, 2 November 2008

How to use children's book to encourage kids to read

Reading skills are critical for preschool learning and childhood development, but sadly, many of today's kids would rather watch television or play a video game than read a book. Getting your kids to read can be a challenge, but with the use of quality children's books, it doesn't have to be an insurmountable one.

Steps
1.The first step to read to your child at an early age. Many people have fond memories of their parents reading them bedtime stories, and reading to your child will help foster a love of words and reading.
2.Fill your child's room with books. Kids who grow up with books all around them learn to think of books as friends, and allies in their persuit of adventure and learning.
3.Be a good reading "role model" for your children. Let them see you reading, and how much you enjoy reading books and magazines.
4.As your child grows, introduce him or her to books that match their interests and hobbies. Show them how a good book can expand their knowledge in a particular area, and expand their horizons as well.
5.Encourage your child to find new books on their own to read. While showing your child books is a good way to build their interest level, a child who finds new books on their own can benefit from an increased sense of independence.
6.Get your child a library card. Show them how a library can be a place of wonder and excitement, and can open up whole new worlds of learning to last a lifetime. And then put the library in your schedule, so you will be sure to visit frequently together.

Tips
1.And lastly, consider setting limits on the amount of time your child spends in front of a televison or video game console. While there's nothing wrong with watching television or playing video games, if you want to child to develop good language and learning skills, make sure they spend just as much time reading a good book.
2.They might not like it now, but chances are they'll thank you for it later in life.
3.Leave books in the bathroom within easy reach of the toilet. Your children are quite likely to pick one up and read it!
4.Put books on the breakfast table. You may see your children reading the backs of cereal boxes already. If you have a few books right in the kitchen, these will probably end up on the morning reading menu.
5.Let your children read after "bedtime". Sleep's important, but getting to stay up a little while can be reason enough to enjoy reading.
6.To learn more about the value of reading with and to children, look for anything by Jim Trelease, author of The Read Aloud Handbook.

Warnings
If you don't read, it's unlikely your children will, either. Set a good example.

Thursday, 30 October 2008

INDIGO CHILDREN

From Wikipedia, the free encyclopedia

In the New Age movement, Indigo children are children who are believed to represent a higher state of human evolution. The term itself is a reference to the belief that such children have an indigo-colored aura. Beliefs concerning the exact nature of Indigo children vary, with some believing that they have paranormal abilities such as the ability to read minds, and others that they are distinguished from non-Indigo children merely by more conventional traits such as increased empathy and creativity.

Origins
The term Indigo children originates from the 1982 book "Understanding Your Life Through Color," by Nancy Ann Tappe, a self-styled synesthete and psychic, who claimed to possess the ability to perceive people's auras. She wrote that during the mid 1960's she began noticing that many children were being born with "indigo" auras. Today, she estimates that 60% of people age 14 to 25 and 97% of children under ten are "Indigo."

The idea of Indigo children was later popularized by the 1998 book The Indigo Children: The New Kids Have Arrived, written by the husband-and-wife team of Lee Carroll and Jan Tober.[4] According to Carroll he learned about the concept of indigo children while channeling a being known as Kryon, Master angelic energy. Tober has said that she and Carroll do not talk much about Kryon in interviews because they see this as being a potential barrier to them reaching out to mainstream audiences that exist outside of the New Age movement.

Characteristics and beliefs
According to New Age belief, Indigo children are highly sensitive with a clear sense of self-definition and a strong feeling that they need to make a significant difference in the world. They are strong-willed, independent thinkers who prefer to be self-guided rather than directed by others. They are empathic and can easily detect or are in tune with the thoughts of others, and are naturally drawn to matters concerning mysteries, spirituality, the paranormal and the occult, while opposing unquestioned authority and contradictory to convention. They tend to think outside the box, and are often referred to as "system busters." Indigos allegedly possess wisdom and level of awareness "beyond their years." They are also said to have a strong feeling of entitlement, or "deserving to be here."

Some beliefs hold that they are often labeled with the psychiatric diagnoses of Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD), Attention Deficit Disorder (ADD), Obsessive-Compulsive Disorder (OCD), Dyslexia, and also Autism, and that they become unsociable when not around other Indigo Children. They are also believed to be prone to depression and sleep disorders such as insomnia and persistent nightmares.[citation needed] Indigo children also possess defining characteristics in learning; indigos tend to be more visual, kinesthetic learners so remember best what they can picture in their brain and create with their hands. Movement is required to keep them better focused.

Criticism
According to psychiatric expert Russell Barkley, the New Age movement has yet to produce empirical evidence of the existence of Indigo children and the 17 traits most commonly attributed to them were so vague they could describe "most of the people most of the time" and put him in mind of the Forer effect. Barkley also expressed concern that labeling a disruptive child an "indigo" may delay proper diagnosis and treatment that may help the child. Others have advised that many of the traits of indigo children could be more prosaically interpreted as simple arrogance and selfish individualism, which parents with certain New Age beliefs see as being something that they are not.

It has also been hypothesized that rather than being a new step in human evolution, the Indigo phenomena may be the reaction of children watching television shows with an emphasis on magic and New Age-compatible language. An example of this was illustrated in a Dallas Observer article discussing indigo children, a reporter recorded the following interaction between a man who worked with indigo children, and a purported indigo child:

“ Are you an indigo? he asked Dusk. The boy looked at him shyly and nodded. "I'm an avatar," Dusk said. "I can recognize the four elements of earth, wind, water and fire. The next avatar won't come for 100 years." The man seemed impressed.”

Readers of the Dallas Observer later wrote in to inform the newspaper that the child's response appeared to be taken from the storyline of Avatar: The Last Airbender; a children's cartoon showing on Nickelodeon at the time of the interview. The editor of the Dallas Observer later admitted they were not aware of the possible connection until readers brought it to their attention.

Education
Although the mainstream teaching profession does not recognize New Age beliefs about the existence of Indigo children, some alternative education groups have set up programs based around the concept.

Monday, 20 October 2008

How to Spend Free Quality Time With Kids


Ideas that will create life time memories for your child with out spending a fortune. Small children don't need 400 dollars worth of toys to forget about, when boxes and imagination go so much farther.

Steps
1.Play. Seems simple, but, do you really know how to do it? Get down on the floor and play trucks, build forts, make cardboard buildings for cars. Go through the clothes in the house and make a dress up box; include old jewelry, hats, purses, and shoes. Plan a tea party, and follow it wherever it goes.

2.Read. Start a small chapter book and read one chapter a day. Make reading time special with snacks.

3.Make crafts. Simple paper plates make great masks to wear, then you can play using your masks.

4.Cook. Every kid loves to help in the kitchen. Make or buy their own cookbook and apron, then let them pick a recipe and help them make it, and do this as a weekly thing. You will be surprised how much you learn from your child while spending the time together.

5.Give them creative reign. Get a big box, cut it open, lay it flat and hand them the supplies to go crazy -- let them paint, draw, cut, and then join in.

6.Go on picnics. All kids love picnics, the key is making them spontaneous. Pick them up from school, take a snack and head to the park, have a picnic inside, use a theme like all red food, or let them pick all the foods. So what if for one meal you're eating twinkies and cereal. It won't kill them or you.

7.Play games, any game. When's the last time you indulged in something a little wild, like hide and seek in the house?

8.Build a fort, inside or out. Kids don't need extravagant play houses -- a sheet over the clothes line or some chairs will do just fine. Play in there with them.

9.Play with play dough. Get out the cookie cutters and anything else that you normally don't let them use for playdough...use plastic utensils for cutting.

10.Be an a clown occasionally.You don't need make-up, just be silly. The kids will have a great time laughing when their Mum/Dad isn't able to find that thing that is obviously in front of them ("No I can't see it anywhere."). Another great example is getting your foot stuck to the floor after gluing something. When the kids try to help, their hand also gets stuck to the parents hand.

11.Give your kids the ultimate gift of time. Instead of saying "not right now", stop and go play for an hour. Is that bill really going to be any different if you leave it on the table and come back an hour later? Probably not, but, your child may look back and remember the day you stopped what you were doing and played for an hour.

Tips
1.Use your imagination.
2.Get creative, look around for new uses for everday things.
3.Be spontaneous.
4.Don't get discouraged.
5.Limit the discipline while making the effort to spend time together. It's no fun if all you're doing is scolding them.
6.Let your inner child out to run free, it helps you as much as your child.

Warnings
1.Always make sure the activity you try is age appropriate. If it's too difficult, it's no fun.
2.May cause uncontrollable laughter.
3.You might have a good time.
4.You will be tired!

Thursday, 16 October 2008

How to Be Patient When Doing Homework With Your Young Child



When working with small children, it's often easy to lose patience. This is especially true when looking at schoolwork. Many parents were conditioned to hate homework as children, and that carries over to their helping their child as parents. Learn to be patient and enjoy the process, and you'll break the cycle! Here's how to keep your cool and give your child the greatest possible benefit.


Steps
1.Decide what you want, and what you need to do. Do you want your child to get good grades? Do you want him to understand the material well? Write out your goals on an index card.


2.Determine your child's learning style. Many children don't process visual information well, but are quick to learn if the material is spoken out loud. Some are the opposite. Your child's teacher can help you determine what teaching methods work best for him, or you can do online research. (Or both!)This is great to know of your child, because they can learn best in ways different than how you learn!


3.Decide before you start how much time you're going to devote to helping with homework. Set an egg timer so that you don't have to worry about running over. Whenever you find yourself getting frustrated with the amount of time it's taking, remind yourself that you promised you'd help for an hour (or whatever) and it's not taking any more time than you expected.


4.When you sit down to help your child with an assignment, look over it first. Make sure you understand clearly what's being asked, and if there are any special instructions on how to do it. Few things in life are more embarrassing than telling your child how to do something, only to find out that he was supposed to do something else entirely! It is also important to listen to what your child says. You may have been taught the material differently, so it is key to remain open-minded, and be honest with your child if you have trouble understanding the directions. The point is not to frustrate anyone!


5.Let your child do as much as he can. This is the hardest step. The assignment looks so easy to you, you want to jump in and tell him how to do it. But he won't learn that way. Wait until he's stuck before you reach out to help. (This is where your index card comes in. Keep it in your pocket, and read it every time you want to say something. If your help wouldn't correspond with the goal on the index card, hold your tongue.)


6.Resist the temptation to tell him the answer when he's stuck. Instead, ask leading questions. For example, if he can't decide whether to add or subtract, ask him to describe what addition does, and what subtraction does. Then ask which of those two is closer to what this problem is doing. Try everything you can think of to get him to figure it out for himself.


7.At the end of the assignment (or your allotted time, whichever comes first) find something you can praise your child about. Maybe he finished it in less time than you expected, or got most of the answers on the first try. Complimenting not only will make him feel good, it will make you feel like your time was well spent.


Tips
1.Talk to your child's teacher. Most of them chose this career because they want to help children learn. This person is an enormous resource for specific teaching styles for your child, other activities that can help your child learn, areas your child is having trouble with, and hundreds of other options. I have never met a teacher who wasn't thrilled to have a parent ask, "How can I help my child learn better?" Teachers are resourceful, and they will find you the information you need.



2.Keep an eye out for applications of the subject. If your child is having trouble with addition, let him add up the grocery bill when you go shopping. If he's struggling with history, take him to the state capital and tell him how your state came to be. If he doesn't spell well, make a game of spelling words -- take him to a baseball game if he can spell a list of baseball-related words, or buy him a piece of butterscotch candy if he can spell it correctly. Real-life situations bring the learning from school into everyday situations that can help your child become better at that particular learning. Again, your child's teacher is a great resource for ways to get your child interested in learning.


3.Make sure you know the subject he's learning. In first grade this probably isn't an issue, but by third grade you may need some review. When was the last time you found a lowest common denominator?


4.A good strategy may be to review with your child what they are doing, and then let them work while you work nearby. This shows them that YOU can be patient and YOU are willing to do the work. It also leaves you close at hand for any problems which arise.


5.Less is more- your job is to be there in case your child is truly puzzled, not to act as a shortcut to avoid his having to think.


6.Once you start thinking of homework time as less of a chore and more of a fun way to stay involved with your child, you've mastered this wiki. Don't let homework be a drag for you... and it will help both you and your child get it done with a minimum of fuss!


Warnings
1.Don't upset your child, call them names, and criticize them. It is counterproductive.


2.Getting upset and quitting the help as the parent will show your child a "get-out" strategy that you don't want them to learn.


3.If your child doesn't understand the material, don't immediately accuse them of not paying attention in class or tell them they need to be more focused. The problem is not usually an issue with attention or focus; it is simply that different people's minds are more apt to learn certain subject matter. Neither you nor your child can change this. It is up to you both just to "help it."

Tuesday, 14 October 2008

How to Build Young Child's Social Skills

Some children behave just the way you want them to, some just the opposite. As a parent, you should understand that children are like a piece of clean and white cloth. It is your job and responsibility to give it some color. Another way of saying this, children are innocent and you are the ones who are responsible to shape, teach and guide them to become good people in the future. You should give them proper guidance when they are still young. The following are some tips on how to introduce social skills, particularly good manners and behaviors among children.
STEPS:
1.Give your child some light chores to do.Children can already understand some instructions, as early as when they are 2 or 3 years of age. Giving a little work to do will make him or her learn to obey and follow instructions. Remember, this is not to make your child feel tired or sad. It is good for your child when he or she starts learning to know that helping out is a good thing to do. Example of a chore: ask your child to help tidy up the mess he or she made while playing.

2.Reward your child with positive praises. Tell them that they have done a good job afterward. Say words like Good, or Brilliant after they have done what you ask them to do. This will make them feel appreciated and acknowledged after they have done something good. Always try to avoid negative words. If your child fails to do something, tell him or her that it is okay and that he can do better next time. Always remember to avoid negative remarks.
3.Encourage good habits of saying thank you and sorry. Always say “Please” and “Thank You” where necessary. Another phrase is "I’m sorry" when he or she does something wrong. If you always practice this yourself, your child will imitate these habits. They will learn to copy what we do to them and what we do among ourselves as adults.
4.Talk to them and get them to talk back. Get them to say what they feel about anything. Have them say out their feelings toward anything. They will learn to express themselves better. This practice is very good because you do not want them to keep their frustrations to themselves. This way, as an adult, you can learn to understand and handle our children better.
5.Get your child to play with other children. This is a way to break their anxiety and nervousness around people. Start with small groups. Your child will also learn to share things among friends. He/she will learn to understand that sharing is a good value and children can only understand and appreciate it with other friends.
TIPS
Surely there are many other ways to instill good behavior in children. It is actually up to the parents to try to understand your children and guide them to be better people in the future. It is good to know that the purpose of teaching and giving our children these guidances is not to make people say how great you are as a parent, but it is for your children to benefit for themselves when we are no longer around.

Monday, 22 September 2008

Islamic Greeting Card

How to raise smart children

www.wikihow.com

A child's brain growth comes from experience and the exercise the brain receives. Sight, sound, touch, taste and smell stimulate the brain's cell connections (called synapses) and create trillions more. The more complex these interconnections, the smarter your child will be. When you provide your child with early stimulation and a wide range of experiences, you can accelerate his brain development.

1. Interact with your child. Scientists have observed that babies who were not cuddled, played with and loved have stunted brain growth. They also observed that babies who were not held and did not receive attention failed to grow, became depressed, and eventually died. On the other hand, many studies have shown that hugging, interacting and playing with your child has a strong effect on developing his intelligence. The loving connection formed between you and your child and your one-on-one interaction with him provide the foundation for his higher thinking skills.
2. Talk to your child. Also, listen to your child when he’s talking. This reinforces his effort to communicate and develops his facility for language. You may also read books to your child. Start reading to him even if he does not understand the words. This gives him a head start in developing language skills. Children who are read to when young are more likely to develop a lifelong interest in reading, do well in school, and succeed in adult life. Reading books is one of the most important activities that make children smart.

3. Let your child play – When your child plays, he is creating the foundation for his intellectual, social, physical and emotional skills. When he plays with other children, he learns to combine ideas, impressions and feelings with others.

4. Encourage your child to exercise - Physical exercise does not only make your child strong, but it also makes your child smart! Exercise increases the flow of blood to the brain and builds new brain cells. Exercise is good for adults' mental sharpness, but it has a more long-lasting effect on your child's developing brain.

5. Make music a part of your child’s life – Studies have shown that listening to music can boost memory, attention, motivation and learning. It can also lower stress that is destructive to your child's brain. Learning to play a musical instrument has an effect on the brain’s proportional thinking and spatial temporal reasoning that lay the foundation for abstract math. If possible, start with the piano. After learning to read music and play up to 10 notes at a time, it will be much easier for them to learn any of the other instruments. But starting them with music young--no matter what the instrument--is the important thing.

6. Let your child witness you doing smart things - Children learn by modeling adult’s behavior. If he sees you engaged in reading books, writing, making music, or doing creative things, he will imitate you, and in the process make himself smart.

7. Let your child play smart computer games - The best computer games teach your child about letters, math, music, phonics and many others. It also develops his hand-eye coordination and prepares him for tomorrow’s technology. More importantly, he learns these while he plays. Learning and having fun at the same time is the best way for your child to learn.

8. Feed your child properly - Giving the right food is important to raise a smart child. A protein-rich diet (egg, fish, meat, beans, peanuts, etc.) improves his attention, alertness, and thinking. Carbohydrates give his brain the fuel that is used in thinking. The best ones are those that come from whole grain and fruits. Processed carbohydrates and sugar have bad effects on attention span, focusing ability, and activity level. Vitamins and minerals are also important.

Tuesday, 2 September 2008

EDUCATING YOUR CHILDREN IN RAMADHAN

Children (who did not reach puberty) are not commanded to fast. However, their parents or guardians are strongly recommended to encourage them to fast few days so that they get used to it and they grow up knowing of the worship of fasting as they would know that of praying. In fact this was the practise of the first women of Islam who were living around the Prophet, salla Allahu alaihi wa sallam. An example of that is ar-Rubayya' bint Mu'awiyyah who reported that: "The Messenger of Allah,salla Allahu alaihi wa sallam, sent a man on the morning of the day of 'Ashurah, to the residences of the Ansar, saying: 'Whoever has spent the morning fasting is to complete his fast. Whoever has not spent this morning fasting should voluntary fast for the remainder of the day.' We fasted after that announcement, as did our young children. We would go to the mosque and make toys stuffed with cotton for them to play with. If one of them started crying due to hunger, we would give them a toy to play with until it was time to eat." [al-Bukhari and Muslim.]

Dear sister remember that among the seven that Allah will shade under His shade onthe Day of Judgement is a young man who grew up in the worship of Allah. Therefore let your children be one of these.

There are many ways to educate your children about Ramadan, the best and most important of which is to set the good example by fasting properly and behaving according to the Prophetic teachings. This is what your children will take from you first. When you are fulfilling this you can very easily [and they will accept it and practise it easilly as well] teach them what you want. Here are few tips that you can use with your children [you can think of others as well]:
Depending on their age encourage them to fast a number of days upto every other day or more for those who are almost at the age of puberty. For those who are still young let them fast a day or two and praise them in front of friends and relatives for their achivement.
Let your children go with their father to the Masjid for Maghrib prayer and break the fast with the larger Muslim community to make them feel the gretness of fasting and the unity of Muslims in worshipping Allah.

- If your children cannot fast let them eat with you at the time of Maghrib and teach them that you are breaking the fast even if they ate before.
- Teach your children the supplication of breaking the fast.
- Take your children to the Taraweeh prayer so that they get used it and know about it from their early age. They may sit or stay in the back of the prayer room if they get tired.
- Teach them to give charity. Do it in front of them and tell them you are doing it because the reward increases in Ramadan.
- Teach them to recite Qur'an regularily and inform them that the Prophet (S) used to do that in Ramadan.
- Correct them if they behave wrongly or say unaccaptable words and remind them that they are fasting ot they are in Ramadan and this may alter their reward.
- Wake them up for Suhoor [even if they don't fast] and Fajr prayer.
- Teach them to feed the people fasting and tell them about the reward for that.
- Dress them in the best clothes, give them a bath and take them with you to the Eid Prayer.
- Teach them that this is our feast and celebration and that christmas, easter, thanksgiving and other holidays are not ours. Stress the distinction.

and remember that the Prophet salla allahu alaihi wa sallam said:
"One who is given the responsibility of the bringing up of daughters and treats them well will be a shield for him from Hell. [Bukhari and Muslim]

Monday, 25 August 2008

A parent's guide to helping their child with homework

source:www.essortment.com

Homework is an important part of a child’s learning process, it is also a great way for parents to get involved and stay informed about what is being taught. The best way to ensure a productive learning experience while doing homework depends on the child. Being stuck at a desk, in a quiet room, alone is not always the best way to learn.

When your child gets home from school, it is important to discuss their day and find out what homework they have been given. This allows you and your child to create a plan for getting the homework done.

Some children would rather jump right in and complete their homework rather than have it on their mind all afternoon. Others need a mental break from the day before they can delve into more schoolwork. Either scenario is fine, as long as there is a mutually agreed upon plan.

It is also important to give your child a healthy snack or dinner before they begin their homework. Hunger can be a major distraction, and kids are usually looking for any excuse to put off doing their homework. Eliminate the chance of this distraction by providing a healthy snack, preferably with protein. Good snacks include a piece of bread with peanut butter, some turkey and carrots or a fruit smoothie. These snacks should keep their energy level up and keep them from feeling lethargic.

Next, decide on the best environment for your child to do their homework in. It could be at a desk in their room, at the kitchen table or in an office. Any area is fine as long as it is relatively free from distractions. Never allow your child to do homework with the television on. Many people prefer light background music, and studies have shown that it could be beneficial to thought, versus a room that is dead silent.

Before your child sits down to work, be sure that all the supplies they will need are readily available at the table. Also be sure that they have used the restroom and that they have a glass of water to drink. Avoiding these potential distractions will save your child time once they begin their homework, as well as preventing breaks in their concentration level.

The amount of assistance you provide your child with their homework, again depends on the child. If you are concerned, consult their teacher for guidance on how much help they should be getting. In general, you should be available to answer questions but not hanging over their shoulder doing the work for them.

It is especially important to not overly assist your child on school projects. Parents tend to put too much emphasis on the quality of their child’s cotton ball igloo or Popsicle stick replica of the White House. Oftentimes, parents end up making it their project and the child loses out on a valuable learning experience.

The most important things to remember when helping your child with their homework is to help them stay organized, provide a comfortable work environment and answer any questions they ask without being too involved.

Thursday, 21 August 2008

Fasting Story

"But, Mum, I do not want to eat. I am a big boy and I can fast," Thabit told his mother.
"But you are fasting, Thabit. 7-year-old children eat in the morning and a little in the afternoon and then they don't eat anything else till evening."
"But you do not fast like that, Mum," the little boy insisted.
"I am older, Thabit. Grownups fast that way."
The young gentleman sat deep in thought and then asked, "Mum, why do we fast?"
"That's a good question, Thabit." She got up and went to the kitchen cupboard. She removed something from it.
"Do you know what this is, Thabit?"
"It's a blender."
"Do you know what it is supposed to do?"
"It blends passion fruit for juice." His mother laughed. "Yes, it does blend. Our body does the same thing. It grinds the food we eat; it takes what it needs and removes the rest. It does this everyday, day in day out."
"Doesn't the body get tired, Mum?"
"It does. Just like the blender. When we have blended juice for too long, it refuses to work. Then it needs fixing. So we have to give our body a rest so it can work better for us. That's why we fast in Ramadan and some other days in the year."
"Does everybody fast, Mummy?"
"Not everybody. If you are ill or expecting a baby or if you are old and weak like Daddy's grandpa or if you are 7 years old then you don't fast.
The little boy thought some more. He ate the food his mother had set before him without much fuss. "What if you don't want to fast?"
"What is your sister Nur's favorite color?" "Pink".
"And what is the color of her uniform for Madrassa (School)?" "Blue".
But she says she'd like to wear her pink hijab when she goes."
"And why doesn't she?"
"She is afraid Ustaadh (Teacher) will punish her."
"You see, she was afraid Ustaadh would punish her. Ustaadh will punish her because she has broken the rule of the madrassa by wearing pink.
You see, Thabit, Allah knows what is good for us and so we have to do as He commands, because He sees and knows everything. We love Him and fear Him and we don't want Him to be displeased with us."
"But don't you get hungry, Mum?"
"Of course we do. But we keep ourselves busy on other important things to take our mind away from the food. We read the Qur'an, or we visit the sick people or we go to the mosque and listen to dars. You see there's plenty to do and before you know it, it's time to eat!"
"Is there another reason why Muslims fast?"
"Yes. You are lucky, Thabit, because you have food everyday. Not everyone has food to eat."
"Like the poor people at Baroda Road?"
"Yes, like them. If we go hungry like them, we will be able to understand that they need help."
The little boy seemed satisfied with the answers, his mother had given him. "Mum, can I go with you and Daddy to help the poor?" "By the Grace of Allah, you can."

http://www.ezsoftech.com

Wednesday, 20 August 2008

Ramadhan Tips For Muslim Family

Ti01. Buy all necessities for the month of Ramadan before Ramadan so you can spend less time during the holy month rushing around. You can be more focused on your religious rituals and spiritual development. Everyone in the family, even the kids, can participate, writing a shopping list, preparing some meals to be stored in the freezer.

02. If you have gotten into bad sleeping habits throughout the year, start readjusting now so you can wake up for Fajr prayer.

03. Sunnah fasts of Shaaban (the month before Ramadan) help to prepare for Ramadan and help to make the transition into the holy month a smooth one.

04. Reduce TV watching and prepare the family for the new spirit of Ramadan. Engage with your kids more and more in creative activities that remind them of Ramadan. (Suggested activities including reading the moral story books in group).

05. Organize your tape/CD collection to make it easy to select and to play nice nasheed (Hamd/Naat) to sing along together or Quran and Dua recitation, so as to introduce the spirit of the month gradually.

06. Plan ahead for the time you are spend at home in order not to lose the balance between your responsibility as a parent to supervise the children's studies and your engagement in religious practices such as reading Quran and praying Salat.

07. Plan ahead if your daughter needs a hijab to accompany you to the mosque. If possible, get shoes for the kids that are easy to tie when they leave the mosque. Do you or the kids need prayer rugs for prayer? Plan transportation to the mosque and back home.

08. Prepare as much cooking as you can before Ramadan. Here are some time-saving tips:

Prepare some vegetables and store them in the freezer to have them ready when needed.
If you soak dates in milk or water and eat them for Iftar, pit the dates before Ramadan.
Chop onions, garlic and store them in the freezer to have them ready when cooking during Ramadan.
09. If you are planning to invite guests for Iftar, the best time to do that is during your monthly period (menstruation). This has several advantages:

You will be able to taste the food that is going to be served.
You won't be engaged in some acts of worship so you'll have more time for cooking.
You won't have guilt feelings for staying after 'Isha' with the guests and not going to the mosque.
10. Prepare your kids before Ramadan that they have to help you more in housework and in setting the table and preparing the Iftar. Relate their action with the notion of Sadaqah and good deeds. Remind them that the reward of their good deeds is multiplied during Ramadan.

Wednesday, 13 August 2008

PLAY IS ESSENTIAL FOR CHILDREN

Joan Packer Isenberg and Nancy Quisenberry

Children are growing up in a rapidly changing world characterized by dramatic shifts in what all children are expected to know and be able to do. Higher and tougher standards of learning for all populations of students are focusing on a narrow view of learning. Consequently, students have less time and opportunity to play than did children of previous generations. Few would disagree that the primary goal of education is student learning and that all educators, families, and policymakers bear the responsibility of making learning accessible to all children. Decades of research has documented that play has a crucial role in the optimal growth, learning, and development of children from infancy through adolescence. Yet, this need is being challenged, and so children's right to play must be defended by all adults, especially educators and parents. The time has come to advocate strongly in support of play for all children.

Tuesday, 12 August 2008

MANFAAT SEDOTAN

Dari milist tetangga...

Suatu ketika saya dengan teman-teman sedang makan sate. Kemudian seorang teman menyatakan betapa ia ngeri setiap melihat sate yang potongannya besar-besar.
"Kenapa?" tanya saya
."Saya ingat keponakan yang meninggal karena makan sate," katanya.

Dia bercerita, waktu itu sedang ada syukuran dengan makan-makan. Dia masih ingat melihat si kecil keponakannya yang berlari-lari sambil membawasate. Usianya sekitar 4 tahun. Kemudian musibah datang. Anak kecil itu tercekik daging sate.

Semua orang berusaha menolong. Anak itu dibalik, dipukul-pukul belakang lehernya (bahkan sampai biru-biru, kata dia sambil matanyaberkaca-kaca) . Daging sate tak juga keluar. Lalu mereka mencari angkot untuk membawa anak itu ke rumah sakit. Dia masih melihat anak kecil itu tersengal-sengal menarik nafas di kendaraan.

Pemandangan yang sungguh memilukan.Tuhan berkehendak lain. Anak itu meninggal di perjalanan. Sampai di rumah sakit, petugas memberi tahu bahwa untuk mengeluarkan benda yang mencekik tenggorokan, cukup dengan memasukkan SEDOTAN MINUM ke kerongkongan.

Lalu hisap sehingga benda itu menempel..
Lalu tarik.
Sesederhana itu.
Menangislah semua orang.
Betapa sederhananya untuk menyelamatkan nyawa. Betapa berharganya ilmu untuk menyelamatkan nyawa. KALAU ANAK ANDA TERCEKIK MAKANAN KENYAL, keluarkan PAKAI SEDOTAN!

Semoga lebih banyak jiwa yang terselamatkan dengan pengetahuan sederhana ini. Amin.

Wednesday, 2 July 2008

Anak Indigo

Rekan-Rekan yang Berbahagia:
Dengan pasti saya bisa menyatakan saat ini bahwasistem pendidikan formal yang kita miliki, dari SD sampai dengan Perguruan tinggi, tidak mampu untuk mendidik anak indigo. Anak Indigo adalah sebagian dari mereka lahir diperiode tahun 1980-an dan memiliki aura berwarna nila dengan ciri-ciri kemampuan spiritual bawaan dan sikapnon-kompromistis terhadap segala sesuatu yang dinilainya bersifat pemaksaan.

Penelitian tentang fenomena anak indigo ini dimulai oleh seorang psikologdi Amerika Serikat, dan setelah itu diteruskan oleh media massa di AS dan negara-negara maju lainnnya, yang akhirnya memunculkan "boom" indigo dengan segala komersialismenya. Di Indonesia, Mbak Maria Hartiningsih, seorangpsikolog, adalah orang pertama yang menyorot fenomena ini dalam sebuah artikel yang lumayan besar di harianKompas (Mbak Maria adalah seorang redaktur Kompas). Dengan bekal hubungan pribadi yang cukup intens denganVincent Liong selama periode waktu yang cukup lama, Mbak Maria percaya bahwa Vincent Liong, yang menjadi studi kasus di artikelnya itu adalah seorang anak indigo.

Dr. Erwin Kesuma, Sp.A, seorang psikiater anak diRumah Sakit Angkatan Darat (RSAD) Gatot Subroto dan Klinik Provita kemudian memperoleh banyak pertanyaan dari wartawan dan wartawati berbagai media massa yang melihat adanya sesuatu yang bisa menghebohkan disana. Heboh karena anak-anak indigo ini bisa menggunakankemampuan supranatural mereka untuk hal-hal tertentu. Untuk kemanusiaan, tentu saja: berupa penyembuhan, terawangan, dan sebagainya yang, kita tahu selalu menempati posisi cukup menarik perhatian bagi masyarakat kita yang relijius ini. Dr. Erwin inilah yang kemudian dinobatkan oleh media massa sebagai seorang dokter ahli indigo. Tetapi, Dr. Erwin tidak mau memberikan pernyataan tertulis bahwa anak tertentu adalah seorang anak indigo. Saya pernah bertanya langsung kepada Dr.Erwin, dan ia menjelaskan dengan tegas bahwa yang diperlukan hanyalah mencocokkan ciri-ciri yang muncul di seorang anak dengan daftar dari ciri-ciri anakindigo yang akan diberikan oleh Dr. Erwin kepada siapa saja yang meminta. Apabila banyak ciri-cirinya yang cocok, maka bolehlah anak itu disebut sebagai seoranganak indigo.

Apakah Vincent termasuk anak indigo menurut Dr. Erwin? Dari percakapan antara saya dengannya, saya bisa melihat bahwa memang demikianlah anggapan dia dan para staf Klinik Provita yang banyak menangani anak-anak"indigo". Kata indigo disitu saya tulis dalam tanda kutip karena yang ditangani oleh Klinik Provita adalah anak-anak kecil yang dianggap bermasalah oleh orangtuanya, dan indigo adalah kata yang positif untuk dipakai dalam terapi anak; walaupun sebenarnya anak-anak itu bukan anak indigo. Jadi, telah ada salah kaprah di bidang terapi. Salah kaprah yang agaknya sengaja demi komersialisme (tapi itu soal lain,sehingga saya tidak akan mengulasnya disini). Sejak saat itu sampai sekarang, sudah cukup banyak liputan media massa tentang anak-anak indigo.

Terakhir saya dengar Anissa (seorang anak indigo berusia 6 tahun yang berbicara dengan Bahasa Inggris kepada semua orang walaupun kedua orang-tuanya asli Indonesia) juga muncul di "Dorce Show". Itu acara entertainment untuk publik yang haus hiburan, tentu saja. ---Sampai saat ini saya tidak melihat adanya sesuatu yang positif muncul dari berbagai liputan media massa tentang anak-anak indigo ini. Dari seminar yang diadakan oleh Metafisika Studi Club, tindak lanjutnya juga nihil. Kalaupun ada, paling jauh adalah penerimaan secara pasif bahwa anak-anak indigo itumemiliki kemampuan supranatural untuk membantu sesama. Cuma itu saja.

Sistem pendidikan formal kita juga belum pernah memberikan pernyataan resmi tentang apa yang akan dilakukannya terhadap anak-anak indigo yang tentu saja harus bersekolah.
1) Apakah anak indigo harus mengikuti sistem pendidikan formal biasa walaupun tersendat-sendat?
2) Apakah sistem pendidikan kita yang harus mengakomodasi anak indigo dengan keharusan menciptakanSLB (Sekolah Luar Biasa) bagi anak-anak indigo?
3) Apakah anak indigo harus dimengerti sebagai anak-anak dengan kemampuan di atas normal atau dibawah normal?
4) Apakah sebaiknya dibuat suatu kompromi antarasistem pendidikan umum kita untuk mengakomodasianak-anak indigo? Kompromi disini berarti akomodasi"middle ground". Bukan penciptaan SLB, tetapi program khusus di sekolah-sekolah biasa (dari SD s/d PerguruanTinggi). Program khusus untuk mengakomodasi anak-anak indigo disistem pendidikan kita tidak harus berarti penciptaan program yang mahal dengan SDM (Sumber Daya Manusia) yang canggih. Khusus itu tidak berarti harus mahal. Saran saya sebagai seorang pengamat indigo adalah penciptaan program khusus yang bersifat manusiawi, dan murah dari segi biaya. Cukup disediakan beberapa orang SDM yang secara bersamaan menangani seorang anak indigo di jenjang pendidikan tertentu. Dua atau tiga orang pengajar untuk secara bersamaan menangani seorang anak indigo; dan dengan komitmen itu, tetap bisa memberikan waktu kepada tugas-tugas mengajar dikelas-kelas biasa. Cuma sedikit ekstra waktu dan sedikit ekstra biaya yang diperlukan untuk melancarkan sistem pendidikan.

Mungkin itu yang bisa dilakukan oleh Fakultas Psikologi, Universitas Atmajaya, untuk menangani kasus indigo pertama di Indonesia. Apapun kebijakan yangakan diambil oleh Fakultas Psikologi, UniversitasAtmajaya, dan apapun hasilnya terhadap Vincent Liong sebagai anak didiknya, itu akan menjadi studi kasus yang bisa dicontoh atau dihindarkan oleh mereka yang bergerak di bidang pendidikan kita di masa datang.

Kalau menangani anak indigo saja tidak bisa, bagaimanapula sistem pendidikan kita akan menangani anak-anak kristal (yang muncul dari antara mereka yang lahir ditahun 1990-an)?

Leonardo Rimba
Penulis adalah seorang pengamat fenomena anak indigo lulusan Universitas Indonesia dan the PennsylvaniaState University, US.

How Preschool Education Helps Brain Development

Morning Greeting
Whenever an adult speaks directly and personally to a preschool child, cascades of impulses go through the child's neurons (nerve cells), which are connected to one another by synapses. The repetition of these kinds of positive early interactions actually helps the brain reinforce the existing connections and make new ones.

Fingerplay
By a couple of months of age, babies can process the emotional contours of language (prosody), which means they tune in to the emotional variations in your voice. (In fact, toddlers can memorize nursery rhymes because rhymes have prosody!) As the preschool teacher raises her voice an octave and draws out her vowels, the child's brain responds by sending even more chemical and electrical impulses across the synapses.

Story time
Early childhood teachers are careful to have small groups for story time so that preschool children are able to get involved and process information. Young children need real interactions in order to learn. As she reads, the teacher will use melodic voice tones to ensure children's involvement and learning.

Free play / Work time
During free play, preschool children interact with one another. As they communicate, whether through beginning language or more sophisticated use of words, the neurons in their brains are making more connections, critical for reinforcing learning.

Snack
Further opportunities for communication lead to the repetition of impulses sent through the brain. The more repetition that goes on, the more the brain grows sure in its understanding. Repetition of language sounds is crucial to brain development.

Circle time
As the early childhood caregiver focuses her attention on each individual child in the large group activity, the child must think about the topic for the day. The child's brain will be active as he/she retrieves from memory something special in her own personal history that she has learned. Each day children reap the benefits of preschool education.


**Brain development information from an article in Scholastic
Parent & Child, by Alice Sterling Honig, Ph.D. April/May 1999

Brain Growth & Development

A peek at the early stages of brain development and how early childhood education encourages brain growth, memory and language development in babies and young preschool children.

At birth, a baby's brain already has 100,000,000,000 cells. This is about the same number of stars in the Milky Way. Unlike the rest of a new baby's body, the brain is not complete at birth. In order to start working, the cells need to communicate with each other. As a baby starts to experience life, connections are made between cells - the more connections there are, the more the brain can do.

A baby's brain develops so fast that by age two a child who is developing normally has the same number of connection as an adult. By age three, a child has TWICE as many brain connections as an adult.

Early milestones in brain growth.
4 months: The infant's brain responds to every sound produced in all the languages of the world.

8 to 9 months: Babies can form specific memories from their experiences, such as how to push a ball to make it roll.

10 months: Babies can now distinguish and even produce the sounds of their own language (such as "da-da") and no longer pay attention to the sounds of language that are foreign.

12 months: Babies whose parents say, for example, "Lookeee at the doggiee," will go to the appropriate picture of a dog in a picture book more often than those babies who are talked to in normal, flatter voices.

12 to 18 months: Babies can keep in memory something that has been hidden and find it again, even if it has been completely covered up. They can also hold memory sequences of simple activities, such as winding up a Jack-in-the-box until the figure pops up.

24 months: Preschool children now have clear pictures in mind of people who are dear to them, and they get upset when separated from these people (even their peers).

30 months: Preschool children can hold in mind a whole sequence of spatial maps and know where things are in their environment.

36 months: A preschool child can now hold two different emotions in his mind at the same time, such as being sad that he spilled ice cream on his clothes but glad that he's at a birthday party.

Tuesday, 1 July 2008

ANAKKU TIDAK MAU MEMBACA

Anakku Tidak Mau Membaca…!
by Mr.Clear

“Gimana ya..? Anak saya nggak mau membaca, hanya suka menggambar dan menggambar!”.

Hal ini kadang kita dengar keluhan dari beberapa orang tua yang merasa sulit untuk mengarahkan anak sesuai dengan yang diharapkan. Seperti halnya contoh kasus diatas. Sesungguhnya kita nggak perlu risau dengan kesukaan anak yang kadang nggak sesuai dengan kita harapkan. Sedangkan kita pingin anak bisa sesuatu yang lain, misal anak suka membaca. Namun kita masih bisa memasukkan hal-hal yang kita inginkan melalui aktifitas kesukaan anak. Misal Anak suka menggambar. Dari menggambar kita bisa mengajarkan membaca secara tidak langsung kepada anak kita dengan cara menyisipkan tulisan pada pada gambar mereka.

“Dede,…Mama pingin tahu nih….apa ya.. nama gambar Dede ini?”, tanya Mama pada suatu Malam.” Ini kan gunung Ma…!”, Jawab Dede. “Oh…Gunung….! Gimana kalau kita beri nama dibawahnya? Supaya Papa atau Nenek kalau lihat gambar Dede, tahu namanya, tanpa harus nanya lagi ke Dede”. Gimana De?”, usul Mamanya. “ Ide yang bagus Ma…”, sahut Dede. “Mama tulis ya….GUNUNG”, kata mama sambil menorehkan tinta ke buku gambar Dede, sambil mengulang beberapa kali “ Ini tulisan GUNUNG dede…”, jelas Mama, tanpa harus memaksa Dede untuk memperhatikan tulisan Mamanya.

Dengan cara menyisipkan tulisan pada gambar anak yang suka menggambar tentu tidak akan mengusik kesukaan anak kita, namun kita bisa mengajarkan membaca secara tidak langsung.Perlahan-lahan tanpa disadari anak, kita telah mengajarkan anak membaca. Hal ini bisa diulang dan diulang, sampai akhirnya anak akan menyukai untuk membaca. Ya….suka membaca! Bukan hanya sekedar bisa membaca.

Ternyata mengajarkan sesuatu pada anak (membaca-misal) tanpa harus kita mengatakan bahwa sedang belajar membaca tapi sedang menggambar. Namun sesungguhnya juga sedang belajar membaca. Sehingga anak tidak merasa belajar membaca, yang merupkan sesuatu yang tidak menyenangkan buat dirinya. Dan tentunya mengajarkan apapun tanpa harus ada unsur paksaan. Karena dikuatirkan ketika ada unsur pemaksaaan, timbul trauma terhadap apa yang dipaksakan. Ketika belajar membaca si anak dipaksa untuk membaca, nungkin anak bisa membaca tetapi tak suka membaca. Bukankah bisa membaca supaya suka membaca? [Mr.Clear]

Hukuman…Bending!
“Si Fulan Bending, karena masuk perpustakaan sementara kakinya kotor..!!”, Perintah salah satu Guru. “ Dan Si Fulan juga bending, karena keluar ruang belajar tanpa alas kaki..!”. Kebiasaaan ini, masih kita jumpai diinstitusi pendidikan masih menerapkan punishment, sebagai bentuk sanksi. Dan lebih parahnya sanksi yang diterapkan tidak “mengarahkan” nalar siswa dengan benar.

Bending, merupakan salah satu olah raga untuk melatih fisik yang cukup baik. Namun,..akan lain maknanya, bila bending ini telah digunakan sebagai salah satu bentuk hukuman yang digunakan oleh Guru/Faslilator ke siswa yang melanggar aturan yang ditetapkan.

Bending, pada dasarnya untuk siswa juga ada manfaatnya agar fisiknya terlatih. Namun apakah tidak cara ain yang tidak dikaitkan dengan hukuman karena sesuatu hal? Misal dimasukkan dalam salah satu acara senam dilakukan tiap pagi yang dilakukan bersama-sama?

Bukankah kita pingin melatih nalar siswa dan juga melatih kesadaran siswa agar melakukan sesuatu bukan karena takut hukuman namun karena kesadaran pada dirinya untuk melakukan sesuatu? Bukankah nalarnya bisa lebih mudah dicerna bila dijelaskan sebab akaibat yang “masuk akal”? Bila sekiranya ruangan perpustakaan kotor karena siswa masuk dengan kaki yang “kotor”, sebagai konsekuensinya si siswa “diajak” membersihkan, akan lebih mudah diterima oleh siswa daripada dikaitkan dengan “hukuman”, bending!. Bila sekiranya, siswa keluar ruangan belajar tanpa alas kaki, bukankah akan lebih baik di jelaskan manfaat menggunakan alas kaki. Misal, kalau ada duri yang terinjak tidak langsung kena kaki, namun masih ada pelindung alas kaki, ketika masuk ruangan yang “bersih”, naggak perlu cuci kaki dulu sehingga bisa langsung masuk ruangan, dll.

Lantas adakah korelasi yang “pas” antara bending dengan pelanggaran siswa yang masuk ruangan dengan kaki yang kotor? Kalaupun ada hubungan, tentunya korelasi yang dipaksakan!!!

Kan lebih bijak bila melatih siswa dengan nalar yang “benar”! Bukan hanya sekedar kepatuhana terhadap suatu aturan karena takut suatu hukuman, namun kepatuhan karena kesadaran! Sehingga ada atau tiada yang mengawasi, akan tetap melakukan aturan yang telah disepakati, the right way!.

Bila sekiranya ada pola didik yang kurang pas, akan lebih terhormat untuk mengoreksi dan menganulir apa yang pernah diterapkan di hadapan para siswa, sehingga mind set siswa bisa terkoreksi walaupun tidak semudah menghapus tulisan yang salah di papan tulis.(Mr. Clear)

Ketika Belajar Berorientasi Nilai…
“Anak-anak , kalau tulisannya semakin banyak, NILAI-nya semakin gedhe lho!”. “Anak-anak kalau tidak mau senam, entar dijemur lho”. Kita mungkin sering mendengar ungkapan yang disampaikan beberapa guru atau pendidik yang mungkin tanpa sadar bahwa yang mereka sampaikan akan berdampak kurang baik. Semula pingin memberikan motivasi, justru merusak mind set siswa.

Ketika mind set siswa telah terbentuk,… belajar atau melakukan kegiatan, hanya ingin mendapatkan nilai gedhe, nilai bagus dan apapun istilah yang dipakai, maka apapun yang dilakukan hanya pingin mendapatkan nilai, sehinga timbullah kasus mencontek, PR dikerjakan pihak lain, dan lain sebagainya. Kenapa ini terjadi, ya…salah satu sebab karena hanya berorientasi nilai. Penting dapat Nilai bagus! Orientasi belajar seharusnya untuk menambah pengetahuan, wawasan maupun ketrampilan. Yang sebelumnya nggak tahu menjadi tahu. Yang sebelumnya pengetahuannya kurang, akan bertambah. Yang sebelumnya kurang terampil, menjadi lebih terampil.

Ketika siswa belajar menulis adalah suatu proses melatih siswa agar terampil menulis. Semakin banyak tulisan yang dihasilkan akan semakin terlatih dan mahir dalam menulis tentunya, bukan karena semata pingin mendapatkan nilai. Nilai akan mengikuti dengan sendirinya. Bila siswa telah terampil menulis tentunya akan semakin banyak tulisan yang dihasilkan, ketika siswa lagi mau menulis. Dengan demikian nilai yang dihasilkan gedhe juga, bila hanya berorientasi jumlah baris tulisan. Manfaat menulis itulah yang perlu dikedepankan bukan supaya dapat Nilai semata.

Senam! Satu,…dua,…tiga,…angkat tangan, bungkukkan badan…!!! Kenapa siswa senam? Kenapa mereka senam? Kalau nggak senam entar kena hukuman,…dijemur! Oh…siswa senam karena takut hukuman. Waoh…luar biasa motivasi yang sedang dibangun. Bukankah senam agar fisik kita lebih sehat? Supaya badan kita lebih fit, lebih sehat, lebih bugar, tentunya salah satu carnya ya…senam! Bukan karena takut hukuman! Kesadaran untuk melakukan sesuatu karena tahu akan tujuannya, tentunya akan lebih baik dan benar dalam berorientasi. Sehinga siswa tahu betul ketika melakukan sesuatu akan tujuan dari aktifitas yang mereka lakukan. Jangan sampai ketika ada yang bertanya, “ Kenapa adik senam?”. Supaya tidak dihukum….Supaya tidak DIJEMUR! “Ha…!”. Emang pakaian,…kok dijemur segala! Berabeh dong! (Mr.Clear)

Nilai Nol, Gimana Ayah?
Setengah jam lagi manggrib akan tiba, ketika Ayah mengucapkan salam dan masuk ke rumah. Irbah dan Hanif sudah siap menyambut kehadiran Ayah yang seharian telah meninggalkan kami untuk menuaikan ibadah, KERJA!

Hanif, biasa kupanggil, adalah Adik Irbah, telah menjulurkan 2 tangannya ke arah Ayah mengisyaratkan untuk minta gendong. Maklum baru berusia 1 tahun 2 bulan. Jadi “belum bisa” ngomong seperti Irbah. Sementara Irbah, menggandeng tangan kiri Ayah, sambil bercerita tentang aktifitas di sekolahan.

“Tadi Irbah, telah bikin kue dari Tanah liat, Ayah tahu nggak supaya tanah liat nggak lengket dengan cetakan?”. Belum sempat Ayah menjawab, udah Irbah jawab sendiri. Kelamaan Ayah jawabnya! “ “Permukaan cetakan diberi pasir sampai merata. Lantas tanah liat yang telah siap dicetak, dimasukan ke cetakkan, sehingga hasilnya sesuai cetakan. Hasil cetakan akan sangat mudah, untuk dilepas dari cetakkan, karena antara cetakan dan tanah liat ada lapisan pasir. Gitu Ayah”.

“ Oh begitu ya….Hebat dong! Ayah mandi dulu ya…!. Entar setelah sholat maggrib jama’ah, Irbah boleh cerita lagi. Gimana?”, pinta Ayah. “Oke Ayah”, sahut irbah.

Setelah sholat maggrib dan makan malam, Irbah cerita lagi. “Kata Bu Guru, kalau nggak ikut kegiatan akan dapat nilai NOL. Gimana nih Ayah? Setahu Irbah kan, kita ikut kegiatan ataupun belajar kan bukan untuk mendapatkan nilai aja. Tapi karena kita suka terhadap kegiatan itu, dan pingin nambah pengetahuan. Jadi bukan semata dapat nilai?”, Protes Irbah sebelum Ayah menjawab.

“Memang betul kata Irbah, Irbah sekolah, belajar, ikut kegiatan apapun supaya pengetahuan atau pengalaman bertambah. Bukan hanya semata mendapatkan nilai… Nilai itu akan mengikuti dengan sendirinya. Bila Irbah belajar dengan rajin, pengetahuan Irbah bertambah. Bila Irbah ikut kegiatan, pengalaman dan pengetahuan Irbah juga nambah.” Jadi bukan karena pingin mendapatkan nilai sehinga Irbah ikut kegiatan, tapi karena Irbah suka dan pingin nambah pengetahuan dan pengalaman. Jadi ikut kegiatan Irbah bukan karena NILAI . Oke Irbah!”, cerita Ayah. “ Oke Ayah!”, jawab Irbah.

Setelah dngobrol dengan Ayah, Irbah masuk kamar nonton TVIQ. Asyik Lho! Dah…!!!

Accelerated Learning

Setiap informasi yang yang masuk akan melalui sistem limbik. Bila kondisi individu yang menerima info dalam kondisi FUN, NYAMAN, SANTAI dan sesuai cara belajarnya, maka informasi akan diteruskan ke masing-masing “pintu” belahan otak (NEOKORTEKS) sesuai dengan cara belajar masing-masing individu. Informasi akan menetap di belahan otaknya masing-masing. Pembelajaran akan berlangsung efektif dan alamiah.

Enak kan …kayak main spon di celupkan ke air aja

Namun bila kondisi belajar tidak FUN atau tidak sesuai dengan cara belajar masing-masing individu, informasi tsb akan diteruskan ke batang otak, dengan kata lain informasi tsb “dibuang”.

Aduh…kacian amat jadi tak berarti,…buang waktu dan tenaga …:)

PG/ TK SMART BEE - Children Education

My photo
Based on Islamic system. We commit to be partner for parents to provide educated play ground for their beloved children. Contact us: Jl.Danau Maninjau Raya No.221, Ph 62-21-7712280/99484811 cp. SARI DEWI NURPRATIWI, S.Pd