Monday, 30 March 2009

Meredakan Pertengkaran Orangtua dan Anak

Adalah wajar apabila sesekali di antara orangtua dan anak terjadi salah paham atau khilap sehingga membuat salah satu di antara mereka atau bahkan kedua belah pihak menjadi marah dan mungkin ‘bertengkar’ atau ‘ngambek’. Supaya pertengkaran di antara orangtua dan anak tidak sampai berkepanjangan maka diperlukan keterampilan dan kesabaran dari orangtua.

Apabila terjadi pertengkaran, Deborah K. Parker M.Ed (2006) menyarankan kepada orangtua sebagai pihak orang dewasa yang biasanya lebih mengerti perilaku anak untuk melakukan hal-hal di bawah ini, yaitu:
1.’Menyentuh’ anak
2.Meluangkan waktu bersamanya dan menikmati kebersamaan itu
3.Tegas dan jelas, tetapi bersahabat dan penuh kasih
4.Memberikan pujian dan dukungan kepadanya dan apa yang dia lakukan serta tidak mengkritiknya
5.Menghindari penggunaan pertanyaan

Beberapa tindakan di atas adalah penting dilakukan orangtua kepada anak sebagai upaya untuk memperbaiki sebuah hubungan keluarga agar kembali harmonis dan bahagia.

Sumber : Perkembangananak.com

www.smartbee221.blogspot.com

Mengapa Anak Sering Berbohong?

Seorang Ibu yang mempunyai anak berumur 7 tahun sering mengeluh kepada tetangganya, kalau anaknya akhir-akhir ini sering berbohong kepadanya. Si anak sering membawa mainan dari sekolah. Ketika ditanya mainan itu dari mana, si anak menjawab kalau mainan itu diberikan oleh tetangga. Padahal mainan itu diambilnya dari sekolahnya. Mengapa si anak sampai berbohong kepada orangtuanya ?

Kemungkinan besar hal tersebut terjadi karena adanya faktor pendorong dari diri anak. Mungkin ia menginginkan sebuah mainan tetapi orangtuanya tidak mau memberikannya. Atau mungkin karena si anak ingin mendapatkan perhatian lebih atau bisa jadi karena faktor lingkungan di rumah, sekolah maupun masyarakat yang membentuk karakter dan sifat tidak jujur pada anak.

Untuk mencegah kasus-kasus seperti di atas terjadi, ada beberapa hal yang mungkin perlu kita perhatikan bersama dalam pertumbuhan anak, di antaranya :
1.Ajarkanlah anak arti dan nilai kejujuran sejak kecil dengan memberikan contoh dan akibat yang bisa terjadi dari kebohongannya. Jika kebohongan sudah terlanjur terjadi, jangan hukum anak dengan keras tetapi bantulah anak untuk memperbaiki sifatnya agar tidak berbohong lagi. Contoh pada kasus di atas, orangtua harus menyuruh dan menemani anaknya untuk mengembalikan mainan yang telah diambilnya. Bantu anak untuk memperbaiki kesalahannya dengan belajar untuk meminta maaf atas tindakan yang telah dilakukannya.
2.Jangan pernah mencaci ataupun membentak anak karena kebohongannya. Buatlah pernyataan dan kalimat-kalimat yang baik yang memberikan kepercayaan kita dan juga pernyataan bahwa hal yang telah dilakukannya adalah sesuatu yang salah. Contohnya : "Ibu tahu kamu bukan seorang pembohong dan seorang yang suka mengambil kepunyaan orang lain, tapi mengapa kamu mengambil sesuatu yang bukan kepunyaan kamu?" dan seterusnya.
3.Ciptakan suasana lingkungan keluarga yang terbuka. Hal ini akan membuat anak terbuka dan tidak takut untuk mengemukakan pendapat dan perasaannya kepada orangtua maupun saudaranya, sehingga tidak ada hal yang ditutupi oleh anak.

Hal-hal di atas kemungkinan besar dapat membantu anak untuk belajar jujur dan menuju proses menghargai diri sendiri serta orang lain dalam pertumbuhannya menjadi seorang remaja dan dewasa.

www.smartbee221.blogspot.com

Hak-Hak Anak

Saat ini baik di Indonesia maupun di negara-negara lain sering kita lihat, dengar dan baca dari media elektronik dan media cetak anak-anak yang dianiaya, ditelantarkan bahkan dibunuh hak-haknya oleh orangtuanya sendiri maupun oleh kerasnya kehidupan. Hak asasi mereka seakan-akan tidak ada lagi dan tercabut begitu saja oleh orang-orang yang kurang bertanggungjawab.

Bukan orang dewasa saja yang mempunyai hak, anak-anakpun mempunyai hak. Hak-hak untuk anak-anak ini diakui dalam Konvensi Hak Anak yang dikeluarkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-bangsa pada tahun 1989. Menurut konvensi tersebut, semua anak, tanpa membedakan ras, suku bangsa, agama, jenis kelamin, asal-usul keturunan maupun bahasa memiliki 4 hak dasar yaitu :
1.Hak Atas Kelangsungan HidupTermasuk di dalamnya adalah hak atas tingkat kehidupan yang layak, dan pelayanan kesehatan. Artinya anak-anak berhak mendapatkan gizi yang baik, tempat tinggal yang layak dan perwatan kesehatan yang baik bila ia jatuh sakit.
2.Hak Untuk BerkembangTermasuk di dalamnya adalah hak untuk mendapatkan pendidikan, informasi, waktu luang, berkreasi seni dan budaya, juga hak asasi untuk anak-anak cacat, dimana mereka berhak mendapatkan perlakuan dan pendidikan khusus.
3.Hak PartisipasiTermasuk di dalamnya adalah hak kebebasan menyatakan pendapat, berserikat dan berkumpul serta ikut serta dalam pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya. Jadi, seharusnya orang-orang dewasa khususnya orangtua tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada anak karena bisa jadi pemaksaan kehendak dapat mengakibatkan beban psikologis terhadap diri anak.
4.Hak PerlindunganTermasuk di dalamnya adalah perlindungan dari segala bentuk eksploitasi, perlakuan kejam dan sewenang-wenang dalam proses peradilan pidana maupun dalam hal lainnya. Contoh eksploitasi yang paling sering kita lihat adalah mempekerjakan anak-anak di bawah umur.

Untuk itu ada baiknya para orangtua, lembaga-lembaga pendidikan maupun lembaga lain yang terkait dengan anak mengevaluasi kembali, apakah semua hak-hak asasi anak telah dipenuhi / terpenuhi.

Menyikapi Anak Kritis (Bagian 2 - Habis)

Sambungan dari Bagian 1

..... Bisa juga orang tua menjawab 1-2 pertanyaan anak. Jika ia masih bertanya terus, jelas- kan kondisi orang tua yang sedang tidak memungkinkan untuk melayaninya. Tentukan kapan waktu yang dirasa pas untuk melanjutkan "diskusi" tersebut.

Dengarkan Baik-baik
Sebelum menjawab, dengarkan baik-baik dan pahami benar apa yang ditanyakan anak. Bahkan kalau perlu ajukan pertanyaan balik agar jawaban benar-benar memenuhi kebutuhan anak, selain untuk menghindari salah paham. Soalnya, pengertian/istilah tertentu bisa saja diartikan berbeda oleh anak. Misal, "pacaran" bagi anak adalah jalan bareng sambil berpegangan tangan yang tentu saja berbeda dengan pemahaman orang dewasa.

Arahkan pada Penemuan Jawaban
Untuk lebih melatih ketajaman berpikir anak, orang tua sebaiknya membimbing anaknya untuk menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Caranya? Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada penemuan jawaban.

CUKUP JAWABAN SEDERHANA
Adakalanya pertanyaan anak kritis membuat orang tua gelagapan tak tahu harus menjawab apa yang ditanyakan si anak. "Ayah, CD (compact disc) itu terbuat dari apa, sih? Kok, dari benda setipis ini bisa keluar gambar di teve?" Tak banyak orang tua yang memahami hal-hal yang berbau teknologi canggih seperti itu. Menghadapi pertanyaan rumit seperti ini sebaiknya orang tua tetap mencoba menjawab.
"Serumit apa pun pertanyaan anak, belum tentu membutuhkan jawaban yang tak kalah rumit," tandas Vera. Pemikiran anak yang masih sederhana bisa terpenuhi dengan penjelasan yang menggunakan bahasa sederhana. Sederhana di sini tentu saja bukan jawaban yang asal-asalan. Untuk memudahkan, berilah ia perumpamaan dengan hal-hal yang dekat dengan kesehariannya. Kalaupun pertanyaannya terlalu sulit dan orang tua tidak bisa menjawab, "Sebaiknya berterus terang saja," saran Vera. Namun jangan puas untuk berhenti sampai di situ saja. Orang tua haruslah menawarkan alternatif solusi bagaimana jawaban atas pertanyaan itu bisa diperoleh.

Contohnya, "Wah, terus terang Papa belum tahu jawabannya. Bagaimana kalau kita cari sama-sama jawabannya di kamus atau ensiklopedi?" Atau, "Sayang sekali, ya, Mama enggak tahu jawabannya. Tapi nanti di kantor Mama coba tanya-tanya ke teman Mama atau Mama cari di internet, deh. Mudah-mudahan besok Mama sudah dapat jawabannya." Dengan demikian anak akan belajar memahami bahwa ketidaktahuan merupakan hal yang wajar. Selain itu, ia juga bisa mengerti bahwa seseorang yang tidak tahu dapat menjadi tahu dengan cara bertanya pada orang yang lebih tahu atau mencari jawabannya di buku pintar. Dengan demikian, kendati pertanyaannya tidak langsung terjawab, rasa ingin tahunya tetap berkembang.
Menurut Vera, yang harus diusahakan adalah jangan sampai pertanyaan anak tidak terjawab. Pertanyaan yang tidak terjawab akan meninggalkan kebutuhan yang harus dipenuhi. Kalau sudah begini ia akan terus mencari pemenuhan atas kebutuhan tersebut. "Nah, daripada ia menemukan pemenuhan tersebut dari sumber-sumber yang tidak jelas dan belum tentu benar, sebaiknya anak memperoleh apa yang ia butuhkan dari orang tuanya."

BILA SIKAP KRITIS DITANGGAPI POSITIF
Bila orang tua selalu mengakomodasi keingintahuan anak, menurut Vera ada beberapa dampak positif yang bakal didapatnya:
1.Rasa ingin tahunya terus berkembang dan ini akan menguatkan motivasinya untuk terus mempelajari hal-hal baru. Termasuk pelajaran di sekolah, hingga ia terlihat penuh semangat.
2.Tumbuh menjadi pribadi yang penuh percaya diri karena merasa diterima oleh orang tua/lingkungan terdekatnya.
3.Ketajaman berpikirnya semakin terasah.
4.Memperoleh kesempatan untuk menambah kosakata baru yang didapatnya dari pertanyaan yang diajukan sekaligus memperluas wawasannya.

BILA DITANGGAPI NEGATIF
Tanggapan yang tidak bijaksana terhadap sikap kritis anak hanya akan melahirkan beberapa dampak merugikan. Berikut uraian Vera:
1.Mematikan kreativitas dan rasa ingin tahu anak. Dengan begitu, ia tidak lagi terdorong untuk menggali hal-hal baru yang ditemuinya. Semua diterima secara pasif sebagaimana adanya.
2.Anak jadi kurang percaya diri karena merasa selalu disalahkan dan dianggap sebagai pengganggu.
3.Anak akan tumbuh jadi orang yang cenderung memilih diam. Baginya diam berarti "aman" dan membuatnya terhindar dari berbagai kesulitan.
4.Anak jadi frustrasi karena kebutuhannya tidak terpenuhi.
5.Anak terdorong untuk mencari sumber lain yang belum tentu benar guna memenuhi kebutuhannya yang tidak terpenuhi dari orang tua.
6.Merenggangkan hubungan anak dengan orang tua. Anak enggan terbuka pada orang tua karena menganggap orang tuanya kurang kompeten, minimal enggak asyik diajak "ngobrol".

AGAR ANAK KRITIS
Seperti telah dikatakan Vera, sikap kritis seseorang tidak berbanding lurus dengan tingkat kecerdasannya. Beberapa hal berikut bisa dilakukan orang tua untuk merangsang sikap kritis anak.
1.Berikan kesempatan seluas-luasnya pada anak untuk mengemukakan buah pikirannya maupun urun pendapat. Hilangkan budaya dimana "apa kata mama/papa" merupakan sesuatu yang mutlak alias tak bisa ditawar.
2.Latih anak untuk memecahkan masalah-masalah keseharian sesuai dengan tahapan usianya. Lontarkan pertanyaan-pertanyaan yang merangsangnya untuk menemukan solusi. Contohnya ketika anak berniat main di luar rumah, tanyakan, "Bagaimana, ya, caranya memindahkan mainan sekaligus dari kamar ke pekarangan?"
3.Berikan kesempatan seluasnya pada anak untuk menemukan hal-hal baru. Bisa tempat yang belum pernah dikunjungi, buku atau sarana lainnya. Lalu biarkan anak menggali pertanyaan tentang hal-hal baru tersebut.

Ada jenis percakapan yang dapat membantu merangsang sikap kritis anak, yakni:
1.Membicarakan suatu hal dari sisi baik dan buruknya.
2.Ajak anak berandai-andai menjadi orang lain.
3.Libatkan anak membicarakan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi sebagai akibat dari suatu kejadian. Contohnya, "Apa ya yang kira-kira terjadi kalau hujan enggak berhenti selama berhari-hari?"

Sumber : Tabloid nakita

www.smartbee221.blogspot.com

Menyikapi Anak Kritis (Bagian 1)

Anda tentu pernah menyaksikan iklan susu di layar kaca yang terasa sangat menggelitik. Digambarkan seorang bocah perempuan yang sedang menemani ayahnya nonton pertandingan sepak bola antara kesebelasan Jerman dan Brasil di televisi. Tak habis-habisnya si anak mengajukan pertanyaan tajam. Begitu melihat wasit mengenakan kostum yang berbeda dari para pemain, ia menanggapi, "Wasit itu temennya Jerman atau Brasil?" Lalu, saat ayahnya sibuk menjawab, ia terus mengejar dengan pertanyaan lain, "Jadi, Jerman sama Brasil itu jauh mana?"

Anda pasti akan geleng-geleng kepala menyaksikan ulah si anak kritis. Padahal, tukas Vera Itabiliana, Psi., geleng-geleng kepala saja tidak cuku, lo. "Orang tua harus bijak menghadapi anak seperti ini, sebab kalau sampai salah penanganan, kasihan anaknya," ujar psikolog dari Yayasan Pembina Pendidikan Adik Irma, Jakarta.

TIDAK TERGANTUNG TINGKAT KECERDASAN
Sebelum bicara lebih jauh, ada baiknya dipahami dulu mengapa ada anak yang cenderung bersikap kritis dan ada juga yang tidak. "Sikap kritis ini biasanya dominan saat anak berusia tiga tahun lebih. Di usia ini rasa ingin tahu anak sedang meluap-luap," ujar Vera. Kritis atau tidaknya seorang anak, sama sekali tidak tergantung pada tingkat kecerdasan. Bisa saja anak dengan taraf kecerdasan rata-rata lebih kritis dibanding anak dengan taraf kecerdasan jauh di atas rata-rata. "Yang paling menentukan adalah lingkungan di mana si anak dibesarkan. Dalam hal ini lingkungan keluarganya. Anak yang kritis biasanya adalah anak yang mendapat keleluasaan untuk mengemukakan pendapat. Si anak bebas mengeluarkan pendapatnya tanpa takut 'dibantai' atau dimarahi," lanjut Vera.

Selain itu, banyaknya rangsangan dari luar juga dapat membantu anak mempertajam kemampuan berpikirnya. Rangsangan dari luar ini dapat berupa informasi mengenai berbagai hal di lingkungannya. Informasi ini dapat diberikan oleh orang tua secara aktif melalui berbagai media, seperti buku, televisi, rekreasi ke tempat baru, dan sebagainya. Orang tua bisa membacakan cerita, menerangkan tentang tempat yang dikunjungi atau apa saja yang ditemui di lingkungan sekitar. Dengan begitu, diharapkan anak dapat terpancing untuk bertanya, karena bertanya merupakan salah satu dari wujud berpikir kritis, demikian Vera menggarisbawahi.

BAGAIMANA MENYIKAPINYA?
Jadi, kunci sikap kritis anak ada pada orang tua. Vera menyingkatnya dalam enam langkah agar daya kritis anak makin terasah.
1.Kesabaran
2.Kesabaran orang tua boleh dibilang memegang peran terpenting. Tanpa kesabaran, orang tua akan gampang 3.bosan menjawab pertanyaan kritis anaknya. Padahal bukankah kebosanan menjawab identik dengan memadamkan hasrat anak untuk bertanya dan tahu lebih banyak?
4.Kesiapan
5.Mau tidak mau orang tua memang dituntut untuk harus selalu siap menghadapi reaksi anak mengenai berbagai hal yang sedang dilihat/dibaca/didengarnya. Dengan demikian, orang tua tidak akan merasa terkejut atau terganggu oleh sikap kritis anak karena bisa mengantisipasi sebelumnya.
6.Sepakati Aturan Main
Ketika akan bepergian ke suatu tempat baru atau melakukan kegiatan yang melibatkan banyak orang, semisal arisan, bank/kantor, pesta perkawinan, ada baiknya sepakati aturan main. Ini perlu karena bukan tidak mungkin sikap kritisnya akan "mengganggu". Ajak anak bicara tentang situasi yang akan ditemui dan perilaku seperti apa yang diharapkan darinya. Semisal tidak bertanya-tanya terus selagi orang lain bicara. Jika perlu, mintalah padanya untuk sementara waktu "menyimpan" pertanyaan-pertanyaan tersebut. Namun, berjanjilah untuk membahasnya begitu sampai di rumah.

Jangan Menunjukkan Respons Negatif
Dalam hal ini, kemampuan orang tua untuk mengontrol dirinya sendiri memang diuji. Amat bijaksana bila orang tua tidak menunjukkan respons negatif atas sikap kritis anak, seperti marah atau kesal de-ngan membentak atau malah menyuruh anak diam. Tang- gapilah sikap kritis anak dengan positif. Tersenyumlah dan dengarkan pertanyaannya. Jika orang tua belum bisa menjawab pertanyaan tersebut saat itu juga, jangan sungkan untuk meminta anak menunggu Anda siap menjawabnya. Jangan lupa juga untuk menjelaskan kenapa pertanyaan tersebut belum bisa dijawab. Contohnya, "Wah... pertanyaanmu bagus banget. Mama senang sekali menjawabnya. Tapi sekarang Mama lagi sibuk masak. Gimana kalau Mama jawabnya nanti saja setelah masakannya matang. Soalnya kalau Mama enggak konsentrasi, nanti masakannya bisa gosong dan rasanya jadi tidak enak. Setuju?"

Bisa juga orang tua menjawab 1-2 pertanyaan anak. Jika ia masih bertanya terus, jelas- kan kondisi orang tua yang sedang tidak memungkinkan untuk melayaninya. Tentukan kapan waktu yang dirasa pas untuk melanjutkan "diskusi" tersebut.

Dengarkan Baik-baik
Sebelum menjawab, dengarkan.... (Bersambung)

Sumber : Tabloid nakita

Mengasuh Anak Kembar

Orangtua pemilik akan kembar biasanya selalu menyamakan segala-galanya untuk anak kembar, mulai dari nama yang sama, pakaian yang sama, permainan yang sama, makanan yang sama, sampai memasukkan mereka ke dalam sekolah yang sama. Menurut mereka itulah yang terbaik buat anak-anak. Perlakuan yang sama bisa menghindari kecemburuan satu sama lain. Akan tetapi akibatnya anak kembar saling mengidentikkan diri dan sangat tergantung satu sama lain.

Banyak anak kembar saling mengasosiasikan diri sangat kuat dengan kembarannya. Seolah-olah mereka adalah satu orang. Misalkan saja melakukan kegiatan apapun harus bersama dengan yang lain dan harus juga menyenangkan yang lain. Jika yang lain tidak suka maka tidak akan dilakukan. Mereka tidak dapat melakukan kegiatan sendiri secara terpisah. Apabila dipisahkan maka mereka akan jatuh sakit.

Membiarkan anak kembar saling mengidentikkan diri bukan sesuatu yang baik buat anak. Sang anak akan kesulitan untuk mandiri dan berkembang dimasa depan. Oleh karena itu perlu suatu metode khusus yang mendorong masing-masing anak berkembang sendiri sebagai pribadi yang terpisah dan mandiri. Meskipun tentu saja perasaan kedekatan sang anak terhadap kembarannya akan sulit dikurangi. Akan tetapi, paling tidak anak didorong untuk mandiri dan tumbuh sebagai individu tersendiri.

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orangtua anak kembar dalam mendorong perasaan seorang anak sebagai individu yang terpisah :
-Memberikan waktu khusus dengan salah satu anak saja
-Tidak menyebut anak kembar dengan ‘si kembar’ dan semacamnya yang mengkategorikan mereka sebagai kesatuan. Sebut masing-masing mereka dengan namanya sendiri
-Menghukum atau memberikan hadiah atas kesalahan atau prestasi masing-masing secara khusus, tidak bersama-sama.
-Mendorong anak-anak untuk menemukan minat dan kegiatannya sendiri yang berbeda dengan kembarannya.
-Mendorong masing-masing anak kembar untuk mencari teman-teman akrab selain kembarannya.
-Tidak menyamakan standar harapan pada anak-anak apabila kemampuan mereka berbeda.
-Menunjukkan pada anak-anak karaktersitik unik mereka yang berbeda dengan kembarannya
-Merayakan keberhasilan yang dicapai salah satu anak kembar hanya untuk yang mencapai keberhasilan itu saja. Meskipun disatu sisi bisa menyakiti hati kembarannya, tetapi hal itu akan menjadi pelajaran bagus bagaimana berkompetisi secara sehat.
-Mengabadikan secara individual kenangan sang anak.
-Mengidentifikasi kepemilikan bersama serta kepemilikan masing-masing anak secara terpisah.

Oleh Achmanto Mendatu

TK & Play Group SMART BEE
www.smartbee221.blogspot.com

Friday, 27 March 2009

Semua Anak Istimewa

Setiap anak terlahir dengan kelebihannya masing-masing. Orangtua yang mengatakan bahwa anak mereka adalah tidak memiliki keistimewaan, itu tentu tidak benar. Orangtua seperti itu berarti belum mampu melihatnya. Sebab, keistimewaan anak bukan hanya dilihat dari sisi kemampuan akademiknya saja. Tidak selamanya anak istimewa itu harus pintar matematika, bahasa inggris, atau ilmu kimia. Anak yang senang menyayangi binatang, anak yang patuh, atau anak yang selalu menebar senyum sehingga mampu menyejukkan setiap orang yang memandangnya juga adalah termasuk istimewa.

Oleh karena itu, apabila orangtua belum menemukan keistimewaan dari diri anak maka cobalah untuk membuka mata lebih lebar, memasang telinga lebih tajam, dan merasakan dengan hati supaya orangtua dapat dengan segera menemukan keistimewaan yang terdapat dalam diri anak tersebut. Sebagai upaya orangtua menemukan sesuatu yang istimewa dari diri setiap anak, maka cobalah perhatikan masing-masing anak tersebut dari sisi lainnya. Misalnya, dari kemampuannya bersosialisasi, dari keramah-tamahannya, dari sikapnya yang rajin dan selalu ceria, atau dari kepribadiannya yang selalu bertanggung jawab dan penuh disiplin

Jika orangtua telah menemukan keistimewaan tersebut. Maka, berbagilah dengan anak. Katakan dengn tulus kepada anak bahwa ia adalah memang istimewa dan sangat berarti bagi orangtua. Selain itu, orangtua juga dapat mengungkapkan perasaan bangga kepada anak dengan memujinya sesuai dengan apa yang telah ia lakukan. Misalnya, ’Kamu memang anak yang rajin, setiap hari selalu membereskan dan membersihkan kamar tidurmu’. Setelah memuji dengan cara verbal, orangtua dapat mengungkapkan rasa bangga tersebut kepada anak dengan cara lain. Yaitu, memberikan senyuman, pelukan hangat, atau kecupan di kepalanya (Indra Kusumah, S. Psi & Vindhy Fitrianti W, S. Psi, 2007). Semoga dengan cara seperti itu, orangtua akan mampu melihat keistimewaan lain yang ada dalam diri anak tersebut (yer).

Oleh: Yusi Elsiano Rosmansyah Sumber : perkembangananak.com

TK & Play Group SMART BEE
www.smartbee221.blogspot.com

Mengenali Watak Anak

Setiap anak adalah unik. Salah satunya adalah jika dilihat dari wataknya. Terdapat beberapa watak pada anak yang berbeda antara anak yang satu dengan lainnya. Watak tersebut di antaranya (John Gray, Ph.D., 2004);
1.Anak sensitif, anak ini mempunyai perasaan lebih kuat, lebih mendalam, dan lebih serius.
2.Anak aktif, biasanya anak yang memiliki watak aktif akan memiliki kemauan kuat, berani mengambil resiko, dan ingin menjadi pusat perhatian.
3.Anak responsif cerah, ceria, dan membutuhkan lebih banyak stimulasi; ia berpindah-pindah dari hal yang satu ke hal yang lainnya.
4.Anak reseptif sopan dan bersikap kooperatif, mengikuti instruksi dengan baik tetapi menentang perubahan.

Apabila orangtua mengetahui watak setiap anak, maka suatu pertengkaran atau kesalahfahaman dalam melakukan aktivitas sehari-hari dapat diperkecil kemungkinannya terjadi. Biasanya, orangua yang memahami setiap watak anak akan mampu memenuhi kebutuhan anak, dengan demikian anakpun akan berusaha untuk memenuhi 'kebutuhan' orangtuanya. Misalnya, jika orangtua mengetahui bahwa anaknya suka diperhatikan dan mereka melakukannya, maka pada situasi lain ketika orangtuanya membutuhkan/menginginkan anak untuk dapat bersikap sopan dan manis di depan tamu yang sedang berkunjung ke rumah, maka iapun akan mudah melakukannya (ia akan memenuhi kebutuhan orangtuanya tersebut).

Pada dasarnyaa, setiap anak ingin selalu dapat menyenangkan orangtuanya yang selalu memberikan perhatian dan pengertian kepadanya. Apabila orangtua mengerti pada apa yang dibutuhkan anak, maka anakpun akan melakukan hal yang sama, patuh kepada orangtuanya (anak memiliki kemampuan meniru yang baik) (yer).

Sumber : perkembangananak.com

TK & Play Group SMART BEE
www.smartbee221.blogspot.com

Memberikan Waktu Bersama Anak

Banyak orangtua sibuk dengan pekerjaan dan kepentingan pribadi sehingga melewatkan masa kanak-kanak anak mereka. Orangtua seperti ini biasanya sulit meluangkan waktu bersama anak dan keluarga. Mereka pulang ke rumah dengan membawa banyak tekanan dan kondisi tubuh yang sudah lelah. Mereka sudah tidak memiliki energi lagi untuk bersantai atau bermain bersama anak.

Bila kita renungkan, sebenarnya kesempatan bersama anak secara efektif adalah tidak lama. Mungkin hanya sampai anak berusia 6 tahun. Setelah itu, boleh jadi anak akan banyak menghabiskan waktunya bersama teman-temannya di sekolah, tempat bermain, ataupun di tempat-tempat kursus.

Oleh karena itu, manfaatkanlah masa kecil anak dengan sebaik-baiknya. Berikanlah ciuman dan pelukan sesering mungkin sebagai ungkapan bahwa betapa orangtua mencintai dan menyayangi dirinya. Janganlah pernah merasa bosan atau malas untuk bermain dan bercanda bersama anak. Sebab, mungkin kesempatan seperti itu akan sulit untuk diciptakan kembali, terutama ketika anak sudah besar.

Kedua orangtua bekerja adalah tidak salah. Tetapi, jangan sampai kehilangan waktu bersama anak. Sebab, jika orangtua tidak pernah memberikan waktu bersama anak, ia akan merasa tidak diperhatikan. Anak tidak memiliki tempat untuk mencurahkan perasaannya, tidak punya seseorang yang dapat diajak berbicara, tidak mempunyai seseorang yang dapat menentramkan hati dan perasaannya. Bila sudah demikian, anak cenderung mudah terpengaruh oleh sifat dan sikap negatif dari teman atau orang-orang yang berada di luar lingkungannya. Salah satu tindakan negatif yang dilakukan anak akibat kurang perhatian orangtua adalah terjerumus pada obat-obatan terlarang (narkoba).

Intinya, orangtua perlu mengatur waktu sebaik-baiknya agar waktu bersama anak dan keluarga tetap terjaga. Jangan sampai untuk urusan kantor dan arisan orangtua bisa meluangkan waktu berjam-jam. Sedangkan, meluangkan waktu bersama anak dan keluarga sedetikpun orangtua tidak bisa (Maya & Wido, 2006).
Menghabiskan waktu bersama anak dapat dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya adalah dengan membacakan cerita sebelum tidur, bercanda, saling berbagi perhatian dan kasih sayang. Selain itu, orangtua juga dapat mengajak anak untuk jalan-jalan dan bermain bersama. Hal demikian tentu akan membuatnya merasa senang dan bahagia.

Sumber : perkembangananak.com

TK & Play Group SMART BEE
www.smartbee221.blogspot.com

Mengenali Skoliosis

Skoliosis adalah kelengkungan tulang belakang yang abnormal ke arah samping, yang dapat terjadi pada segmen servikal (leher), torakal (dada) maupun lumbal (pinggang). sekitar 4% dari seluruh anak-anak yang berumur 10-14 tahun mengalami skoliosis; 40-60% diantaranya ditemukan pada anak perempuan

Bila Anda punya bayi maka ketika Anda memandikan bayi Anda cobalah berikan perhatikan Anda sejenak pada tulang belakangnya. Amati garis lurus dipunggung mulai dari titik tengah antara dua bahu hingga titik tengah lipatan gluteal (gluteal fold). Bila Anda curiga ada lengkungan maka coba Anda periksakan ke dokter Orthopaedi Tulang Belakang. Pada Anak yang sudah bisa jalan. Coba Anda perhatikan daerah punggung Anak kesayangan Anda ketika dia tidak sedang pakai baju mungkin dalam keadaan berdiri, duduk, menunduk, dan ketika sedang berjalan. Perhatikan kelurusan dua titik diatas, dan ketika menunduk (seperti rukuk atau membungkuk) coba Anda perhatikan apakah kedua sisi punggung sama tinggi.

Apabila Anda menemukan salah satu sisi punggung Anak kesayangan Anda lebih menonjol maka periksakan Anak kesayangan Anda ke dokter Orthopaedi Tulang Belakang. Kadang kadang pada anak penderita skoliosis terdapat suatu lipatan didaerah pinggang lebih nyata di salah satu sisi. Demikian pula dapat pula kita temukan kedua bahu tidak sama tinggi. Pada Remaja Skoliosis lebih banyak ditemukan pada wanita dibandingkan pada pria literatur mengatakan 4 berbanding 1.

Curahkan perhatian Anda beberapa menit untuk mengamati struktur tubuh remaja putri Anda. Dapat dilakukan ketika remaja putri Anda sedang berdandan. Ketika remaja putri Anda sedang berdiri amati kelurusan garis yang menghubungkan dua titik yang saya sebutkan diatas, amati tinggi bahu kiri dan kanan, amati garis lipatan di daerah pinggang kiri dan kanan, dan dapat pula memperhatikan besar payudara kiri dan kanan.

Dan ketika remaja putri sedang membungkuk (seperti shalat) maka amati kesamaan tinggi tonjolan punggung sisi kiri dan kanan. Bila salah satu tanda diatas Anda temukan atau Anda curiga remaja putri Anda menderita skoliosis maka jangan tunggu lagi untuk memastikan apakah remaja putri anda menderita skoliosis. Semoga dapat membantu mengetahui skoliosis lebih awal. Mencegah progresifitas jauh lebih murah ketimbang kita melakukan koreksi ketika sudutnya sudah besar

TEMPER TANTRUM

Orangtua yang mempunyai anak balita (bawah lima tahun) mungkin pernah mengalami suatu waktu ketika sang anak ingin dibelikan sesuatu atau ingin memiliki sesuatu dan permintaannya tidak dituruti maka tanpa di duga, si anak menangis sekeras-kerasnya bahkan sampai berguling-guling di lantai. Anda tentu menjadi jengkel, tapi si anak semakin menjadi-jadi tangisnya.

Itulah yang disebut Temper Tantrum (mengeluarkan amarah yang hebat untuk mencapai maksudnya), suatu letupan amarah anak yang sering terjadi pada usia 2 sampai 4 tahun di saat anak menunjukkan kemandirian dan sikap negativistiknya. Perilaku ini seringkali disertai dengan tingkah yang akan membuat Anda semakin jengkel, seperti menangis dengan keras, berguling-guling di lantai, menjerit, melempar barang, memukul-mukul, menyepak-nyepak, dan sebagainya. Bahkan pada anak yang lebih kecil, diiringi pula dengan muntah atau kencing di celana.

Mengapa Temper Tantrum ini bisa terjadi ? Hal ini disebabkan karena anak belum mampu mengontrol emosinya dan mengungkapkan amarahnya secara tepat. Tentu saja hal ini akan bertambah parah jika orang tua tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada anaknya, dan tidak bisa mengendalikan emosinya karena malu, jengkel, dan sebagainya.

Beberapa penyebab konkrit yang membuat anak mengalami Temper Tantrum adalah :
1.Anak terlalu lelah, sehingga mudah kesal dan tidak bisa mengendalikan emosinya.
2.Anak gagal melakukan sesuatu, sehingga anak menjadi emosi dan tidak mampu mengendalikannya. Hal ini akan semakin parah jika anak merasakan bahwa orang tuanya selalu membandingkannya dengan orang lain, atau orang tua memiliki tuntutan yang tinggi pada anaknya.
3.Jika anak menginginkan sesuatu, selalu ditolak dan dimarahi. Sementara orang tua selalu memaksa anak untuk melakukan sesuatu di saat dia sedang asyik bermain, misalnya untuk makan. Mungkin orang tua tidak mengira bahwa hal ini akan menjadi masalah pada si anak di kemudian hari. Si anak akan merasa bahwa ia tidak akan mampu dan tidak berani melawan kehendak orang tuanya, sementara dia sendiri harus selalu menuruti perintah orang tuanya. Ini konflik yang akan merusak emosi si anak. Akibatnya emosi anak meledak.
4.Pada anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan mentalnya, sering terjadi Temper Tantrum, di mana dia putus asa untuk mengungkapkan maksudnya pada sekitarnya.

Yang paling sering terjadi adalah karena anak mencontoh tindakan penyaluran amarah yang salah pada ayah atau ibunya. Jika Anda peduli dengan perkembangan anak Anda, periksalah kembali sikap dan sifat-sifat kita sebagai orangtua.

Beberapa hal yang bisa orangtua lakukan untuk mengatasinya :
Yang paling utama adalah orangtua harus menjadi contoh yang baik bagi anak. Jika Anda marah, salurkanlah itu secara tepat. Anda harus ingat, bahwa anak merekam setiap kejadian yang positif maupun negatif yang terjadi di sekitarnya. Jika tanpa Anda sadari anak Anda sudah merekam sifat-sifat Anda yang buruk, atau dia melihat si Ayah memukul Ibunya, bisa dipastikan peristiwa itu akan membawa pengaruh buruk dalam hidupnya kelak.

Jika anak ingin bermain dan tidak ingin diganggu, berilah kesempatan secara bijaksana kepadanya. Jangan terlalu mengekang, dan beri kepercayaan bahwa dia bisa bermain dan bergaul dengan baik.

Jika Anda terpaksa harus berseberangan pendapat dengan si anak saat dia mengamuk, kemukakan pendapat Anda secara tegas, tetapi lembut. Jangan membentaknya, apalagi sampai mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Atur emosi Anda, karena dia tidak sedang bermusuhan dengan Anda, dan dia bukan musuh Anda. Abaikan tangisnya dan ajaklah dia berbicara dengan lembut. Jelaskan kepadanya mengapa Anda tidak memberinya mainan yang dia ingini dengan alasan yang jujur dan tidak dibuat-buat. Jelaskan dengan sabar sampai dia mengerti maksud Anda yang sebenarnya, karena saat itu adalah konflik yang sedang dialami oleh si anak. Pastikan bahwa ia bisa mengerti maksud Anda dengan baik, karena konflik yang berakhir menggantung, akan muncul di kemudian hari dengan bentuk yang tidak pernah Anda duga sebelumnya. Sekali lagi, atur emosi Anda. Mungkin Anda malu dilihat banyak orang di supermarket. Tapi ingatlah akan perkembangan emosi anak Anda. Bisa Anda bayangkan apa yang terjadi jika Anda terbawa emosi dan rasa malu, dan Anda bersikap keras kepada anak Anda.

Ajarlah anak Anda untuk berlatih menguasai dan mengendalikan emosinya. Anda bisa mengajaknya bermain musik, melukis, bermain bola, atau permainan lainnya. Lewat permainan-permainan tersebut, anak belajar untuk menerima kekalahan, belajar untuk tidak sombong jika menang, bersikap sportif, dan belajar bersaing secara sehat. Tapi ingat, jangan sekali-kali Anda bermain curang. Mungkin Anda pikir ini hanya sekedar permainan. Tapi anak akan berpikir dan menerapkan pada dirinya, bahwa berlaku curang itu sah-sah saja.

Ref : www.iqeq.web.id

TK & Play Group SMART BEE
www.smartbee221.blogspot.com

Sunday, 22 March 2009

Mengajak Anak Bekerja (Bagian 2 - Habis)

Sambungan....

Lagipula dengan mendorong anak mempelajari berbagai pekerjaan akan membuatnya memiliki sikap lebih terbuka dan mudah menyesuaikan diri. "Anak akan mampu mengurus diri sendiri bila kelak dewasa. Juga akan lebih menghargai pekerjaan orang lain," terang staf pengajar pada Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta ini.

BERI CONTOH
Saat melatih si kecil bekerja, orang tua diminta tak hanya sekedar menyuruh atau memberi perintah. Apalagi terhadap anak usia 3 tahun yang masih belum memahami arti perintah. Ia belum sepenuhnya mengerti apa yang harus dilakukan sesuai perintah. "Ajak ia bekerja sambil kita memberi contoh!" kata Zahra. Misalnya saat mengajaknya menggosok gigi, katakan, "Ambil dulu airnya. Sekarang sikat giginya diberi odol..."
Selain itu, anak usia prasekolah sedang kuat-kuatnya meniru. Mereka tertarik terhadap apa yang dilakukan orang tuanya dan kemudian menirunya. Jika Anda memintanya untuk menyikat gigi sebelum tidur sementara si anak tak pernah melihat Anda melakukannya, besar kemungkinan ia akan menolak. Dalam memberi contoh, kita tak harus secara jelas meminta anak untuk memperhatikan. Misal, "Lihat, nih, Mama sedang menyikat gigi," atau, "Lihat, nih, Mama sedang menyapu." Sebab, meski anak tak melihat langsung, tapi sebenarnya ia diam-diam mengamati.

Yang juga harus diperhatikan, tambah Zahra, beri ia penjelasan mengapa ia harus melakukan sesuatu pekerjaan. "Anak usia 3 tahun biasanya tak banyak bertanya bila diminta melakukan sesuatu. Paling sering ia bertanya, kenapa? Beda dengan anak usia 4-5 tahun, seringkali bertanya dan pertanyaannya pun lebih dalam. Kenapa harus rapi? Kalau tidak rapi bagaimana? Ia pun suka meminta pendapat orang tuanya akan apa yang ia lakukan. Apakah boleh melakukannya begini atau begitu," paparnya.

KOREKSI DIRI
Sering terjadi anak merajuk dan malas atau menolak tugas. Ini wajar saja dalam membentuk pola mengingat anak usia 3-5 tahun belum terbentuk polanya. Anak pun belum tahu persis manfaat langsung bagi dirinya. "Seusia itu anak masih hedonis, masih bersenang-senang dan bermain-main, melakukan apa yang enak buat dirinya," terang Zahra. Yang penting, jangan bosan memberinya pengertian. "Kalau kamu tidak menyikat gigimu, nanti gigimu bisa rusak." Jadi, anak harus tahu bahwa sesuatu ada konsekuensinya. Begitu pun kala anak melakukan kesalahan atau gagal dalam pekerjaannya. "Beri tahu apa yang seharusnya ia lakukan dan bagaimana melakukannya dengan benar," nasehat Zahra.

Jangan menghukum anak karena hukuman tak memberi tahu pada anak mengenai "apa yang harus dilakukan" sebagai ganti atas "apa yang tak boleh dilakukan". Toh, kita belum bisa menjamin, pola yang kita bentuk itu sudah terjadi, karena anak masih dalam taraf belajar atau latihan. Di sisi lain, orang tua harus rajin melakukan koreksi diri. Mungkin saja kegagalan anak melakukan suatu tugas, karena pekerjaan itu melebihi batas kemampuannya. Anak usia 3 tahun, misalnya, disuruh menyemir sepatu. Tentu kita tak bisa berharap ia akan melakukannya dengan baik. Atau anak umur 5 tahun belum bisa mandi sendiri. Boleh jadi karena sebelumnya Anda tak pernah melatih si kecil mandi sendiri. Maka jangan katakan, "Sudah besar, kok, enggak bisa mandi sendiri!" atau memarahinya. Nah, mulailah melatihnya dan membiasakan ia mandi sendiri.

Menuntut anak melakukan suatu pekerjaan yang belum pernah diajarkan kepadanya maupun yang melebihi batas kemampuannya, hanya akan membuatnya frustrasi. Akibatnya, anak memaksakan dirinya untuk melakukan daripada dimarahi atau dihukum ayah/ibunya. Atau sebaliknya, anak menolak sama sekali.

PERLU HADIAH
Sebaliknya bila anak melakukan pekerjaan dengan baik, berilah pujian secara spontan. Katakan, "Lihat, tempat tidurmu jadi rapi. Kamu berhasil melakukannya." Atau, "Wah, gigimu putih bersih. Itu karena kamu rajin sikat gigi." Pujian, menurut Zahra, bukanlah imbalan melainkan sebagai penguat. Anak akan senang bahwa apa yang ia lakukan dihargai. Ini akan mendorongnya untuk melakukan tingkah laku itu lagi. Apalagi anak usia ini suka sekali mengatakan, "Ibu, aku pintar, kan? Aku bisa, kan?"

Pujian juga bisa disertai ungkapan afeksi seperti pelukan, ciuman, usapan kepala, tepukan di bahu, dan sebagainya. "Ungkapan afeksi ini merupakan pendorong yang paling penting dapat kita berikan kepada anak," kata Zahra. Bagaimana dengan imbalan hadiah? Misal, anak dijanjikan akan dibelikan mobil-mobilan atau jalan-jalan ke Dunia Fantasi apabila ia bisa merapikan tempat tidurnya? Zahra agak keberatan. "Sepertinya, kok, enggak sebanding, ya," ujarnya. Zahra berpendapat, hadiah lebih pantas diberikan untuk hal-hal yang sifatnya mengandung prestasi yang harus diraih anak. Misalnya jika nilai menggambarnya bagus atau ia berani tampil menyanyi di depan kelas. Sehingga anak akan berusaha untuk memperjuangkannya.

Bila kita terlalu mengumbar hadiah yang sifatnya cukup berharga, Zahra khawatir anak akan terlalu biasa dan sangat menantikannya. Akibatnya, satu ketika kita bakal kebingungan sendiri. "Sesekali bolehlah kita berikan yang kecil-kecil seperti es krim atau makanan favorit anak," katanya. Itu pun dalam keadaan, misalnya anak merajuk, banyak hal yang sudah dikerjakan, atau tugas tersebut agak susah dan saat itu ia ingin es krim. Katakan saja, "Ya, nanti Mama belikan es krim. Tapi bereskan dulu, dong, tempat tidurnya." Biasanya anak mau. Tapi tentunya jangan sampai hal ini menjadi kebiasaan. Karena bisa-bisa, anak mau melakukan suatu pekerjaan hanya karena ia ingin mendapatkan imbalan. Celaka, kan?

Sumber : Tabloid Nakita

www.smartbee221.blogspot.com

Mengajak Anak Bekerja (Bagian 1)

KITA KERJA, YUK!

Kendati masih balita, dia sudah bisa diajak kerja, lo. Selain akan menumbuhkan rasa tanggungjawab, juga baik untuk kepribadiannya kelak. Tapi, pekerjaan apa yang pantas dilakukan si kecil dan bagaimana cara melatihnya? Ketika sedang bersih-bersih rumah, si kecil yang berusia 4 tahun nyeletuk, "Bunda, aku mau nyapu." Nah, apa rekasi reaksi Anda? Kebanyakan, sih, akan mengatakan, "Nggak usah, biar Bunda saja. Kamu, kan, masih kecil." Tentu saja jawaban itu tidak bertujuan melecehkan si kecil karena kita tahu persis, ia belum bisa melakukan hal itu.

Tapi pernahkah terpikir oleh kita, jawaban macam itu justru akan ditangkap anak sebagai, "Saya tak mampu. Buktinya, Bunda nggak percaya padaku." Nah, berabe, kan, jika anak sudah punya anggapan bahwa dirinya tak mampu (dan "vonis" itu dijatuhkan oleh ibu)? Sebab itulah, para ahli tak setuju bila ayah dan ibu cenderung melarang atau menolak kala anak menunjukkan minatnya terhadap suatu pekerjaan. Selain akan menumbuhkan perasaan tak mampu, harga diri si kecil juga terluka. Apa pun juga, anak tetap memerlukan perasaan dihargai bahwa ia mampu melakukan sesuatu. Dengan kata lain, berilah ia kesempatan meski kita tahu persis, ia tak bisa melakukannya dengan sempurna.

TIDAK MANDIRI
Melatih anak bekerja, ujar psikolog Zahrasari Lukita Dewi, S.Psi., sangat bermanfaat bagi kehidupan anak kelak. Selain anak mengenal kemampuannya, ia juga jadi tahu bahwa setiap individu punya tanggung jawab. Minimal, terhadap dirinya sendiri atas apa yang ia lakukan atau yang ia miliki. Ia pun jadi tahu disiplin, kapan waktu main, belajar, dan bekerja. "Bila anak tak pernah dilatih bekerja, ia tak pernah belajar tentang apa yang harus dilakukannya dan mengapa," ujar Zahra. Apalagi bila orang tua sampai mengatakan, "Kamu mau gosok gigi atau tidak? Kamu sendiri, lo, yang nanti merasakan akibatnya." Ujaran macam ini hanya akan menumbuhkan sikap tidak percaya diri bahwa ia dapat mengerjakannya.

Begitu pula jika kita cenderung memanjakan anak. Saking sayangnya, anak disediakan sejumlah "asisten" yang selalu siap membantunya. Mau pakai sepatu, tinggal sodorkan kaki. Mau makan, tinggal buka mulut. "Sungguh, ini bukan kebiasaan baik. Anak menjadi kurang mandiri, tak punya rasa tanggung jawab, dan amat bergantung pada orang lain," ingat Zahra. Tak jadi soal bila hasil kerja si kecil masih belum baik atau rapi. Memang bukan itu, kok, yang terpenting, melainkan penanaman pola kebiasaan tertentu pada anak. Jadi bukan agar anak bisa melipat selimut dengan rapi, tapi membiasakannya melipat selimut. "Lebih pada membiasakan anak untuk disiplin dan bertanggung jawab terhadap kepentingan dirinya dan apa yang ia lakukan," terang Zahra.

ABAIKAN JENIS KELAMIN
Jadi, Anda setuju, bukan, melatih anak bekerja? Nah, sebelum melatih, menurut Zahra, perhatikan dulu usia si kecil. Sebab lewat usia, kita bisa mengetahui sejauh mana kemampuan anak. Baik secara fisik, emosional, dan sosial. "Sejak anak sudah bisa berinteraksi dengan dunia di luar dirinya dan secara fisik sudah kuat, berarti ia sudah bisa dilatih bekerja untuk hal-hal yang sifatnya harus dibentuk. Biasanya di usia prasekolah, yaitu 3 sampai 5 tahun," terangnya. Pekerjaan apa yang cocok baginya? Yang utama adalah yang berkaitan dengan diri si anak sendiri. Mulai dari bangun tidur, mau pergi "sekolah", pulang "sekolah". Seperti belajar mandi, menyabuni badan, memakai sepatu, dan menyisir rambut. Semua itu dilakukan tanpa bantuan orang lain.
Selanjutnya, sesuai usia dan kemampuan si anak, jenis pekerjaannya makin diperlebar. Semisal merapikan tempat tidur, membantu di dapur, di kebun, membantu mencuci mobil, dan sebagainya. Yang tak kalah penting, sambung Zahra, "Sebaiknya pekerjaan yang ditugaskan pada anak, jangan dibedakan berdasar jenis kelamin!" Bahwa ada yang dinamakan pekerjaan lelaki dan pekerjaan perempuan, itu semata karena faktor budaya. "Jadi, tak ada salahnya anak lelaki dilatih menyapu dan membantu di dapur atau anak perempuan diajak mencuci mobil. Setiap anak harus tahu, apa yang ia lakukan merupakan bagian dari tanggung jawabnya," tuturnya.

Lagipula dengan mendorong anak mempelajari berbagai pekerjaan akan membuatnya memiliki sikap lebih terbuka dan mudah menyesuaikan diri. "Anak akan mampu mengurus diri sendiri bila kelak dewasa. Juga akan lebih menghargai pekerjaan orang lain," terang staf pengajar pada Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta ini.

BERI CONTOH
Saat melatih si kecil bekerja, orang tua diminta ..... (bersambung)

Sumber : Tabloid Nakita

www.smartbee221.blogspot.com

Thursday, 19 March 2009

Saat Tepat Berkata "Tidak"

Anak usia balita sering berkata "tidak" sebagai jawaban atas larangan maupun perintah orangtuanya. Mengapa? Sebagai orangtua mungkin pernah punya pengalaman sama. Si kecil menolak perintah atau larangan Anda, dan bahkan berteriak-teriak, "Tidak! Tidak!" sambil menghentakkan tangan dan kakinya sebagai tanda protes. Si kecil yang waktu bayi tampak penurut, kini berubah suka membangkang. Anda tak dapat menghindarinya.
Meski kata "tidak" mungkin bukan merupakan kata pertama yang ia ucapkan, tapi bagi kebanyakan anak usia ini, dengan segera kata "tidak" menjadi kata favorit yang paling sering diucapkan. Sebab, ia cenderung lebih sering mendengar kata "tidak" dari Anda, terutama ketika Anda tak setuju dengan perilakunya. "Tidak, kamu harus pulang sekarang!" ketika ia menolak diajak pulang saat bermain di rumah temannya. Atau, "Tidak, kamu tak boleh menyentuh itu!" saat tangannya diulurkan ke arah kompor. Begitu pun waktu ia mencoba naik ke atas meja, "Tidak, nanti jatuh!" atau "Tidak, nanti pecah!" saat ia memegang gelas kaca.

Selain itu, "hobi"nya berkata "tidak" juga disebabkan ia ingin menunjukkan siapa dirinya. Ingat, di usia ini ia mulai mengembangkan kemandiriannya. Dengan berkata "tidak" secara terus-menerus dan berulang-ulang, menurut Eisenberg, Murkoff & Hathaway dalam buku What to Expect The Toddler Years, akan memunculkan kesadarannya bahwa ia sekarang menjadi pribadi yang terpisah dari ayah-ibu. Kata "tidak" menjadi deklarasinya untuk menunjukkan kemandiriannya, dengan mengetes otoritas Anda dan otonominya. Ia akan berkata "tidak" pada perintah Anda, larangan dan batasan yang Anda berikan, serta terhadap apa pun. Yang menggelikan, kadang-kadang ia pun berkata "tidak" pada keinginan-keinginannya sendiri. Seolah-olah kata "tidak" meluncur secara otomatis dari mulutnya.

Suka membangkang
Anda bukan satu-satunya orang yang akan diberinya kata "tidak". Babysitter, pembantu, kakek-nenek, tante dan paman, bahkan teman bermainnya, juga akan disemburinya dengan kata itu. Dalam upaya melindungi kebenarannya sebagai pribadi terpisah, ia tiba-tiba bisa menjadi posesif terhadap miliknya. Jika ada orang yang dirasanya mengancam dirinya dan miliknya, tanpa ragu-ragu ia akan berkata "tidak".

Tapi Anda tak usah cemas. Menurut ahli, respon negatif (sikap menolak) si kecil, bukan merupakan refleksi Anda sebagai orangtua maupun anak sebagai pribadi. Usahanya menentang otoritas Anda, 100 persen sehat dan normal. Lebih dari itu, Anda dapat mengetahui perkembangan inteligensi anak Anda. Sebab, seperti dikatakan psikolog Retno Pudjiati Azhar, respon negatif yang ditunjukkan anak, berkaitan dengan perkembangan inteligensinya. Dengan ia menolak, Anda jadi tahu bahwa kemampuan analisanya mulai berkembang. "Justru bila anak nggak pernah membangkang, selalu patuh, penurut, kalem, kita harus curiga, ada apa ini?" kata staf pengajar di Fakultas Psikologi UI ini.

Tapi tak berarti Anda boleh mengabaikan respon negatifnya. Ia harus belajar mengendalikan dirinya agar ia dapat bersosialisasi dengan baik. "Orangtua harus mulai menanamkan nilai-nilai moral. Sebab, salah satu aspek pokok yang harus dikembangkan anak usia ini ialah perkembangan moral. Tentunya di usia ini nilai-nilai moral yang ditanamkan masih terbatas pada pengenalan baik dan buruk," kata Retno. Dengan Anda berkata "tidak", lanjut Retno, anak jadi tahu apa yang boleh dan tak boleh dilakukannya. Tapi, lanjutnya, "Jangan keseringan mengatakan 'tidak' karena dapat berdampak buruk terhadap tumbuh-kembang anak." Antara lain, si kecil jadi tak percaya diri, ragu-ragu, selalu akan minta dukungan orang lain untuk melakukan sesuatu. Jadi?

Bijaksana
Katakan "tidak" hanya untuk alasan tepat. Misal, saat ia minta ayunan sementara rumah Anda tak punya halaman. Atau di toko ia merengek minta dibelikan mainan yang sebetulnya sudah ia miliki. Juga bila ia ingin nonton teve seharian. Begitu pula untuk hal-hal yang berbahaya baginya dan orang lain. Misal, ia ingin memanjat pohon, naik ke atas meja, atau memukul temannya. Anda pun jangan buru-buru bilang "tidak" sebelum yakin terhadap apa yang akan ia lakukan. Sekalipun ia jelas-jelas menuju meja, tunggu sampai ia mengambil ancang-ancang untuk naik. Jika belum-belum Anda sudah berseru, "Jangan naik ke meja!" padahal mungkin sebenarnya ia tak bermaksud begitu, mungkin ia malah sengaja melakukannya.

Tapi jangan berkata "tidak" lalu selesai. Ia perlu diberi penjelasan "mengapa tidak". Meski ia tak selalu mampu mengerti atau menerima penjelasan Anda, pada akhirnya ia akan mengerti juga, kok. Karena itu, penjelasan Anda harus sederhana dan disesuaikan tingkat pemahamannya. Misal, "Kamu tidak boleh naik ke atas meja, karena kamu bisa jatuh dan terluka." atau, "Kamu tidak boleh memukul temanmu, karena pukulan membuat sakit."

Jika ia minta dibelikan sesuatu dan Anda tak punya cukup uang, jangan beri ia penjelasan dengan merinci keuangan Anda, karena hanya akan membuatnya bingung. Daripada mengatakan, "Mobil-mobilan itu harganya mahal. Ayah tahu kamu akan senang sekali jika bisa memilikinya, tapi kebutuhan kita masih banyak. Kita tak bisa menggunakan semua uang untuk membeli mainan, karena kita juga perlu uang untuk membeli makanan dan pakaian," lebih baik katakan, "Ayah tak punya cukup uang untuk membeli mobil-mobilan itu."

Rumah Harus Aman
Menjaga keamanan di rumah juga akan menolong Anda mengurangi berkata "tidak".Ingat, anak usia ini sedang sibuk mengeksplorasi dunianya dan mempelajari keterampilan-keterampilan baru untuk mengerti bahwa ia bisa dan tak bisa. Jadi, buatlah rumah Anda aman untuknya dan ia pun aman berada di rumah.

Pasang steker listrik di tempat yang jauh dari jangkauan anak atau beri penutup jika posisinya sudah terlanjur di bawah. Halangi jalan naik ke tangga atau jalan masuk ke kolam renang dengan membuatkan pintu pengaman. Beri pagar di sekeliling kolam ikan. Simpan benda-benda tajam, obat-obatan dan bahan kimia pembersih di tempat tertutup dan tak mudah dijangkau anak. Jauhkan segala sesuatu yang bisa ditarik dan dijatuhkan seperti taplak meja berjuntai dan benda-benda pajangan. Jauhkan barang-barang yang bisa diangkat atau mudah didorong anak sebagai alat untuk naik ke tempat tinggi, dan lainnya.

Kendalikan Diri
Bagaimana jika Anda sudah bilang "tidak" tapi si kecil cuek? Cobalah untuk tak hilang sabar. Sebab, kemarahan Anda pada keteguhan hatinya hanya akan memperkuat kemarahannya atas "campur tangan" Anda. Lebih bijaksana jika kita bereaksi tenang (dan sungguh-sungguh) daripada marah-marah. Misal, ia ngotot mau naik ke atas meja dan tetap berusaha naik meski sudah dilarang. Nah, daripada memarahinya, lebih baik angkat si kecil walau mungkin ia meronta sambil menjerit-jerit sebagai tanda protes. Bila ia sudah tenang, jelaskan mengapa Anda tadi mengangkatnya. Anda bisa berkata, "Kalau kamu berdiri di atas meja, bisa jatuh. Sakit, lo, rasanya."

Tetapkan Batasan
Ia membutuhkan batasan-batasan karena ia sering tak bisa mengendalikan dorongan hatinya dan menjadi menderita ketika kehilangan kontrol. Tentukan batasan-batasan untuk melindunginya dari bahaya dan ajarkan ia membedakan perilaku yang diterima dan ditolak. Selain itu, batasan-batasan Anda juga melatihnya disiplin untuk mengembangkan kemandiriannya, agar ia bisa mengarahkan dirinya sendiri.

Batasan-batasan ditetapkan oleh Anda dan dilaksanakan dengan kasih sayang. Biarkan ia tahu apa yang diharapkan dan sediakan sesuatu yang menyenangkan untuk membuat ia aman saat bereksplorasi dan berkembang. Tentang apa saja batasan-batasan yang harus ditetapkan, tergantung pada prioritas Anda. Tiap keluarga punya aturan sendiri. Dalam banyak keluarga, kebiasaan sopan santun dan etiket sederhana (seperti menggunakan kata "Tolong", "Terima kasih") saling berbagi, menghargai perasaan orang lain, adalah yang utama. Yang penting, batasan-batasan itu harus bisa benar-benar dilaksanakan sepenuhnya oleh Anda maupun anak.

TK & Play Group SMART BEE
www.smartbee221.blogspot.com

TV, Teman Atau Musuh

Anak-anak suka sekali menonton teve. Memang, teve bermanfaat buat anak. Tapi jika tidak dibatasi dan diawasi, justru berbahaya. "Ayo, makan dulu! Dari tadi, kok, di depan teve terus." Kalimat seperti ini, pasti pernah terlontar dari orangtua kepada anaknya. Terutama anak usia prasekolah, yang menurut penelitian memang menunjukkan minat lebih besar pada teve ketimbang anak usia sekolah. Sebabnya? Antara lain, anak balita cenderung terbatas teman bermainnya, masih lebih banyak tinggal di rumah, dan belum mampu bersikap kritis mengenai segala sesuatu yang dilihatnya di layar kaca. Tapi kebiasaan juga pegang peranan dalam hal ini. Banyak anak sudah dibiasakan nonton TV sejak masih bayi.

Ada orangtua menjadikan TV sebagai babysitter karena tak mau repot. Biar anaknya anteng, si kecil didudukkan di depan teve. "Bahkan ada yang untuk makan, harus sambil nonton TV. Kalau tidak, anaknya tak mau makan," kata psikolog Hera L. Mikarsa. Jelas, si kecil tak begitu saja tertarik pada TV jika Anda tak pernah memperkenalkan ia pada TV. Dan ia tak akan pernah kecanduan nonton TV jika Anda tak membiarkan ia nonton kapan saja sesuka hatinya tanpa ada batas. Bukan berarti si kecil dilarang sama sekali nongkrong di muka layar kaca.
TV, sarana belajar perilaku sosial.

Bagaimanapun, TV merupakan salah satu media belajar bagi anak dan bisa memberi pengaruh positif terhadap tumbuh kembangnya. Yang penting, mencegahnya agar tak sampai kecanduan nonton TV. Ingatlah, anak usia ini sedang dalam tahap mengembangkan perilaku sosial. Ia harus mendapat banyak kesempatan bermain dengan teman-temannya. Karena itu, tegas Hera, jangan jadikan TV sebagai pengganti bentuk bermain. "Nonton TV itu, kan, cenderung pasif. Tak ada interaksi dua arah. Beda jika ia main dengan teman-temannya. Ia akan aktif, entah fisiknya, komunikasi, atau sosial. Jadi, ada timbal-balik, belajar saling memberi," jelas Ketua Program Profesi pada Fakultas Psikologi UI ini.

Selain itu, anak usia ini sedang kuat-kuatnya meniru, entah perilaku atau omongan. Apa yang ia dengar dan lihat, ia ucapkan dan lakukan tanpa ia mengerti. Sering, kan, kita melihat serta mendengar, betapa fasihnya (meski masih cadel) si kecil menirukan iklan atau nyanyian yang dilihatnya di teve? CUKUP 40-45 MENIT Untuk mengurangi dampak negatif teve, Hera menganjurkan, batasi waktu nonton TV, sekitar 40-45 menit bagi anak usia ini. Hera juga menyarankan, sebagaimana dianjurkan banyak pakar, dampingi anak saat nonton TV dan pilihkan program-program yang layak untuk ia tonton. "Anda tak bisa menjadikan TV sebagai baby-sitter jika Anda mau mendidik anak menjadi pemirsa yang kritis," tukas Hera. Apa juga, TV hanyalah sebuah benda mati.

Perlu Pendampingan dan Pengawasan
Anda tak dapat menyalahkan TV jika anak lebih suka duduk berjam-jam di depan TV ketimbang melakukan aktivitas bermain lainnya atau ia jadi suka berkelahi gara-gara sering menyaksikan adegan kekerasan di TV. Seberapa besar pengaruh TV dan apakah pengaruhnya baik atau buruk terhadap anak Anda, menurut Elizabeth B. Hurlock, pakar psikologi perkembangan, ditentukan oleh jumlah bimbingan dan pengawasan terhadap anak yang menonton TV. Jika Anda menyediakan waktu untuk menafsirkan apa yang dilihat anak di layar TV, ia akan mengerti dan menafsirkan apa yang dilihatnya dengan benar. Selanjutnya, dengan bimbingan dan pengawasan atas program yang akan ditontonnya, ia dapat mempelajari pola perilaku dan nilai yang sehat yang akan membimbing ke arah sosialisasi yang baik dan tidak ke nilai serta pola perilaku yang tak sehat.

Kenapa ia harus didampingi? Kemampuan berpikir anak masih terbatas. Ia akan mengalami kesulitan mengikuti alur cerita karena keterbatasannya membedakan isi yang penting dan pokok dengan isi insidental yang bersinggungan dengan pokok utama. Sebuah isi insidental (Aldo yang gemuk jatuh tertelungkup) bisa tampak sama pentingnya dengan tema utama (Aldo dan kelompoknya hendak membantu seorang anak perempuan yang sedih karena orangtuanya bertengkar).

Ia pun mengalami kesulitan untuk memadukan unsur-unsur cerita yang berbeda yang terjadi pada waktu berlainan. Ia mungkin tak mampu menghubungkan satu adegan yang menggambarkan seorang pria bertopeng yang tengah merampok bank dengan adegan berikutnya setengah jam kemudian yang menggambarkan seorang pria ditangkap dan dipenjarakan.

Akhirnya, kesimpulan seorang ahli berikut ini patut Anda simak. "Jika Anda menggunakan TV sebagai penjaga anak sehingga mengabaikan hubungannya dengan orang lain, jelas Anda lalai. Jika Anda tak memperkenalkan buku kepada anak-anak hanya karena adanya TV, maka Anda bertindak ceroboh. Jika Anda tak membantu anak untuk membangun hubungan yang baik dengan teman sebayanya hanya karena TV 'menjaga mereka di rumah', maka Anda benar-benar bersalah terhadap mereka."

Apa Yang Anak Serap Dari TV? Jawabannya, banyak sekali. Semua program TV dan siaran iklan yang menyertainya, menyampaikan pesan yang berbeda-beda dan mengajarkan hal yang lain pula. Satu hal yang dicemaskan banyak orangtua ialah anak belajar kekerasan dari TV. Ini bisa dipahami. Sebab, tak sedikit adegan kekerasan muncul di layar TV, mulai dari pertengkaran mulut sampai perkelahian dan pembunuhan. Bukan cuma dalam program-program tayangan dewasa, tapi juga anak-anak. Anda tak dapat menghindari ini, tapi bisa mencegah pengaruh buruknya. Jelaskan padanya, orang-orang yang ia lihat di TV adalah aktor dan mereka melakukan itu tidak dengan sungguh-sungguh.

Atau, hapuskan semua program yang lebih banyak mengeksploitir adegan kekerasan dari daftar program TV yang sudah Anda pilih untuk anak. Jangan pula izinkan si kecil menonton program untuk dewasa. Pelajaran lain dari TV yang perlu diwaspadai ialah stereotipe sosial tentang wanita, pria, minoritas, orang lanjut usia, dan banyak kelompok lain, termasuk anak-anak. Stereotipe ini kadang dilebih-lebihkan. Misalnya, pria selalu digambarkan jadi pemimpin dalam mengatasi keadaan sementara yang wanita tetap pasif atau tak berdaya. Anak-anak belajar dari penggambaran ini terutama bila mereka hanya mempunyai sedikit kontak dengan kelompok yang digambarkan. Sebagaimana adegan kekerasan, Anda pun tak dapat menghindari adegan-adegan yang menggambarkan stereotipe sosial ini. Nah, berilah gambaran yang tepat pada anak tentang hal yang sebenarnya berlaku di masyarakat. Bukan cuma lewat kata-kata tapi juga harus diperkuat oleh perilaku Anda sehari-hari.

Bagaimana Anda sehari-hari bersikap terhadap anak Anda, misalnya, merupakan contoh bagaimana seharusnya orang dewasa memperlakukan seorang anak. Atau, bagaimana ayah memperlakukan ibu dan bagaimana ibu memperlakukan ayah, akan memberikan gambaran pada anak tentang bagaimana seharusnya seorang pria memperlakukan wanita dan sebaliknya. Ingatlah, TV akan memberikan pengaruh yang nyata pada anak, antara lain tergantung dari seberapa banyak anak dapat mengingat hal-hal yang ia tonton dan seberapa baik pemahamannya terhadap apa yang ia tonton. Jika ia menafsirkan kekerasan atau stereotipe sosial di TV sebagai pola perilaku yang direstui masyarakat dan model yang benar untuk ditiru, maka pengaruhnya akan sangat berbeda ketimbang bila ia menafsirkannya sebagai pola perilaku yang tak direstui dalam masyarakat.

TK & Play Group SMART BEE
www.smartbee221.blogspot.com

Apraxia: Apa, Siapa dan Mengapa?

Apa itu Apraxia?
Apraxia atau dyspraxia adalah suatu kelainan bicara yang disebabkan kelainan motorik (otot gerak), yang menghambat kemampuan seseorang untuk menggerakkan lidah dan bibir secara benar untuk bicara. Apraxia juga bisa mempengaruhi proses mengunyah dan menelan. “Apraxic Speech” atau kata-kata apraxia mempunyai banyak kesalahan bunyi, dan bisa terdengar menarik panjang dan/atau tidak rata, melonjak-lonjak. Apraxia juga berpengaruh terhadap kosa kata atau susunan kata.

Siapa yang mengalami Apraxia?
Siapa pun bisa mengalami apraxia, laki-laki atau perempuan pada usia mana pun. Anak-anak yang terlahir dengan kelainan ini juga sering disebut mengalami dyspraxia, di mana masalah-masalah lain yang kemudian hari timbul dikenal dengan apraxia.

Mengapa orang mengalami Apraxia?
Penyebab pasti dyspraxia atau apraxia pada anak-anak masih belum diketahui, dan banyak dilakukan penyelidikan untuk itu. Belakangan ini, ada banyak kasus yang didokumentasikan mengenai apraxia pada anak-anak, terutama pada kalangan cacat saraf.

Penyebab paling umum dari Apraxia pada orang dewasa adalah stroke (Cerebral Vascular Accident). Suatu area pada otak yang disebut “Area Broca” mengendalikan beberapa pengaturan pada proses bicara. Area ini juga berhubungan dengan kelainan bicara motorik lainnya.

Apa yang bisa dilakukan terhadap Apraxia?
Terapi wicara bisa menolong orang-orang yang mengalami apraxia, pada usia berapa pun. Terapi ini unuk memperbaiki daerah pergerakan pada bibir dan lidah, memperbaiki peletakan bibir dan lidah untuk bicara, memperbaiki kekuatan bibir dan lidah, serta memperbaiki koordinasi yang dibutuhkan untuk bicara.
Ada banyak video dan program tersedia di pasaran, tapi ada beberapa teknik terapi yang populer diterapkan, di antaranya : penggunaan cermin, meniup gelembung udara, menghisap, latihan-latihan lidah dan bibir, terapi menelan, dan latihan penempatan lidah dan bibir untuk berbagai jenis bunyi.

Ketika seorang anak atau orang dewasa mengalami kelainan artikulasi (pengucapan bunyi), seorang terapis wicara harus selalu melakukan uji alat pada mulut (Oral Peripheral examination). Pengujian ini adalah untuk mengukur kekuatan, pergerakan, dan struktur dari seluruh sistem bicara. Tes meliputi pengeceken kerataan gigi, menganalisa langit-langit keras untuk melihat simetris atau tidak, mengecek berbagai pergerakan bibir dan lidah, menguji uvula (benda bulat kecil yang menggantung di belakang tenggorokan), dan mengecek koordinasi lidah dan bibir pada waktu digerakkan dengan cepat dan berubah-ubah.

TK & Play Group SMART BEE
www.smartbee221.blogspot.com

Pendidikan Plus

Pendidikan anak dewasa ini semakin menjadi perhatian utama dan prioritas para orang tua. Ada beberapa penyebab : Kesadaran akan pentingnya “bersekolah” dan kesadaran akan arti “sekolah”, namun tidak jarang ada pula penyebab lain, yakni ingin menyerahkan beban pendidikan / tugas pendidikan ke sekolah (dan para pendidik) – entah karena memahami adanya “value added” di sekolah, atau karena frustrasi, sulit mengarahkan anaknya sendiri di rumah (jadi biar tidak pusing-pusing, anaknya di sekolahkan saja)…

Apapun alasan kita para orang tua dalam menyekolahkan anak, seyogyanya kita memahami prinsip bahwa : Keluarga adalah tempat pertama dan utama pendidikan seorang anak. Keluarga = sekolah plus. Selama ini, kita mencari sekolah plus, untuk bisa mengatasi “kekurangan” yang ada di rumah atau di dalam pola asuh kita terhadap anak. Namun, kita sering lupa, setelah kita memasukkan anak ke sekolah “plus”, kita tidak mempelajari dan mengambil “nilai plus-nya” untuk diterapkan di rumah. Akibatnya, di rumah tetap minus dan “plus”-nya tertinggal di sekolah.

Konsekuensi
Ketika musim sekolah telah berjalan, timbul beberapa kesulitan dan masalah – yang tanpa sadar merupakan dampak dari tertinggalnya nilai “plus” di sekolah.
-Problem belajar
-Problem motivasi
-Problem perilaku
-Problem emosional
-Problem sosial
-Problem nilai

Apa yang harus dilakukan?
Orang tua perlu mencari benang merah dan sinkronisasi beberapa hal yang utama, yang membantu anak mengembangkan hal-hal dasar dalam kepribadiannya. Sebagaimana orang tua memilih sekolah yang sesuai dengan orientasi nilai dan harapan mereka, begitu juga orang tua seyogyanya mengadaptasikan pola-pola pendidikan yang konstruktif dan positif dari sekolah. Paling tidak, di antara keduanya, saling mengisi – dan bukan saling meniadakan. Untuk itu lah, komunikasi orang tua dengan anak, dan komunikasi antara orang tua dengan pihak sekolah, menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Kita tidak bisa bersikap “tahu beres” baik terhadap anak maupunn pihak sekolah.

Karena, ketika terjadi ketidakberesan, kita tidak bisa semata-mata menunjuk pihak sekolah sebagai “biang keladi” dari persoalan yang dihadapi anak. Bisa saja persoalan dimulai / terjadi di sekolah, namun kita harus melihatnya secara bijaksana, karena reaksi seorang anak terhadap sesuatu, sangat dipengaruhi oleh proses belajar yang dilaluinya dan pola asuh yang paling mendominasi bentukan sikap dan kepribadiannya.

Jadi, keluarga, adalah tempat utama pendidikan dan pengembangan seorang anak. Sekolah, pada dasarnya mengarahkan, memberikan bimbingan dan kerangka – bagi anak untuk belajar, bertumbuh dan berkembang. Sementara keluarga, justru menjadi center of education yang utama, pertama dan mendasar.

TK & Play Group SMART BEE
www.smartbee221.blogspot.com

Membesarkan Anak Yang Kreatif

Ibu dan ayah yang ingin membesarkan 'Michel Angelo' baru mungkin perlu sedikit menahan diri. Riset baru mengatakan bahwa anak-anak yang orang tuanya benar-benar 'membiarkan mereka' akan menjadi lebih kreatif dibandingkan anak-anak yang orang tuanya lebih banyak terlibat dalam proses kreativitas mereka. Hasil temuan tersebut dipresentasikan oleh Dr. Dale Grubb dari Baldwin-Wallace College di Berea, Ohio, dalam pertemuan tahunan American Psychological Society.

Para orang tua yang suka mengajari berbagai hal kepada anak-anak mereka, cenderung mempunyai anak-anak yang kurang kreatif, demikian ia menjelaskan. Dan yang perlu digarisbawahi ialah kadang mereka terlalu berlebihan mencoba untuk terlibat dalam proses kreativitas si anak.

Biarkan kreativitas mereka berkembang
Grubb menjelaskan bahwa dalam satu tes mereka memberikan beberapa pertanyaan sederhana, seperti "bagaimana anda dapat menggunakan sepotong kertas?". Semakin banyak ataupun semakin 'asing' jawaban yang diberikan, maka mereka dianggap semakin kreatif.

Tidak mengherankan, orang tua yang lebih kreatif tampaknya mempunyai anak-anak yang lebih kreatif. Namun Grubb mengatakan bahwa mereka masih tidak jelas apakah hal ini terjadi karena faktor genetik atau cara mereka mendidik. Dengan memusatkan perhatian pada cara orang tua mendidik, para peneliti merekam interaksi antara orang tua dan anak merekasaat sedang bermain. Mereka membuat asumsi bahwa orangtua dengan cara mendidik yang paling mendukung dan 'memungkinkan', akan mempunyai anak-anak yang paling kreatif. " 'Memungkinkan' berarti bersikap sangat fokus pada anak, bertanya kepada si anak tentang apa yang ingin ia lakukan, mengapa begini atau begitu serta hal-hal lain yang seperti itu," Grubb menjelaskan.

Tetapi asumsi yang mereka buat ternyata keliru. Gaya mendidik yang 'memungkinkan' bukan hanya tidak ada kaitannya dengan tingkat kreativitas tertentu dari anak, akan tetapi justru – meskipun tidak besar - cenderung menyebabkan berkurangnya kreativitas. "Malah gaya 'memungkinkan' ini dapat dengan mudah berkembang menjadi apa yang disebut sebagai sikap 'memaksa', yang membuat orang tua sering berkata: "Jangan begitu, lakukan seperti ini", dan tidak memberikan banyak pilihan kepada anaknya," kata Grubb.

Pesan yang dapat diambil, menurut Grubb, adalah bahwa kalau orangtua menghargai kreativitas si anak dan memberikan dukungan tanpa terlalu mengarahkan dan kalau mereka sendiri memang kreatif, maka mereka mungkin akan mempunyai anak-anak yang lebih kreatif.

Bagaimana hal ini dapat diterapkan ke dalam ruang bermain anak ?
Pertama-tama, hindari alat-alat permainan yang memaksakan konsep struktur atau membatasi kreativitas si anak. Berikan kepada mereka kertas putih polos, bukan buku mewarnai (dengan gambar-gambar yang telah ditetapkan sebelumnya) dan biarkan mereka menemukan sendiri kemana mereka ingin pergi.

Pilih alat-alat permainan yang bentuknya lebih mudah diubah-ubah (seperti lilin mainan), ketimbang balok-balok yang saling disambung dan hanya dapat membentuk bangunan persegi yang terbatas. Namun yang paling penting, selalu berikan pujian atas usaha yangtelah mereka lakukan. Mereka mungkin saja menggambar sesuatu yang konyol atau tidak masuk akal, namun tetap berikan pujian karena mereka telah mencoba membuat sesuatu yang baru, demikian saran Grubb.

Sumber : satumed.com

TK & Play Group SMART BEE
www.smartbee221.blogspot.com

Materi Bukan Jaminan Anak Bahagia

Memiliki dua saluran keuangan dalam keluarga adalah tidak salah. Tetapi, upaya mencari karier dan uang sering membuat orangtua lalai akan kewajiban pokok mereka, yaitu mengasuh dan mendidik anak.

Kesibukan mereka mencari kekayaan sering menyita waktu untuk anak. Orangtua sering tidak memiliki waktu lagi untuk bermain bersama anak, mendengarkan curahan hatinya, memberikan perhatian, dan kasih sayang. Pada akhirnya, untuk menutupi ‘kekurangan dan perasaan bersalah’ merekapun berdalih bahwa semua yang mereka lakukan adalah semata-mata demi membahagiakan anak.

Banyak orangtua beranggapan bahwa dengan memberikan banyak materi dalam bentuk uang, mainan, dan pakaian berarti membahagiakan anak. Oleh sebab itu, tak heran jika ada sebagian orangtua yang setiap mingggu atau bahkan setiap kali melihat mainan lalu memutuskan untuk membelinya.

Harga bukan masalah penting bagi orangtua seperti itu. Yang terpenting bagi mereka adalah dengan memberikan setumpuk materi yang disukai anak, maka harapan mereka untuk membahagiakan anak tercapai.
Sejatinya, perlu orangtua fahami bahwa kebahagiaan yang mendasar bagi seorang anak adalah bukan terletak pada tumpukan materi, melainkan terletak pada ‘sikap dan perlakuan’ orangtua terhadapnya. Anak yang dibesarkan dengan cinta yang tulus, curahan kasih sayang, dan perhatian (bukan oleh materi), akan selalu hidup dalam suasana yang penuh kebahagiaan (Prof. Sa’ad Karim, 2006).

Anak yang merasa dirinya dicintai, disayangi dan diperhatikan oleh orangtuanya akan tumbuh menjadi anak yang berprestasi, percaya diri, bertanggung jawab, patuh dan berbakti kepada kedua orangtuanya.
Jadi, kunci untuk membahagiakan anak adalah dengan memberikan sesuatu yang abadi, yaitu cinta, kasih sayang, dan perhatian, bukan sesuatu yang mudah rusak, habis, dan mudah hilang seperti materi (uang atau mainan).

Sumber : perkembangananak.com

TK & Play Group SMART BEE
www.smartbee221.blogspot.com

Sikap Pemalu Pada Anak

Sikap Pemalu Justru di dapat dari belajar
Mungkin selama ini kita tak pernah tahu, tak ada anak yang dilahirkan sebagai pemalu. Mau tahu siapa "biang kerok"nya? Ternyata, orang tua! Punya anak pemalu kerap bikin jengkel. Ke mana-mana dan di mana saja, si kecil menempel atau sembunyi di balik orang tua/pengasuhnya. Apalagi kalau diajak ke sebuah lingkungan baru yang dirasanya asing. Yang pasti, seperti dituturkan Dra. Frida NRH, MS, staf pengajar jurusan Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, ada beberapa kategori anak pemalu. Ada yang tak berani tampil di tempat umum, tak mau bertemu orang, ada pula yang mau bertemu orang tapi tanpa melakukan sesuatu, terlebih yang bersifaf kompetitif. Bahkan ada yang saking pemalunya, enggan bertemu orang. Jika terpaksa, badannya gemetar, keluar keringat, bahkan jadi kebelet pipis.

Pada kasus yang ekstrim itu, "Si pemalu disebut menderita fobia sosial. Ia perlu bantuan ahli untuk penyembuhannya," kata Frida. Namun jangan cemas jika si kecil yang cenderung pemalu akan menderita fobia sosial tersebut. "Itu sangat jarang terjadi, kok. Terlebih jika orang tua sejak awal sudah peka bahwa anaknya ada kecenderungan menjadi pemalu dan bisa segera mengatasinya."

Dari "Belajar"
Frida yakin, tak ada anak yang dilahirkan sebagai pemalu. "Dia jadi pemalu lebih disebabkan lingkungan tempat ia belajar." Anak, lanjutnya, mengalami proses (sejak lahir) bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya yang lalu memberinya suatu pelajaran bahwa, "Saya harus malu." Jadi, "Ada pengalaman yang membuat si anak mengambil kesimpulan bahwa ia harus muncul sebagai pemalu terhadap lingkungannya." Sayangnya, orang tua sering tak sadar, mereka telah menciptakan suatu lingkungan yang membuat anaknya jadi pemalu. Anak "belajar" dari perlakuan yang diterima, amati, dan rasakan dari ayah-ibunya. Contohnya, anak yang sering diperlakukan negatif. "Mau ini-itu, dicela dan dilarang. Dari sinilah bibit pemalu bisa muncul." Demikian juga anak yang terlalu dilindungi, yang akhirnya membuatnya sulit melakukan penyesuaian dengan lingkungan. Frida mengibaratkan anak dalam kepompong, yang selalu dilindungi dan dibantu. "Akibatnya, anak tak pernah bisa mandiri," tutur pengurus Lembaga Perlindungan Anak Jawa Tengah ini.

Contoh lain adalah anak yang biasa menerima kasih sayang untuk sikap-sikap yang kondisional. "Si anak disayang orang tua kalau menurut, bersikap baik. Pokoknya, semacam ada syaratnya." Alhasil, hal ini akan terbawa saat ia harus berhubungan dengan lingkungan luar. Ia merasa, kalau mau diterima dengan baik, ada persyaratannya yang mesti dilakukannya. Padahal, lanjut Frida, anak punya persepsi tentang dirinya sendiri. Kalau sering diberi syarat, ia jadi berpikir, "Oh, Mama dan Papa mensyaratkan begitu. Jadi, kalau syaratnya belum bisa saya penuhi, saya belum sempurna betul untuk tampil."

Dampak selanjutnya, anak akan takut berkompetisi karena ia selalu merasa orang lain akan lebih dari dirinya. "Nah, itu, kan, membuatnya makin merasa malu untuk tampil. Sebab, ia merasa tak aman." Perasaan kurang PD (percaya diri) itulah yang membuatnya merasa, orang lain tak welcome menerima dirinya atau ia merasa, dirinya memang tak mampu. Bisa juga ia jadi merasa tak nyaman dengan dirinya sendiri karena selalu diliputi perasaan, "Jika saya tampil, pasti saya akan dilecehkan."

"Terus Latih"
Lantaran itulah Frida percaya, anak yang memiliki kecenderungan pemalu dapat berubah. Apalagi dalam hidupnya, anak terus berproses mengembangkan dirinya. Yang penting, orang tua rajin memberikan stimulasi dan latihan padanya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. "Niscaya rasa malu itu akan berkurang, bahkan dapat dihilangkan," tegas Frida.

Caranya? Beri anak pengalaman yang membuatnya tersadar, konsep dirinya itu keliru. "Hingga ia pun akan berkesimpulan, ternyata dengan kemampuan yang ada pun, orang lain menerima dirinya sepenuhnya." Juga bahwa dunia yang dicintainya tak membutuhkan banyak syarat. "Ini akan memberikan perubahan pada dirinya," ujar pengurus Badan Koordinasi Pembinaan Anak, Remaja dan Pemuda wilayah Jawa Tengah ini. Dengan kata lain, orang tua membantu anak mengkaji ulang pandangan tentang dirinya sendiri. Lama-kelamaan si anak akan berpikir, menjadi pemalu adalah hal keliru. "Itu perlunya pelatihan-pelatihan. Menurut saya, pemalu lebih karena sikap, bukan personality atau kepribadian."

Karena itulah, orang tua harus melatih anak agar tak jadi pemalu. Ini sekaligus penting untuk menanamkan pada anak bahwa untuk hidup di masyarakat, diperlukan "keberanian". Soalnya, sambung Frida, "Lingkungan selalu membutuhkan penyesuaian dari kita. Orang-orang yang tak mampu bergaul dan bersosialisasi dianggap maladjusted." Lebih dari itu, lingkungan juga akan mencapnya memiliki perkembangan kepribadian yang kurang baik atau bahkan dicap berkepribadian negatif. Akibatnya, "Ia tak lagi bisa optimal mengembangkan dirinya secara baik dengan cap yang sudah terlanjur melekat tadi."

Sejak Janin
Tentu saja kita tak ingin si kecil begitu, bukan? Nah, segeralah bertindak! Bahkan sebetulnya, sejak dari kandungan pun, si kecil sudah bisa "dilatih" agar kelak tak jadi pemalu. Caranya dengan mengembangkan secure attachment antara ibu dan janin. Misalnya, komunikasi yang terus-menerus antara si ibu dengan janinnya. Para ahli percaya, kelekatan yang aman dengan orang tua, pada gilirannya akan mengembangkan rasa percaya diri, otonomi, dan anak kelak akan mudah sekali mencari jati dirinya. "Bila sejak berupa janin, anak dikondisikan dengan sikap yang welcome, ia menjadi percaya diri. Sehingga waktu lahir, perasaan bahwa ia diterima, sudah ada!"

Sumber : Tabloid Nakita

TK & Play Group SMART BEE
www.smartbee221.blogspot.com

Wednesday, 18 March 2009

Gaya Belajar Efektif

Setiap orang pasti mempunyai cara atau gaya belajar yang berbeda-beda. Banyak gaya yang bisa dipilih untuk belajar secara efektif. Nah, artikel berikut menjelaskan tujuh gaya belajar yang mungkin beberapa diantaranya bisa di terapkan pada anak didik kita :
1. Belajar dengan kata-kata.
Gaya ini bisa kita mulai dengan mengajak seorang teman yang senang bermain dengan bahasa, seperti bercerita dan membaca serta menulis. Gaya belajar ini sangat menyenangkan karena bisa membantu kita mengingat nama, tempat, tanggal, dan hal-hal lainya dengan cara mendengar kemudian menyebutkannya.

2. Belajar dengan pertanyaan.
Bagi sebagian orang, belajar makin efektif dan bermanfaat bila itu dilakukan dengan cara bermian dengan pertanyaan. Misalnya, kita memancing keinginan tahuan dengan berbagai pertanyaan. Setiap kali muncul jawaban, kejar dengan pertanyaan, hingga didapatkan hasil akhir atau kesimpulan.

3. Belajar dengan gambar.
Ada sebagian orang yang lebih suka belajar dengan membuat gambar, merancang, melihat gambar, slide, video atau film. Orang yang memiliki kegemaran ini, biasa memiliki kepekaan tertentu dalam menangkap gambar atau warna, peka dalam membuat perubahan, merangkai dan membaca kartu.

4. Belajar dengan musik.
Detak irama, nyanyian, dan mungkin memainkan salah satu instrumen musik, atau selalu mendengarkan musik. Ada banyak orang yang suka mengingat beragam informasi dengan cara mengingat notasi atau melodi musik. Ini yang disebut sebagai ritme hidup. Mereka berusaha mendapatkan informasi terbaru mengenai beragam hal dengan cara mengingat musik atau notasinya yang kemudian bisa membuatnya mencari informasi yang berkaitan dengan itu. Misalnya mendegarkan musik jazz, lalu tergeliik bagaimana lagu itu dibuat, siapa yang membuat, dimana, dan pada saat seperti apa lagu itu muncul. Informasi yang mengiringi lagu itu, bisa saja tak sebatas cerita tentang musik, tapi juga manusia, teknologi, dan situasi sosial politik pada kurun waktu tertentu.

5. Belajar dengan bergerak.
Gerak manusia, menyentuh sambil berbicara dan menggunakan tubuh untuk mengekspresikan gagasan adalah salah satu cara belajar yang menyenangkan. Mereka yang biasanya mudah memahami atau menyerap informasi dengan cara ini adalah kalangan penari, olahragawan. Jadi jika Anda termasuk kelompok yang aktif, tak salah mencoba belajar sambil tetap melakukan beragam aktivitas menyenangkan seperti menari atau berolahraga.

6. Belajar dengan bersosialisasi.
Bergabung dan membaur dengan orang lain adalah cara terbaik mendapat informasi dan belajar secara cepat. Dengan berkumpul, kita bisa menyerap berbagai informasi terbaru secara cepat dan mudah memahaminya. Dan biasanya, informasi yang didapat dengan cara ini, akan lebih lama terekam dalam ingatan.

7. Belajar dengan Kesendirian.
Ada sebagian orang yang gemar melakukan segala sesuatunya, termasuk belajar dengan menyepi. Untuk mereka yang seperti ini, biasanya suka tempat yang tenang dan ruang yang terjaga privasinya. Jika Anda termasuk yang seperti ini, maka memiliki kamar pribadi akan sangat membantu Anda bisa belajar secara mandiri

Sumber: Depdiknas.go.id

TK & Play Group SMART BEE
www.smartbee221.blogspot.com

Tuesday, 17 March 2009

Pengaruh Permainan Pada Perkembangan Anak

Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Ada orang tua yang berpendapat bahwa anak yang terlalu banyak bermain akan membuat anak menjadi malas bekerja dan bodoh. Pendapat ini kurang begitu tepat dan bijaksana, karena beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak.

Faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak :
1. Kesehatan
Anak-anak yang sehat mempunyai banyak energi untuk bermain dibandingkan dengan anak-anak yang kurang sehat, sehingga anak-anak yang sehat menghabiskan banyak waktu untuk bermain yang membutuhkan banyak energi.

2. Intelligensi
Anak-anak yang cerdas lebih aktif dibandingkan dengan anak-anak yang kurang cerdas. Anak-anak yang cerdas lebih menyenangi permainan-permainan yang bersifat intelektual atau permainan yang banyak merangsang daya berpikir mereka, misalnya permainan drama, menonton film, atau membaca bacaan-bacaan yang bersifat intelektual.

3. Jenis kelamin
Anak perempuan lebih sedikit melakukan permainan yang menghabiskan banyak energi, misalnya memanjat, berlari-lari, atau kegiatan fisik yang lain. Perbedaan ini bukan berarti bahwa anak perempuan kurang sehat dibanding anak laki-laki, melainkan pandangan masyarakat bahwa anak perempuan sebaiknya menjadi anak yang lembut dan bertingkah laku yang halus.

4. Lingkungan
Anak yang dibesarkan di lingkungan yang kurang menyediakan peralatan, waktu, dan ruang bermain bagi anak, akan menimbulkan aktivitas bermain anak berkurang.

5. Status sosial ekonomi
Anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang status sosial ekonominya tinggi, lebih banyak tersedia alat-alat permainan yang lengkap dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan di keluarga yang status ekonominya rendah.

Pengaruh bermain bagi perkembangan anak :
-Bermain mempengaruhi perkembangan fisik anak
-Bermain dapat digunakan sebagai terapi
-Bermain dapat mempengaruhi dan menambah pengetahuan anak
-Bermain mempengaruhi perkembangan kreativitas anak
-Bermain dapat mengembangkan tingkah laku sosial anak
-Bermain dapat mempengaruhi nilai moral anak

Macam-macam permainan dan manfaatnya bagi perkembangan jiwa anak
A. Permainan Aktif
1. Bermain bebas dan spontan
Dalam permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang diinginkannya, tidak ada aturan-aturan dalam permainan tersebut. Anak akan terus bermain dengan permainan tersebut selama permainan tersebut menimbulkan kesenangan dan anak akan berhenti apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya. Dalam permainan ini anak melakukan eksperimen atau menyelidiki, mencoba, dan mengenal hal-hal baru.

2. Sandiwara
Dalam permainan ini, anak memerankan suatu peranan, menirukan karakter yang dikagumi dalam kehidupan yang nyata, atau dalam mass media.

3. Bermain musik
Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah laku sosialnya, yaitu dengan bekerja sama dengan teman-teman sebayanya dalam memproduksi musik, menyanyi, atau memainkan alat musik.

4. Mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu
Kegiatan ini sering menimbulkan rasa bangga, karena anak mempunyai koleksi lebih banyak daripada teman-temannya. Di samping itu, mengumpulkan benda-benda dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerja sama, dan bersaing.

5. Permainan olah raga
Dalam permainan olah raga, anak banyak menggunakan energi fisiknya, sehingga sangat membantu perkembangan fisiknya. Di samping itu, kegiatan ini mendorong sosialisasi anak dengan belajar bergaul, bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta menilai diri dan kemampuannya secara realistik dan sportif.

B. Permainan Pasif
1. Membaca
Membaca merupakan kegiatan yang sehat. Membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anakpun akan berkembang kreativitas dan kecerdasannya.

2. Mendengarkan radio
Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik secara positif maupun negatif. Pengaruh positifnya adalah anak akan bertambah pengetahuannya, sedangkan pengaruh negatifnya yaitu apabila anak meniru hal-hal yang disiarkan di radio seperti kekerasan, kriminalitas, atau hal-hal negatif lainnya.

3. Menonton televisi
Pengaruh televisi sama seperti mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun negatifnya


TK & Play Group SMART BEE
www.smartbee221.blogspot.com

Kiat-Kiat Sukses

Untuk mencapai kesuksesan pasti diperlukan ketekunan, kesetiaan dan pantang menyerah. Tidak ada kesuksesan diraih dengan singkat. Semua sukses pasti melalui proses yang terus menerus dan perlu waktu. Jika dari awal sudah setia pasti akan timbul komitmen pada diri sendiri untuk maju dan berhasil. Tidak akan menyerah sebelum keberhasilan itu tercapai. Apa yang harus diperhatikan ?

BERKEYAKINAN KUAT.
Mantapkan keyakinan anda dengan baik sebelum melakukan sesuatu, jika anda sudah yakin akan berhasil...Ya pasti berhasil.

ANTUSIASME.
Jalankan suatu usaha dengan antusias dan percaya diri, ini penting sekali karena menjalankan usaha pasti banyak cobaan, anda perlu ketangguhan. Cobaan bisa berarti anda merasa bimbang dan ragu, tidak tahan dan ingin menghentikan usaha tersebut. Memiliki keteguhan hati, keberanian, daya juang, keyakinan dan ketabahan. Dengan antusiasme anda bisa membangun sebuah bisnis yang kukuh dan kuat.

MANFAATKAN POTENSI ANDA SEPENUHNYA.
Tidak akan pernah ada orang mencapai sukses dengan prinsip setengah - setengah, mereka pasti menjalankan bisnis sepenuhnya. Gunakan waktu, tenaga dan pikiran, modal, kreatifitas sepenuhnya untuk mencapai target anda. Jauhi hal - hal yang bertentangan dengan prinsip kesuksesan usaha anda. Hasil yang anda dapatkan sebanding dengan apa yang anda usahakan. Jangan sampai kecewa, karena anda tidak menjalankan bisnis sepenuhnya.

BERTINDAK PROAKTIF.
Jika anda memasuki suatu usaha baru, berarti anda memasuki dunia yang penuh dengan petualangan, menantang dan situasi yang dinamis. Untuk menghadapinya anda harus bertindak proaktif. Orang pro aktif adalah orang yang tidak bisa menunggu, tidak mau ketinggalan, selalu ingin menjadi yang terdepan , berani mengambil inisiatif sebelum orang lain memulainnya, bahkan ketika orang lain belum memikirkannya. Prinsipnya adalah tidak ada peluang yang kedua, jika anda gagal merebut sebuah peluang, maka anda kehilangan peluang itu.

ISI WAKTU DENGAN AKTIFITAS TERBAIK.
Time is money, atau biarkan waktu yang menyelesaikannya. Sebegitu penting sekali hingga uang atau hal yang bisa menyelesaikan masalah ? Sebagai anugerah tuhan, waktu berlaku sama dan bisa digunakan sesuai dengan kemauan manusia, namun waktu tidak bisa kita beli atau tabung. Now or Never ! kita bisa manfaatkan waktu saat ini atau kehilangan sama sekali. Untuk menjadi pemenang dalam kehidupan yang sarat dengan persaingan, kita harus cakap dan pandai memanfaatkan dengan maksimal dalam seluruh aktifitas. Sudah efektifkah penggunaan waktu kita ?

TK & Play Group SMART BEE
www.smartbee221.blogspot.com

Kiat Menjadi Orang Sukses

Ditulis oleh Muhammad Yasrif

Saudaraku, untuk menjadi sukses itu tidaklah mudah, hanya dengan proses sedikit ? mungkin saja, kalo Allah Ta’ala menghendaki. Namun, secara fitrah dan sunnatullah kalo kita mau sukses harus pake ikhtiar dan usaha yang optimal, butuh waktu yang tidak sedikit, dan tentu saja butuh support doa yang oke. Tidak sekedar usaha tok, tapi usaha yang optimal dan sungguh-sungguh. gitu bro…

Untuk mencapai kemenangan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kiat-kiat sukses bagi kita yang mau mendapatkan KESUKSESAN yang haqiqi. KESUKSESAN yang haqiqi itu adalah kalo kita berhasil dan bahagia di AKhirAt nanti. Itu berarti kita Juga suKseS di Dunia, bagaimana bisa? bisa aja, KesukSesan Dunia itu akan membawa keSukSesan Akhirat, bagaimanapun kondisinya di dunia itu….kalopun di dunianya, seseorang itu miskin, namun kalo di akhirat nanti ia masuk surga dan mendapatkan kebahagiaan , maka ke-miskin-annya itulah yang membuat di sukses di dunia dan akhirat, miskin tapi sholeh…it’s good choice man…

Nih dia, tips2 yang Allah berikan buat kita ?
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan “
“Tuhan Menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat keridaan dan surga, mereka memperoleh kesenangan yang kekal di dalamnya“
“Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, Sungguh, di sisi Allah terdapat pahala yang besar”
At-Taubah : 20 - 22
Subhanallah…saudaraku, itulah salah satu tanda kasih sayang Allah ama kita, so … kalo emang kita pingin jadi orang sukses versi yang sebenarnya, yaitu kesuksesan dari Allah, maka marilah kita baca ayat-ayat di atas, kita hafalkan , kita pahami makna dan tafsirnya, serta kita berusaha untuk mengamalkan dalam setiap sisi dan setiap sudut kehidupan kita. Insya Allah akan sangat bermanfaat menambah catatan amal dan bekal kita dalam menghadap Allah Ta’ala di yaumul hisab nanti. dan Lebih baik lagi kalo kita ajarkan…biar nyambung pahalanya

Selamat Berjuang Untuk Kesuksesan yang Haqiqi
Jalan ke Surga itu Masih Panjang … So..let’s give the best to Allah…

TK & Play Group SMART BEE
www.smartbee221.blogspot.com

Monday, 16 March 2009

Renang Menambah Tinggi Badan?

Renang adalah olah raga favorit yang dipilih orang tua bagi anak-anaknya. Olah raga ini menjadi cara untuk menggenjot tinggi badan si kecil. Benarkah demikian? Selain cerdas, sehat, dan sopan, harapan orang tua saat ini adalah anak-anaknya mempunyai tubuh yang tinggi alias tidak pendek. Tak hanya sedap dipandang, anak yang mempunyai tinggi badan yang memadai dianggap lebih mulus dalam mencapai cita-cita apapun yang mereka inginkan (maklum beberapa bidang pekerjaan menuntut seseorang bertubuh tinggi). Di Indonesia Tinggi badan laki-laki ideal adalah 170-180 cm sedangkan tinggi badan perempuan 160-170 cm.

Berenang adalah salah satu olah raga yang paling sering dipilih orang tua guna memacu tinggi badan anak. Meski tidak dirancang menjadi atlit renang, anak pun secara rutin diajak berenang. Jika tidak, jangan harap anak bertubuh tinggi. Mitos ini sudah jamak kita dengar. Bisa jadi, anda pun berpendapat sama. Tapi sebelum para orang tua kecewa setelah bertahun-tahun mengajak si kecil berenang tapi tubuh anak tidak bertambah tinggi, sebaiknya ketahui faktor-faktor yang dapat membuat si kecil bertubuh tinggi.

Fakta yang sebenarnya
Berenang memang melatih semua otot-otot tubuh sehingga dapat membantu anak untuk bertambah tinggi. Olah raga ini dapat memicu hormon-hormon pertumbuhan bekerja lebih baik agar si kecil terus bertambah tinggi dan berkembang. Tapi, berenang hanyalah salah satu dari sekian banyak aktifitas yang dapat dilakukan si kecil dengan manfaat yang sama (baca: menambah tinggi badan).

Pertambahan tinggi badan anak tidak hanya dipicu oleh aktifitas renang. Hal lain yang lebih menentukan dalam urusan tinggi badan adalah faktor genetik atau keturunan. Jika tinggi badan anda dan pasangan biasa-biasa saja maka besar kemungkinan tinggi badan si kecil pun biasa-biasa saja. Begitu pula sebaliknya. Jika tubuh anda tinggi semampai si kecil cenderung memiliki postur tubuh demikian.

Faktor lain yang juga turut memicu tumbuh kembang anak adalah nutrisi. Anak yang mendapatkan nutrisi memadai dan seimbang cenderung tumbuh secara optimal. Jadi meskipun anak sering berenang tapi pola makannya buruk, tinggi badannya tetap tidak akan bertambah.

Istirahat, adalah syarat penting bagi tumbuh kembang anak. Tubuh akan menjadi lebih tinggi dan bertambah besar pada saat ia beristirahat (tidur). Ini artinya jika si kecil ingin pertumbuhan badannya optimal maka ia harus mendapatkan istirahat yang memadai. Untuk itu, pastikan pola tidur si kecil cukup sehat.

Selain itu yang perlu diperhatikan adalah tahapan pertumbuhan anak. Dalam perkembangannya anak mengalami saat-saat dimana tubuhnya berkembang sangat lambat dan sangat cepat. Sehingga, kendati si kecil berenang secara teratur, tinggi badannya tidak akan bertambah jika aktifitas ini dilakukan pada fase pertumbuhan lambat yaitu sekitar usia bayi-balita dan usia 16-17 tahun. Pertumbuhan cepat terjadi pada usia 9-12 tahun. Yaitu ketika anak memasuki masa puber. Pada saat ini hormon-hormon pertumbuhan bekerja sangat aktif. Jadi meskipun anak tidak berenang, akan terjadi pertumbuhan tinggi badan yang signifikan. Tetapi, dengan melakukan aktifitas fisik yang cukup, salah satunya dengan renang, pertumbuhan atau penambahan tinggi badan akan semakin optimal.

Namun dengan kenyataan ini bukan berarti anda tidak perlu mengenalkan olah raga renang sejak dini pada anak. Banyak sekali manfaat berenang selain menambah tinggi badan. Pada anak-anak yang mempuyai riwayat asma atau sudah menderita asma, berenang dapat membantu melatih paru-parunya. Berenang juga dapat menjadi sarana yang efektif bagi anak untuk bersosialisasi, melatih keberanian, dan mengenal lingkungan baru.

Sumber : anakku.net

TK & Play Group SMART BEE
www.smartbee221.blogspot.com

Sunday, 15 March 2009

Bagaimana Mungkin Flashcard bisa mencerdaskan?

"Bagaimana mungkin flashcards dan dotcards bisa meningkatkan kecerdasan anak ?"

Pertanyaan yang sangat wajar tentunya, karena penerapan permainan flashcards/dotcards di Indonesia masih di lingkungan yang sangat terbatas. (catatan: untuk selanjutnya, flashcards dan dotcards ditulis dengan "F/D")
Jawaban langsung dan singkatnya adalah : Permainan F/D yang dilakukan dengan menunjukkan gambar secara cepat (1 gambar per detik) akan men-trigger OTAK KANAN untuk aktif menerima informasi yang muncul di hadapan mata.

Mengapa harus otak kanan ?
Untuk menjawabnya, kita perlu tahu dulu apa perbedaan fungsi otak kiri dan otak kanan.
Tahun 1968, Dr. Roger Sperry pertama kali menemukan perbedaan fungsi otak yang berbeda antara belahan kiri dan kanan. Secara garis besarnya, fungsi yang dikendalikan oleh masing-masing belahan otak adalah sbb :

OTAK KIRI mengendalikan :
pikiran sadar
analisa, logika, rasional
bahasa

OTAK KANAN mengendalikan :
pikiran bawah sadar
emosi
kreatif, intuitif

Mungkin anda pernah mendengar dimana para ahli mengatakan bahwa kita HANYA menggunakan 3% dari seluruh kemampuan otak. Mengapa ? Karena sebagian besar kemampuan otak terkunci di dalam pikiran bawah sadar, yang merupakan bagian dari otak kanan.

Jika dijabarkan lebih lanjut, otak kanan akan mengendalikan fungsi :
photographic memory
speed reading, listening
automatic mental processing
mass-memory
multiple language acquisition
computer-like math calculation
creativity in movement, music and art
intuitive insight

Anda lihat, betapa powerfulnya kemampuan yang tersimpan di otak kanan, sementara hampir seluruh kehidupan kita, baik mulai dari sekolah sampai dengan kegiatan sosial sehari-hari hanya menekankan pada kemampuan otak kiri.

Artinya, sistem pendidikan dan masyarakat saat ini hanya menfokuskan pada kemampuan otak kiri saja. Perkembangan otak kanan seakan-akan ditinggalkan begitu anak masuk Sekolah Dasar.
Anda lihat, begitu masuk SD, anak selalu dituntut untuk selalu berpikir logis, rasional, dst., yang merupakan sifat dari fungsi berpikir otak kiri.

Jangan salah paham !

Saya TIDAK mengatakan bahwa perkembangan otak kiri itu tidak diperlukan. Kemampuan otak kiri yang baik SANGAT diperlukan. Tetapi, perkembangan otak kanan JANGAN sampai ditinggalkan !
Artinya, kita perlu menyeimbangkan kemampuan kedua belahan otak, supaya kecerdasan anak berkembang dengan maksimal. Dan sebelum anak-anak kita terlanjur terjun ke dunia otak kiri di sebagian besar hidupnya nanti, maka tugas kitalah untuk mengembangkan otak kanan anak.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan perkembangan otak kanan, antara lain yaitu image training (latihan imajinasi), visualisasi, dll., termasuk juga permainan F/D.
Mengenai permainan dotcards, ada sebuah pertanyaan yang sangat sering ditanyakan, yaitu,
"Kita orangtua saja tidak bisa mengerti berapa jumlah dot yang diatur secara acak itu. Bagaimana mungkin anak balita bias menerima dan mengerti ?".

Disitulah perbedaan orang dewasa dengan anak balita. Kita orang dewasa sangat cenderung menggunakan otak kiri untuk menerima segala informasi, sedangkan anak balita sangat mudah menerima informasi dengan menggunakan otak kanannya.

Contohnya, jika saya katakan no.telp. saya adalah 89678524, apakah anda langsung ingat sekarang ? Saya yakin sebagian besar dari kita tidak akan ingat.
Mengapa ? Karena kita menerima informasi tersebut dengan otak kiri yang kemampuan menyimpan memorinya sangat terbatas.

Dr. Makoto Shichida, seorang spesialis perkembangan anak balita, dalam bukunya "Right Brain Education in Infancy" menjelaskan sebuah hasil studi di Nippon Medical Center oleh Prof. Shinagawa terhadap seorang anak yang bernama Yuka Hatano.

Yuka Hatano adalah seorang juara dunia menghitung cepat, yang mampu menghitung 16 digit soal LEBIH CEPAT daripada kalkulator ! Ketika Yuka melakukan perhitungan tersebut, melalui "PET scan" terlihat bahwa yang mengendalikan fungsi otaknya adalah otak kanan bagian belakang.
Itulah kehebatan dari otak kanan yang telah berkembang.

Di sekolah Shichida, saya melihat bagaimana anak-anak SD mampu membaca 1 jilid buku hanya dalam waktu 3-5 menit saja, dan dia tahu persis apa isi buku yg dibacanya. Menurutnya, dia seperti memotret tiap-tiap halaman buku tsb, dan ketika ditanya, dia akan membuka tiap-tiap halaman bukunya di dalam otaknya untuk mencari jawabannya dengan cepat.

Jadi, mari kita berikan stimulasi-stimulasi kepada anak-anak kita sehingga perkembangan otaknya, baik kiri maupun kanan bisa tumbuh dengan seimbang.

Sumber : balitacerdas.com

TK & Play Group SMART BEE
www.smartbee221.blogspot.com

Mengenal Aphasia

Aphasia adalah kehilangan kemampuan untuk berbicara dan mengerti pembicaraan karena kelainan pada otak. Anak yang menderita Aphasia sejak lahir mengalami kesulitan dengan bahasa ucapan. Mereka yang Receptive Aphasia mempunyai kesulitan yang parah dalam mengerti kata-kata dan mengerti percakapan. Anak dengan Executive Aphasia dapat mengerti dengan cukup baik tetapi mempunyai kesulitan membuat kata-kata untuk dirinya sendiri.

Anak yang Receptive Aphasia kelihatannya dapat membingungkan dengan anak yang autistic khususnya bila mereka sudah sama-sama remaja karena mereka juga cenderung untuk mengabaikan suara dan menjadi anak yang menyendiri. Anak yang Executive Aphasia biasanya lebih responsif dan lebih memasyarakat, tapi mereka memiliki kesulitan yang sama dengan anak yang autistic dalam menirukan gerakan orang lain dan dalam berbicara.
Kedua kelompok anak yang menderita aphasia ini berbeda dengan anak yang autistic dalam hal dimana mereka menggunakan mata untuk membantu memahami dunia, dan mereka dapat berkomunikasi dengan baik dengan menggunakan cara non-verbal (tanpa kata-kata). Mungkin juga diketemukan anak yang aphasia dengan cacat tambahan yang sangat mirip dengan anak yang autistic. Receptive dan executive aphasia merupakan dua dari sekian banyak kekurangan-kekurangan yang muncul pada anak yang autistic. Aphasia dan autism saling membayangi satu sama lain, sehingga sangat sulit untuk mengatakan dalam kelompok yang mana seorang anak harus ditempatkan.

Sumber : www.iqeq.web.id

TK & Play Group SMART BEE
www.smartbee221.blogspot.com

PG/ TK SMART BEE - Children Education

My photo
Based on Islamic system. We commit to be partner for parents to provide educated play ground for their beloved children. Contact us: Jl.Danau Maninjau Raya No.221, Ph 62-21-7712280/99484811 cp. SARI DEWI NURPRATIWI, S.Pd