Sunday, 28 February 2010

Budaya Menabung Di Smart Bee



Tak mau kalah dengan orang dewasa, bocah-bocah kecil yang masih duduk di bangku Play Group dan Taman Kanak-kanak (TK) pun kini telah memiliki rekening pribadi. Mereka adalah siswa/i PG & TK Islam Smart Bee yang berlokasi di Jalan Danau Maninjau Raya No 221 Depok Timur.

"Kami ingin menanamkan budaya menabung sejak kecil dengan memperkenalkan kepada siswa bagaimana caranya menabung di Bank dengan rekening pribadi masing-masing," ujar Ummi Dewi, Kepala Sekolah PG dan TK Islam Smart Bee.

Sejak Tahun Ajaran 2009/2010, setiap siswa PG& TK Islam Smart Bee akan mendapatkan Tabungan Simpatik dari Bank Syariah Mandiri. Dengan memiliki rekening sendiri, anak-anak diharapkan memiliki semangat yang tinggi untuk menabung.
Salah satu persyaratan untuk membuka tabungan adalah menyertakan foto kopi kartu identitas diri. Karena para siswa masih dibawah umur, maka orangtua siswa lah yang membuka rekening tersebut. Namun nama yang tertera pada buku Tabungan Simpatik ditambahi dengan QQ nama siswa yang bersangkutan. Seperti contoh, ananda Omar Sheif siswa Giant Bee Club. Pada buku Tabungan Simpatik Ananda Omar tertera nama: Ida Fitri QQ Omar Sheif/SB. Khusus untuk siswa TK B, siswa menulis sendiri jumlah uang yang disetorkan dan juga menulis nama mereka di kolom tanda tangan. Mereka juga diajarkan untuk mengantri ketika menyetorkan uang tabungannya. Alhamdulillah, kegiatan tersebut berjalan dengan lancar.

Kunjungan Siswa TK ke Bank Syariah Mandiri (BSM) untuk menyetorkan tabungannya sendiri dilakukan mulai tanggal 12 Februari-12 Maret 2010. Setiap kelas didampingi oleh wali kelasnya melakukan kunjungan ke BSM untuk menyetorkan sendiri uang tabungan mereka selama sebulan yang lalu. Pengenalan bank ini hanya berlaku untuk siswa TK saja, sementara untuk siswa PG uang tabungan disetorkan ke Bank oleh TU Sekolah.

Berbagai macam polah tingkah laku anak-anak yang berkunjung ke BSM, yang kadang mengundang senyum nasabah lain yang ada di banking hall. Seperti halnya saat kunjungan Big Bee Club ke BSM Kantor Kas Depok 2 pada tanggal 25 Februari yang lalu. Saat selesai menabung ada salah satu siswa yang tingkahnya membuat kita tertawa geli. Setelah ia menerima buku tabungannya yang sudah di print oleh teller bank, kemudian sambil menunggu temannya yang masih mengantri, apakah yang ia lakukan? Tertanya ia masuk ke dalam kolong kursi costumer service untuk bersembunyi dari teman-temannya. Setelah ditegur oleh gurunya, ia bergaya seolah-olah seperti abang tukang becak yang sedang mengayuh becaknya. Ada juga anak yang mencari perhatian karyawan BSM entah itu CS, teller maupun kepala kantor kas BSM Depok 2. Tapi kenapa ya, mereka tidak berani dekat-dekat petugas security?

Anak-anak sangat senang sekali berkunjung ke BSM, bahkan ada siswa yang merajuk kepada orangtuanya untuk pergi menabung ke BSM lagi setiap hari. Semoga kami bisa membantu program pemerintah untuk membudayakan menabung.

Sunday, 21 February 2010

Risiko Alergi Pada Anak Bisa Dicegah Saat Ibu Mengandung

Fukuoka, Anak yang baru lahir kadang memiliki napas yang berbunyi seperti tersengal-sengal atau memiliki eksim karena alregi. Untuk mencegah alergi tersebut bisa dilakukan sejak ibu mengandung.

Bagi ibu hamil banyak-banyaklah mengonsumsi sayuran dan buah. Cara ini dapat menurunkan kemungkinan memiliki bayi dengan alergi tertentu.

Dr Yoshihiro Miyake dan rekannya dari Fukuoka University di Jepang menemukan asupan sayuran hijau dan kuning serta buah-buahan yang mengandung beta karoten tinggi (umumnya berwarna merah dan oranye) dalam jumlah yang banyak dapat mengurangi risiko memiliki bayi dengan gangguan kulit seperti eksim (gatal, kulit kering dan merah-merah di kulit).

Makanan yang mengandung vitamin E dengan kadar tinggi seperti dalam beberapa sayuran hijau juga dapat mengurangi risiko memiliki bayi dengan napas tersengal-sengal.

Hasil penelitian ini telah dilaporkan dalam jurnal Allergy. Beta karoten dan vitamin E adalah dua zat yang banyak terdapat di sayuran dan memiliki antioksidan yang bermanfaat untuk kesehatan.

"Tetapi mengenai hubungan konsumsi antioksidan pada ibu yang hamil dengan mencegah anak memiliki alergi tertentu masih dalam tahap penelitian dan belum bisa diambil kesimpulan," ujar Miyake, seperti dikutip dari Reuters, Senin (22/2/2010).

Dalam penelitian ini tim Miyake mengevaluasi asupan sayur dan buah selama hamil dari 763 perempuan dan mendeteksi ada atau tidaknya alergi pada keturunanya. Para perempuan yang berusia 30 tahun dan rata-rata hamil sekitar 17 minggu akan melaporkan riwayat kesehatan pribadinya.

Tim Miyake menemukan bahwa sebesar 21 persen anak-anak memiliki napas yang berbunyi seperti tersengal-sengal dan sebesar 19 persen memiliki eksim. Dan didapatkan ibu-ibu yang mengonsumsi banyak sayuran dan buah dengan kandungan beta karoten tinggi sedikit yang memiliki anak eksim.

Asupan vitamin E yang tinggi selama kehamilan telah dikaitkan dengan kemungkinan kecil anaknya memiliki napas yang tersengal-sengal. Hasil temuan ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh peneliti dari Amerika Serikat dan Inggris.

Peneliti menyimpulkan meningkatkan asupan sayuran dan buah berwarna hijau serta kuning, buah jeruk dan yang mengandung antioksidan seperti beta karoten dan vitamin E selama hamil, bisa menjadi langkah yang mungkin efektif untuk mencegah adanya gangguan alergi pada anaknya.


www.detik.com

Wednesday, 17 February 2010

Hindari Sinar Matahari Saat Anak Terkena Sakit Cacar

Jakarta, Anak-anak lebih gampang terkena penyakit cacar dibandingkan orang yang lebih dewasa. Selama terkena cacar air anak sebaiknya di karantina di dalam rumah dan hindari sinar matahari.

Selama masih mengalami infeksi, penting buat orangtua untuk menghindari anak dari sinar matahari karena kulit akan menjadi lebih rentan untuk terbakar. Selain itu paparan sinar matahari dapat meningkatkan risiko jaringan parut.

Jika anak terlalu banyak menghabiskan waktu di bawah sinar matahari akan memicu suhu panas tubuh dan mengeluarkan keringat, akibatnya akan memuat cacar air yang ada di tubuh menjadi lebih gatal. Hal ini akan memicu anak untuk menggaruknya dan membuat proses penyembuhannya menjadi lebih lama. Sebaiknya, jika sangat mengganggu, lap keringat di tubuh anak dengan menggunakan waslap basah untuk meringankannya.

Ada orangtua yang takut anaknya terkena air sehingga melarang anaknya mandi saat terkena cacar. Tapi menurut dokter mandi bisa dilakukan asalkan tidak menggosok kuat-kuat dan langsung dikeringkan. Bisa juga dengan menggunakan lap basah.

Cacar air adalah penyakit yang umum terjadi pada anak usia di bawah 12 tahun. Gejala yang timbul berupa gatal ruam yang dapat muncul di seluruh tubuh dan disertai dengan gejala flu. Karena infeksi yang terjadi bisa menular, maka anak yang terinfeksi harus tinggal di rumah dan beristirahat hingga gejalanya hilang.

Seperti dikutip dari Kidshealth, Kamis, (18/2/2010) penyakit cacar air disebabkan oleh infeksi virus varisela-zoster (VZV), untuk melindunginya biasanya anak kecil diberikan vaksin varicella saat usia 12-15 bulan. Namun vaksin ini bisa diberikan secara berulang saat anak berusia 4-6 tahun untuk memberikan perlindungan lebih lanjut.

Seseorang biasanya hanya mendapatkan satu kali cacar air, namun VZV bisa tertidur di dalam tubuh dan menyebabkan penyakit kulit baru di kemudian hari yang disebut dengan herpes zoster. Vaksin cacar yang diberikan bisa memberikan perlindungan yang signifikan bagi anak.

Ruam cacar yang terjadi di kulit bisa bertambah luas atau berat jika anak memiliki kelainan kulit lain seperti eksim. Beberapa anak biasanya mengalami demam, sakit perut, sakit tenggorokan, sakit kepala atau badan yang sakit selama 1-2 hari sebelum ruam tersebut muncul.

Pada beberapa kasus didapatkan anak-anak yang lebih muda akan memiliki gejala yang lebih ringan dan lebih sedikit dibandingkan anak yang lebih tua atau orang dewasa. Sebaiknya anak yang terkena cacar beristirahat di dalam rumah dan hindari kondisi lingkungan yang panas dan dapat memicu keringat, karena akan membuat cacar air semakin gatal.

Untuk proses penyembuhannya, berilah anak makanan bergizi dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C. Bekas cacar air biasanya cenderung meninggalkan bekas, tapi jika terjadi pada anak proses regenerasi kulitnya akan lebih mudah sehingga bekas luka bisa hilang. Lakukan imunisasi cacar agar anak mempunyai kekebalan tubuh.


www.detik.com

Tuesday, 16 February 2010

Mana Lebih Baik untuk Bayi, Dot atau Ibu Jari?

Jakarta, Bayi memiliki kebutuhan kuat untuk mengisap, ini dikarenakan bayi mengisap ibu jarinya ketika masih berada di dalam rahim. Bagi bayi mengisap adalah hiburan yang sangat menyenangkan.

Tapi kini banyak orangtua yang memberikan dot pada bayinya. Saat bayi menangis tak sedikit ibu yang buru-buru memasukkan dot ke mulut si bayi untuk menghentikan tangisannya.

Sebenarnya mana yang lebih baik, menggunakan dot atau ibu jari? Ternyata keduanya memiliki plus minus yang berbeda. Tapi keduanya lebih baik digunakan untuk kondisi darurat jangan menjadi kebiasaan karena keduanya punya efek buruk.

Seperti dikutip dari The Baby Book karangan William & Martha Sears, Selasa (16/2/2010) sebaiknya dot atau menghisap ibu jari digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat mendesak dan bukan untuk menggantikan cara pengasuhan.

Bagaimanapun ketika menangis, bayi jauh lebih suka jika dirinya diangkat dan digendong dibandingkan dengan pemberian dot.

Membiarkan anak mengemut ibu jari memang paling mudah dilakukan. Ibu jari tidak mungkin kotor atau jatuh ke lantai dan rasanya lebih baik bagi bayi karena bayi dapat melakukan penyesuaian posisi sesuai dengan kebutuhannya. Yang perlu diperhatikan adalah kondisi dan panjangnya kuku agar tidak melukai langit-langit mulutnya.

Tapi efek buruknya, jika terlalu sering mengisap ibu jari akan sulit menghilangkan kebiasaannya hingga masuk ke taman kanak-kanak.

Bukan berarti penggunaan dot lebih baik, karena dot lebih mudah hilang, kotor dan sumber dari berbagai mikroorganisme. Jika dot digunakan saat bayi masih mendapatkan ASI eksklusif, maka hal ini dapat menyebabkan bayi mengalami bingung puting yang nantinya menghambat kelancaran pemberian ASI. Meski begitu menghilangkan kebiasaan penggunaan dot bisa lebih mudah dibandingkan dengan ibu jari.

Beberapa bayi ada yang sensitif terhadap dot terutama dari tekstur, rasa dan baunya. Selain itu dot memiliki dasar yang sempit sehingga bayi hanya membuka sedikit mulutnya yang dapat mengakibatkan daya isap bayi berkurang.

Tapi para ahli menyarankan agar kebiasaan memberikan dot atau menghisap ibu jari dilakukan seperlunya saja.
Jika dot atau menghisap ibu jari digunakan terus menerus bisa berakibat buruk pada struktur giginya dan menjadi lambat bicara karena terlalu asyik mengedot atau menghisap ibu jari.

Menyusui adalah salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan mengisap si bayi dan terhindar dari kebiasaan menghisap ibu jari atau penggunaan dot.


www.detik.com

Antibiotik untuk Bayi Harus Dipantau Ketat

London, Penggunaan obat antibiotik untuk mengobati infeksi tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Para ahli memperingatkan dokter dan suster untuk lebih berhati-hati dalam memberikan antibiotik dosis tinggi pada bayi.

Pemberian yang sangat hati-hati ini berkaitan dengan masalah keselamatan dan kesehatan si bayi nantinya.
Penggunaan obat antibiotik dengan tidak benar pada usia muda berisiko menyebabkan kerusakan ginjal atau kehilangan pendengaran.

Pemberian antibiotik yang terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat mempengaruhi efektivitas dan toksisitas dari obat itu sendiri.

Pedoman baru yang dikeluarkan Badan Nasional Keselamatan Pasien (NPSA) Inggris menyarankan bahwa staf kesehatan tidak boleh terganggu saat menyiapkan dan mengelola pemberian antibiotik. Selain itu ketika obat resep dokter sudah diberikan, maka dokter harus melakukan pemantauan selama 24 jam untuk menghindari kekeliruan.

Jika pengobatan diberikan melalui infus, maka obat harus diberikan secara berkala dan kadar obat dalam darah harus dipantau secara konsisten.

Pedoman ini diterapkan untuk menghindari terjadinya kerusakan atau efek keracunan akibat dosis obat yang berlebihan, serta meminimalkan efek samping jangka pendek yang mungkin muncul dari antibiotik tersebut.

"Pedoman ini untuk memastikan standar tinggi dalam pemberian resep dan pengawasan penggunaan obat antibiotik yang kuat pada bayi atau usia muda," ujar Jenny Mooney dari NSPA, seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (16/2/2010).

Antibiotik yang diberikan harus aman bagi bayi yang sedang sakit agar reaksi merugikan yang mungkin timbul dapat diminimalisir. Karenanya orangtua juga harus diberitahu mengenai kemungkinan risiko dari setiap perawatan yang diberikan pada bayinya.

"Karena daya tahan tubuh bayi belum terbentuk secara sempurna sehingga setiap tindakan yang diambil harus dipikirkan mengenai risikonya," katanya.

Seperti dikutip dari Irishhealth, antibiotik adalah kelompok obat yang digunakan untuk mengobati berbagai infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Namun antibiotik tidak akan efektif terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus.

Jika seseorang mengalami sakit tenggorokan atau flu yang disebabkan oleh virus, maka pengobatan dengan antibiotik hanya sedikit atau tidak memiliki peran sama sekali. Karena sebenarnya penyakit yang disebabkan oleh virus bisa hilang dengan sendirinya jika memiliki daya tahan tubuh yang kuat. Jadi jika dokter memberikan antibiotik untuk sakit flu itu suatu kekeliruan.

Beberapa antibiotik hanya efektif terhadap bakteri tertentu saja, sebagai contoh antibiotik penisilin bisa diresepkan untuk sakit tenggorokan akibat bakteri streptokokus. Meresepkan antibiotik tergantung dari letak dan tipe dari infeksi yang muncul.

Bakteri memiliki kemampuan untuk mengalami resistensi atau kebal terhadap antibiotik, sehingga penggunaan antibiotik tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Namun antibiotik akan memiliki potensi yang efektif jika digunakan secara tepat.

Beberapa antibiotik ada yang menimbulkan efek samping seperti mual, muntah atau diare akibat perubahan keseimbangan bakteri di dalam usus. Namun jika efek samping yang ditimbulkan lebih dari itu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui apakah antibiotik yang dikonsumsi harus diganti atau tidak.


www.detik.com

Sunday, 14 February 2010

Kehidupan Bayi di 6 Bulan Pertamanya

Jakarta, Bayi usia 0-6 bulan mengalami banyak perubahan dalam kehidupannya dibandingkan periode pertumbuhan lainnya. Apa saja yang terjadi pada bayi baru lahir hingga usia 6 bulan pertama?

Pada periode 6 bulan pertama perubahan yang terjadi seperti berat badan bayi meningkat, mengalami kemajuan dalam tingkah lakunya, kematangan proses berpikir bayi serta mulai bisa memberikan tanggapan terhadap refleks tertentu.

Seperti dikutip dari The Baby Book karangan William dan Martha Sears, Kamis (11/2/2010), inilah perkembangan yang terjadi di 6 bulan pertama kehidupan si bayi, yaitu:

Bulan Pertama
Pada tahap ini bayi hanya membutuhkan lengan ibu untuk menggendongnya. Ketika bermain dengan bayi yang baru lahir ototnya akan terasa seperti pegas, yaitu saat mencoba membuka genggaman tangan secara otomatis akan kembali seperti semula.

Selain itu suara berderak yang timbul disekitar lutut dan siku adalah normal, karena ikatan persendiannya seperti karet dan masih longgar. Jika bayi mudah terkejut, gendonglah ia dengan kain atau selimuti sehingga gerakan otot yang tersentak teratur kembali.

Bayi yang baru lahir lebih suka mendengar suara ibunya dibandingkan ayah. Bayi yang tidur memiliki kemampuan memblokir suara-suara yang dapat mengganggunya.

Kebanyakan gerak bayi yang baru lahir dilakukan secara refleks dan bayi bertingkah laku sebelum berpikir. Pada saat ini juga perkembangan penciuman bayi berkembang pesat, bayi bisa mengenali orang-orang disekitarnya terutama ibu melalui baunya. Senyuman bayi menandakan perasaan senang di dalam hatinya.

Bulan Kedua
Bulan kedua adalah saatnya si bayi menampilkan dirinya sendiri. Bayi mulai membuka tangannya untuk menyapa, membuka mata untuk memperluas penglihatannya serta melebarkan mulutnya untuk tersenyum atau mengeluarkan suara. Bayi akan sangat tertarik dengan mimik wajah sehingga ia cenderung untuk menirunya. Karena pada usia ini bayi mulai menunjukkan minatnya pada dunia luar karena sudah dapat melihat lebih jelas dibanding sebelumnya.

Bayi berusia 2 bulan lebih mudah dimengerti, bayi akan seringkali tersenyum yang sebaiknya dibalas pula oleh senyuman ibunya serta tangisannya mulai terpola dan memberi isyarat tertentu. Si kecil juga sudah mulai menunjukakn suasana hatinya melalui suara dan sikap tubuh. Suara yang dikeluarkan adalah "uh" atau "ah" diikuti senyum yang mengembang.

Genggaman tangan yang erat mulai mengendur dan jari tangannya mulai terbuka. Bayi suka menggenggam sesuatu baik mainan atau tangan ibunya, untuk melepaskannya bisa dengan mengelus punggung tangan bayi. Gerakan tangan bayi memang belum terarah dengan baik, karenanya orangtua tetap harus waspada.

Bulan Ketiga.
Lengan dan kaki bayi mulai mengendur dan menjadi rileks. Saat usia ini tangan bayi sangat terampil dan kekuatan menggenggamnya bertambah, semakin mudah dan ringan objek yang pegang akan semakin lama digenggamnya maka tak jarang rambut atau pakaian ibu kena genggaman si kecil. Selain itu bayi akan memperhatikan secara detail setiap objek yang dilihatnya.

Bayi cenderung mulai bisa mengeluarkan suara lebih lama dengan vokalisasi yang lebih kencang. Cobalah untuk membaringkan bayi pada posisi telungkup dan mengajaknya berbicara, ini berguna untuk membantunya memperkuat otot agar dapat mengangkat kepalanya. Bayi akan mengangkat kepalanya setinggi 45 derajat dan mengikuti percakapan visual empat mata, bayi mulai bisa menahan kepalanya untuk beberapa saat.

Posisi lainnya adalah menggendong bayi dalam posisi berdiri dengan menyandarkan dadanya di dada sang ibu. Sebagian besar bayi lebih suka diletakkan di lantai untuk menikmati permainan bebasnya. Selain itu bayi juga mulai mempelajari gerakan sebab-akibat karena otaknya sudah mulai berkembang.

Bulan Keempat
Usia ini disebut dengan tahap interaktif, karena kemampuan bayi bersosialisasi, berbicara dan bergerak sudah lebih matang. Bayi memiliki kemampuan penglihatan binokular yaitu dapat menggunakan kedua matanya, memiliki pandangan yang jauh serta mampu menilai secara akurat jarak antra mata dan obyek yang dilihat. Kepala bayi akan mengikuti gerakan mata sehingga keduanya bergerak secara bersamaan.

Selain itu bayi juga mulai aktif memainkan tangannya dengan cara membuat kepalan dan mengisap jarinya untuk mengurangi gusi yang sakit saat tumbuh gigi. Gerakan bayi mulai meningkat yaitu bayi dapat berguling dari telungkup ke telentang atau sebaliknya dengan usaha sendiri. Pada usia 4 bulan bayi mulai merasa tidak nyaman karena sudah ada tanda-tanda tumbuh gigi seperti air liur menetes, mengisap jari atau memainkan puting ibunya.

Bayi suka sekali dengan permainan yang menyenangkan seperti cilukba, bermain dengan jari dan cermin atau kitik-kitik. Tiga posisi yang terjadi di usia 4 bulan adalah kepala dan dada yang terangkat, duduk dengan bertopang serta berdiri untuk pertama kali.

Bulan Kelima
Usia 5 bulan bayi mulai bisa memegang satu benda dengan menggunakan tanganya serta dapat menjangkau barang yang jaraknya hanya sepanjang lengannya. Benda yang dipegangnya akan berpindah ke tangan yang satu atau masuk ke mulutnya. Aktivitas yang disenangi bayi 5 bulan adalah gerakan kapal terbang, yaitu bayi tengkurap sambil mengepakkan tangannya, mengayuh kaki serta menggoyangkan perutnya.

Bulan lalu bayi hanya bisa mengangkat kepala dan dada, tapi sekarang bayi sudah bisa mengangkat seluruh sikunya. Jika bayi sedang dipangku, maka ia suka menunduk dan menjulurkan lehernya untuk memegang dan bermain dengan kakinya. Dan bayi bisa duduk sendiri tanpa ditopang atau bersandar, kemampuannya ini memungkinkannya untuk duduk sendiri di kursi bayi.

Permainan yang menarik adalah dengan menggunakan guling kecil. Tengkurapkan bayi di atas guling kecil sambil memegang kakinya atau membaringkan bayi di atas guling kecil akan membantu melatih batang tubuh, kepala dan jangkauannya.

Bulan Keenam
Bayi usia 6 bulan mulai belajar untuk duduk sendiri dengan cara menjaga keseimbangan tubuh pada bokongnya yang bulat sambil menjulurkan lengannya ke depan sebagai penyeimbang. Jika sudah bisa maka bayi akan menggunakan kepala dan lengannya untuk bermain-main. Bayi biasanya masih sulit untuk membetulkan posisinya jika ia jatuh, karenanya letakkan bantal atau benda yang empuk disekelilingnya dan bayi lebih suka belajar duduk saat ditinggal sendiri.

Pada usia ini bayi dapat mengangkat sedikit tubuhnya dari lantai dan mulai belajar untuk merangkak. Cobalah letakkan agak jauh mainan yang dapat menarik perhatiannya, maka bayi akan berusaha untuk menekan jari kaki dan tangan serta berusaha untuk mengambilnya dengan cara merangkak. Pada saat baru belajar bayi hanya mampu bergerak 2-3 langkah.


www.detik.com

Saturday, 13 February 2010

Play Group - TK Smart Bee "Mendidik Lebah-lebah Pintar"


Musim hujan sudah datang....Tiap hari selalu hujan. Hati-hati karena banjir siap menghadang. Tahu tidak? Dimusim hujan ini, guru-guru Playgroup dan TK Smart Bee memberikan murid-muridnya sebuah pengetahuan. Yaitu...kebiasaan membuang sampah sembarangan akan membuat banjir selalu datang.

Umi, begitu sebutan untuk guru di Playgroup -TK Smart Bee, meminta masing-masing anak mengumpulkan dedaunan. Lalu setelah terkumpul, daun-daun disebar di bak mandi* yang berisi rumah-rumahan. Pancuran air dinyalakan, lalu daun-daun mengikuti aliran air. Air menggenag karena daun-daun menghalanginya keluar dari lubang. Genangan air itu semakin banyak hingga merendam rumah-rumahan yang ada di dalam bak mandi. Itulah banjir yang sering kita lihat. Semua dijelaskan dengan cara yang sederhana oleh para umi. Sekolah yang terletak di jalan danau Maninjau Raya No 221, Depok Timur ini terus menggali ide untuk menemukan konsep yang menarik. Termasuk bagaimana menjelaskan banjir dengan cara yang sederhana. Konsep belajar yang kreatif dan Islam terus dikembangkan dengan mengikutsertakan para umi ke berbagai seminar dan pelatihan pengajaran.

Pembentukan Playgroup dan TK berkonsep Islam ini berawal dari keinginan para pengelola yayasan di tahun 2007 untuk membuat Playgroup yang berkualitas dengan biaya yang terjangkau. Playgroup diberi nama Smart Bee, dalam Bahasa Indonesaia berarti lebah pintar. Setelah berjalan setahun, sesuai permintaan para orangtua murid, pengelola yayasan juga membuka TK. Sekarang jumlah muridnya ada 71 anak, terbagi menjadi 3 kelas Playgroup dan 4 kelas TK A dan TK B. Agar proses belajar mengajar di kelas terasa nyaman, kelas dilengkapi AC.

Kegiatan islami diterapkan dalam kegiatan sehari-hari seperti baca doa, praktek sholat juga belajar iqro. Murid-muridnya juga diajarkan Bahasa Inggris, Komputer, Memasak, Menggambar dan jariaritmatika. Setiap Hari sabtu, anak-anak ada kegiatan olahraga seperti senam, bersepeda atau jalan-jalan ke sekitar lingkungan sekolah. "Semua kegiatan dirangkai untuk mendidik anak-anak supaya pintar, mandiri dan untuk menghasilkan sesuatu yang berguna," papar umi Dewi kepala sekolah Playgroup-TK Smart Bee. Ya, seperti filosofi lebah. Lebah menghisap madu sari bunga dan menghasilkan madu. Semua yang diambil dan dihasilkan sama-sama baiknya. Semoga anak-anak Playgroup dan TK Smart Bee bisa menjadi seperti lebah-lebah pintar, bisa menghasilkan sesuatu yang berguna untuk orang banyak. (Wiwin)

Dikutip dari majalah mombi edisi no 10 Tahun XVIII Terbit 10 Februari 2010 Halaman 23

Thursday, 11 February 2010

Vaksin Flu Aman untuk Bayi 6 Bulan

Seattle, Penyakit flu bisa menyerang siapa saja termasuk bayi yang baru berusia beberapa bulan. Tapi kini peneliti mengungkapkan vaksin flu musiman aman dan efektif untuk bayi berusia 6-12 bulan.

"Penemuan ini telah dikonfirmasi dalam penelitian lebih lanjut dan menunjukkan vaksin flu musiman ini bisa dimasukkan dalam vaksinasi standar untuk bayi usia 6 bulan," ujar Dr Janet A. Englund dari University of Washington, Seattle, seperti dikutip dari HealthDay, Jumat (12/2/2010).

Dalam studi ini, peneliti memilih secara acak 1.375 bayi sehat untuk menerima dua dosis vaksin flu musiman trivalen (melindungi terhadap tiga strain virus flu yang beredar) dan vaksin plasebo. Pemberian vaksin diberikan jarak selama satu bulan dan dikombinasikan dengan vaksin bayi yang sudah direkomendasikan dalam standar vaksinasi.

Tidak ada perbedaan dalam hal ini efek samping atau dampak buruk yang terlihat dari kedua kelompok bayi ini. Sekitar 11 persen bayi pada kedua kelompok mengalami demam selama 3 hari setelah vaksinasi. Peneliti mengungkapkan setelah satu bulan vaksinasi, kejadian serius yang berkaitan dengan tiga strain flu tersebut sangat jarang ditemukan (langka).

Berdasarkan hasil tes imunologi menunjukkan hampir setengah dari bayi yang menerima vaksin flu tersebut mengembangkan antibodi untuk melindungi setidaknya dua dari tiga strain influenza yang ada di dalam vaksin.

"Berdasarkan hasil penelitian ini, potensi perlindungan terhadap virus influenza bisa diperoleh secara aman pada bayi berusia 6 bulan yang menerima vaksin influenza sesuai standar dosis bayi," ujar Englund.

Anak-anak kecil terutama bayi termasuk ke dalam kelompok usia yang memiliki risiko tinggi terkena flu dan berbagai komplikasi yang terkait. Ini dikarenakan daya tahan atau sistem imun dalam tubuhnya belum terbentuk secara sempurna.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan pada edisi Februari dalam The Pediatric Infectious Disease Journal.

www.detik.com

Wednesday, 10 February 2010

Kenapa Anak Saya Kena Autis ?

New Jersey, Orangtua yang punya anak autis sering dibayangi terus menerus oleh pertanyaan 'kenapa harus anak saya?'. Meski banyak kemungkinan seorang anak terkena autis, tapi banyak orang tua yang tidak terima anaknya menderita autis.

"Beberapa orang tua terus mencari tahu jawaban pertanyaan tersebut dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya, tapi mereka tetap tidak terima anaknya terkena autis," ujar Patricia Robinson,terapis ADHD, autis dan Asperger's sindrom seperti dilansir CNN, Senin (8/2/2010).

Maria Collazo dari New Jersey, orang tua dari bocah 5 tahun penderita autis mulai curiga pada anaknya setelah ia kesulitan mengambil benda dan mengucapkan kata pada umur 1 tahun.

Setelah tahu bahwa anaknya mengalami autis, Maria langsung melakukan browsing di internet, pergi ke perpustakaan, memesan buku dan menghabiskan waktu berjam-jam mengenai autis.

Ia mulai berpikir, apakah pekerjaannya yang selama berjam-jam di kantor, penggunaan Blackberry atau radiasi saat memeriksa kandungan yang membuatnya melahirkan anak dengan kondisi autis.

"Saya bertanya banyak hal pada diri sendiri. Apakah saya makan sesuatu yang tidak seharusnya? Apakah saya terkena paparan zat berbahaya selama hamil? Saya terus bertanya tapi saya tetap tidak tahu jawabannya. Rasanya seperti ada sesuatu yang membuat pikiran ini terus bertanya," tutur Maria.

Menurut Dr Judith Miles, professor pediatrik dan patologi, sangat wajar dan manusiawi jika seseorang ingin tahu kenapa sesuatu hal bisa terjadi. Tapi kebanyakan bertanya pada diri sendiri apalagi menyalahkan diri sendiri bisa membuat seseorang depresi.

"Mereka terus-terusan mencari tahu dan melihat ke belakang. Mereka juga terus menyalahkan dirinya sendiri, jangan-jangan kebiasaannya saat hamil adalah penyebabnya. Padahal tidak ada bukti kuat yang menunjukkannya," kata Dr Judith.

Mungkin harusnya saya tidak melakukan itu, mungkin harusnya saya tidak tinggal di daerah itu, mungkn harusnya saya tidak mengonsumsi makanan organik atau mungkin harusnya saya lebih banyak minum vitamin adalah pernyataan yang sering terlintas pada benak orang tua.

Dr Judith yang merupakan direktur biomedis dari the Thompson Center for Autism and Neurodevelopmental Disorders di University of Missouri menyebutkan, bahwa orang tua seharusnya bisa menerima anak yang telah dilahirkan ke dunia apapun kondisinya tanpa perlu memaksakan diri untuk tahu penyebab pastinya.

"Banyak orang tua yang terbangun tengah malam dan terus mencari tahu jawaban untuk teka-teki yang sebenarnya tidak perlu mereka cari tahu. Cukup menerimanya dengan lapang dada bisa menghilangkan pertanyaan yang terus menghantui tersebut," kata Dr Judith.

Autis merupakan gejala yang timbul karena adanya gangguan atau kelainan saraf pada otak seseorang. Diduga autis terjadi karena jembatan yang menghubungkan antara otak kanan dan otak kiri bermasalah atau terhambat.

Sampai saat ini belum ada satu penyebab yang pasti mengakibatkan anak autis. Namun faktor genetik, lingkungan yang terpapar merkuri atau logam berat, pestisida atau antibiotik yang berlebihan diduga sebagai penyebabnya.

www.detik.com

Tuesday, 9 February 2010

Broken Home, Wujud Pelanggaran Hak Anak

Pendahuluan
Salah satu hak anak yang tertuang dalam Konvensi Hak Anak (KHA) adalah mendapatkan lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif. Sebagai tempat tumbuh kembangnya anak, rumah menjadi institusi paling awal dan terpenting bagi anak. Saat anak tidak merasa nyaman di tengah-tengah keluarganya, dapat dipastikan ada masalah yang mengganggunya. Bukan untuk waktu sementara, masalah yang dialami anak di lingkungan keluarga pun akan berimbas pada kehidupannya di masa-masa berikutnya. Ketimpangan antara keadaan yang diharapkan anak dengan kenyataan yang dialaminya menjadi pemicu terganggunya perkembangan pribadi anak.
Akan mudah jika masalah itu datang dari diri anak, seperti rasa malas membantu anggota keluarga yang lain membersihkan rumah. Dengan teguran dan contoh yang baik (uswatun hasanah) dari orangtua, anak akan berubah dan dapat menyesuaikan diri dengan aturan keluarga tanpa merasa dipaksa melakukannya. Namun bila masalah dalam keluarga ditimbulkan orangtua yang seharusnya memberi kenyamanan, tentu akan lebih sulit penyelesaiannya. Egoisme orangtua kerap menjadi penghambat keharmonisan keluarga. Padahal merupakan hak anak untuk tumbuh di tengah-tengah keluarga yang mencintainya.
Dalam setiap kasus broken home, anak selalu menjadi atau dijadikan korban. Menjadi korban karena haknya mendapat lingkungan keluarga yang nyaman telah dilanggar. Dijadikan korban karena orangtua kerap melibatkan anak dalam konflik keluarga. Banyak orangtua yang saling tarik-menarik anak saat konflik berlangsung dengan alasan cinta. Dalam bingung, anak terombang-ambing antara dua orang yang mengaku paling menyayanginya. Adakah cinta orangtua yang tidak saling mencintai untuk anak yang membutuhkan cinta tulus?
Ironisnya, banyak diantara anak korban broken home yang memilih lari dari keluarganya dan bersahabat dengan narkoba atau hal-hal negatif lainnya. Dalam beberapa kasus, orangtua malah menyalahkan anak yang tidak bijak memilih pergaulan atau justru saling menyalahkan yang menambah beban pikiran anak. Jika dibiarkan, hal tersebut akan menghilangkan kepercayaan anak terhadap orangtua. Akhirnya, keberadaan orangtua tidak lagi dianggap penting oleh anak.

Lingkungan Kondusif bagi Anak
Dalam Building Positive Communication (2006:17), Savitri Ramadhani menuliskan hasil penelitian Burton L. White (1971) bersama timnya yang menemukan pengaruh model pengasuhan orangtua terhadap perkembangan anak. Dalam penelitian yang dinamakan The Harvard Preschool Project itu, ditemukan perbedaan yang mencolok pada anak terkait dengan kemampuan orangtua mendesain lingkungan kondusif bagi anak, kemampuan berperan sebagai ‘konsultan’ dan kemampuan menyeimbangkan antara memberi kebebasan dan pembatasan bagi anak.
Tinggal di tengah-tengah lingkungan keluarga yang kondusif merupakan hak anak yang wajib dipenuhi orangtua. Keharmonisan keluarga menimbulkan dampak besar terhadap perkembangan kepribadian anak. Kenyamanan dan kehangatan yang dirasakan anak di tengah-tengah keluarganya akan membentuk sikap-sikap positif pada diri anak. Begitu pula cinta tulus dan kasih sayang yang ditunjukkan orangtua dan anggota keluarga lain akan meyakinkan anak bahwa ia dianggap penting dan akan memotivasinya untuk berbuat yang terbaik bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Menurut Stinnet & DeFrain, seperti dikutip Savitri Ramadhani dalam bukunya Building Positive Communication (2006:23), bahwa keluarga harmonis mempunyai karakteristik tertentu, yaitu kehidupan beragama yang baik di dalam keluarga, mempunyai waktu bersama antara sesama anggota keluarga, mempunyai komunikasi yang baik antar anggota keluarga, saling menghargai antara sesama anggota keluarga, masing-masing anggota keluarga merasa terikat dalam ikatan keluarga sebagai suatu ikatan kelompok dan ikatan kelompok ini bersifat erat dan kohesif, bila terjadi permasalahan dalam keluarga, maka masalah tersebut dapat diselesaikan secara positif dan konstruktif.

Penutup
Dari uraian di atas, terbaca jelas betapa pentingnya keharmonisan keluarga bagi perkembangan anak. Bahwa hubungan yang terjalin antar orangtua, orangtua dengan anak dan antar anak memberi pengaruh besar bagi pribadi anak.
Sebagai orang dewasa dengan pengalaman dan pengetahuan yang lebih dibanding anak, orangtua diharapkan dapat memberi yang terbaik bagi anak-anaknya. Kenyamanan dan kehangatan keluarga merupakan hak seluruh anggota keluarga, khususnya anak. Banyak nilai-nilai positif yang akan menjadi bagian pribadi anak jika hak tersebut terpenuhi dengan baik. Sebaliknya, ketidakharmonisan keluarga akan menjadi bumerang bagi perkembangan kepribadian anak. Tidak sedikit anak yang tumbuh menjadi pribadi pemurung, penyendiri, minderan atau mengidap prilaku negatif lainnya diakibatkan lingkungan keluarga yang tidak harmonis.

www.google.com

Monday, 8 February 2010

Mendidik Anak Tanpa Kekerasan

Seringkali orangtua menanyakan ke saya “Anak saya ini kalau diomongin susah nurutnya, bagaimana sih caranya agar anak nurut dengan orangtua ? Apa musti dipukul dulu baru nurut ? ” Mendengar pertanyaan ini, seringkali saya jawab dengan singkat “Kenapa musti harus dengan kekerasan ? “. Dan seringkali saya menceritakan kisah di bawah ini agar mereka mengerti apa maksudnya Mendidik Anak Tanpa Kekerasan.

Pada suatu hari Dr. Arun Gandhi, cucu Mahatma Gandhi, memberi ceramah di Universitas Puerto Rico. Ia menceritakan suatu kisah dalam hidupnya :

Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orangtua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, ditengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Pada suatu saat, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya mengerjakan beberapa pekerjaan tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu setiba di tempat konferensi, ayah berkata,”Ayah tunggu kau di sini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.”

Segera saja saya menyelesaikan pekerja-pekerjaan yang diberikan oleh ayah dan ibu. Kemudian, saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjuk pukul 17.30, langsung saya berlari menuju bengkel mobil dan buru-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya. Saat itu sudah hampir pukul 18.00 !!!

Dengan gelisah ayah menanyai saya,”Kenapa kau terlambat ?” Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton bioskop sehingga saya menjawab, ”Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.”

Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan ayah tahu kalau saya berbohong. Lalu ayah berkata, ”Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan engkau sehingga engkau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarkanlah ayah pulang berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.”

Lalu dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap dan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang saya lakukan.

Sejak itu saya tidak pernah berbohong lagi. Seringkali saya berpikir mengenai kejadian ini dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya, sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapat sebuah pelajaran mengenai mendidik tanpa kekerasan ? Kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu, menyadarinya sedikit dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru terasa kemarin. Itulah kekuatan bertindak tanpa kekerasan.

Ketika kita berhasil menancapkan suatu pesan yang sangat kuat di bawah sadar seorang anak maka informasi itu akan langsung mempengaruhi perilakunya. Itulah salah satu bentuk hypnosis yang sangat kuat. Apakah hal sebaliknya bisa terjadi ? Ya bisa saja ! Oleh karena itu kita perlu keyakinan penuh dalam melakukannya sehingga hasil positif yang kita inginkan pasti tercapai. Hal ini memerlukan pemikiran yang mendalam dan kesadaran diri yang kuat dan terlatih. Janganlah bertindak karena reaksi spontan belaka dan kemudian menyesal setelah melakukannya.

Jika kita mau berpikir sedikit ke belakang ke masa di mana anak-anak kita masih kecil sekali maka di masa itulah semua ”bibit” perilaku dan sikap ditanamkan. ”Bibit” perilaku dan sikap inilah yang kelak akan mewarnai kehidupan remaja dan dewasanya. Siapakah yang menanamkan ”bibit” perilaku dan sikap itu untuk pertama kalinya ? Ya anda pasti sudah tahu jawabnya, kitalah orangtua yang menanamkan segala macam ”bibit” perilaku dan sikap itu.

Bagaimana jika sebagian besar waktu anak dihabiskan dengan pengasuhnya ( baby sitter ). Ya berdoalah semoga pengasuh anak anda mempunyai pemikiran bijaksana dan bisa mempengaruhi anak anda secara positif. Berharaplah pengasuh anak (baby sitter) anda mengerti cara kerja pikiran dan mengerti bagaimana bersikap, berucap dan bertindak dengan baik agar anak anda memperoleh ”bibit” sikap dan perilaku yang baik.

Seseorang bisa menjadi baik atau buruk pasti karena sesuatu ”sebab”. Perilaku, ucapan sikap, dan pikiran yang baik atau buruk hanyalah suatu rentetan ”akibat” dari suatu ”sebab” yang telah ditanamkan terlebih dahulu. Mungkinkah terjadi ”akibat” tanpa ”sebab” ? Mungkinkah anak kita berbohong tanpa sebab, mungkinkah anak kita ”nakal” tanpa sebab, mungkinkah anak kita rewel tanpa sebab ? Sebagai orangtua kita wajib mencari tahu apa penyebabnya. Tidaklah pantas sebagai orangtua kita langsung bereaksi spontan begitu saja tanpa memikirkan apa yang baru saja kita perbuat. Bukankah ini akan memberi contoh baru bagi anak kita tentang bagaimana bertindak dan bersikap ?

Sewaktu kita mempunyai anak maka kita menjadi orangtua, tetapi kita tidak pernah punya pengalaman menjadi orangtua. Kita mempunyai pengalaman menjadi anak. Jadi kita harus mendidik diri kita sendiri dengan belajar dari anak-anak. Bukan belajar dari apa yang dilakukan orangtua pada kita. Ingatlah perasaan sewaktu kita masih menjadi anak-anak. Amati mereka dan tanggapilah dengan penuh perhatian apa yang mereka inginkan. Pengharapan, perlakuan dan pengakuan seperti apa yang kita inginkan dari orangtua yang tidak pernah terpenuhi ?

Perlakukan anak-anak seperti kita ingin diperlakukan ! Jangan perlakukan anak-anak seperti apa yang dilakukan orangtua pada kita.

Wish you become the best parents in the world !

www.google.com

Thursday, 4 February 2010

tips praktis mengatasi anak susah makan

Problema sulit makan ini dialami anak di usia balita. Umumnya mulai ditemui pada usia anak 1-4 th. Banyak hal yang menyebabkan anak susah makan. Karena bagi anak, saat makan itu bukan hanya pemenuhan gizi tetapi juga saat penuh tantangan, rasa ingin tahu, berlatih, belajar, dsb.


Berikut sekilas bahasan penyebab anak susah makan & tips singkat mengatasinya :

1. Bosan dengan menu makan ataupun penyajian makanan.
Menu makan saat bayi (> 6 bl) yg itu-itu saja akan membuat anak bosan dan malas makan. Belum lagi cara penyajian makanan yg campur aduk antara lauk pauk spt makanan diblender jadi satu. Sama spt
orang dewasa, kalau kita makan dg menu yg sama tiap hari dan disajikan dg campur aduk, pasti akan malas makan. Begitu juga dg pengenalan makanan kasar.

Tips : Tentu saja variasikan menu makan anak. Jika perlu buat menu makan anak min. selama 1 minggu utk mempermudah ibu mengatur variasi makanan. Jadi tergantung pinter-pinter- nya ibu memberikan makanan bervariasi. Spt kalau anak gak mau nasi, kan bisa diganti dg roti, makaroni, pasta, bakmi, dsb. Penyajian makanan yg menarik juga penting sekali. Jangan campur adukkan makanan. Pisahkan nasi dg lauk pauknya. Hias dg aneka warna & bentuk. Jika perlu cetak makanan dg cetakan kue yg lucu.

2. Memakan cemilan padat kalori menjelang jam makan , sehingga anak tidak merasa lapar. Seperti permen, minuman ringan, coklat, hingga snack ber-MSG, dsb. Akibatnya ketika jam makan tiba anak sudah kekenyangan.

Tips : Atur makanan selingan atau cemilan jauh sebelum waktu
makan tiba. Beri juga cemilan yang sehat spt potongan buah, sayur
kukus, keju, yoghurt, es krim, cake buatan ibu, dsb.

3. Minum susu terlalu banyak
Susu di banyak keluarga dianggap sebagai makanan dewa yang bisa menggantikan makanan utama spt nasi, sayur & lauk pauknya Orangtua cenderung kurang sabar memberikan makanan kasar. Atau orang tua sering takut anaknya kelaparan, sehingga makanan diganti dengan susu..Akhirnya, daripada perut si anak tidak kemasukan makanan, diberikan saja susu berlebihan. Padahal setelah anak berusia 1th, kehadiran susu dalam menu sehari-hari bukanlah hal wajib. Secara gizi, susu hanya untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan fosfor saja. Kan kalsium dan fosfor ini dengan mudah kita dapatkan
dalam ikan-ikanan, sayur & buah.

Tips : Kurangi susu ! Di atas usia 1 tahun kebutuhan susu hanya 2 gelas sehari. Mulailah melatih anak dg berbagai jenis makanan. Ubah pola pikir orangtua.

4. Terpengaruh kebiasaan orang tuanya.
Anak suka meniru apa yang dilakukan oleh anggota keluarga lainnya, terutama orang tuanya. Banyak perilaku yg dilakukan ortunya ygmempengaruhi perilaku makan anak. Mis. anak yang tumbuh dalam
lingkungan keluarga yang malas makan (ex. diet), akan mengembangkan perilaku malas makan juga. Perilaku lainnya, sering kita jumpai orang tua masih menyuapi anak yang sudah kelas V SD. Akibatnya anak gak terlatih untuk bisa makan sendiri. Perilaku makan yang kurang pas juga spt kebiasaan ortu ketika menenangkan anak yg sedang rewel dengan cara membelikan jajanan yang padat kalori (permen, minuman ringan, coklat, dsb.). Akibatnya anak kekenyangan & malas makan.

Tips :
Perhatikan & ubah kebiasaan & perilaku orang tua kapanpun, termasuk perilaku makan. Ingat, anak merekam, belajar & menerapkan semua hal yg ia dapat dari lingk sekitarnya, terutama ortunya. Biarkan anak mencoba memakan makanan sendiri sejak dini, tanpa disuapi. Gak perlu takut berantakan. Feeding is about learning.

5. Munculnya sikap negativistik รจ fase normal yg dilewati tiap anak.
Pada usia >2 th, anak sering membangkang / tidak mau patuh. Saat makan tiba, anak terkadang bilang gak mau, makanannya suka dilepeh atau dilempar, dsb. Ini disebut sikap negativistik. Sikap negativistik merupakan fase normal yg dilalui tiap anak usia balita. Sikap ini juga suatu bagian dari tahapan perkembangannya untuk menunjukkan keinginan untuk independent . Jadi batita umumnya ditandai dengan AKU, artinya segala sesuatunya harus berasal dari AKU bukan dari orang lain; intinya power. Nah banyak ortu yg gak memahami hal ini, sehingga lantaran khawatir kecukupan gizi anak tidak terpenuhi, orang tua biasanya makin keras memaksa anaknya makan. Ada ortu yg mengancam anaknya bahkan memukul. Cara2 tsb harus dihindari.

Justru semakin anak pd usia ini dipaksa, justru akan makin melawan (sebagai wujud negativistiknya) . Realisasinya apalagi kalau bukan penolakan terhadap makanan. Bisa dimaklumi kalau ada orang yang
sampai dewasa emoh makan nasi atau sama sekali tak menyentuh daging. Bisa jadi sewaktu masih kecil yang bersangkutan sempat mengalami trauma akibat perlakuan orang tuanya yang selalu memberinya makan secara paksa.

Tips : Pahami kondisi anak dg baik. Jadilah ortu yg otoritatif. Artinya bersikap tidak memaksa, tetapi juga tidak membiarkan begitu saja. Bina komunikasi yg baik dg anak. Bersabarlah menghadapi anak.
Kan rumah adalah madrasah pertama & utama bagi anak.

6. Anak sedang sakit / sedih
Anak tidak mau makan dapat juga disebabkan krn anak sedang sakit atau sedang sedih. Kalau semula anak terlihat aktif, riang dan cerewet, maka di kala sakit ia lebih suka diam dan terlihat malas-malasan.

Tips : Kembali pada konsep bina komunikasi yg baik. Jangan paksakan anak kalau gakmau makan. Beri makanan ringan yg padat kalori, spt makaroni skutel, dsb.

Yg jelas dan perlu diingat baik2 oleh tiap ortu adalah, seberapapun anak gak mau / susah makan, ia tidak akan membiarkan dirinya kelaparan ! Selama mentalnya sehat. Artinya, begitu ia kelaparan, maka ia akan makan.

Tetap kreatif mengolah & menyajikan makanan, bina komunikasi yg baik, terus belajar menjadi ortu & memahami kondisi anak, dan bersabar.

www.google.com

Tuesday, 2 February 2010

perilaku buruk orang dewasa diduga kurang ASI saat bayi

Jakarta, Pernahkah melihat perilaku orang dewasa yang sangat buruk seperti gampang marah, egois suka kekerasan? Coba tanyakan kehidupannya saat bayi, apakah diberi ASI atau tidak? Karena perilaku buruk orang dewasa ternyata juga terkait dengan pemberian ASI atau tidak ketika kecil.

Peneliti dari Menzies School of Health Research di Darwin, Profesor Sven Silburn menuturkan terdapat bukti yang menunjukkan hubungan antara menyusui dengan kesehatan mental seseorang.

Jika saat bayi diberi ASI, maka tubuh orang saat bayi akan mendapat serotonin yaitu zat antistres yang banyak dibentuk dalam 2 tahun pertama kehidupan si bayi.

Zat antistres ini akan masuk ke dalam tubuhnya yang membuat anak menjadi tidak mudah marah, menghindari stres dan depresi serta mengurangi kemungkinan terkena gangguan mental saat dewasa nanti.

Sebaliknya sikap orang dewasa yang mudah marah, gampang stres, gampang depresi serta gampang terkena gangguan mental bisa jadi salah satu faktornya kurangnya asupan serotonin saat bayi alias tidak mendapatkan ASI.

Orang yang mendapatkan ASI saat masih bayi juga cenderung akan memiliki perilaku yang lebih baik, terhindar dari sifat kekerasan, kelalaian, meningkatkan kecerdasan serta menghindari sifat egois. Ini dikarenakan saat disusui anak mendapat perhatian yang cukup dari orangtuanya, sehingga anak tak perlu mencari-cari perhatian dengan melakukan perilaku yang buruk.

Karena efek negatif jika tidak diberikan ASI terbawa hingga dewasa, peneliti menyarankan agar ibu menyusui anaknya secara eksklusif sebab anak yang mendapatkan ASI akan memiliki perilaku yang lebih baik.

Sedangkan pada susu formula cenderung mengandung zat mangan (Mn) yang tinggi, zat ini bisa membuat anak menjadi cepat stres dan marah. Jika hal ini terus berlanjut, maka ada kemungkinan saat dewasa anak memiliki perilaku yang buruk.

Sebuah penelitian yang dilaporkan dalam pertemuan tahunan American Public Health Association menemukan bahwa orangtua yang memberikan ASI saat masih bayi cenderung jarang melaporkan adanya masalah perilaku pada anaknya.

"Ini merupakan temuan awal, tapi hal ini sudah menunjukkan jika orangtua tidak menyusui anaknya akan berpengaruh pada perilaku selama masa anak-anak ataupun jika sudah dewasa," ujar Dr Katherine Hobbs Knutson, seperti dikutip dari HealthDay, Selasa (2/2/2010).

Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan orang yang mengonsumsi ASI saat masih bayi memiliki kemungkinan gangguan perilaku 37 persen lebih rendah dibandingkan dengan orang yang tidak mendapatkan ASI.

ASI sebaiknya menjadi satu-satunya pilihan bagi bayi baru lahir hingga berusia 6 bulan, tapi akan lebih baik lagi jika ASI tetap diberikan hingga bayi berusia 2 tahun.

Sehingga membuat ikatan emosional antara ibu dan anaknya menjadi lebih kuat, hal ini juga yang membuat perilaku anak yang diberik ASI lebih baik daripada anak yang tidak mendapatkan ASI sama sekali.

www.detik.com

Barang elektronik bikin anak kuper

xeter, Inggris, Kemajuan teknologi telah memberikan dua sisi yang berbeda. Bukan hanya sisi positif yang didapat tapi juga ada sisi negatifnya terutama anak-anak.

Kemajuan teknologi ini membuat anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan barang-barang tersebut dibandingkan bersosialisasi dengan sesamanya.

Adanya barang-barang elektronik seperti televisi, video game, handphone atau komputer membuat anak-anak menghabiskan sepertiga harinya dengan multimedia ini.

Peneliti menemukan anak-anak berusia 8-18 tahun menghabiskan lebih banyak waktu di luar sekolah dengan barang-barang ini daripada bermain dengan teman-temannya.

Revolusi elektronik ini telah membuat anak-anak dengan mudahnya mengakses berbagai program televisi, musik, film atau permainan. Hasil ini bisa sangat mengkhawatirkan kesejahteraan dari anak tersebut.

"Keadaan ini sangat menyedihkan, karena beberapa orangtua justru menggunakan perangkat elektronik ini agar anaknya tetap tenang sehingga terlihat seperti candu bagi mereka," ujar Michele Elliot, psikolog dari Kidscape, seperti dikutip dari Timesonline, Senin (1/2/2010).

Elliot menjelaskan anak-anak yang menggunakan barang elektronik ini secara tidak langsung telah membatasi komunikasi atau kemampuan berinteraksinya dengan orang lain.

Anak-anak ini mungkin mahir jika berbicara lewat kata-kata, tapi kemampuan ini belum tentu sama bagusnya jika anak-anak tersebut harus bertatap muka langsung dengan orang lain.

"Agar tidak menghambat perkembangan si anak, sebaiknya orangtua membatasi jumlah waktu anak-anak dalam menggunakan barang-barang elektronik ini terutama jika si anak masih sangat kecil," ujar Elliot.

Para ahli sendiri memiliki perbedaan pendapat mengenai dampak dari penggunaan elektronik yang berlebihan dalam hal kesehatan, kesejahteraan emosional dan keterampilan sosialnya.

Profesor Rupert Wegerif dari University of Exeter mengungkapkan penggunaan elektronik juga bisa memberikan dampak positif seperti membuat anak menjadi lebih kreatif dan sangat interaktif.

Meskipun begitu orangtua tetap saja harus membatasi jumlah waktu yang dihabiskan oleh anak-anaknya dalam menggunakan alat elektronik, sehingga anak masih bisa bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain secara langsung.

Hal ini juga penting untuk membangun kepercayaan diri si anak dan agar anak tidak tumbuh menjadi seseorang yang pemalu.

www.detik.com

ketika si kecil bertanya “Allah itu dimana dan seperti apa?”

Penulis: Ummu Ayyub
Muroja’ah: Ustadz Subhan Lc.

Anak kecil adalah makhluk yang penuh rasa ingin tahu namun sering kali orang tua merasa sulit untuk menjelaskan padanya tentang sesuatu yang tidak bisa dia lihat. Hal ini sering kali membuat orang tua menjadi kebingungan ketika si kecil bertanya “Allah itu dimana dan seperti apa?”

Sebuah majalah berusaha mengupas masalah ini dengan memuat “kreativitas” orang tua untuk menjelaskan hal ini pada anak-anak mereka. Jawaban yang ada antara lain:

“Allah itu ada di langit, tepatnya langit ke tujuh… dst…”

“Allah ada di mana-mana. Allah ada di hati kita, ada di jantung kita,… dst…”

“Allah ada di arsy sana. Tahukah kalian kalau arsy adalah langit ke tujuh?… dst…”

Maha suci Allah dari persangkaan bahwa Dia bercampur dengan makhluk. Allah dekat dengan kita tapi Allah tinggi dan tidak bercampur dengan makhluk. Allah bersemayam di atas Arsy (Arsy bukan langit ke tujuh!!!), tidak bercampur dengan hati manusia, jantung manusia ataupun dengan langit karena semua itu adalah makhluk. Permasalahan ini telah dijelaskan oleh para ulama. Untuk pembahasan lebih dalam, kita bisa merujuk pada kitab-kitab mereka

Tidak Sekedar Semangat

Sunguh mulia niatan kita untuk mengenalkan Allah subhanahu wata’ala pada anak-anak kita sejak mereka masih kecil. Memang seperti itulah seharusnya sebagai seorang pendidik. Namun demikian tidak cukup dengan sekedar semangat karena jika sekedar semangat, bisa jadi yang kita ajarkan ternyata hanyalah prasangka-prasangka kita, tidak tahu apakah benar atau tidak. Padahal standar kebenaran bukanlah prasangka. Bisa jadi menurut kita benar tetapi tenyat bukan itu kebenaran.

Lalu bagaimana kita tahu benar atau salah?

Jawabannya tentu dengan ilmu karena dengan ilmu maka bisa dibedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang sunnah dan mana yang bid’ah, mana yang halal dan mana yang haram. Jangan sampai kita menjadi seorang muslim yang salah sangka karena kebodohan kita. Yang benar kita sangka salah, yang salah justru kita sangka benar. Hidayah kita sangka kesesatan dan kesesatan justru kita sangka hidayah.

Tak Cukup Dengan Yang Umum-Umum Saja

Sesunguhnya kebanyakan dari mengetahui namun pengilmuannya secara umum saja. Kita tahu bahwa dosa itu buruk tapi kita tidak tahu apa saja yang termasuk dosa melainkan sekedar menurut persangkaan kita dan anggapan masyarakat. Kita tahu bahwa syirik adalah dosa yang paling besar namun tidak tahu amalan dan keyakinan apa yang termasuk di dalamnya. Kita tahu bahwa Al Quran adalah petunjuk tapi kita tidak tahu perkara apa yang ditunjukkan oleh Al Quran.

Seperti kasus di atas, kita tahu bahwa kita harus mengenalkan Allah pada anak-anak kita tapi kita tidak tahu terhadap apa yang harus kita kenalkan. Maka beginilah hasilnya jika tanpa ilmu, yang kita ajarkan hanyalah bualan-bualan kita dan prasangka-prasangka kita. Bahkan tentang Allah subhanahu wata’ala kita berani ceplas-ceplos berbicara tanpa pijakan. Maka pengetahuan secara umum saja tidak cukup, bahkan nyaris tidak mendatangkan manfaat apa-apa.

Berpayah-Payah Tapi Tak Sampai Tujuan

Sungguh merugi keadaan orang yang bersemangat melakukan kebaikan tapi tidak berbekal dengan ilmu. Seorang ibu hendak mengajarkan pada anaknya tentang kebaikan tapi dia tidak tahu apa itu kebaikan. Dia berpayah-payah menanamkan kebiasaan berdoa sebelum makan. Bahkan dengan telaten dia menuntun dan menemani anaknya berdoa setiap sebelum makan. Akhirnya yang dia ajarkan berhasil. Setiap hendak makan otomatis anaknya berdoa “Allahumma baariklanaa fii maa rozaktanaa wa qinaa ‘adzabannaar”. Si ibu merasa senang karena merasa telah berhasil, padahal jika memang benar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang hendak dia contoh maka dia telah tertipu. Yang Rasulullah ajarkan untuk dibaca sebelum makan adalah “bismillah”. Lalu siapa yang hendak dicontoh? Rasulullah atau yang lain?

Berbekal Dengan Ilmu

Tidak terlambat! Maka mulai dari sekarang mari kita bekali diri kita dengan ilmu. Jangan mau menjadi seorang muslim yang salah sangka! Merasa telah berbuat sebaik-baiknya di dunia tapi ternyata amalan kita sia-sia.

Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya:

“Katakanlah, apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia) perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi: 103-104)

Alhamdulillah sekarang sangat mudah untuk mendapatkan ilmu bagi orang-orang yang mau mencari. Majelis ilmu ada di mana-mana, buku-buku telah banyak yang diterjemahkan, situs-situs Islam sangat mudah untuk diakses. Lalu apa lagi yang menghalangi kita? Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang terhalangi dari ilmu karena kemalasan atau karena kesombongan.

Wahai para ibu!
Wahai para calon ibu!

Sungguh mulia niatan kita untuk peduli dengan urusan dien anak-anak kita di saat banyak yang acuh terhadapnya dan merasa cukup dengan dunia. Namun demikian tidak cukup dengan sekedar semangat. Penuhi kantung-kantung perbekalan dengan ilmu! Apa yang mau kita ajarkan pada anak-anak kita kalau kita tidak punya apa-apa?
Wallahu a’lam.

PG/ TK SMART BEE - Children Education

My photo
Based on Islamic system. We commit to be partner for parents to provide educated play ground for their beloved children. Contact us: Jl.Danau Maninjau Raya No.221, Ph 62-21-7712280/99484811 cp. SARI DEWI NURPRATIWI, S.Pd