Wednesday, 29 April 2009

Si Tukang Gosip

"Eh, sekarang si Wanda punya handphone baru, lo. Keren banget. Ada tevenya!" "Tahu enggak, Shinta, juara kelas kita, kepergok guru nyontek pas ujian." "Kata si Dodi, Nina dapet hadiah mobil saat ulang tahun."
Gosip apa lagi nih? Ya, anak usia sekolah juga sudah pandai bergosip! Seperti dijelaskan Mira D. Amir, Psi., kemampuan ini umumnya dimiliki anak 10 tahun ke atas. Mulai usia ini, kemampuan verbal anak sudah berkembang baik, sehingga dia bisa bersahut-sahutan saat bergosip dengan temannya. "Namun, bukan berarti anak di bawah 10 tahun tidak dapat menjadi tukang gosip. Bisa saja, karena kemampuan verbal berbeda pada setiap anak."

Di usia ini juga, kemampuan kognitif anak sudah matang. Dia sudah menyadari pentingnya orang lain di luar dirinya. Pembicaraan tentang orang-orang di sekitarnya pun menjadi topik menarik. Apalagi di usia ini, anak mulai memasuki masa pubertas, dimana dia sudah tertarik kepada lawan jenisnya. Dan, membicarakan lawan jenis menjadi topik favorit, disamping topik-topik favorit lainnya seperti benda terbaru milik teman, internet, hobi, anak baru di sekolah, guru galak, dan semua topik yang bersinggungan dengan dunia anak lainnya.

Mira mengakui, tidak semua anak berbakat menjadi tukang gosip. Ada beberapa hal yang memengaruhinya, di antaranya adalah karakter. Ada kan anak yang ceriwisnya bukan main, obrolannya meriah bahkan kalau sudah bicara sulit dihentikan? Anak tipe inilah yang berbakat menjadi ratu atau raja gosip. Sebaliknya, ada pula anak-anak pendiam, yang berbicara atau menimpali seadanya. Tipe ini kemungkinan kecil menjadi biang gosip dan lebih cocok menjadi pendengar.

Jangan lupakan juga pengaruh lingkungan, khususnya keluarga. Ibu yang senang kumpul-kumpul, senang bergosip, menjadikan infotaintment sebagai tayangan favorit, akan mencetak anak-anak yang senang bergunjing pula. Buah apel tak akan jatuh jauh dari pohonnya, pepatahnya begitu, kan? Meski identik dengan kaum hawa, kalangan laki-laki pun berpotensi menjadi biang gosip. "Kembali kepada karakter dan pola asuh dari lingkungannya," ujar psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPT UI) ini.

AGAR TAK JADI NEGATIF
Meski dapat bernilai positif, orangtua tetap harus mengarahkan anak jangan sampai topik gosip menyerempet hal-hal negatif, yaitu menceritakan keburukan dan kekurangan orang lain. "Inilah yang perlu dihindari anak dan diwaspadai orangtua!" tegas Mira. Orangtua harus memberikan rambu-rambu, tidak baik menggunjingkankan hal negatif orang lain. Jika faktanya keliru, bisa menjadi masalah besar, karena apa yang kita obrolkan adalah fitnah. Bisa dibayangkan apa jadinya orang yang terkena fitnah tersebut. Misal, si A dituduh mencuri padahal kenyataannya tidak. Itu bisa membuat nama baik si A hancur dan dijauhi teman-temannya. Jikapun faktanya ada, bukan berarti kita dengan bebas menceritakannya kepada orang lain.

Tumbuhkan empati anak. Tanyakan kepada anak, bagaimana seandainya si anak sendiri yang digosipkan?
Bagaimana kalau hal-hal buruk anak diketahui banyak orang? Tidak mau kan? Karena itu, hal yang sama juga harus dilakukannya kepada orang lain. Jangan lupa, orangtua juga harus berhati-hati dengan apa yang diucapkan. Bila anak mendengar, dia akan menganggap kata-kata yang terlontar dari orangtuanya itu, yang mungkin saja kurang atau malah tidak baik, merupakan hal wajar. Bicarakanlah hal-hal yang positif mengenai orang lain dan hindari membicarakan hal yang negatif, terutama bila berada di dekat orangtua.

Ubah juga gaya komunikasi anak saat bergosip. Jangan sekali-kali melebih-lebihkan cerita. Sikap hiperbolik akan membuat teman-temannya jengah, utamanya saat mereka sudah tahu cerita sebenarnya. Selanjutnya, anak bisa dicap pembohong dan mereka enggan mendengar semua ceritanya lagi. Anak juga dapat kehilangan teman-temannya, karena dianggap menyebarkan berita yang tidak benar. Pilih juga kata-kata yang tepat, agar orang lain yang menjadi sasaran tembak tidak tersinggung. "Secara tidak langsung, itu semua juga mengajari anak kecakapan berbahasa, memilih kata-kata, intonasi, dan sebagainya," kata Mira. Jangan segan untuk mengoreksi pembicaraan anak. Tentu itu dilakukan setelah teman-temannya tidak ada, sehingga tak menjatuhkan harga diri anak.

Jelaskan juga, agar anak memilih waktu dan tempat yang tepat untuk bicara. Jangan sampai dilakukan saat belajar, mendengarkan ceramah, atau situasi lain yang tidak tepat. Ajarkan pula untuk mencari fakta sebenarnya. Jika kebetulan anak mendengar gosip negatif tentang temannya, tak ada salahnya mencari tahu fakta sebenarnya. Ini mengajari anak supaya tidak cepat percaya dengan berita negatif yang beredar dan menjelek-jelekkan seseorang. Jika tahu fakta sebenarnya, anak bisa melakukan klarifikasi tentang berita miring tersebut, ternyata teman tersebut tak seburuk yang digosipkan.

Itu juga berlaku saat anak menjadi korban gosip negatif dari teman-temannya. Dia bisa meluruskan berita yang tidak benar tersebut. Jika sudah mengganggu seperti membuat anak mogok sekolah, maka bantuan guru dan orangtua dapat saja diperlukan.

POSITIF JIKA....

bersambung...

Anda tertarik mengikuti artikel ini secara penuh?
1. Jadillah follower blog ini dengan mengklik follower dibawah
2. atau buatkan link pada website/blog anda
3. Apabila sudah dilakukan, kirim email anda ke smartbee221@yahoo.com.
4. Artikel lengkap akan dikirim via email.

Terima kasih

Diah Ayu Pitaloka
www.smartbee221.blogspot.com

No comments:

PG/ TK SMART BEE - Children Education

My photo
Based on Islamic system. We commit to be partner for parents to provide educated play ground for their beloved children. Contact us: Jl.Danau Maninjau Raya No.221, Ph 62-21-7712280/99484811 cp. SARI DEWI NURPRATIWI, S.Pd