Tuesday, 14 July 2009

Benarkah Anak Bisa Depresi?

Orang dewasa depresi sudah biasa, tetapi benarkah anak pun bisa mengalaminya? Gangguan depresi pada anak sebelumnya tidak terlalu dikenali, dan biasanya dianggap sebagai gangguan mood yang normal pada fase perkembangan. Keraguan ini disebabkan karena anak dan remaja dianggap belum matang secara psikologis dan kognitif.

Sebagai gambaran, di Amerika angka kejadian depresi menunjukkan 1% pada anak prasekolah, 2% pada anak usia sekolah dan sekitar 5-8% pada remaja. Sementara survei di Australia memperlihatkan; 3,7% anak laki-laki dan 2,1% anak perempuan dalam rentang usia 6-12 tahun mengalami episode depresi. Uniknya, terdapat perbedaan antara ratio anak laki-laki dan perempuan. 2:1 antara perempuan dan laki-laki.

Tanda-tanda depresi
Keluhan fisik seperti sakit kepala, sakit sendi dan otot, sakit perut, dan rasa lelah.
Sering bolos sekolah atau sikapnya di sekolah tidak baik.
Adanya maksud dan usaha untuk lari dari rumah
Berteriak tanpa kejelasan, sering menangis atau mengeluh terhadap segala sesuatu.
Merasa cepat bosan.
Tidak ada minat untuk bermain dengan teman-temannya.
Penggunaan zat atau alkohol.
Tidak mau berkomunikasi dan berteman lagi.
Takut akan kematian.
Sangat sensitif terhadap penolakan dan kegagalan.
Sering menunjukkan rasa marah, bermusuhan, dan sikap yang mudah tersinggung.
Perilaku yang membahayakan dan ceroboh.
Kesulitan dalam menjalin hubungan dengan teman atau orang lain.
Konsentrasi yang buruk yang dapat berhubungan dengan nilai sekolahnya.

Diduga ada kaitan antara depresi dengan adanya gangguan kesehatan lain:
infeksi virus
anemia
hipotiroid atau hipertiroid
epilepsi

Namun penyebab yang pasti dari depresi itu masih belum dapat dipastikan. Diduga kombinasi dari kerentanan genetik (biologi), pengalaman perkembangan yang kurang optimal secara psikologi dan terpapar pada stresor sosial. Sebilan puluh persen gejala depresi pada anak dan remaja didahului oleh adanya pemicu.

Faktor risiko yang dapat memicu munculnya depresi:
adanya riwayat depresi pada keluarga
episode depresi sebelumnya
konflik keluarga
kelemahan dalam bidang akademik
gangguan cemas atau penyalahgunaan zat

Kapan perlu terapi?
Jika terdapat distress dan disfungsi pada fungsi pribadi dan sosialnya atau kehidupan akademis.

Jenis terapi
psikoterapi
psikofarmakoterapi
kombinasi keduanya

Psikoterapi
Terapi bagi depresi disebut dengan cognitive behavioral therapy (CBT), yang berpedoman bahwa antara pikiran, perasaan, dan perilaku saling berhubungan satu sama lain. Mengajak anak untuk berpikiran positif, mengurangi kehidupan sosialnya, edukasi kepada anak dan keluarganya.

Sumber: anakku.net

No comments:

PG/ TK SMART BEE - Children Education

My photo
Based on Islamic system. We commit to be partner for parents to provide educated play ground for their beloved children. Contact us: Jl.Danau Maninjau Raya No.221, Ph 62-21-7712280/99484811 cp. SARI DEWI NURPRATIWI, S.Pd