Sunday, 28 June 2009

Anak Dominan

Apa yang harus diajarkan agar "si doyan tampil" tak mendominasi dan menimbulkan antipati? "Siapa yang mau menyanyi di depan kelas?" "Saya Bu!" "Siapa yang mau menggambar di papan tulis?" "Saya Bu!" Nah, kok, dia lagi dia lagi yang unjuk tangan? Mengapa teman-temannya tak diberi kesempatan? Bahkan ada anak lain yang seperti tersihir dengan kecepatannya mengangkat tangan.

Sikap percaya diri seperti itu jelas membanggakan pada awalnya. Dia mampu berekspresi dan berani mempertunjukkan kebolehannya di muka umum. Ini merupakan modal penting untuk kesuksesannya kelak. Konsep dirinya juga positif. Ia menganggap pribadinya sangat istimewa yang bisa mengemban tanggung jawab dengan baik. Jika kemampuannya dipupuk dan diarahkan secara positif, sangat mungkin anak tumbuh menjadi pemimpin yang kuat.
Cuma, mengambil pepatah orang bijak, segala hal yang berlebihan tidaklah baik. Percaya diri dan senang tampil adalah bagus, tapi terlalu percaya diri dan senang mendominasi tidaklah baik. Bagaimanapun, teman-temannya perlu diberi kesempatan yang sama untuk menunjukkan kebolehan seperti dirinya.

Senang dipuji
Kenapa ya ada anak yang begitu senang tampil? Kalau ditilik dari sisi perkembangan sebenarnya kondisi ini wajar saja sebab sifat otonom anak-anak prasekolah sedang berkembang. Ia merasa memiliki kemampuan melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Anak juga sangat menikmati reward positif dari teman atau guru setiap ia tampil. Pujian atau tepukan tangan yang meriah merupakan umpan balik (feedback) positif yang membuat anak ketagihan untuk tampil dan menonjol.

Selain itu, ada anak-anak tertentu yang memiliki impulsivitas tinggi. Rata-rata anak memang impulsif (sering bertindak cepat tanpa pertimbangan), tapi khusus anak ini, kadar impulsifnya di atas rata-rata. Jika dia mau sesuatu maka harus dilakukan saat itu juga. Tidak ada kata "nanti" atau "ditunda" dalam kamusnya. Ini boleh jadi karena anak terlalu dimanja keluarganya. Apa yang diminta pasti dipenuhi dan langsung dikabulkan. Berbagi, empati, dan bergiliran tidak pernah didapatkannya. Kemungkinan lain, anak dibesarkan dalam sebuah keluarga dengan banyak saudara, sehingga dia harus berebut dalam segala hal dengan saudaranya. Termasuk mencari perhatian dan kasih sayang orangtuanya.

Bergiliran
Sebagai solusi, arahkan si kecil agar bisa mengerem kemampuannya untuk beberapa saat. Di sekolah akan bijaksana bila guru menerapkan suatu manajemen kelas yang baik. Misal, dengan mengajarkan konsep bergiliran. Setiap anak berhak untuk tampil, menjawab, atau menunjukkan kebolehan-nya. Ketika guru bertanya dan yang mengacungkan tangan anak itu-itu saja, maka guru bisa berkata, "Kamu kan tadi sudah menjawab, nanti kita kasih kesempatan temanmu untuk menjawab." Agar si anak yang senang tampil tidak frustrasi, cobalah untuk memberi sedikit pujian seperti, "Kamu memang pintar, tapi temanmu juga ingin menyanyi di depan kelas, biarkan dia menyanyi dulu ya."

Si penyuka tampil juga perlu ditata emosinya. Ia tidak perlu marah jika orang lain juga ingin tampil. Justru ia harus menghormati. Katakan, "Seperti dirinya, orang lain juga ingin dihormati dan didengarkan saat bernyanyi."

Lewat cerita
Manajemen pola asuh di rumah juga sama. Kenalkan konsep bergiliran lewat cerita yang inti pesannya adalah dalam hidup ini kita harus saling berbagi dan peduli. Kita tidak bisa memaksakan kehendak dan mendahulukan kepentingan pribadi. Selipkan pesan tentang konsekuensi yang didapat jika anak terlalu egois dan tampil mendominasi, misal, dijauhi, dicap sombong, dan dimusuhi teman-temannya.

Sikap egois bisa dikikis lewat pengenalan kesabaran. Nah, menunda keinginan anak juga merupakan bagian dari latihan kesabaran itu. Ia perlu menyadari adakalanya kemauannya tidak bisa dipenuhi dalam waktu singkat. Ini bisa menjadi acuan saat anak berperilaku di dalam kelas. Dia tidak lantas sakit hati karena ditolak gurunya saat hendak membacakan puisi, menebak gambar, bermain kreatif, dan sebagainya.

Saat bermain, cobalah untuk menerapkan konsep bergiliran kepada kakak/adik. Jangan mentang-mentang berbadan lebih besar dan lebih tua, dia menganggap adiknya sebagai "warga kelas dua". Ada saatnya kakak mendapat giliran pertama untuk bermain, tapi di saat lain kakak juga harus mengalah kepada adiknya.

Anak pun harus diajarkan untuk berpikir apakah ia memang mampu melakukan sesuatu atau tidak. Hanya saja, tak perlu diajarkan dengan cara mengekang karena salah-salah si kecil malah takut gagal. Akibatnya, anak yang awalnya berani tampil akhirnya mogok atau malu untuk tampil. Inisiatifnya pun tak berkembang. Bagaimanapun, si prasekolah umumnya belum bisa mengukur kemampuannya. Lantaran itu, tekankan padanya, dia harus mau kalau ditunjuk atau diminta gurunya untuk tampil di depan.

Umpan balik guru di kelas bisa menjadi pelajaran berharga. Saat anak berani tampil, meski suaranya pas-pasan, cobalah dengan tetap memuji sambil melakukan koreksi membangun. "Gerakanmu saat menyanyi sudah cukup bagus, sayang lirik lagunya tidak bisa kamu nyanyikan dengan baik, cobalah untuk menghapalnya di rumah agar kamu bisa tampil lebih baik." Umpan balik itu merupakan koreksi untuk memperbaiki kekurangan anak. Dengan begitu, anak bisa tampil lebih baik pada penampilan berikutnya. Tidak asal maju hanya untuk memperlihatkan kebolehannya.

Narasumber : Dra. Farida Kurniawati, M.Sp.Ed., pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Sumber: tabloid-nakita.com

No comments:

PG/ TK SMART BEE - Children Education

My photo
Based on Islamic system. We commit to be partner for parents to provide educated play ground for their beloved children. Contact us: Jl.Danau Maninjau Raya No.221, Ph 62-21-7712280/99484811 cp. SARI DEWI NURPRATIWI, S.Pd