Tuesday, 28 April 2009

Anak Laki-Laki Lebih Emosional?

Pola asuh dan lingkungan lebih berperan terhadap munculnya gangguan emosional pada si Buyung. Ternyata, anak laki-laki usia 8 tahun yang memiliki gangguan emosional cenderung akan melakukan tindakan kriminal saat dewasanya. Itulah hasil temuan terbaru yang dilaporkan dalam Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry. Dr. Andre Sourander dan kawan-kawan, seperti dilansir situs Reuters Health, meneliti kaitan antara problem psikologis dan perilaku kriminal saat dewasa pada 2.556 anak laki-laki yang lahir tahun 1981. Kehidupan mereka terus dipantau hingga berusia 23 tahun.

Sebanyak 23% responden yang memiliki masalah emosional dan perilaku saat anak-anak, didiagnosis mengalami gangguan psikologi saat mereka berusia 18 -23 tahun, sementara itu 48% di antaranya melakukan tindakan kriminal di usia 20 tahun. Sedangkan anak laki-laki yang hanya memiliki masalah perilaku saja atau gangguan emosional saja, ternyata tidak mengalami adanya gangguan meski tetap berisiko.

Di tanah air belum ditemukan hasil riset yang sama. Namun, maraknya aksi kekerasan dan kriminalitas di kalangan remaja, membuat orangtua harus hati-hati dalam mengawasi perilaku anak-anaknya. Geng motor yang merebak dan membuat waswas, geng sekolah yang senang pamer kekerasan dan tawuran antarpelajar, adalah sedikit contoh perilaku remaja bermasalah.

USIA RAWAN
Usia 8 tahun ke atas memang harus diwaspadai. Inilah usia rawan dimana orangtua harus memantau dan mengontrol perilaku anaknya. Selain karena emosi anak sedang tinggi-tingginya, di usia ini pun anak sedang dalam masa pencarian identitas diri. Anak usia ini juga mulai berkenalan dengan kelompok, sehingga orientasinya adalah mendapat pengakuan dari kelompok. Ini ditandai dengan rasa tak percaya diri, juga rasa tak aman. Akibatnya, anak dapat terjerumus pada hal-hal negatif dari lingkungannya.

Bukan cuma itu. Anak usia ini juga mulai menentang. Jika di usia sebelumnya anak cenderung manis, menuruti perintah orangtua atau dewasa, maka pada usia ini anak justru mulai membangkang. Ini karena anak berpikir orang dewasa tidak dapat semena-mena memerintah dirinya. Menurunnya otoritas orang dewasa ini dapat membuat anak menjadi nakal dan kasar. Beberapa faktor pemicu lainnya yaitu beban pelajaran yang banyak dan lebih berat, faktor keluarga (orangtua kerap bertengkar, orangtua yang broken home), faktor bawaan, dan lain-lain. Ini diperberat oleh pola asuh salah dari orangtua, yang membuat perkembangan emosi anak semakin bermasalah.

GARA-GARA SI TESTOSTERON
Tapi, mengapa anak laki-laki? Tak lain karena anak laki-laki memang berisiko lebih besar mengalami gangguan emosional. Buku yang ditulis Michael Gurian, The Wonder of Boys, sedikitnya dapat memberikan jawaban. Hormon testosteron yang dimiliki laki-lakilah yang membuatnya lebih agresif daripada perempuan. Agresivitas kaum laki-laki ini bahkan sudah terlihat sejak bayi.

Studi yang dilakukan pada bayi usia 6 bulan menunjukkan, ketika bayi laki-laki dan perempuan menarik seutas tali untuk mendapatkan hasil menyenangkan, misalnya gambar orang tersenyum, kemudian penguji menghilangkan gambar itu, maka bayi laki-laki akan cenderung menarik-nariknya dengan kukuh dan agresif. Sementara anak perempuan, setelah menyadari beberapa tarikan tidak memunculkan gambar, akan meninggalkan tali itu dan menangis mencari pertolongan. Anak laki-laki juga lebih mudah mengubah mainannya, semisal gitar-gitaran, menjadi senapan dan pedang ketimbang anak perempuan. Ia juga akan memukul lebih sering dan lebih provokatif.

Celakanya lagi, saat laki-laki memasuki usia pubertas (11-12 tahun), pengaruh testosteron dalam otaknya bertambah berkali-kali lipat. Level testosteronnya akan meningkat 10 sampai 20 kali lipat. Tak heran, di usia ini anak laki-laki cenderung lebih agresif dan gampang naik darah. Lantas, bagaimana dengan anak perempuan? Ternyata, anak perempuan juga tak terbebas dari masalah agresi. Pasalnya, agresi tidak hanya fisik tapi juga kata-kata. Anak perempuan boleh jadi tidak agresif secara fisik, tapi kata-kata. Namun ini hanya sebatas dugaan dan membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Satu hal yang pasti, kendati berbagai fakta di atas menunjukkan anak lelaki memiliki kecenderungan agresif, namun tidak berarti setiap anak lelaki pasti akan bermasalah. Sebab, meski sifat agresif sudah "terprogram" dalam diri anak laki-laki, namun kekerasan lebih dipengaruhi pola asuh dan lingkungannya. Jika pola asuh dan pengaruh lingkungan menanamkan nilai-nilai positif, maka anak tidak akan terjerumus pada tindakan negatif.

RAGAM GANGGUAN
Gara-gara salah pola asuh, anak dapat menunjukkan gangguan emosional/perilaku berikut ini:
Antisosial
Anak tumbuh menjadi sosok yang antisosial, acuh tak acuh terhadap orang lain. Dia sulit menerima persahabatan. Nantinya saat dewasa, dia sulit menerima simpati, cinta, dan pujian dari orang lain. Dia kelihatan mandiri, tapi tidak hangat dan tidak disenangi orang lain.

Tidak Responsif
Anak tidak responsif secara emosional. Dia tidak peka terhadap perasaan atau emosi orang lain. Jangankan memberi empati pada orang yang berduka, dia malah cenderung acuh tak acuh.

Melakukan Tindak Kekerasan
Anak inginnya menyakiti, baik secara verbal maupun fisik, kepada orang lain. Dia senang jika temannya sampai menangis atau ketakutan. Jika tak diatasi, ini dapat memicu anak mogok belajar, berkelahi, dan lain-lain.

SIKAP SALAH YANG JADI PEMICU
Inilah beberapa sikap salah orangtua yang dapat memicu gangguan emosional pada anak:
Tidak Ekspresif
Dengan maksud menjaga wibawa, banyak orangtua yang tidak ekspresif dalam menunjukkan rasa kasih sayang. Meski fisik anak sudah besar, mereka tetap memerlukan pelukan, pujian, dan ungkapan kasih sayang. Sebaliknya, banyak orangtua yang begitu bersemangat saat memarahi anaknya yang berbuat salah. Dari hal ini, anak hanya belajar tentang emosi negatif, marah-marah dan bentakan, tapi tidak belajar mengeluarkan emosi positifnya.

Kurang Perhatian
Banyak orangtua yang sudah puas mencukupi anak dengan materi, tapi tidak dengan perhatian. Mainan, boneka, sepeda, motor mini, komputer sudah cukup menyenangkan anak. Tapi ada hal lain lagi yang lebih menyenangkan buat anak, yaitu kebersamaan dengan orangtua. Memang, tak mudah meluangkan waktu demi anak, tapi di hari libur atau di waktu senggang, orangtua dapat menyempatkan diri berkomunikasi dengan anak. Atau, di sela-sela istirahat kantor, orangtua juga dapat memonitor anaknya lewat telepon.

Mempermalukan Anak
Orangtua memarahi anak di depan orang lain seperti teman atau tamu. Dalam kondisi itu, anak tidak dapat protes, membantah, dan hanya diam mendengar ocehan orangtua. Namun, bak bara dalam sekam, sikap itu akan membuat emosi anak meledak-ledak, dan tinggal menunggu waktu saja untuk dilampiaskan. Selain itu, orangtua juga senang menyindir kekurangan anak, tanpa melihat perbuatan positif yang dilakukannya. Juga senang mengecilkan semua hal yang dilakukan anak. Semua perilaku kasar itu akan diadopsi saat anak tumbuh dewasa kelak.

Memberi Hukuman Fisik
Hukuman ini dipandang orangtua sangat efektif karena dapat menimbulkan efek jera. Juga asumsi salah lain, perilaku agresif anak dapat dijinakkan dengan hukuman badan. Padahal, semua itu akan meningkatkan agresivitas anak, bahkan dia bisa belajar tentang perilaku kasar itu saat remaja.

Miskin Penanaman Nilai-nilai
Orangtua dengan entengnya memasukkan anak ke sekolah agama, belajar mengaji, sekolah minggu, dan lain-lain dengan harapan lembaga-lembaga itu dapat mencetak anak berakhlak mulia. Meski membantu anak memiliki wawasan tentang pentingnya perbuatan baik dan nilai moral, namun aplikasi nilai-nilai itu di rumah jauh lebih penting.

TIP ATASI AGRESIVITAS ANAK
-Ajarkan Menghargai Sesama
-Sikap hormat-menghormati adalah kunci utama manusia untuk bertahan hidup dalam sebuah masyarakat. Anak hendaknya diajarkan untuk menghargai sesama manusia, serta menjauhkan diri dari perilaku yang merusak diri dan orang lain. Ajarkan juga untuk menyayangi lingkungannya. Ajarkan pula saling menghormati antarteman, guru, orangtua, dan lainnya. Saat berbicara, pilih kata-kata yang sopan. Katakan, berbicara sopan akan membuat orang lain lebih nyaman. Hindari meminta sesuatu dengan berteriak, kecuali dalam situasi dan kondisi tertentu. Jelaskan juga, mengapa menepati janji itu penting, mengapa pula kita harus menyapa orang lain dengan sapaan yang baik, dan sebagainya.
-Sediakan Saluran Agresivitas
-Aktif dalam kegiatan olahraga, beladiri, atau hobi lainnya yang diminati anak, akan menyalurkan sifat agresifnya. Energi anak sudah tersalurkan ke jalan yang benar.
-Kenalkan Konsekuensi
-Saat anak berbuat nakal, jelaskan konsekuensinya kepada anak. Dengan demikian, anak terbiasa berpikir dulu sebelum berbuat. Contoh, suatu waktu orangtua mendapati anak sedang menyembunyikan sandal milik temannya. Orangtua bisa berkata:
• Ibu: Apa yang terjadi jika temanmu tidak dapat menemukan sandalnya yang disembunyikan?
• Anak: Dia berjalan tanpa alas kaki.
• Ibu: Bagaimana jika di jalanan dia menginjak duri atau pecahan kaca?
• Anak: Kakinya akan terluka dan berdarah.
• Ibu: Apa yang sekiranya kamu rasakan seandainya itu menimpamu?
• Anak: Saya akan menangis karena kesakitan.
• Ibu: Bagaimana supaya temanmu tidak celaka di jalan?
• Anak: Saya tidak akan menyembunyikan sandalnya.

Sumber : tabloid-nakita.com

No comments:

PG/ TK SMART BEE - Children Education

My photo
Based on Islamic system. We commit to be partner for parents to provide educated play ground for their beloved children. Contact us: Jl.Danau Maninjau Raya No.221, Ph 62-21-7712280/99484811 cp. SARI DEWI NURPRATIWI, S.Pd