Monday, 29 June 2009

Permainan Matematika Untuk Anak

Apakah anda sedang mencari cara / tips mengajar konsep matematika yang menyenangkan (fun) dan menarik untuk anak-anak? Untuk meningkatkan motivasi belajar anak-anak dengan cara yang menyenangkan, Anda dapat mempraktikkan permainan-permainan matematika berikut ini:

Perburuan / Pencarian Sesuatu dengan Buku (Book Scavenger Hunt) Ini adalah permainan (game) yang mengajarkan perhitungan dan urutan nomor (pertama, kedua, ketiga, …). Hal pertama yang dilakukan adalah berikan sebuah buku untuk masing-masing anak. Akan lebih baik lagi dan akan menghemat waktu apabila semua anak menggunakan buku yang judul dan edisinya sama, namun ini tidak menjadi keharusan. Idenya adalah anak-anak membacakan jawaban berupa sebuah kalimat atau dua kalimat atas pertanyaan yang diajukan sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang diberikan. Yang pertama bisa membacakan jawaban adalah pemenangnya.

Contoh pertanyaan ”Temukan huruf ke-5 dari paragraf ke-3 pada halaman ke-11 setelah halaman 101?”. Anak-anak kemudian akan mencari kata ini dan menulisnya. Anda bisa juga bisa memberikan soal matematika, seperti ”Cari halaman yang dua puluh satu kurangnya dari delapan puluh empat dan temukan kata ke-7 dalam paragraf kedua dari akhir halaman?” Tingkatkan kerumitannya untuk anak-anak yang lebih tua dan permudah untuk anak-anak yang lebih muda.

Bentuk-bentuk Gambar
Permainan-permainan matematika untuk anak-anak, khususnya untuk anak yang lebih muda, bisa didapat dari gambar-gambar di buku atau buku mewarnai. Permainan ini menggunakan sebuah gambar yang mempunyai bentuk-bentuk yang jelas di dalamnya, misalnya balon untuk lingkaran, pintu untuk segi empat, dll, kemudian lihatlah siapa yang bisa menemukan bentuk tersembunyi yang paling banyak. Untuk anak yang lebih tua Anda dapat menambahkan bentuk-bentuk yang lainnya seperti segi delapan (octagons), silinder, dan kerucut.

Mencari Arah
Ini adalah permainan matematika besar untuk grup yang lebih besar. Ide pokoknya adalah untuk menunjukkan bahwa permainan matematika untuk anak-anak tidak harus hanya dilakukan dengan duduk manis di meja dengan pensil di tangan. Permainan ini dilakukan di luar ruangan (outdoor) dan menggunakan sebuah keset kaki (mat), di halaman luar dan masing-masing anak berpasang-pasangan. Salah satu anak dari setiap grup menggunakan penutup mata, sedangkan yang lainnya akan memberikan petunjuk arah untuk pasangannya.

Tujuannya adalah untuk anak-anak yang memakai penutup mata agar mengikuti petunjuk-petunjuk sehingga dia sampai ke tujuan akhir pada keset kaki yang disediakan. Triknya adalah anak yang memberi petunjuk hanya boleh memberi petunjuk-petunjuk angka dan hanya boleh menggunakan angka-angka seperti berapa langkah kaki, dan kata-kata maju, mundur, ke kanan, atau ke kiri. Anda dapat memberi rintangan-rintangan seperti bola pantai sehingga mereka harus melakukan manuver untuk sampai ke tujuan akhir keset kaki. Anak-anak yang memberi petunjuk harus tetap di tempatnya pada saat memberikan petunjuk. Pastikan permainan ini diawasi oleh orang dewasa yang dapat memastikan bahwa anak-anak tidak bertabrakan satu sama lainnya dan terjatuh.

Permainan Papan (Board Game)
Permainan papan memberikan banyak pilihan kreativitas dan cara-cara menarik untuk mengajari konsep-konsep matematika untuk anak-anak. Ada banyak permainan matematika dalam bentuk permainan papan, antara lain Yahtzee dan Rummikub. Ada banyak juga permainan papan untuk anak-anak yang bisa diubah menjadi sarana melatih kemampuan matematika. Salah satu contoh adalah bermain Scrabble dan berikan tiga kali lipat point untuk setiap istilah matematika yang diucapkan.

Mencari Pasangan Kartu Matematika
Caranya adalah Anda menulis sebuah soal matematika pada sebuah kartu indeks, menggunakan pertambahan, pengurangan, perkalian, atau pembagian. Kemudian Anda membuat soal matematika lainnya pada kartu indeks berikutnya, yang mana soal tersebut berbeda namun memiliki jawaban yang sama dengan soal sebelumnya. Setelah Anda membuat sekitar dua belas sampai dua puluh kartu, kemudian kartu-kartu ini diletakkan terbalik. Pada saat seorang anak membuka dua kartu dengan jawaban yang sama mereka kemudian menyimpannya. Anak yang paling banyak mendapatkan kartu-kartu tersebut pada akhir permainan adalah pemenangnya.
Dengan permainan-permainan tersebut di atas, belajar matematika jadi tidak membosankan tetapi justru menyenangkan dan menantang, dimana matematika menjadi permainan bukan
pekerjaan/tugas.

Sumber: Math Games For Kids, Sarah Holts,
http://www.IncreaseBrainPower.com

Kemampuan Motorik Anak Terlambat?

Kemampuan motorik halus anak dikatakan terlambat bila di usianya yang seharusnya ia sudah dapat mengembangkan keterampilan baru, tetapi ia tidak menunjukkan kemajuan. Terlebih jika sampai memasuki usia sekolah sekitar 6 tahun, anak belum dapat menggunakan alat tulis dengan baik dan benar. Anak-anak yang mengalami keterlambatan dalam perkembangan motorik halus mengalami kesulitan untuk mengoordinasikan gerakan tangan dan jari-jemarinya secara fleksibel.

PENYEBAB
Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi keterlambatan perkembangan kemampuan motorik halus, berikut di antaranya:
* Kurangnya kesempatan untuk melakukan eksplorasi terhadap lingkungan sejak bayi. * Pola asuh orangtua yang cenderung overprotektif dan kurang konsisten dalam memberikan rangsangan belajar. * Tidak membiasakan anak untuk mengerjakan aktivitas sendiri sehingga anak terbiasa selalu dibantu untuk memenuhi kebutuhannya, semisal selalu disuapi sehingga fleksibilitas tangan dan jemarinya kurang terasah.

UPAYA MENGATASI
Melakukan observasi untuk mengetahui seberapa jauh si kecil tertinggal dibandingkan anak-anak lain seusianya.
Jika diketahui keterlambatannya, sesegera mungkin latih anak untuk mengembangkan keterampilannya tersebut. Misalnya, meningkatkan frekuensi permainan yang merangsang koordinasi motorik halus seperti pasel, lego, dan lain-lain.
Jika sampai usia 6 tahun masih terlambat, ada baiknya meminta bantuan profesional untuk melakukan evaluasi perkembangannya. Umumnya anak diarahkan untuk mengikuti remedial teaching

UPAYA PENCEGAHAN
Beberapa hal dapat dilakukan orangtua agar anaknya tidak mengalami keterlambatan perkembangan motorik halus:

Sejak dini, orangtua harus meningkatkan frekuensi mengenalkan anak pada permainan yang dapat merangsang fleksibilitas motorik halusnya, seperti pasel, lego, play dough, dan lainnya.
Membiarkan anak mengeksplorasi lingkungan tetapi tetap dalam pengawasan.
Melatih anak untuk menopang tubuhnya dengan perut (posisi tengkurap ketika bayi) sehingga akan menguatkan otot bahu dan punggung.
Ketika anak berusia 8 bulan, ajarkan untuk memegang makanannya sendiri melalui finger food. Hal ini akan membantu anak melatih fleksibilitas jari jemarinya untuk mengambil makanan, memegang, dan memasukkannya ke mulut
Di usia sekitar 12 bulan, anak dilatih untuk mengambil benda dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak. Di usia sekitar 18 bulan, anak dilatih untuk memegang alat-alat tulis seperti krayon atau spidol.

MENULIS BAGUS
Sejak dini anak sudah dikenalkan pada kegiatan menulis dengan menggunakan alat tulis, baik krayon, spidol, cat air, dan lainnya. Hal ini akan membantu anak untuk menumbuhkan minat pada kegiatan menulis.
Dimulai dengan aktivitas menghubungkan titik-titik atau dot-to-dot.
Menyediakan media tulisan dengan buku halus kasar yang tersedia di toko buku.
Berlatih sesering mungkin untuk belajar menulis, dimulai dengan menulis namanya sendiri secara berulang-ulang.

ANAK PEREMPUAN LEBIH TERAMPIL?
Konon, motorik halus anak perempuan lebih luwes ketimbang anak lelaki. Ternyata hal ini tidak benar. Setiap anak tanpa dibedakan gender memiliki keterampilan yang berbeda-beda. Pendapat tersebut muncul dikarenakan ada kecenderungan anak perempuan lebih detail dan teliti, sehingga lebih menyukai aktivitas yang sifatnya tenang dengan menggunakan kemampuan motorik halusnya. Sebaliknya anak lelaki cenderung lebih menyukai aktivitas motorik kasar. Namun demikian, kualitas perkembangan motorik halus antara keduanya tidak berbeda secara signifikan.

HATI-HATI!
Sebaiknya orangtua tidak memberikan kritikan ketika mendapati kualitas tulisan anak kurang rapi, karena hal ini akan menimbulkan perasaan kurang nyaman dan cemas pada anak untuk mengulang kembali kegiatan menulis.
Berikan dukungan yang positif setiap kali anak menunjukkan hasil karyanya karena akan memperkuat keinginan anak untuk belajar menulis lebih baik lagi.
Kegiatan menulis ada hubungannya dengan kemampuan membaca sehingga keduanya harus diasah secara seimbang sejak dini.
Waspadai gangguan yang menyertai keterlambatan perkembangan motorik halus seperti Cerebral Palsy, disleksia, disgrafia, dan lain sebagainya. Untuk itu, bantuan dari profesional seperti dokter dan psikolog dibutuhkan guna memberikan terapi penanganan yang tepat.

Narasumber: Irma Gustiana A., M.Psi., dari Lembaga Psikologi Terapan UI
Sumber: tabloid-nakita.com

Mengatasi Trauman Pada Anak

Trauma Keluarga
Pertengkaran kedua orangtua yang disaksikan oleh anak ataupun peristiwa perceraian yang dialami orangtua, sehingga anak ditinggal oleh salah satu orang yang dicintainya, akan membekas secara mendalam pada ingatan anak. Dampaknya, mungkin anak jadi pendiam, tak banyak minatnya akan sesuatu, jadi gampang marah, ada rasa takut jika melihat pertengkaran orangtuanya kembali terulang, dan sebagainya.
Selanjutnya akan berdampak pada masalah sosialisasi anak. Di usia yang lebih besar lagi anak akan mengalami hambatan dalam hubungan pertemanan dengan lawan jenisnya. Mungkin anak akan menolak pertemanan yang lebih dari seorang sahabat, sulit mencintai orang lain. Ada kekhawatiran akan pernikahan dan mengalami hal yang sama seperti yang dialami kedua orangtuanya sehingga anak tak mau menikah apalagi punya anak.

Cara Mengatasi:
Yang pertama-tama harus berubah adalah orangtua.
Orangtua harus menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada anak atas kesalahan yang dilakukan selama ini.
Tidak lagi melakukan pertengkaran di depan anak.
Memberikan penjelasan kepada anak mengapa ayah dan ibu harus berpisah.
Tetap menjaga hubungan baik dengan pasangan. Rencanakan kembali bersama pasangan apa yang akan dilakukan pada anak.
Lakukan aktivitas kebersamaan dengan anak seperti main bola bersama, outbound, berkemah, dan sebagainya.
Saat anak merasa relaks dengan kedua orangtuanya, bangunlah komunikasi dengan baik. Lakukan terus-menerus.

Trauma Kekerasan
Secara fisik akan lebih terlihat lewat tanda-tanda pada tubuh anak. Selain itu, tampak ekspresi ketakutan yang ditampilkan oleh anak. Begitu pun kekerasan secara seksual. Namun adakalanya, kekerasan seksual yang dilakukan pada anak usia ini tersamar dan tak diketahui, karena mungkin pelakunya melakukan secara "halus" semisal dengan iming-iming sesuatu sehingga anak bersedia melakukannya tanpa paksaan. Anak usia ini sudah tahu sebab-akibat. Kalau diberi sesuatu maka dia pun harus memberikan yang diminta, misalnya. Bagi anak, perlakuan tersebut dipahaminya sebagai perilaku orang dewasa di sekitarnya.
Dampak trauma dari kekerasan fisik, nantinya anak akan hidup dengan penuh ketakutan atau malah mencontoh perilaku tersebut dan melakukannya pada orang lain. Pada kekerasan seksual, anak merasa dirinya sudah tidak utuh lagi, merasa diri tak berdaya dan tak berharga. Dia akan menghargai dirinya dari benda atau hal yang bersifat materi lainnya atau dirinya merasa berharga kalau ia membiarkan dirinya teraniaya oleh orang lain. Anak mungkin akan membenci jenis kelamin yang berbeda dan bisa mencintai sesama jenis, memilih hidup sendiri, dan sebagainya. Untuk meminimalisasi dampak tersebut, maka harus diatasi sejak dini.

Cara Mengatasi:
Perhatikan gejala yang mungkin muncul pada anak.
Ajak anak bermain atau menggambar dan orangtua terlibat di dalamnya. Biasanya dalam kegiatan menggambar, anak yang mengalami kekerasan fisik akan menggambar orang dengan organ yang tak utuh semisal kaki atau tangannya buntung. Pada anak yang mengalami kekerasan seksual, gambaran pada bagian organ seksualnya dicoret-coret hitam atau digambarkan secara tak lazim semisal ukuran besar dan sebagainya. Ketika bermain boneka, anak yang mengalami kekerasan fisik akan memukul-mukul dan melakukan kekerasan pada boneka. Pada anak yang mengalami kekerasan seksual, akan menekan-nekan bagian organ kelamin bonekanya. Hal itu akan diulanginya tiap kali bermain.
Setelah anak merasa relaks, galilah ceritanya. Misal, tanyakan pada anak mengenai gambarnya, "Kenapa gambar kaki orang di situ buntung?" atau "Kenapa bagian alat kelaminnya dicoret-coret seperti itu?" Bisa saja lalu anak mengatakan, "Soalnya aku ini bapaknya dan marah sama anaknya." Minta pula anak bercerita agar ia merasa tak tertekan, terpojok, dan sebagainya.
Konfirmasikan akan apa yang dialami anak untuk memastikan kesaksian, apakah pernyataannya bisa dibenarkan atau tidak.
Jika anak tak mau bercerita, jangan memaksanya. Paling tidak, bila anak menolak, orangtua tetap memperoleh data bahwa si anak memang berat menceritakan hal tersebut.
Anak perlu mendapat penanganan khusus dengan dibawa ke psikolog atau psikiater untuk diintervensi lebih dalam lagi.

Catatan Penting
Sebetulnya, kekerasan seksual pada anak bisa dihindari dengan memberikan pendidikan seksual sejak dini. Lakukan dari hal yang mudah, semisal mengatakan pada anak untuk menjaga organ seksualnya, "Dek, alat kelaminmu ini merupakan hal yang pribadi dan hadiah dari Tuhan yang harus kamu jaga. Jadi, tidak ada orang lain yang boleh menyentuhnya, kecuali Bunda saja." Selain itu, biasakan pula anak sejak dini menutup organ privatnya. Tak kalah penting bagi orangtua untuk menjaga komunikasi dan kedekatan dengan anak agar dapat memantau keadaannya demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

Trauma Bencana Alam
Trauma akibat bencana sangat terekam dalam ingatan anak, seperti yang dialami kala tsunami. Bila mereka diminta menggambar akan tampak dari hasil karyanya berkaitan dengan air, misalnya. Dampak trauma dari bencana antara lain, anak menghindari pembicaraan yang mengarah pada peristiwa bencana, mungkin anak jadi takut keluar rumah sehingga terhambat aktivitasnya maupun sosialisasinya.

Cara Mengatasi:
Gali perasaan yang dialami anak lewat menggambar maupun bermain. Umpama, main kartu bergambar yang ada cerita tentang bencana yang dialami anak. Minta anak mengurutkan kartu berdasarkan cerita tersebut.
Undanglah teman-teman anak untuk melakukan support group sehingga anak bisa berbagi dengan teman-temannya dan tak merasa sendirian.

Trauma Kematian
Kematian merupakan suatu konsep yang abstrak bagi anak, karena tahap perkembangannya masih praoperasional sehingga sulit mencerna peristiwa tersebut. Dampak dari trauma kematian pada setiap anak berbeda tergantung daya stres pada setiap anak. Jika kejadiannya begitu tragis dan disaksikan oleh anak, tentu akan sangat traumatik dibandingkan bila kejadian tersebut tidak menakutkannya. Dampak dari trauma kematian, bisa jadi anak akan menghindar dari pembicaraan yang mengarah pada kejadian kematian tersebut, anak jadi lebih pendiam, dan sebagainya. Perlu waktu bagi anak mengatasi trauma tersebut

Cara Mengatasi:
Orangtua tak menutupi atau berbohong mengenai kejadian yang sebenarnya. Jangan sampai karena ingin menghibur anak lantas mengatakan, "Mama sedang pergi dan nanti akan kembali." Penjelasan seperti itu menyiksa batinnya karena anak akan menunggu sia-sia.
Orangtua hendaknya memberikan contoh dengan tidak memperlihatkan kesedihan mendalam di hadapan anak. Tujuannya agar anak pun dapat bersikap positif.
Berikan contoh konkret lewat cerita-cerita fabel, semisal, "Setiap makhluk yang diciptakan Tuhan itu ada batas waktu hidupnya. Seperti induk kelinci ini, lo. Ada yang usianya cuma sampai 5 tahun atau 10 tahun. Setelah itu Tuhan akan memanggilnya pulang. Begitu juga dengan Ayah. Meski Ayah tidak ada lagi bersama kita namun ia tetap ada di ingatan kita."

Narasumber: Fabiola Priscilla S., M.Psi., dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia
Sumber: tabloid-nakita.com

Sunday, 28 June 2009

Anak Dominan

Apa yang harus diajarkan agar "si doyan tampil" tak mendominasi dan menimbulkan antipati? "Siapa yang mau menyanyi di depan kelas?" "Saya Bu!" "Siapa yang mau menggambar di papan tulis?" "Saya Bu!" Nah, kok, dia lagi dia lagi yang unjuk tangan? Mengapa teman-temannya tak diberi kesempatan? Bahkan ada anak lain yang seperti tersihir dengan kecepatannya mengangkat tangan.

Sikap percaya diri seperti itu jelas membanggakan pada awalnya. Dia mampu berekspresi dan berani mempertunjukkan kebolehannya di muka umum. Ini merupakan modal penting untuk kesuksesannya kelak. Konsep dirinya juga positif. Ia menganggap pribadinya sangat istimewa yang bisa mengemban tanggung jawab dengan baik. Jika kemampuannya dipupuk dan diarahkan secara positif, sangat mungkin anak tumbuh menjadi pemimpin yang kuat.
Cuma, mengambil pepatah orang bijak, segala hal yang berlebihan tidaklah baik. Percaya diri dan senang tampil adalah bagus, tapi terlalu percaya diri dan senang mendominasi tidaklah baik. Bagaimanapun, teman-temannya perlu diberi kesempatan yang sama untuk menunjukkan kebolehan seperti dirinya.

Senang dipuji
Kenapa ya ada anak yang begitu senang tampil? Kalau ditilik dari sisi perkembangan sebenarnya kondisi ini wajar saja sebab sifat otonom anak-anak prasekolah sedang berkembang. Ia merasa memiliki kemampuan melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Anak juga sangat menikmati reward positif dari teman atau guru setiap ia tampil. Pujian atau tepukan tangan yang meriah merupakan umpan balik (feedback) positif yang membuat anak ketagihan untuk tampil dan menonjol.

Selain itu, ada anak-anak tertentu yang memiliki impulsivitas tinggi. Rata-rata anak memang impulsif (sering bertindak cepat tanpa pertimbangan), tapi khusus anak ini, kadar impulsifnya di atas rata-rata. Jika dia mau sesuatu maka harus dilakukan saat itu juga. Tidak ada kata "nanti" atau "ditunda" dalam kamusnya. Ini boleh jadi karena anak terlalu dimanja keluarganya. Apa yang diminta pasti dipenuhi dan langsung dikabulkan. Berbagi, empati, dan bergiliran tidak pernah didapatkannya. Kemungkinan lain, anak dibesarkan dalam sebuah keluarga dengan banyak saudara, sehingga dia harus berebut dalam segala hal dengan saudaranya. Termasuk mencari perhatian dan kasih sayang orangtuanya.

Bergiliran
Sebagai solusi, arahkan si kecil agar bisa mengerem kemampuannya untuk beberapa saat. Di sekolah akan bijaksana bila guru menerapkan suatu manajemen kelas yang baik. Misal, dengan mengajarkan konsep bergiliran. Setiap anak berhak untuk tampil, menjawab, atau menunjukkan kebolehan-nya. Ketika guru bertanya dan yang mengacungkan tangan anak itu-itu saja, maka guru bisa berkata, "Kamu kan tadi sudah menjawab, nanti kita kasih kesempatan temanmu untuk menjawab." Agar si anak yang senang tampil tidak frustrasi, cobalah untuk memberi sedikit pujian seperti, "Kamu memang pintar, tapi temanmu juga ingin menyanyi di depan kelas, biarkan dia menyanyi dulu ya."

Si penyuka tampil juga perlu ditata emosinya. Ia tidak perlu marah jika orang lain juga ingin tampil. Justru ia harus menghormati. Katakan, "Seperti dirinya, orang lain juga ingin dihormati dan didengarkan saat bernyanyi."

Lewat cerita
Manajemen pola asuh di rumah juga sama. Kenalkan konsep bergiliran lewat cerita yang inti pesannya adalah dalam hidup ini kita harus saling berbagi dan peduli. Kita tidak bisa memaksakan kehendak dan mendahulukan kepentingan pribadi. Selipkan pesan tentang konsekuensi yang didapat jika anak terlalu egois dan tampil mendominasi, misal, dijauhi, dicap sombong, dan dimusuhi teman-temannya.

Sikap egois bisa dikikis lewat pengenalan kesabaran. Nah, menunda keinginan anak juga merupakan bagian dari latihan kesabaran itu. Ia perlu menyadari adakalanya kemauannya tidak bisa dipenuhi dalam waktu singkat. Ini bisa menjadi acuan saat anak berperilaku di dalam kelas. Dia tidak lantas sakit hati karena ditolak gurunya saat hendak membacakan puisi, menebak gambar, bermain kreatif, dan sebagainya.

Saat bermain, cobalah untuk menerapkan konsep bergiliran kepada kakak/adik. Jangan mentang-mentang berbadan lebih besar dan lebih tua, dia menganggap adiknya sebagai "warga kelas dua". Ada saatnya kakak mendapat giliran pertama untuk bermain, tapi di saat lain kakak juga harus mengalah kepada adiknya.

Anak pun harus diajarkan untuk berpikir apakah ia memang mampu melakukan sesuatu atau tidak. Hanya saja, tak perlu diajarkan dengan cara mengekang karena salah-salah si kecil malah takut gagal. Akibatnya, anak yang awalnya berani tampil akhirnya mogok atau malu untuk tampil. Inisiatifnya pun tak berkembang. Bagaimanapun, si prasekolah umumnya belum bisa mengukur kemampuannya. Lantaran itu, tekankan padanya, dia harus mau kalau ditunjuk atau diminta gurunya untuk tampil di depan.

Umpan balik guru di kelas bisa menjadi pelajaran berharga. Saat anak berani tampil, meski suaranya pas-pasan, cobalah dengan tetap memuji sambil melakukan koreksi membangun. "Gerakanmu saat menyanyi sudah cukup bagus, sayang lirik lagunya tidak bisa kamu nyanyikan dengan baik, cobalah untuk menghapalnya di rumah agar kamu bisa tampil lebih baik." Umpan balik itu merupakan koreksi untuk memperbaiki kekurangan anak. Dengan begitu, anak bisa tampil lebih baik pada penampilan berikutnya. Tidak asal maju hanya untuk memperlihatkan kebolehannya.

Narasumber : Dra. Farida Kurniawati, M.Sp.Ed., pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Sumber: tabloid-nakita.com

Melatih Anak Mengatasi Konflik

Bila sejak dini anak tak pernah diajarkan mengatasi konflik, ia bisa kehilangan teman, lho. Yang lebih parah, ia jadi terbiasa menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Hampir tiap hari anak Anda mungkin bertengkar, entah dengan anak tetangga maupun adiknya. Yang rebutan mainanlah, tak mau membagi kuenya, maupun rebutan tempat duduk, dan sebagainya. Daripada pusing mendamaikan mereka melulu, kenapa tak mencoba untuk mengajari anak mengatasi atau menghindari konflik-konfliknya?

Apalagi, seperti dikatakan psikolog dra. Tjut Rifameutia U.Ali-Nafis, MA, mengajari anak-anak menyelesaikan konflik sebaiknya dilakukan sejak dini agar setelah besar mereka terlatih menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Sebab, untuk melatih anak menyelesaikan konflik berarti juga melatih anak mengontrol kemarahan dan emosinya. Bukankah kekerasan terjadi lantaran orang tak bisa mengendalikan amarah dan emosinya? "Tapi tentu ini bukan sesuatu yang mudah," ujar Tia, panggilan akrabnya. Terlebih lagi ciri anak-anak adalah kepolosan. "Kalau mereka mau marah, ya, marah saja, tak perlu menunggu atau menundanya alias tak perlu kontrol diri segala. Hal ini disebabkan mereka belum tahu aturan main dalam kehidupan," lanjut staf Pembantu Dekan III Fakultas Psikologi UI. Itulah mengapa, kita perlu mengajarinya.
Memang, tambah Tia, anak bisa belajar dari pengamatan, "tapi kalau salah persepsi, bagaimana?" Disamping itu, jika kita tak mengajarkan, saat anak besar nanti bisa mengganggu hubungan sosialnya. "Saat di sekolah, guru-gurunya akan kesulitan dalam menghadapi si anak. Di kelas ia bisa jadi pemarah, suka menjerit-jerit dan memukul temannya. Nah, lambat-laun ia bisa kehilangan teman, kan?" Ia pun bisa diberi label oleh teman-temannya, entah sebagai si pemarah atau si brengsek, dan sebagainya. Kalau sudah begitu, akhirnya akan mengganggu perkembangan konsep dirinya. "Bisa-bisa ia akan bersikap, kalau aku enggak marah maka bukan aku lagi."

Etika bergaul
Jadi, Bu-Pak, betapa penting mengajari anak mengatasi maupun menghindari konflik. Kendatipun tak mudah, namun percayalah, kita pasti bisa melakukannya. Caranya dengan mengajak anak berdialog. Bukankah di usia prasekolah ia sudah bisa diajak berdialog? "Jelaskan pada anak tentang etika bergaul seperti bagaimana akibatnya jika mereka selalu berebut dan tak mau berbagi, apalagi sampai bertengkar dan memukul," tutur Tia. Ajarkan pula untuk bertenggang rasa dan berempati pada perasaan orang lain, juga pentingnya sikap saling memaafkan.

Tapi tentu tak cukup hanya bila dilakukan lewat dialog karena untuk mengajarkan sesuatu pada anak akan lebih efektif bila dilakukan juga lewat contoh sehari-hari dari orang tua. "Orang tua tentunya pasti pernah bertengkar atau berargumentasi di depan anak-anak, kan? Nah, pastikan anak-anak melihat kedua orang tuanya saling meminta maaf dan saling memperbaiki diri seusai bertengkar." Jangan lupa untuk selalu mengajari anak-anak meminta maaf dan berdamai seusai bertengkar. Disamping itu, media bantu seperti buku-buku cerita atau film yang memperlihatkan nilai-nilai tersebut juga akan sangat membantu dalam mengajarkannya.

Latih memecahkan masalah
Selanjutnya, yang harus kita lakukan ialah melatih anak memecahkan masalahnya sendiri. Jadi, bila anak-anak sedang bertengkar, biarkan saja dulu, tak perlu tergesa-gesa mencampuri urusan mereka. "Barulah jika pertengkaran itu sudah mengarah ke hal-hal yang membahayakan, orang tua harus segera menghentikannya," kata Tia. Misalnya, pertengkaran mengarah ke perkelahian atau bertengkar dengan kata-kata yang tak semestinya dilontarkan anak seusia itu.

Kala menengahi pun kita tak perlu buru-buru memberikan jalan keluar. Tanyai dulu keduanya, apa yang kalian ributkan? "Jadi orang tua masuk dan mereka diajak diskusi agar lebih tenang dan tak main mulut begitu saja." Setelah salah satu bercerita, tanyai lagi lainnya, apakah itu benar? "Dengan demikian mencegah mereka menjadi pengadu." Lantas, tanyai, apa yang bisa mereka lakukan untuk menyelesaikan konflik. Tentunya masing-masing akan mengemukakan argumennya.

Nah, saat itulah kita harus menunjukkan bagaimana bisa menyelesaikan konflik meski berbeda sudut pandang, "Kalau menurutmu, mungkin pendapatmu itu yang benar. Tapi coba kita lihat dari pendapat temanmu." Misalnya, mereka berebut main di ayunan taman yang menjadi milik umum. Jelaskan, "Barang ini memang milik orang banyak. Jadi, semua orang boleh memakainya, baik kamu maupun temanmu. Nah, karena semua orang boleh pakai, maka berarti ini bukan milikmu sendiri, kamu tak boleh pegang terus mainan ini. Temanmu pun harus mendapat giliran pakai, kan?"

Jadi, buat mereka berdialog sehingga masing-masing akan mengerti apa maunya orang lain. Kemudian, tanyai atau dorong mereka untuk mencapai kesepakatan bersama agar keduanya dapat memakai ayunan itu bersama. "Karena temanmu duluan yang memegang ayunan itu, bagaimana kalau 10 menit pertama temanmu yang naik duluan dan kamu yang mendorongnya. Setelah itu ganti kamu yang naik dan temanmu yang dorong, setuju?"

Bisa juga dengan membuat aturan bersama. Misalnya, "Lain kali gini, deh, siapa yang pegang ayunan duluan, ia yang berhak main duluan. Yang lain dilarang menyerobot." Kalau mereka tanya, kenapa? Terangkan, "Bagaimana perasaanmu jika kamu sedang asyik bermain terus ada orang yang merebut mainanmu, kamu juga tak suka, kan?"

Empati dan toleransi
Bila anak masih tak bisa mengontrol emosinya, bimbinglah ia untuk mengarahkan emosinya. Katakan, misalnya, "Bunda mengerti Kakak marah karena Tati terus memainkan ayunan itu tanpa memberimu kesempatan untuk memainkannya. Barangkali Tati memang sudah lama ingin bermain ayunan. Coba, deh, bayangin kalau Kakak sudah lama ingin main ayunan, tentunya Kakak enggak cukup puas kalau mainnya sebentar, kan?" "Jadi, anak senantiasa dilatih untuk menempatkan diri pada posisi orang lain dan berempati pada perasaan orang lain agar tak menjadi egois," tutur Tia.

Menurut Tia, tak sulit, kok, melatih rasa empati pada anak. Kala bonekanya jatuh, misalnya, mintalah ia untuk memeluknya, "Duh, kasihan, pasti sakit sekali kakinya. Coba dielus-elus." Begitu juga kala kucingnya mengeong, misalnya, kita bisa menunjukkan, "Mungkin si Pus lapar, ya, sehingga mengeong terus. Yuk, kita kasih makan." Dari sini, perlahan-lahan akan tumbuh rasa empatinya. "Ia terlatih untuk memahami kesulitan makhluk lain dan perasaan orang lain. Dengan empati yang berjalan baik, lambat laun kontrol dirinya juga jadi baik," terang Tia.
Ia pun akan makin mengerti, mengapa orang lain melakukan tindakan berbeda dengannya. Sehingga, betapapun juga ia tak setuju dengan tindakan orang lain, ia akan berusaha berpikir seperti cara orang tersebut berpikir. Dengan begitu, konflik yang keras dapat dihindari. Tapi tentu kita juga perlu mengajarinya toleransi. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mengajari anak untuk saling berbagi sejak dini sehingga sikap toleransi akan mendarah daging dalam perilakunya. "Mulailah dengan mengajari anak untuk membagi kue atau mainannya dengan adik atau teman-temannya."

Yang tak kalah penting ialah mengajarkan keluwesan dalam menghadapi persoalan. Misalnya, ia tak mau membereskan mainannya setelah selesai bermain, "jangan lantas memberinya ultimatum, tapi berilah alternatif waktu untuk memilih waktu yang tepat dalam membereskannya, 'Bagaimana kalau sehabis menonton film kartun kamu membereskannya?'"

Jadi, ada fleksibelitas dalam menangani sesuatu.
Dengan selalu mengajarkan keluwesan atau fleksibelitas, anak tak akan mudah meledak marah kala temannya tak mentaati aturan main yang telah mereka buat. Bukankah ia sudah terbiasa dengan ajaran, selalu ada jalan keluar lain manakala ada kesepakatan yang meleset?

Bersikap Adil
Tentu kita juga perlu bertindak tegas terhadap perbuatannya yang salah saat meluapkan amarahnya. Misalnya, ia suka memukul. Nah, jelaskan padanya bahwa ia mesti menghilangkan kebiasaan buruknya memukul teman atau adiknya. Jika masih terulang lagi, maka ada konsekuensinya. Misalnya, tak boleh menonton film kartun kegemarannya di TV, tak boleh makan es krim selama seminggu, dan sebagainya.

Tapi ingat, pesan Tia, kita harus adil dalam hal ini. "Jika yang bertengkar adalah kakak-adik, maka siapa pun yang jadi biang keroknya, ia tetap anak Anda. Jadi, tetaplah berdiri di tengah dan jangan berpihak." Kalaupun mereka harus dihukum, hukumlah dengan sama rata. "Jangan si kakak saja yang dihukum, lantas si adik tidak. Karena sikap ketakadilan akan sangat membekas di hati anak." Jadi, lebih baik berdiri di tengah dan lakukan negosiasi dengan mereka dalam mencari jalan keluar dari permasalahannya.

Jika tak bisa diatasi, kita bisa menyita benda yang dijadikan rebutan. Mungkin mulanya mereka akan tambah ribut dan memprotes tindakan ini, tapi kita tetap harus tegas. "Anak-anak perlu tahu, jika mereka terus ribut dan tak ada yang mau mengalah atau bergantian main, maka benda itu sama sekali tak boleh dimainkan." Lain halnya jika mereka dapat menegosiasikan cara bermainnya sehingga tak berebut atau bahkan malah hendak bermain bersama.

Cara lain, meminimalkan kemungkinan terjadinya keributan. Misalnya, bila anak memang tak suka meminjamkan mainan kesukaannya pada orang lain, ya, jangan keluarkan benda itu kala teman-temannya datang. Dengan demikian, konflik sama sekali tak muncul

Sumber: tabloid-nakita.com

Obat-obatan Bagi Balita

Memberi obat untuk balita tidak bisa sembarangan, agar tidak berbalik menjadi racun. Kenapa begitu? Ya, soalnya bayi dan anak-anak adalah kelompok umur yang paling rentan bereaksi terhadap obat-obatan. Maka langkah penting pertama adalah baca aturan pakai yang tertera di kemasan, sekalipun obat-obatan itu berlogo hijau (bisa dibeli bebas tanpa resep). Kemudian berikan obat harus sesuai dosis yang dianjurkan. Beberapa hal berikut sebaiknya Anda cermati.

Bijak mengonsumsi aspirin
Pada saat ini, aspirin (merek dagang dari asetasol atau asam asetil salisilat) lebih banyak digunakan sebagai obat pengencer darah (anti platelet agregasi) pada kasus-kasus tertentu, misalnya penyakit jantung. Efek samping kelebihan aspirin adalah risiko timbulnya perdarahan di lambung, atau pada organ lainnya. Apa pengaruhnya buat si kecil?

Mungkin, Anda pernah mendengar kasus anak menderita sindroma Reye (sebuah penyakit yang jarang terjadi, tetapi merupakan penyakit serius yang dapat mempengaruhi darah, hati dan otak anak-anak) karena pemberian Aspirin. Walau demikian, bukan berarti anak yang diberi obat tersebut pasti akan menderita sindroma Reye. Asal Anda tahu, sampai saat ini masih harus diteliti hubungan langsung antara aspirin dengan sindroma Reye karena banyak faktor yang berpengaruh, antara lain:
Kepekaan anak. Jika memang peka bisa saja anak terkena sindroma Reye.
dosis obat. Jika melebihi dosis yang dianjurkan, si kecil bisa terkena sindroma tersebut.
Ada tidaknya kelainan sebelumnya yang diturunkan secara genetik, misalnya kekurangan enzim G-6-PD.

Jadi, waspadalah sebelum memberikan obat pada si kecil. Bila perlu konsultasikan pada dokter anak Anda.

Resep untuk anak lain
Resep obat yang ditujukan kepada anak lain, bisa kakak atau adik, tidak akan efektif, bahkan berbahaya. Jadi, berikan ia hanya obat-obatan yang memang ditujukan untuknya.

Obat kadaluwarsa
Segera buang obat-obatan yang sudah kadaluwarsa. Karena, setelah lewat tanggal itu, obat-obatan tersebut tidak akan efektif dan bisa menjadi bahan yang berbahaya. Selain itu, pastikan obat-obatan itu tidak Anda buang utuh. Dikhawatirkan, obat tersebut diambil orang tak bertanggung jawab, untuk kemudian dijual ke pengedar obat-obat palsu.

Obat dewasa
Memberikan si kecil dosis sedikit saja dari obat-obatan yang ditujukan buat orang dewasa berisiko pada gangguan kesehatannya. Jika di kemasan/ label tidak tertera dosis untuk anak-anak, jangan pernah memberikan obat tersebut kepada si kecil.

Simpan Hati-hati
Sebenarnya, bukan kandungannya yang dikhawatirkan, tetapi bentuknya! Ya, obat-obatan tablet atau pil yang berukuran kecil, dapat tertelan oleh anak. Begitu juga obat-obatan jenis sirup, jangan sampai dianggap si kecil sebagai minuman ringan! Oleh sebab itu, hati-hati jika menyimpan obat-obatan. Letakkan di kotak obat yang jauh dari jangkauan si kecil.

Sumber: ayahbunda-online.com

Friday, 26 June 2009

Mengenal Asthenopia

Kebanyakan main games di komputer ternyata bisa menyebabkan kelelahan otot mata. Kalau dibiarkan berlarut-larut, akibatnya bisa serius. Komputer sudah jadi salah satu bagian dari gaya hidup anak kita. Lihat saja, belum genap usia sekolah, si kecil sudah begitu piawai main aneka games Nah, tersihirnya anak berjam-jam di depan layar komputer akan mempengaruhi otot-otot matanya. Keluhan yang timbul mungkin di luar dugaan Anda.

Mata bisa lelah
Mata bekerja mirip kamera. Bayangan benda diterima oleh mata dan masuk melalui seperangkat lensa di mata, berupa kornea, pupil dan lensa yang transparan. Organ-organ ini berhubungan erat kerjanya dengan otot-otot mata. Masalahnya, untuk melihat dalam jarak dekat, seperti melihat layar komputer, perlu kerja ekstra dari lensa dan otot mata, yaitu:

Lensa mata harus mencembung untuk mencari fokus benda yang dilihat .

Kedua bola mata harus bekerja sama dalam menyatukan bayangan saat mata melihat obyek dalam jarak dekat. Apalagi, jika obyek cukup kecil.

Menggerakkan bola mata ke arah bayangan yang datang, agar tampak jelas. Misalnya, untuk mengikuti games , bola mata harus bolak-balik ke kanan atau kiri.

Sebetulnya, sejak lahir sampai usia setahun, mata bayi termasuk rabun dekat. Karena, bayangan jatuh di belakang retina. Benda-benda dalam jarak dekat (kurang dari 30 cm) terlihat kurang jelas, jika otot mata dalam keadaan relaks. Untuk melihat benda sedekat itu dengan jelas, mau tidak mau lensa dan otot-otot mata harus berusaha keras agar bayangan jatuh pas di retina.
Mungkin tidak terasa apa-apa pada awalnya. Tapi lama kelamaan, mata akan lelah juga jika dipaksa menatap komputer selama berjam-jam. Belum lagi, gerakan mata harus cepat dan terus-menerus. Bayangkan, pupil mata bisa bergerak sebanyak 75.000–150.000 kali per menit. Bandingkan dengan gerakan pupil mata ketika membaca buku. Hanya 1-5 kali per menit! Belum lagi, jarak antara mata dengan layar biasanya cukup dekat. Lelahnya makin menjadi-jadi.
Anak tak mampu mengatakan

Ketegangan yang ditimbulkan saat bermain games sering membuat anak jarang berkedip. Secara otomatis, mata dilindungi oleh kelopak mata, alis, dan bulu mata. Nah, proses mengedip akan melindungi mata agar tidak mudah kering.

Memang, air mata berguna untuk membersihkan kotoran yang masuk ke mata, melumasi mata, melindungi mata (mengandung antibakteri dan antibodi), sarat nutrisi (glukosa, elektrolit, dan enzim protein), dan media “transportasi” oksigen dan udara. Jika pasokan air mata kurang dan pelumasan mata menurun, apalagi dalam jangka lama, kesehatan mata akan terganggu juga.
Mata yang jarang mengedip akibat keasyikan memelototi layar akan mengalami penguapan berlebihan. Apalagi, kalau ruangannya ber-AC, penuh asap rokok, dan banyak debu karena jarang dibersihkan. Wah, makin lengkaplah “penderitaan” mata si kecil.

Kelelahan mata akan menimbulkan kelelahan, seperti mengantuk, mata berair, dan sakit kepala (otot luar penggerak bola mata bekerja keras ketika berinteraksi dengan komputer). Juga, mata terasa kering, penglihatan buram plus kemampuan melihat menurun. Padahal, anak kecil belum bisa mengekspresikan keluhannya. Jika dibiarkan berlarut-larut, gangguan penglihatan bisa menetap.

Sering dianggap penyakit lain
Kelelahan kerja otot mata dan lensa mata bisa muncul dalam berbagai bentuk (simak boks “Inilah Beberapa Gejala Lelah Mata”). Tak heran, kalau gejala ini sering disalahartikan sebagai penyakit lain.

Begitu ia mengeluh pusing, tengkuk sakit dan mual, Anda membawanya ke dokter anak. Setelah kepala di- rontgen , ternyata kondisinya oke. Karena keluhan belum mereda, barulah dokter menganjurkan agar mata si kecil diperiksa. Ternyata, ia menderita rabun dekat, yang diperparah dengan kebiasaan bermain games dengan jarak layar yang teramat dekat dengan mata.

Penelitian di Amerika Serikat terhadap 25.000 pengguna komputer menunjukkan, penggunaan filter di depan layar komputer tidak terlalu berpengaruh dalam mencegah kelelahan otot mata.
Jadi, bukan tak mungkin kalau si kecil yang sehari-harinya selalu terpaku di depan komputer suatu ketika mengeluh sakit ini-itu. Memang, komputer perlu dikenal anak sejak dini. Namun, demi kesehatan, cermati waktu dan cara penggunaannya.

Sumber : Ayahbunda-online.com

Tips Membesarkan Anak Usia 9-12 Tahun

Pada umumnya, anak yang berusia 9-12 tahun akan mengalami pubertas. Pada diri anak tersebut akan terjadi beberapa perubahan baik secara fisik maupun biologis. Misalnya, anak perempuan masa pubertas biasanya diawali oleh terjadinya menstruasi. Sedangkan pada anak laki-laki biasanya dimulai dengan 'mimpi basah. Secara fisik, bagian dada (payudara) pada anak perempuan akan tampak membesar dan pada anak laki-laki biasanya diawali oleh adanya perubahan suara yang menjadi berat atau tumbuhnya bulu-bulu di sekitar wajah (kumis, janggut).

Pada masa ini, biasanya anak akan memperlihatkan perilaku yang tidak biasanya. Ada perilaku positif yang mungkin muncul karena pengaruh masa puber ini, yaitu anak akan semakin mahir dalam mengatur waktu untuk belajar dan beraktivitas. Dalam mengambil keputusan, ia akan semakin mampu dan baik. Sedangkan sisi negatif dari hadirnya masa puber ini, biasanya anak cenderung lebih sensitif. Ia akan mudah tersinggung, egois, dan bahkan menentang. Menyikapi sikap negatif seperti itu, orangtua bijak tentu tidak akan balik menyerang. Sebab, tindakan balik menyerang tersebut hanya akan menambah keruh situasi.

Ada beberapa sikap yang perlu orangtua lakukan lebih intensif ketika menghadapi anak usia ini. Yaitu, jadilah orangtua sebagai sahabat anak. Hal ini penting, supaya anak dengan bebas dapat mencurahkan apa yang dirasakan olehnya. Ia tidak akan mencari sahabat lain di luar rumah yang seringkali nilai positifnya banyak diragukan.

Berikanlah pemahaman kepada anak tentang tanggung jawab orang yang telah memasuki masa puber. Misalnya, bagaimana merawat dan menjaga kebersihan tubuh, memberitahukan kepada anak bahwa perempuan suatu saat akan mengalami menstruasi dan anak laki-laki akan mengalami ‘mimpi basah’. Selain itu, hal lain yang juga penting adalah mengajarkan anak bagaimana cara mandi besar (Indra Kusumah, S. Psi & Vindhy Fitrianti W, S.Psi, 2007).
Para orangtua yang baik, seperti kita tahu bahwa anak yang sedang mengalami pubertas biasanya ia akan memiliki energi yang cukup besar. Oleh karena itu, orangtua hendaknya memahami kondisi ini dan dapat membantu anak untuk menyalurkan energinya itu ke arah yang bernilai positif. Misalnya, memotivasi anak untuk ikut kegiatan positif seperti berolah raga, beladiri, atau bermain musik. Hal seperti ini penting untuk meredam sifar negati akibat pubertas, suka menonton tayangan yang tidak layak atau masturbasi.

Sumber : Perkembangananak.com

Tips Menyikapi Anak yang Berwatak Keras Kepala

Setiap anak memiliki watak yang berbeda. Salah satunya adalah watak keras kepala. Anak yang berwatak keras kepala biasanya suka memaksakan kehendak, apa yang ia inginkan harus selalu dikabulkan. Apabila keinginannya ditolak, maka ia akan menangis, menjerit-jerit, berguling-guling. Bahkan, bisa jadi anak itu akan mengamuk dengan memukul dan melemparkan barang-barang yang ada di sekitarnya. Untuk mengendalikan anak yang berwatak seperti itu tentu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Boleh jadi orangtua akan kesulitan dan kewalahan dibuatnya.

Ketika menghadapi amukan anak yang berwatak keras kepala, hindarkanlah meresponnya dengan sikap keras. Seperti, mengucapkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan dan memukulnya. Tindakan orangtua seperti itu hanya akan melukai perasaan dan menghilangkan rasa percaya diri pada anak.

Ada beberapa cara positif yang dapat orangtua lakukan ketika menghadapi anak yang berwatak keras kepala. Pertama, berikanlah kebebasan kepadanya untuk melakukan sesuatu yang tidak berbahaya. Janganlah terlalu ikut campur dengan keinginan anak, jika hal itu tidak membahayakan maka hindarkanlah banyak memberi larangan kepadanya. Kedua, apabila ternyata tindakan yang dilakukan anak tersebut adalah berbahaya. Maka, segeralah orangtua membawa atau mengalihkan perhatiannya kepada sesuatu yang bermanfaat. Misalnya, mengajaknya nonton film kesukaannya atau bermain di kebun. Hindarilah melarang anak dengan cara keras, memukul atau membentak dengan kalimat kasar. Ketiga, jika anak tetap melakukan tindakan berbahaya dan ia tidak bisa dilarang atau dinasehati. Maka, cegahlah anak dengan sikap tegas. Jangan khawatir dengan tangisannya. Karena, percayalah setelah beberapa saat iapun akan kembali tenang (Ibrahim Amini, 2006).

Pesan penting
Janganlah menjadi orangtua yang selalu membiarkan, mengabulkan, dan membolehkan semua tindakan, keinginan, dan permintaan anak. Sebab, tindakan orangtua seperti itu akan membuat anak tumbuh mejadi orang yang egois dan sombong. Ia tidak terbiasa mendapatkan penolakan apapun dari orangtuanya. Oleh karena itu, ketika dewasa nanti ia akan cenderung bersikap memaksa orang lain agar dapat bersikap seperti halnya orangtua kepadanya. Yaitu, selalu mengabulkan dan membolehkan apa saja yang ia inginkan.
Sumber : perkembangananak.com

Monday, 22 June 2009

Bila Anak Berkacamata

Tidak perlu risau bila si kecil harus memakai kacamata. Sebab, alat bantu ini justru akan membantunya beraktivitas. Jadi, pilihkan saja kacamata yang tepat untuknya.
Masa kanak-kanak adalah masa menyerap berbagai informasi. Dan, mata merupakan “pintu” informasi yang cukup penting peranannya. Terbayang ‘kan apa jadinya bila mata si kecil bermasalah?

Bukan akhir segalanya
Memakai kacamata bukanlah akhir segalanya bagi si kecil. Ini merupakan masalah gangguan pembiasan (refraksi). Gangguan apa sih? Gangguan pembiasan membuat obyek yang ditangkap oleh mata terlihat tidak fokus alias buram. Keadaan inilah yang dikoreksi dengan pemakaian kacamata atau lensa kontak.

Sebenarnya, ada berbagai jenis gangguan pembiasan. Dan, yang biasa dialami anak adalah kelainan mata minus (gangguan pembiasan rabun jauh) dan kelainan mata plus (gangguan pembiasan rabun dekat). Nggak susah kok untuk “menebak” gangguan mana yang diderita oleh si kecil. Karena, ada beberapa perilaku khas yang umum jadi “pertanda”. Apa itu?
Anak memiliki kelainan mata minus kalau menunjukkan perilaku berikut:
* Umumnya, jarak mata normal saat melihat gambar atau membaca buku sekitar 30 cm. Nah, anak yang mengalami gangguan ini biasanya akan mendekatkan matanya ke buku hingga jarak kurang dari 20 cm.
* Ketika nonton televisi, ia akan duduk dengan jarak yang sangat dekat, bahkan bisa jadi berdiri di dekat layar televisi.
* Begitu melihat obyek yang jauh, ia akan memicingkan matanya sambil memiringkan kepala, seolah-olah berusaha mencari fokus yang jelas.

Sementara itu, hal yang bisa diamati pada anak dengan kelainan mata plus adalah:
Begitu melihat gambar atau bacaan, anak akan menjauhkan matanya dari buku tersebut.
Anak cepat mengeluh lelah dan merasa tidak nyaman ketika menggambar, menulis atau membaca.

Terkadang mata anak mudah berair, merah, bahkan terasa gatal.

Beda-beda pemeriksaannya
Bila Anda mencurigai adanya gangguan pada penglihatannya, apalagi kalau si kecil sampai mengeluh, segera konsultasikan ke dokter. Tentu saja, pemeriksaan yang dilakukan dokter akan disesuaikan dengan usia dan kematangan anak. Berikut pemeriksaan yang umum dilakukan:

Pengukuran subyektif
Bila anak masih sangat kecil dan belum mampu berbicara, dokter akan memperlihatkan gambar dengan bentuk dan warna yang menarik perhatian. Gambar itu kemudian digerak-gerakkan ke berbagai arah. Dari sini, dokter akan memperhatikan apakah pandangan anak mengikuti gerakan gambar itu atau tidak. Bila tidak, ini berarti ada kemungkinan terjadi gangguan pada penglihatannya.

Untuk balita, pada awalnya dokter akan memperlihatkan gambar benda yang sudah sangat dikenal anak, seperti binatang, bentuk rumah, angka, atau huruf. Setelah itu, gambar tadi akan diperkecil dan diperkecil terus sampai batas maksimal anak bisa melihatnya dengan jelas. Dengan begitu, dokter akan tahu sejauh mana gangguan pembiasan yang dialaminya.

* Cara lain adalah dengan preferential looking test , yaitu menggunakan benda berbentuk silinder bergaris hitam yang diletakkan dalam posisi tegak dan dalam jarak tertentu. Lalu, secara bergantian benda ini diperlihatkan ke anak. Setiap kali diperlihatkan, jarak antar dua garis hitam diperkecil atau dipersempit. Bila penglihatannya tajam, anak tetap dapat melihat adanya dua garis yang jaraknya semakin berdekatan itu. Bila terjadi gangguan pembiasan, maka semua garis terlihat membaur menjadi satu.

Pengukuran obyektif
Mata memiliki apa yang disebut sistem optik, yaitu terdiri dari kornea mata dan lensa yang bertugas membiaskan cahaya ke retina. Nah, baik tidaknya fungsi dari sistem optik ini akan diukur dengan autorefractometer (pemeriksaan yang dilakukan dengan alat komputer) .
Pemeriksaan ini lebih obyektif untuk melihat minus atau plusnya mata si kecil.
Manakah yang terbaik? Kedua jenis pemeriksaan ini perlu dijalani si kecil karena akan saling melengkapi.
Sumber : Ayahbunda

Bila Anak Belum Bisa Berjalan

Lucu sekali melihat anak baru belajar berjalan. Masih goyang-goyang dan agak takut. Biasanya, dalam waktu pendek tiba-tiba ia sudah dapat berjalan baik bahkan berlari-lari.

Berjalan merupakan bagian dari perkembangan gross-motor atau motor kasar. Dimulai dari tengkurap, duduk, merangkak, berdiri, berjalan, berlari dan melompat. Umur bisa berjalan sekitar 1 tahun. Beberapa anak yang mengalami terlambat berjalan. Bila belum berjalan umur 1 ½ tahun mutlak harus diperiksa lengkap. Namun, menunggu bukanlah langkah yang bijaksana. Cermati berbagai gejala yang mungkin ada, sebelum menunggu umur tersebut.

Sejak bayi lahir, kita harus memantau tonus atau kekenyalan tubuh. Bayi normal terasa enak bila digendong. Tonus yang tidak normal dapat berupa bayi yang lemas atau hipotonia atau bayi yang terlalu kaku atau spastik.

Lunglai seperti boneka atau kaku?
Ciri bayi hipotonia terasa seperti kita melihat boneka. Kepalanya tidak kuat, lehernya terkulai ke depan atau belakang. Ia tidak kuat menjepit dengan ketiaknya. Bila didudukkan terjatuh ke depan atau belakang, dengan punggung sangat melengkung. Hipotonia dapat disebakan gangguan otak atau gangguan saraf tepi dan otot.

Bayi spastik atau hipertonia memperlihatkan ciri sebaliknya. Kaki-tangan menjadi terjulur kaku dan sangat sulit dilipat. Leher dan batang tubuhnya juga akan menjadi kaku, tetapi awalnya belum terlihat. Kepala selalu terbanting ke arah belakang. Ia juga sering menegangkan badannya ke arah belakang.

Apa pengetahuan yang bisa kita ambil dari keluhan orangtua?

Bayi baru lahir
Dita, bayi perempuan lahir dari kehamilan yang normal. Berat badannya 3 kg, panjang badannya 50 cm. Tetapi lingkar kepalanya hanya 27 cm. Mita mengalami mikrosefali atau ukuran lingkar kepala terlalu kecil. Pemeriksaan MRI kepala membuktikan bahwa otaknya masih kurang berkembang. Periksalah ukuran lingkar kepala yang merupakan cermin dari perkembangan otak. Untuk anak laki-laki antara cm dan cm, sedangkan anak perempuan antara . cm dan . cm. Perkembangan selanjutnya ternyata sangat terlambat.

Bayi umur 4 bulan
Ibu merasa bahwa Aditya kurang kuat. Saat ditengkurapkan, ia tidak dapat mengangkat kepalanya, atau mendorong dengan kedua lengannya. Kedua tungkainya juga kurang bergerak. Ia juga mengalami kesulitan minum. Ternyata Aditya mengalami gangguan otot yang serius.
Esi tampak sebaliknya. Kok kaku sekali ya? Kedua tangan dan kaki agak terjulur kaku, kepala cenderung membanting ke belakang. Kedua telapak tangannya masih terkepal erat. Esi mengalami kaku di seluruh tubuhnya akibat cidera otak yang disebut sebagai cerebral palsy. Telapak tangan yang masih terkepal erat umur 4 bulan hampir selalu abnormal.
Bayi umur 8 bulan

Rina lahir prematur dengan berat hanya 1600 gram. Saat ini ia dapat menggunakan kedua tangannya dengan baik, tetapi kakinya terasa agak kaku dan sulit bergerak. Bila diberdirikan, kedua tungkainya tidak dapat bermain naik turun, tetapi agak kaku. Rina mengalami spastic diplegia, tungkai bawah menjadi kaku karena saat kelahiran terjadi sedikit perdarahan di bagian tertentu dari otak. Hal ini sangat sering ditemukan pada bayi prematur.
Bayi 1 tahun

Tono sudah dapat duduk dengan baik, tetapi caranya maju ke depan agak aneh. Ia tidak merayap, merangkak atau berjalan, tetapi maju ke depan dengan ngesot. Ngesot dapat merupakan tanda gangguan saraf.
Sumber : anakku.net

Makanan Penyebab Alergi

Alergi makanan merupakan salah satu masalah alergi yang penting pada anak. Sekitar 20% anak usia 1 tahun pertama pernah mengalami reaksi terhadap makanan yang diberikan termasuk yang disebabkan reaksi alergi.

Sebenarnya semua makanan dapat menimbulkan alergi, akan tetapi antara satu makanan dengan makanan yang lain mempunyai derajat alergenitas berbeda. Yang satu mungkin lebih menimbulkan alergi dibandingkan dengan yang lainnya. Yuk, kita kenali makanan yang paling sering menyebabkan alergi pada anak.

Alergi susu sapi
Susu sapi yang merupakan protein asing utama bagi bayi pada bulan-bulan awal kehidupan, dapat menimbulkan reaksi alergi yang pertama dengan gejala-gejala pada saluran cerna seperti diare dan muntah.

Protein susu sapi dapat menimbulkan alergi yang menetap sampai akhir masa kanak-kanak, baik dalam bentuk susu murni atau bentuk lain seperti es krim, keju, kue-kue dan lain-lain. Anak yang mempunyai alergi terhadap susu sapi tidak selalu alergi terhadap daging sapi maupun bulu sapi.

Alergi telur ayam
Telur ayam juga sering merupakan allergen penting pada anak terutama anak yang menderita dermatitis atopik. Anak yang mempunyai alergi terhadap telur ini juga belum tentu mempunyai alelegi terhadap daging ayam maupun bulu ayam, akan tetapi dapat timbul reaksi alergi bila diberikan vaksin yang ditanam pada kuning telur seperti vaksin campak.

Alergi ikan laut
Ikan merupakan alergen yang kuat terutama ikan laut. Bentuk reaksi allergen yang sering ialah berupa urtikaria atau asma. Pada anak yang sangat sensitif, dengan hanya mencium bau ikan yang sedang dimasak dapat juga menimbulkan sesak napas atau bersin-bersin.

Jenis makanan laut yang lain (seafood) yang sering menimbulkan alergi adalah udang kecil, udang besar (lobster) dan kepiting. Gejala yang sering timbul ialah urtikaria. Alergi terhadap makanan ini tidak selalu berarti alergi terhadap ikan laut.

Alergi sayur dan buah tertentu
Kacang-kacangan seperti kacang tanah, kacang mede dan sejenisnya dapat menyebabkan reaksi akan tetapi biasanya bersifat ringan. Gejalanya biasanya berupa gatal-gatal ditenggorokan. Sayur dan buah-buahan juga dapat menimbulkan reaksi alergi yang berupa gatal-gatal pada mulut. Sifat alerginya biasanya hilang bila dimasak selama 2 menit atau diletakkan dalam freezer selama 2 minggu.

Alergi terhadap sayur dan buah-buahan ini sering terdapat pada penderita rinitis alergika yang mempunyai alergi terhadap serbuk bunga tanaman. Anak yang mempunyai alergi terhadap sayur dan buah-buahan biasanya juga alergi terhadap kacang-kacangan, apel, peach, cherry, pear dan wortel. Jeruk sering juga menyebabkan kemerahan pada kulit bayi dan anak.

Kacang kedelai dan sejenisnya mempunyai sifat alergenitas yang rendah. Kacang kedelai sering digunakan sebagai pengganti susu sapi pada anak yang mempunyai alergi terhadap susu sapi. Sifat alergenitasnya akan berkurang dengan pemanasan. Gandum biasanya dapat menimbulkan reaksi alergi dalam bentuk tepung bila dihirup. Bila dimakan tidak selalu menimbulkan reaksi alergi karena gandum akan dicernakan oleh enzim pencernaan di lambung.

Sumber : anakku.net

Thursday, 11 June 2009

Narkoba Mengelilingi Kita

Narkotika dan Obat-obatan berbahaya saat ini sudah menyebar ke mana-mana, termasuk di pedesaan bahkan sampai sekolah dasar. Lalu apa yang kita bisa lakukan untuk mencegah atau meminimalkan beredarnya zat perusak tersebut? Sebelum menjawab hal tersebut ada baiknya kita mengetahui sekilas apa itu narkoba.

Jenis-jenis Narkoba

Saat ini jenis narkoba semakin banyak. Diantaranya yang paling sering digunakana adalah ganja, heroin atau putau dan kokain. Sedang obat berbahaya yang sering digunakan adalah sabu, ecstasy dan pil koplo. Obat-obatan ini bisa menyebabkan orang menjadi kecanduan atau ketagihan sampai membuat kesadaran orang hilang. Selain jenis-jenis yang telah disebutkan ada satu jenis lagi barang berbahaya, yaitu minuman keras yang mengandung kadar alkohol tinggi. Minuman keras tidak kalah bahayanya dengan narkoba.

Mengapa orang memakai narkoba ?

Banyak alasan yang sering dilontarkan seorang pecandu, mengapa ia memakai narkoba, diantaranya :

  1. Awalnya iseng dan untuk mencoba-coba. Sama seperti halnya dengan mencoba-coba rokok.
  2. Ditawari teman dan tidak bisa menolak karena takut atau segan.
  3. Ingin lari dari masalah.

Orang yang punya masalah, merasa dirinya tidak sebaik orang lain. Perasaan itu membuat hidupnya jadi tidak menyenangkan. Kemudian ia memakai narkoba dengan tujuan untuk melupakan masalah. Dengan memakai narkoba, ia mengira masalahnya akan hilang. Padahal, begitu dia sadar masalah itu masih ada dan harus dihadapi, sementara sebagian tubuh kita sudah terkena dampak buruk narkoba.

Mengapa narkoba tidak baik ?

Narkoba tidak baik bagi kesehatan karena akan merusak sel-sel saraf otak. Kerusakan ini bisa mengganggu mental dan perilaku kita, misalnya sulit mengendalikan diri, bicara tidak keruan, mudah marah dan tersinggung. Narkoba juga merusak tubuh kita dengan menyerang beberapa organ penting, seperti jantung, paru, hati dan ginjal. Selain itu, narkoba bisa membuat kita mudah sakit, mual-mual, muntah, diare, kejang-kejang dan menimbulkan kematian.

Khusus untuk putau, orang yang memakainya bisa ingin tidur terus. Begitu bangun, dia pakai putaw lagi, lalu tidur lagi. Begitu seterusnya. Karena itu, biasanya badan pecandu putau menjadi kurus dan lemah. Malangnya, orang yang sudah ketagihan akan merasa sakit kalau tidak memakai narkoba. Sakit yang dialami akan mereda setelah memakai narkoba lagi. Pemakaian terus menerus dan berlebihan bisa menyebabkan kematian.

Bentuk narkoba

Narkoba bisa dibuat dalam berbagai bentuk. Ada yang berupa pil, cairan, bubuk, dan sebagainya. Namun sekarang ada juga narkoba yang dibentuk menjadi permen berwarna-warni dan punya aneka rasa. Salah satu permen narkoba ini namanya yaba. Warnanya menarik dan rasanya manis. Permen berisi narkoba yang termakan akan menimbulkan rasa pusing dan sempoyongan. Dan seperti jenis narkoba lainnya, permen ini bisa membuat orang kecanduan. Karena bentuknya seperti permen yang manis dan menarik, ada kemungkinan dipasarkan di lingkungan anak-anak. Ada baiknya untuk menasehati anak-anak supaya lebih berhati-hati lagi, terutama pada saat membeli jajanan dan terhadap orang yang menawari panganan dengan gratis.

Jadi, bagi orang tua yang memiliki anak mulai dari tingkat sekolah dasar harus selalu memberikan waktunya untuk memonitor segala kegiatan anak baik di lingkungan rumah maupun sekolah. Monitoring tidak selalu dengan terlalu mengekang anak. Banyak cara memonitor anak dengan cara yang baik. Mudah-mudahan generasi muda Indonesia tidak lagi terkotori dengan Narkoba dan minuman keras yang dapat merusak generasi ini menjadi generasi yang lemah.

Sumber : http://sekolahindonesia.com

Menumbuhkan Percaya Diri Pada Anak

Sifat percaya diri tidak hanya harus dimiliki oleh orang dewasa, tetapi anak-anak juga memerlukannya dalam perkembangannya menjadi dewasa. Sifat percaya diri sulit dikatakan secara nyata. Tetapi kemungkinan besar orang yang percaya diri akan bisa menerima dirinya sendiri, siap menerima tantangan dalam arti mau mencoba sesuatu yang baru walaupun ia sadar bahwa kemungkinan salah pasti ada. Orang yang percaya diri tidak takut menyatakan pendapatnya di depan orang banyak. Rasa percaya diri membantu kita untuk menghadapi situasi di dalam pergaulan dan untuk menangani berbagai tugas dengan lebih mudah.

Untuk anak-anak, rasa percaya diri membuat mereka mampu mengatasi tekanan dan penolakan dari teman-teman sebayanya. Anak yang percaya diri mempunyai perangkat yang lebih lengkap untuk menghadapi situasi sulit dan berani minta bantuan jika mereka memerlukannya. Mereka jarang diusik. Justru mereka sering mempunyai daya tarik yang membuat orang lain ingin bersahabat dengannya. Mereka tidak takut untuk berprestasi baik di sekolah atau untuk menujukkan bahwa mereka memang kreatif. Percaya diri bukan merupakan bawaan dari lahir, juga tidak jatuh dari langit. Anak-anak mudah sekali merasa rendah diri, merasa tidak mampu, tidak penting, karena ada banyak hal yang harus dipelajari, dan orang yang lebih tua tampak begitu pandai. Anak-anak memerlukan dorongan dan dukungan secara terus-menerus. Jika orang tua atau guru dapat berperan dengan baik, anak-anak akan memiliki rasa percaya diri. Jika Anda ingin membangun rasa percaya diri dalam diri anak Anda, tak ada istilah terlambat untuk memulai. Anda justru akan memberikan hadiah terbaik untuk anak Anda dan diri Anda sendiri.

Membangun Rasa Percaya Diri

Walaupun sering memprotes jika merasa dibatasi, anak-anak akan menerima jika mempunyai aturan pasti dalam bertindak. Jika orangtua terus mengubah rutinitas anak Anda atau tidak konsisten dalam hal disiplin, anak akan bingung dan bimbang. Misalnya, hari ini aturannya begini, tapi besok lain lagi. Lusa, anak akan bertanya-tanya, "Sekarang saya harus bagaimana. Yang seperti kemarin atau seperti kemarin dulu?"

Tunjukkan bahwa Anda percaya anak Anda punya kemampuan, dengan memberinya tugas-tugas yang bisa dilakukannya dan menimbulkan rasa ikut memiliki. Sebagai contoh, anak-anak biasanya senang menjawab telepon. Ajari dia cara menjawab telepon yang sopan dan benar. Lalu, beri dia kesempatan untuk melakukannya. Coba juga meminta bantuan anak untuk mengambilkan barang-barang yang akan dibeli di rak pasar swalayan, tentunya barang yang tak mudah pecah, misalnya susu, sabun mandi, dan sebagainya. Tahan diri untuk cepat-cepat turun tangan membantu anak melakukan sesuatu. Membantu boleh-boleh saja, tapi tidak berarti mengambil alih atau langsung ikut campur tangan tanpa dimintanya. Doronglah dia untuk tidak terlalu gampang mengatakan, "Saya tidak bisa," "Saya tak pernah akan bisa," atau "Saya memang bodoh."

Satu hal yang penting orangtua harus menjaga jangan sampai mencap anak "pemalas", "dasar pemalu", "anak bodoh", dan sebagainya. Memang sebagian anak mungkin tak akan terlalu menghiraukan kata-kata seperti itu. Tapi sebagian lain akan membangun identitas dirinya dari komentar-komentar yang negatif ini, meskipun Anda mengucapkannya secara spontan dan sungguh tidak bermaksud merendahkan dirinya.

Tanamkan sikap bahwa berbuat salah bukanlah dosa yang tak terampuni, bahwa nilai seseorang tidak selalu bisa dihitung berdasarkan kesempurnaan hasil kerjanya. Yang penting bukan betul atau salah, tapi bagaimana cara dia melakukannya. Jadikan ini sebagai pedoman untuk diri Anda juga. Hormati dan hargai anak Anda. Jangan mempermalukan dia di depan teman-teman sebayanya, atau di depan orang dewasa lainnya, atau di depan umum. Jika anak Anda berbuat salah, panggil dia ke tempat sepi, atau bicarakan hal itu di rumah. Jika Anda berbicara, gunakan nada suara seperti yang Anda harapkan akan digunakannya saat ia berbicara.

Dengarkan anak Anda dan dorong dia untuk berpikir mandiri. Belajar mempertahankan diri sendiri memerlukan kekuatan besar. Tempat terbaik untuk berlatih menjadi orang yang percaya diri adalah di rumah. Hargai ide-ide yang dinyatakannya. Katakan berulang-ulang kepada anak Anda bahwa Anda percaya dia bisa. Dan bersikaplah positif di depan orang-orang lain tentang apa yang bisa dilakukan anak Anda. Dengan cara begitu, anak akan yakin bahwa Anda benar-benar mempercayai kemampuannya.

Ciptakan peluang untuk pengalaman-pengalaman dan tantangan baru. Perluas minat dan keterampilan anak Anda. Bersedialah menerima usaha yang telah dilakukannya, entah apa pun hasilnya. Jangan hanya melihat hasil akhirnya saja. Daripada mengatakan kepada anak apa yang tak boleh dilakukan, lebih baik katakan apa yang boleh dilakukannya. Misalnya, daripada mengatakan "Kamu tak boleh masuk ke rumah orang tanpa permisi," lebih baik katakan, "Kamu boleh masuk ke rumah orang kalau sudah permisi dan dipersilakan masuk." Sebelum mengomentari perilaku anak yang negatif, pikirlah dulu dua tiga kali, sambil mengingat untuk selalu menekankan hal-hal yang positif.

Pengaruh Musik Pada Anak

Musik merupakan salah satu hal yang mempunyai pengaruh pada kehidupan manusia, mulai dari bayi hingga seseorang menjadi dewasa. Hal ini telah diteliti oleh para ilmuwan. Penelitian membuktikan bahwa musik, terutama musik klasik sangat mempengaruhi perkembangan IQ (Intelegent Quotien) dan EQ (Emotional Quotien). Seorang anak yang sejak kecil terbiasa mendengarkan musik akan lebih berkembang kecerdasan emosional dan intelegensinya dibandingkan dengan anak yang jarang mendengarkan musik. Yang dimaksud musik di sini adalah musik yang memiliki irama teratur dan nada-nada yang teratur, bukan nada-nada "miring". Tingkat kedisiplinan anak yang sering mendengarkan musik juga lebih baik dibanding dengan anak yang jarang mendengarkan musik.

Grace Sudargo, seorang musisi dan pendidik mengatakan, "Dasar-dasar musik klasik secara umum berasal dari ritme denyut nadi manusia sehingga ia berperan besar dalam perkembangan otak, pembentukan jiwa, karakter, bahkan raga manusia". Penelitian menunjukkan, musik klasik yang mengandung komposisi nada berfluktuasi antara nada tinggi dan nada rendah akan merangsang kuadran C pada otak. Sampai usia 4 tahun, kuadran B dan C pada otak anak-anak akan berkembang hingga 80 % dengan musik.

"Musik sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Musik memiliki 3 bagian penting yaitu beat, ritme, dan harmony", demikian kata Ev. Andreas Christanday dalam suatu ceramah musik. "Beat mempengaruhi tubuh, ritme mempengaruhi jiwa, sedangkan harmony mempengaruhi roh". Contoh paling nyata bahwa beat sangat mempengaruhi tubuh adalah dalam konser musik rock. Bisa dipastikan tidak ada penonton maupun pemain dalam konser musik rock yang tubuhnya tidak bergerak. Semuanya bergoyang dengan dahsyat, bahkan cenderung lepas kontrol. Ada suatu istilah yang disebut "head banger", yaitu suatu gerakan memutar-mutar kepala mengikuti irama music rock yang kencang. Dan tubuh itu mengikutinya seakan tanpa rasa lelah. Jika hati kita sedang susah, cobalah mendengarkan musik yang indah, yang memiliki irama (ritme) yang teratur. Perasaan kita akan lebih enak dan enteng.

Di luar negeri, sebagian rumah sakit memperdengarkan lagu-lagu indah untuk membantu penyembuhan para pasiennya. Itu suatu bukti, bahwa ritme sangat mempengaruhi jiwa manusia. Sedangkan harmony sangat mempengaruhi roh. Jika kita menonton film horor, selalu terdengar harmony (melodi) yang menyayat hati, yang membuat bulu kuduk kita berdiri. Dalam ritual-ritual keagamaan juga banyak digunakan harmony yang membawa roh manusia masuk ke dalam alam penyembahan. Di dalam meditasi, manusia mendengar harmony dari suara-suara alam disekelilingnya. "Musik yang baik bagi kehidupan manusia adalah musik yang seimbang antara beat, ritme, dan harmony", ujar Ev. Andreas Christanday.

Seorang ahli biofisika telah melakukan suatu percobaan tentang pengaruh musik bagi kehidupan makhluk hidup. Dua tanaman dari jenis dan umur yang sama diletakkan pada tempat yang berbeda. Yang satu diletakkan dekat dengan pengeras suara (speaker) yang menyajikan lagu-lagu slow rock dan heavy rock, sedangkan tanaman yang lain diletakkan dekat dengan speaker yang memperdengarkan lagu-lagu yang indah dan berirama teratur. Dalam beberapa hari terjadi perbedaan yang sangat mencolok. Tanaman yang berada di dekat speaker lagu-lagu rock menjadi layu dan mati, sedangkan tanaman yang berada di dekat speaker lagu-lagu indah tumbuh segar dan berbunga. Suatu bukti nyata bahwa musik sangat mempengaruhi kehidupan makhluk hidup.

Alam semesta tercipta dengan musik alam yang sangat indah. Gemuruh ombak di laut, deru angin di gunung, dan rintik hujan merupakan musik alam yang sangat indah. Dan sudah terbukti, bagaimana pengaruh musik alam itu bagi kehidupan manusia. Jikalau kita merasa hari ini begitu berat, coba periksa lagi hidup Anda pada hari ini. Jangan-jangan kita belum mendengarkan musik dan bernyanyi".

SUMBER : Situs Psikologi

Wednesday, 10 June 2009

Program Child Day Care untuk Anak

Program Child Day-Care sudah mulai banyak dikenal di Indonesia, terutama Jakarta dan sekitarnya. Di Jakarta sendiri sudah beberapa tempat day-care center didirikan sejak beberapa tahun yang lalu, namun sifatnya lebih sebagai penitipan anak, meskipun TPA (tempat penitipan anak) tersebut juga dilengkapi dengan berbagai permainan yang menarik dan ruangan yang didesain menarik untuk anak-anak.

Day-care center sebenarnya bukan semata-mata tempat penitipan anak, namun seharusnya lebih menyediakan sarana atau fasilitas serta program-program yang disusun sedemikian rupa sehingga memungkinkan anak bereksplorasi dengan aman. Sayangnya, di Indonesia tidak banyak day-care center yang berkualitas dan punya fasilitas memadai sehingga bisa memberikan kesempatan yang terbaik bagi anak; atau pun jika ada, biayanya sangat mahal sehingga hanya kalangan terbatas saja yang mampu membayarnya.

Menurut Kagan, seorang ahli psikologi perkembangan, umumnya anak usia 4 bulan sampai dengan 29 bulan sudah bisa dimasukkan dalam day-care center. Sebab mulai dari usia kira-kira 2,5 tahun atau 3 tahun umumnya anak-anak tersebut sudah meningkat pada program preschool. Yang jadi pertanyaan utama, apakah memang sudah diperlukan untuk menitipkan anak atau pun istilahnya memasukkan anak dalam program child day-care? Apakah memang ada manfaat lebih dari program tersebut bagi anak Anda?

Di Amerika, trend memasukkan anak dalam program tersebut sebenarnya lebih banyak dilakukan oleh para wanita yang bekerja sehingga mereka harus menitipkan anaknya. Di Indonesia sendiri, kecenderungan untuk memasukkan anak dalam program child day-care tampaknya sudah mengalami perubahan karena anak-anak yang mengikuti program bukanlah disebabkan karena ibunya harus bekerja sepanjang hari. Sekarang ini, memasukkan anak dalam program child day-care lebih banyak dipengaruhi oleh alasan trend atau mode sehingga seringkali lupa untuk melihat pada kebutuhan sebenarnya dari sang anak.

Tidak jarang anak-anak tersebut dimasukkan oleh orang tuanya karena mereka tidak mau repot-repot untuk mendidik atau mengajari beberapa ketrampilan pada anak-anak mereka; atau karena para orang tua berpikir, semakin cepat dimasukkan ke day-care program, anak mereka akan semakin cepat pintar. Apakah persepsi demikian memang terbukti kebenarannya? Untuk melihat kebenarannya, mari kita perhatikan faktor-faktor yang harus Anda pertimbangkan sekaligus pendapat beberapa ahli sebelum memasukkan anak Anda dalam program day-care.

Kebutuhan dasar anak

Di luar negeri sendiri pada umumnya orang tua memasukkan anak mereka dalam program child day-care dari usia 4 bulan ke atas, karena tuntutan bahwa ibunya harus mulai bekerja setelah melahirkan. Namun di Indonesia kebanyakan anak-anak yang mengikuti progam tersebut sudah pada usia yang cukup besar, sekitar 1 tahun ke atas.

Menurut salah seorang ahli psikologi perkembangan yaitu Erik Erikson, kebutuhan dasar anak pada masa bayi (baru lahir) sampai dengan kurang lebih 1 tahun adalah kebutuhan yang bersifat biologis dan psikologis. Kebutuhan biologis, seperti makan, minum, pakaian, dan segala urusan pencernaan. Kebutuhan psikologis seperti kebutuhan akan rasa aman, merasa diri dicintai dan diperhatikan, dan kebutuhan untuk dilindungi. Untuk itu lanjut Erikson, diperlukan figur orang tua dan pola pengasuhan yang konstan dan stabil sehingga sang anak bisa mempercayai dan meyakini bahwa orang tuanya selalu siap menanggapi kebutuhannya. Jika ternyata dalam prosesnya terjadi hambatan yang menyebabkan hubungan antara keduanya terganggu, misalnya karena orang tua meninggal, terlalu sibuk, sakit, atau situasi apa pun yang menyebabkan terpisahnya hubungan antara anak dengan orang tuanya, maka sang anak akan berpikir bahwa dirinya tidak lagi dicintai. Anak berpikir begitu karena pola pikir mereka yang masih egosentris.

Masalahnya, anak yang tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang konstan di tahun pertama kehidupannya, dalam diri anak tersebut akan tumbuh basic mistrust. Ia akan merasa kurang percaya diri (karena dia menghadapi kenyataan berdasarkan persepsinya bahwa dirinya ditolak atau pun diabaikan) dan kurang dicintai oleh orang tuanya. Anak tersebut juga akan tumbuh menjadi orang yang sulit mempercayai orang lain karena semasa kecilnya ia tidak menerima kehadiran orang tua yang konstan, stabil dan predictable.

Ketidakmampuan untuk mempercayai baik diri sendiri maupun orang lain berpotensi menjadi masalah di kemudian hari jika persoalan ini tidak diselesaikan sejak dini. Sebagai contoh tanda-tanda anak yang tidak mengalami kedekatan yang stabil dengan orang tua sehingga dalam dirinya tidak tumbuh basic trust seperti :

  1. Takut atau tidak mau ditinggal sendirian, harus selalu nempel orang tua
  2. Lebih suka menyendiri dari pada bermain bersama teman-teman yang lain
  3. Kurang percaya diri, minder
  4. Tidak berani keluar rumah
  5. Takut terhadap orang asing, jika didekati langsung menangis atau menarik diri
  6. Bisa jadi tidak menunjukkan ekspresi apa-apa waktu ditinggal orang tua karena sudah biasa ditinggal, atau bahkan tidak ingin dipeluk atau didekati ibunya sendiri
  7. Terlalu sering menangis / cengeng, mudah ketakutan, mudah cemas
  8. Dalam perkembangan usia selanjutnya, berpotensi mengalami masalah dalam pelajaran / sekolah, entah karena kesulitan belajar, hambatan intelektual, atau pun hambatan interaksi sosial dengan teman-temannya

Jadi, sebelum Anda memasukkan anak Anda ke dalam program child day-care, haruslah diperhatikan apakah anak Anda memperlihatkan salah satu atau beberapa dari tanda-tanda di atas. Jika ternyata Anda menemukan adanya kecenderungan demikian, ada baiknya jika Anda mempertimbangkan kembali niat Anda untuk memasukkan anak Anda dalam program child day-care. Sebab, bukannya anak Anda menjadi pintar dan pandai bergaul, malah menjadi penakut dan punya segudang masalah. Selain itu, ada baiknya Anda memperhatikan pendapat para ahli terhadap program child day-care tersebut di bawah ini.

Pandangan para ahli terhadap child day-care

  1. Banyak kritikan yang dilontarkan terhadap program day-care center tersebut dengan dasar, bahwa setiap anak membutuhkan perhatian dan penanganan yang stabil, kontinyu, dan dapat diprediksikan. Menurut pandangan psikoanalisa, kebutuhan akan kasih sayang yang intensif dan stabil hanya diperoleh dalam hubungan antara anak dengan sang ibu/pengasuh utama; dan hal itu dialami dalam setahun pertama kehidupan anak tersebut. Salah seorang ahlinya yaitu Fraiberg (1977) mengemukakan, bahwa dalam day-care center tersebut, setiap anak harus mau tidak mau menerima perhatian yang tidak penuh karena sang pekerjanya harus membagi waktu dan perhatian pada anak-anak yang lain.

    Belum lagi kalau pada saat pertengahan program, si pekerjanya keluar dari pekerjaan dan digantikan dengan orang baru. Mungkin saja hal ini tidak diperhitungkan oleh orang tua; padahal, bagi anak hal ini menjadi faktor penting karena sejak usia dini sang anak belajar membangun kepercayaan terhadap seseorang sampai hubungan tersebut stabil. Namun jika justru yang dihadapi adalah situasi yang tidak pasti, selalu berubah dan unpredictable, maka akan sulit bagi si anak untuk belajar menumbuhkan rasa percaya dalam dirinya. Tidak heran jika di kemudian hari, ia menerapkan pola pertemanan yang hit and run, atau pun solitaire sebagai antisipasi jika dirinya sewaktu-waktu ditinggalkan dan dikecewakan.

    Salah satu fakta yang ironi mengungkapkan, bahwa orang tua yang sering terlalu sibuk bekerja enggan atau kurang tertarik untuk memperhatikan masalah-masalah yang dihadapi anak-anak mereka; padahal, sebenarnya anak-anak tersebut sedang benar-benar membutuhkan kasih sayang orang tua. Jadi, jika karena alasan orang tua tidak sempat mendampingi dan memperhatikan anak sehingga dititipkan pada institusi seperti chid day-care center, tetap tidak menyelesaikan masalah, malah menambah kerumitan.

  2. Kagan, seorang psikolog perkembangan melakukan penelitian melalui eksperimen yang dilakukannya sendiri dan menemukan, bahwa ternyata anak-anak yang dititipkan pada day-care center (meskipun sudah ditangani secara intensif oleh orang-orang yang berkompeten, dan dengan rasio perbandingan 1 pengasuh berbanding 3 atau 4 orang anak), memiliki kapasitas intelektual, emosional dan sosial yang tidak jauh berbeda dengan anak-anak yang diasuh dan dibesarkan semata-mata dalam lingkungan rumah/keluarga (tidak ikut program child-care). Malahan dari penelitian itu ditemukan, bahwa pada usia 29 bulan, anak yang dibesarkan hanya dalam lingkungan rumah, terlihat punya kemampuan adaptasi sosial yang lebih baik dibandingkan anak-anak yang dibina dalam day-care center.

  3. Bagi orang tua, pemilihan day-care center juga harus menjadi bahan pertimbangan penting karena harus melihat kualitas dari pengasuhan dan failitas yang tersedia. Oleh karena itu, banyak ahli berpandangan memasukkan anak dalam day-care center akan banyak menghabiskan biaya, namun tidak seimbang dengan kualitasnya. Selain itu, sulit menemukan day-care center yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan setiap anak yang punya problem berbeda-beda pada masanya dan yang menuntut penanganan yang spesifik pula.

  4. Faktor kebersihan dan kesehatan lingkungan juga perlu menjadi bahan pertimbangan, karena di situ berkumpul banyak anak-anak yang mungkin saja mempunyai penyakit tertentu yang mudah menular pada anak lain, seperti flu, hepatitis, diare, disentri, dll. Kemungkinan besar, tidak semua pengasuh atau pun pekerja di day-care center tersebut dibekali dengan latihan dan pengetahuan yang memadai tentang kesehatan, kebersihan, penyakit dan penanganannya. Kondisi tersebut masih ditambah lagi dengan pola perilaku anak yang masih tidak karuan dan masih belum bisa diatur. Jadi, dalam child day-care, akan besar kemungkinannya bagi setiap anak untuk terkena atau tertular penyakit.

  5. Penelitian yang dilakukan oleh Laurence D. Steinberg dan Jay Belsky beberapa tahun yang lalu menemukan bahwa ternyata pengalaman atau pun bimbingan yang diberikan selama berlangsungnya day-care, tidak menghambat atau pun mendorong perkembangan intelektual anak. Namun, memang day-care terbukti dapat menolong anak-anak dari golongan ekonomi lemah atau pun lingkungan yang beresiko tinggi dari penurunan IQ akibat dari penanganan/pendidikan yang tidak memadai. Lebih lanjut penemuan mereka juga membawa fakta, bahwa anak-anak yang ikut serta dalam program day-care, akan memperlihatkan peningkatan interaksi, baik dalam bentuk positif maupun negatif dengan teman-teman mereka.

  6. Penelitian yang dilakukan oleh Belsky di tahun 1984 menemukan bahwa bayi yang menghabiskan rata-rata sebanyak 20 jam seminggunya dalam program pengasuhan non-maternal (seperti halnya day-care) selama tahun pertama kehidupannya, beresiko tinggi mengalami insecure attachment terhadap sang ibu dan peningkatan agresivitas, ketidaktaatan, atau bahkan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial pada saat mereka memasuki tahap preschool dan sekolah dasar. Namun perlu ditekankan, bahwa situasi demikian tidak berlaku bagi anak yang usianya 1 tahun ke atas. Belsky berpandangan, bagaimana pun juga, preschool yang benar-benar berkualitas memang memberikan kontribusi secara positif pada perkembangan anak.

  7. Salah satu penelitian yang dilakukan di Amerika menampilkan salah satu faktanya, bahwa anak-anak yang diikutsertakan dalam program day care dalam rentang waktu yang cukup lama menunjukkan peningkatan agresivitas terhadap sesama dan terhadap orang dewasa, dan menunjukkan penurunan sikap kooperatif terhadap orang dewasa.

Dari berbagai pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa kebanyakan peneliti masih berpendapat bahwa day-care yang benar-benar berkualitas memang dapat menjadi alternatif program pengasuhan terhadap anak-anak. Adapun pengaruh dari day-care tergantung dari kualitas, lamanya waktu keikutsertaan, serta kualitas yang sebenarnya terjalin antara anak dengan orang tua di luar waktu day-care.

Jadi, bagi Anda yang hendak mengikutsertakan anak Anda dalam program day-care center, cobalah perhatikan dengan seksama, apakah sesuai dengan kebutuhan yang sedang dihadapi oleh sang anak, dan apakah memang benar-benar dibutuhkan, dalam arti bukan karena semata-mata mengikuti mode saja. Selain itu, faktor kebersihan dan keamanan juga selayaknya menjadi bahan pertimbangan mengingat di Indonesia masih mudah terjadinya penularan penyakit-penyakit �aneh� yang sampai saat ini masih sulit ditangani secara cepat oleh para medis. Keberadaan ahli gizi, tim medis dan psikolog dalam day-care center bisa menjadi nilai tambah yang sangat bermanfaat untuk memonitor perkembangan anak Anda.

Sumber : http://www.e-psikologi.com

Trik Untuk Pandai Membaca

Kini banyak sekolah dasar memberlakukan tes baca bagi anak-anak prasekolah yang mendaftar. Tes ini selalu menimbulkan pro-kontra karena dalam kenyataannya kesiapan membaca pada anak tidaklah sama. Dra. Evita E. Singgih-Salim M.Psi., mengatakan, ada anak yang sudah tertarik dan mau belajar membaca pada usia 3 tahun, tapi ada pula yang baru pada usia 6 tahun. "Kesiapan yang berbeda-beda pada setiap anak, mengakibatkan orang tua atau guru tidak bisa memaksakan keinginan agar anak bisa membaca. Bila dipaksa, anak malah menarik diri dan malas untuk belajar," ungkap Evita di ruang kerjanya Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok. Namun menurutnya, ada 2 tahapan besar yang bisa dimanfaatkan untuk mempersiapkan kemampuan membaca pada anak. Pertama pada saat bayi berusia 3 bulan, kedua pada saat anak berusia 2-4 tahun.

LANGKAH AWAL: RANGSANG KEMAMPUAN AUDIO-VISUALNYA

Mengenal Bentuk Visual

Pada usia 3 bulan, persiapan membaca dapat dimulai dengan membangun kemampuan untuk membedakan dan mengingat aneka bentuk visual sebagai persiapan untuk mengenal aneka bentuk huruf. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengenalkan bayi pada aneka mainan berbentuk segitiga, segiempat, lingkaran, kubus, bola, kerucut, silinder, dan sebagainya.

Bacakan Cerita Untuk memupuk motivasi membaca lakukan dengan cara membacakan buku-buku cerita pada bayi. Tentunya diawali dengan buku-buku cerita yang sederhana dengan gambar-gambar yang indah dan penuh warna. Lewat kegiatan itu, anak dirangsang kepekaannya akan bunyi yang menjadi dasar bagi pengenalan bunyi huruf (fonem). Bayi pun memahami bahwa ada kegiatan membaca yang sangat menyenangkan. Manfaat lain yang dapat diraih yakni bayi memperoleh kedekatan dan kenyamanan dari orang tua saat dibacakan cerita.

Mengasah Kepekaan pada Bunyi Ketika anak memasuki usia 2- 4 tahun, persiapan dapat dilakukan dengan cara mengasah kepekaannya akan bunyi. Hal ini memungkinkan anak untuk membedakan berbagai bunyi huruf atau fonem (vokal, konsonan, dan diftong). Misalnya beda bunyi "bu", "pa" dan "dong" sehingga lebih mudah baginya mengaitkan antara huruf dan bunyi. Disamping itu anak mulai menimbun kosakata dan ini sangat bermanfaat nanti saat belajar membaca. Kata Evita, "Anak yang memiliki banyak kosakata dan paham artinya akan lebih mudah dalam belajar membaca, sebab awal dari kemampuan membaca adalah memahami makna suatu kata." Misalnya, akan lebih mudah bagi anak untuk belajar bahwa susunan huruf "m"-"a"-"c"-"a"-"n" berbunyi "macan" bila ia tahu apa itu macan. Anak akan berusaha mencocokkan antara satu kata yang dibaca dengan artinya. Jadi, anak saat membaca tak sekadar membunyikan tapi juga mampu menangkap maknanya. Untuk memudahkan anak memahami makna kata-kata dalam bentuk tulisan, adanya gambar akan sangat membantu.

METODE MEMPERSIAPKAN MEMBACA

Setelah itu, saran Evita, ada beberapa cara yang lebih terfokus untuk mempersiapkan anak belajar membaca. Lakukan persiapan ini secara bertahap.

  1. Tumbuhkan terlebih dahulu minat anak pada bacaan
    Caranya, ceritakan pada anak tentang kehebatan buku. Bahwa dalam buku ada banyak hal yang dapat diketahui, dan bahwa buku mampu menjawab pertanyaan yang ia ajukan, dari asal-usul kilat sampai sejarah peniti. Bacakan buku cerita yang menarik saat menjelang tidur. Dengan kegiatan ini anak menyadari bahwa kegiatan membaca itu menyenangkan. Bedakan antara kegiatan membaca dan mendongeng. Hendaknya pada saat membacakan buku, orang tua tidak mengubah-ubah kata yang tertulis di buku. Sambil mendengarkan apa yang dibacakan orang tuanya, anak mulai berusaha mengenali berbagai huruf yang dirangkai menjadi kata, kata menjadi kalimat, dan seterusnya. Anak jadi tahu ada bunyi yang dihasilkan dari rangkaian bentuk di atas kertas dan ada arti dari rangkaian bunyi itu.

  2. Amati kesiapan anak untuk belajar membaca
    Umumnya anak yang telah siap akan kerap minta diajarkan membaca. Kesiapan ini dapat pula dilihat melalui respons anak saat ditawari belajar membaca. Bila responsnya sangat positif atau menggebu berarti anak telah siap. Namun, bila terlihat malas-malasan, itu pertanda anak belum siap.

  3. Perkenalkan kegiatan membaca melalui bermain
    Memperkenalkan aneka bentuk huruf, misalnya, lakukan dengan menciptakan suasana bermain yang menyenangkan. Umumnya dalam suasana bermain anak akan lebih mudah memahami materi yang disampaikan. Cara penyampaiannya dapat disesuaikan dengan minat anak. Misalnya, anak-anak yang menyukai binatang mulai dikenalkan pada kosakata dan tulisan dari jenis-jenis binatang. "c" untuk cacing, "d" untuk domba, "g" untuk gajah, dan sebagainya. Bisa juga dengan mendongengkan cerita asal-usul huruf yang kita karang sendiri. Kemudian, sampaikan bahwa huruf itu kelak akan membentuk tulisan. Selanjutnya, tulisan itu bermanfaat sebagai alat komunikasi. Dari situ anak paham bahwa tulisan dibuat dengan maksud khusus. Bentuk permainan lain yang tak kalah menarik adalah bermain ala detektif. Ajak anak untuk memecahkan kode-kode. Kode-kode itu berupa huruf-huruf. Lewat permainan ini, anak menjadi tertantang untuk mengenal huruf.

  4. Kenalkan huruf kecil terlebih dulu
    Selain itu, yang patut diperhatikan adalah bentuk huruf yang digunakan. Hindari menggunakan huruf besar semua, sebab anak terlebih dahulu mengamati kontur atau garis tulisan. Bila huruf besar semua maka kontur tulisannya akan membuat anak bingung. Beda halnya jika yang digunakan adalah huruf-huruf kecil. Jadi lebih baik untuk pertama kali kenalkan tulisan yang menggunakan huruf kecil saja.

FAKTOR PENDUKUNG

BILA anak telah merasa siap untuk belajar membaca, orang tua hendaknya menyediakan waktu dan fasilitas-fasilitas pendukungnya.

Sediakan buku-buku menarik dan sederhana
Untuk pemula, menurut Evita sebaiknya dipilihkan buku-buku dengan kalimat-kalimat yang pendek, kata-kata yang sederhana, dan gambar-gambar yang menarik. Salah satu cara yang telah dilakukan Evita bagi putri bungsunya adalah dengan membuatkan buku tentang pribadi anak dan hal-hal yang diminati serta dikenal anak. Alhasil, putri bungsunya sudah mampu membaca saat usianya 3 tahun. Evita mencontohkan, di halaman pertama ada gambar seorang anak perempuan. Tulisannya dibuat sederhana dengan warna-warna yang menarik. Bunyi tulisan itu, "Ada seorang anak perempuan bernama Dita dengan rambut hitam panjang bak sutera Cina." Pada halaman berikutnya, diceritakan ia memiliki 2 orang kakak. "Saat dibacakan Dita langsung bersemangat karena ia tahu itu tentang dirinya dan ia mengenal kata-kata yang tercantum," paparnya. Anak memang lebih tertarik membaca (dan juga menulis) tentang hal-hal yang dekat dengan dirinya. Coba saja perhatikan, kata pertama yang bisa dibaca anak biasanya adalah namanya sendiri, lalu panggilan bagi kedua orang tuanya. Begitu juga saat ia mulai belajar menulis.

Budayakan cinta buku di rumah
Yang tak kalah penting, hendaknya orang tua pun harus memiliki minat baca yang tinggi. Dengan demikian orang tua dapat menjadi model bagi anak-anaknya. "Anak yang melihat orang tuanya sering membaca, umumnya akan lebih mudah tertarik pada buku. 'Ibu membaca buku apa sih?' Ini sudah merupakan pertanda anak berminat pada buku. Selanjutnya, tugas orang tua adalah memberikan fasilitas untuk mengembangkan minat tersebut," harap Evita. Intinya, budayakan cinta buku dan membaca di rumah untuk seluruh anggota keluarga. Dampaknya, anak jadi lebih cepat siap belajar membaca.

Sumber : tabloid nakita

Selektif Pada Permainan Anak

Promosi gencar yang dilakukan produsen berbagai produk mainan anak baik elektronik maupun manual dapat memposisikan anak menjadi konsumen aktif. Tidak hanya itu, mainan buatan pabrik tersebut membuat kreativitas anak berkurang atau terbatasi. Bahkan anak bisa lebih bersikap individualis kalau terlalu 'over' bermain dengan permainan elektronik, contoh nyatanya adalah playstation. Merupakan suatu hal yang wajar, bila setiap orang tua menyediakan fasilitas mainan pada anak-anaknya. Karena dunia anak merupakan dunia bermain. Ketika bermain, anak-anak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan bakat, keterampilan dan pengetahuan. Jenis permainan dan mainan yang sejak awal diberikan secara tepat pada balita berperan mengembangkan saraf-saraf motorik yang akan mempengaruhi tingkat intelegensia anak.

Lalu bagaimana wujud dunia bermain anak-anak saat ini? Setidaknya hasil kegiatan Lomba Menggambar Dolanan Bocah maupun Kumpul Bocah yang diselenggarakan USC-Satu Nama Yogyakarta di Padukuhan Duwet, Desa Sendangadi, Mlati (28 September 2003) lalu dapat menjadi gambaran. Di sana terlihat permainan elektronik dan televisi telah cukup jauh mempengaruhi dunia anak-anak."Dalam kegiatan ini terkumpul 137 gambar. Ternyata yang mereka gambar mayoritas permainan elektronik dan tokoh hero dalam film kartun," kata Koordinator Perpustakaan Keliling USC-Satu Nama Yogyakarta, I Gede Eddy Purwaka.Menurut I Gede Eddy Purwaka, berbagai jenis permainan anak-anak di zaman sekarang cenderung menjauhkan mereka dari interaksi sosial. "Tidak mengherankan jika anak-anak sekarang lebih bersikap individualis dan kurang kreatif," tambahnya.

Butuh Pengawasan

Menghindari anak menjadi konsumen produk mainan memang merupakan hal yang sulit dilakukan. Apalagi sifat anak yang cenderung meniru sesuatu dari lingkungannya. Banyaknya produk mainan instan dan elektronik untuk anak-anak diakui Marnio Pudjono memang sudah membelenggu kreativitas anak. Namun demikian mainan tersebut tidak selalu menghambat pengembangan kreativitas."Misalnya, tamiya. Sebelum memainkannya anak harus paham betul teknis cara memasang dan teknis memainkannya. Sehingga secara langsung mereka juga belajar. Begitu pula memodifikasi jenis permainan tamiya, anak juga dituntut kreatif, meskipun terbatas," jelas Marnio Pudjono.

Produk mainan yang tidak langsung jadi, misalnya robot rakitan, push block dan puzzel, menuntut anak untuk berusaha menemukan bentuknya. Ini cukup baik, daripada hanya membeli produk mainan jadi. Marnio Pudjono pun membenarkan kalau ada yang beranggapan permainan elektronik memang cenderung membuat anak semakin menjadi individual. Apalagi kalau sang anak terlalu asyik menghabiskan waktunya untuk memainkan mainan itu."Di sini peran orangtua sangat penting. Mereka berkewajiban untuk mengawasi anaknya. Jangan sampai terlalu berlebihan bermain dengan mainannya. Mereka juga harus mengarahkan anaknya untuk bersosialisasi. Agar proses keseimbangan berjalan baik. Banyak sekali cara yang bisa ditempuh. Misalnya, mengikutsertakan dalam klub renang, klub bermain atau kegiatan masjid," jelas Marnio Pudjono lebih lanjut.

Selain itu, orang tua harus jeli dan pandai memilih produk mainan. Karena jenisnya saat ini banyak sekali. Jenis produk mainan yang baik, sebaiknya dipilihkan yang bisa merangsang perkembangan intelektualitas anak. Tidak hanya sekedar bagus, mahal dan baru."Sejauh pengamatan saya, selama ini orang tua banyak yang lupa. Kalau gerakan motorik anak berpengaruh pada tingkat intelegensi anak. Anak yang gerakan saraf motoriknya optimal, perkembangan saraf otaknya juga akan optimal. Jangan lekas melarang balita yang sedang berlari-lari atau memanjat kursi. Selama masih aman, biarkan saja," kata Marnio Pudjono. Permainan keseimbangan sangat dianjurkan pada balita dan anak TK. Karena merangsang saraf-saraf keseimbangan. Pakar psikologi percaya, jika saraf motorik berkembang, saraf keseimbangan juga ikut berkembang.

Sel-sel otak terutama nukleus pestibularis juga berkembang. Tidak dipungkiri kalau fasilitas untuk hal tersebut memang mahal. "Inilah pentingnya menurut saya adanya klub bermain yang lengkap. Dapat diupayakan di TK atau play group. Sehingga orang tua tidak terlalu terbebani. Karena dibeli secara bersama-sama. Sekaligus dapat belajar bersosialisasi," terang Marnio Pudjono.Dolanan Anak Menengok pada permainan anak tempo dulu, seperti dolanan anak, Marnio Pudjono rupanya agak pesimistis bila ada usaha untuk memunculkannya lagi. Karena jenis permainan ini semakin luntur dimakan jaman, kurang dikenal maupun diminati anak-anak sekarang. Walaupun dia tidak memungkiri kalau sebenarnya permainan semacam itu memang bagus untuk memupuk sosialisasi antar anak. "Selain itu anak di era dulu, kalau ingin punya mainan harus membuat sendiri. Hal ini memang membangkitkan kreativitas dalam dirinya.

Dibandingkan anak sekarang yang hanya tinggal memilih dan membeli berbagai macam produk mainan," ujarnya.Namun naif rasanya kalau para orangtua harus membendung perubahan orientasi dunia bermain anak di masa sekarang. Jalan yang paling bijak menurut Marnio Pudjono, orangtua harus sering-sering mendampingi anak. Setidaknya seperti dikatakan I Gede Eddy Purwaka, tetap mendorong anak supaya mengembangkan kreativitas dan daya pikirnya.

Sumber : e-psikologi.com

PG/ TK SMART BEE - Children Education

My photo
Based on Islamic system. We commit to be partner for parents to provide educated play ground for their beloved children. Contact us: Jl.Danau Maninjau Raya No.221, Ph 62-21-7712280/99484811 cp. SARI DEWI NURPRATIWI, S.Pd